Do you like this story?
Park Kyu tersenyum melihat William yang berada di tiang pancungan.
“Tidak, aku tidak boleh mati… Yan…. Park Kyu jangan biarkan mereka membunuhku, aku tidak boleh mati seperti ini”pinta William ketakutan.
“Aturan negara sangat penting”ucap Park Kyu.
“Aku akan meninggalkan Hanyang dan kembali ke kampung halamanku”tambah William.
“Park Kyu”panggil William karena Park Kyu malah berjalan pergi meninggalkannya. “Argggggghhhhhh”teriak William saat melihat pisau di tiang pancungan meluncur turun ke arahnya.
William terbangun dengan wajah ketakutan.William kemudian memegang lehernya (hehehehe, William takut jika kepalanya benar-benar dipenggal). Ternyata, William hanya bermimpi buruk. Dua orang penjaga tiba-tiba masuk dan mengikat tangan William.
“Ini tidak apa-apa?”tanya penjaga pertama.
“Benar, tidak apa-apa. Aku sudah memastikan ketua sudah keluar, ayo cepat”jawab penjaga kedua.
“Kalian ingin membawaku ke mana?”tanya William heran melihat kedua tangannya diikat.
Kedua penjaga sontak terkejut, “astaga benar-benar ajaib, darimana dia belajar bahasa kita”ucap salah satu penjaga.
William bertanya kepada penjaga keberadaan Park Kyu,“Park Kyu,di mana dia,di mana?”. Salah satu penjaga tiba-tiba memukulnya, “kamu berani sekali memanggil Tuan. Tuan adalah temanmu ya, ayo kita bawa dia keluar, ayo bangun”.
Kedua penjaga membawa William ke pintu belakang. Mereka mulai memanggil para warga agar mendekat dan melihat William yang sangat berbeda dari mereka.
“Ayo cepat kemari, kalian mungkin hanya bisa melihatnya sekali dalam seumur hidup. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis, ayo cepat kumpul tael (nama mata uang pada zaman ini chingu)”teriak salah satu penjaga.
Penjaga yang kedua mulai menusuk-nusuk badan William dengan tongkat dan menyuruhnya berbicara.
“Sudah makan belum”ucap William. Semua warga semakin takjub dengan William, apalagi William memiliki warna rambut dan mata yang berbeda dari mereka. Mereka kemudian melempari William dengan tomat dan mulai mendekati William. William hanya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa melihat dirinya sekarang dijadikan bahan tontonan.
Kedua penjaga mulai menghitung uang yang mereka dapatkan. Park Kyu tiba-tiba datang dan menjatuhkan semua uang yang mereka dapat.
“Siapa yang berani melakukannya”teriak penjaga marah.
“Tidak menyesalkah? Kalau saja waktu itu kamu menuruti perintahku untuk pergi, kejadian seperti ini tidak akan terjadi”tambah Park Kyu dan berniat pergi.
“Beo Jin…. Beo Jin sekarang sedang melakukan apa?”tanya William tiba-tiba dan menghentikan langkah Park Kyu
“Selalu bisa mendengar tangisan Beo Jin di tepi laut. Park Kyu suatu hari nanti pasti bisa bertemu Beo Jin kan?”.
Sementara itu, orang yang sedang dibicarakan William dan Park Kyu sedang memandangi indahnya bulan di malam hari. Kakek Tua tiba-tiba datang dan ikut duduk di sebelah Beo Jin.
“Beo Jin, kamu sedang memikirkan apa?”
“Dari sini ke daratan berapa jauh? Sehari bisa sampai kan?”tanya Beo Jin dengan mata berkaca-kaca. Kakek Tua mengangguk.
“Hatiku sangat kosong dan murung seperti akan mati. Aku harus pergi menemui William, aku sudah janji dengannya”ucap Beo Jin.
Kakek Tua berusaha menyabarkan Beo Jin, “Beo Jin, alasanmu ke daratan sepertinya bertambah satu lagi. Daratan belum tentu lebih baik seperti disini, yang penting adalah hatimu. Kalau masalah dalam hati tidak terselesaikan, sampai manapun sama saja”.
“Tapi aku ingin ke daratan karena William, asalkan sudah bertemu dengan William aku sudah lega”ucap Beo Jin.
“Cuma demi si bocah bermata biru itu ya, tidak ada alasan lain ya?”tanya Kakek Tua yang sengaja bertanya kepada Beo Jin.
Beo Jin tiba-tiba berdiri dan merasa disudutkan dengan pertanyaan kakek tua,“aku demi William baru begini, tidak mungkin demi Yandari, ah tidak, tidak mungkin demi Tuan Pelaksana hatiku seperti ini”ucap Beo Jin dan memanyunkan bibirnya.
Beo Jin kesal dengan ucapan Kakek Tua dan segera pergi setelah sebelumnya memukul pundak kakek Tua. Kakek Tua hanya tersenyum dan bergumam,“kalau Beo Jin sampai pergi, Tamra pasti akan sangat membosankan”.
“Bagaimana boleh begitu, Yandari baru pergi sebentar saja dan ibu sudah ingin membuang barang-barangnya”ucap Beo Jin sedih.
“Ibu, cukup sampai di sini. Jika bertemu denganku pasti selalu menyuruhku bekerja, tidak lelahkah? Ibu, kamu tidak tahukah hatiku yang sangat ingin pergi ke daratan”.
“Bisa apa dengan hati yang serakah” ucap Ibu Beo Jin
“Aku tidak ingin seperti ibu yang hanya tahu menyelam dan bertani, benar-benar sangat membosankan. Aku lebih baik mati daripada hidup membosankan seperti ibu”teriak Beo Jin
”Cepat bereskan tempat ini”ucap Ibu Beo Jin dan buru-buru keluar. Para Pria merasa heran dengan raut wajah Ibu Beo Jin, namun ayah Beo Jin hanya menghela nafas melihat istrinya. Ayah Beo Jin sepertinya tahu kalau istrinya habis memarahi Beo Jin.
Beo Jin mulai membereskan barang-barang Park Kyu. Tanpa sengaja Beo Jin menemukan sebuah buku Park Kyu. Beo Jin tersenyum melihatnya dan tiba-tiba merasa rindu dengan suara Park Kyu.
“Kamu tidak ingin menolong William ya? Kita sama-sama pergi, kamu dan aku. Kalau kita sama-sama pergi, William pasti akan sangat senang”ucap Beo Jin senang.
“Kamu sadar sedikit, kamu sama sekali tidak bisa keluar dari Tamra. Kalaupun bisa, aku sama sekali tidak ingin membantumu”ucap Yan sinis.
“Kenapa tidak?William sangat ingin bertemu denganku?”tanya Beo Jin dengan suaranya yang khas.
“Kalau bukan karena kamu, William sudah pergi dari sini”jawab Yan dan mulai mengemasi barang-barangnya.
“Apa maksudmu?”tanya Beo Jin tidak mengerti.
“Apakah sudah berpamitan dengan abang?”tanya Phillip pada Beo Jin.
“Berpamitan?”tanya Beo Jin tidak mengerti dengan ucaan Phillip.
“Katanya dia besok akan ke daratan, ini mungkin adalah nasib menjadi anggota kapal”ucap Phillip.
Yan memakai tasnya dan bersiap-siap pergi,“jangan harap bisa keluar dari sini, sadarlah dan lebih baik bekerja lebih keras”ucap Yan dan berlalu pergi. Beo Jin menjadi sedih mendengarnya. Phillip memanggil Yan namun Yan sama sekali tidak berbalik.
Keesokan harinya, Yan menemui seorang pria. Mereka saling bertukar uang dan tanda pengenal. Untuk naik ke atas kapal yang menuju ke Hanyang, Yan harus memiliki tanda pengenal (kalau disini lebih familiar dengan istilah KTP Chingudeul).
Sementara itu di rumah Beo Jin, Beo Jin sudah bersiap-siap dan menggunakan sebuah topi capit milik Phillip. Beo Jin melihat adiknya,Beo Seol yang masih tertidur pulas.
“Beo Jin”.
“Ayah”ucap Beo Jin terkejut. Rupanya Ayah Beo Jin sudah memiliki firasat kalau Beo Jin akan pergi, makanya dia menunggu Beo Jin semalaman.
“Harus beginikah”ucap ayah Beo Jin mendekati putrinya.
Beo Jin mulai menangis,“maaf ayah. Aku tidak bisa bersabar lagi, tidak bisa berpikir tidak terjadi masalah, tiap hari turun ke laut. Semakin hari, hatiku semakin sakit. Aku harus bagaimana? Di dalam sini seperti ada yang mengganjal dan membuatku tidak bisa bernafas. Izinkan aku pergi Ayah”.
“Ayah, aku benar-benar minta maaf”.
“Kamu harus ingat, kami akan selalu menunggumu, jika sudah merasa lelah pulanglah kembali ke Tamra”.
“Waktu tidak banyak lagi, cepatlah pergi, cepat pergi sebelum ada yang melihatmu”ucap ayah Beo Jin. Beo Jin melihat wajah ayahnya, Beo Jin merasa enggan untuk beranjak namun ayahnya menyuruh Beo Jin untuk segera pergi.
Ayah Beo Jin memandang Beo Jin yang mulai menjauh, berat baginya melepaskan Beo Jin (jadi ingat dengan drama korea Cruel Temptation kalau liat ayahnya Beo Jin).
Beo Jin mulai mengantri bersama para pria yang ingin pergi ke Hanyang. Di barisan depan terlihat Yan yang menunjukkan tanda pengenalnya dan dipersilahkan naik ke atas kapal. Beo Jin berusaha menyembunyikan rasa takutnya dan tiba gilirannya untuk pemeriksaan tanda pengenal.
“Kelihatannya begitu kecil sudah mau pergi ke daratan”ucap petugas pada Beo Jin. Beo Jin hanya tersenyum tipis dan dengan cepat mengambil tanda pengenalnya.
Kapal yang membawa Beo Jin dan Yan ke Hanyang akhirnya berangkat. Beo Jin memilih duduk di salah satu sudut kapal dan tersenyum senang karena akhirnya bisa pergi ke Hanyang. Petugas yang sempat memeriksa tanda pengenal Beo Jin datang menghampirinya.
“Ya, memang Beo Jin”ucap petugas kapal namun Beo Jin hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu seorang wanita, mana bisa pergi ke daratan, wanita ini jangan-jangan sudah gila sendirian pergi ke daratan, benar-benar tidak tahu luasnya Hanyang itu seperti apa. Hei, Beo Jin ayo cepat kembali”paksa petugas kapal. Para penumpang lainnya mulai berkumpul untuk melihat sumber kegaduhan.
“Kamu bilang dia saudaramu?”tanya petugas kapal tak percaya begitupun dengan Beo Jin yang tak percaya jika Yan datang menolongnya.
“Kesehatannya sedang tidak baik, makanya kami pergi ke daratan untuk mengobatinya”jawab Yan tegas.
“Tapi dia mirip sekali dengan wanita laut, Beo Jin di desa San Fang”ucap petugas.
Yan mendekati Beo Jin, “jadi maksudmu saudaraku adalah gadis ya? Kalian tahu dari kecil dia sudah sakit-sakitan makanya tubuhnya tidak bisa bertambah tinggi, ditambah tidak bisa bicara dan hanya dijadikan olok-olokan orang lain”.
Beo Jin yang mendengar penjelasan Yan sontak menunduk agar terlihat lebih pendek dan menutup rapat mulutnya.
“Apa aku harus membuka celananya baru kalian bisa percaya”teriak Yan. Beo Jin sontak terkejut dan melihat Yan.
“Kalau dia benar bukan gadis, paman bagaimana ingin membalasnya, paling tidak harus membayar biaya kapal 3 x lipat baru bisa”ucap Yan dan memegangi celana Beo Jin “Tidak, tidak, aku mungkin salah kenal orang”ucap petugas kapal ketakutan dan segera pergi.
“Terima kasih”ucap Beo Jin.
“Jangan harap lain kali aku membantumu”ucap Yan.
“Tadi benar-benar mau melepaskan celanaku ya?”tanya Beo Jin. Yan tidak menjawab dan malah berkata kepada Beo Jin untuk tidak mengikutinya. Yan kemudian pergi dan meninggalkan Beo Jin yang memandangi pulau Tamra yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya.
“Yan…. Kita bersama-sama saja mencari William, bukankah lebih baik jika kita bersama”ucap Beo Jin.
“Lebih baik aku sendiri daripada bersamamu”ucap Yan dan kembali berjalan.
Beo Jin kembali mengejar Yan dan mengajak Yan makan. Beo Jin bahkan mengatakan kalau dia yang akan mentraktir Yan, semua itu dilakukannya agar hati Yan luluh dan mau mengajaknya mencari William.
Pemilik warung makan tidak sengaja melintas di depan mereka. Hal itu dimanfaatkan Yan untuk mencari tahu informasi mengenai William.
Sebuah panah tiba-tiba meluncur ke arah Park Kyu. Beruntung Park Kyu berhasil menghindar. Segerombolan pasukan berkuda tiba-tiba datang dan mulai menyerang mereka. Hujan panah kembali terjadi.
Park Kyu turun dari kuda dan ikut dalam pertarungan. William yang masih berada di atas kuda tiba-tiba didorong hingga terjatuh. William berusaha bangun namun orang yang mendorong William malah menendangnya dan bersiap-siap menusukkan pedang ke tubuh William. Park Kyu yang melihatnya dengan cepat melemparkan kapak ke arah orang tersebut dan tidak menyadari sebuah sabetan pedang di bahunya.
Sementara itu di dalam hutan yang sama, Yan dan Beo Jin berjalan.
“Yan….. Yan…. Yan…..”panggil Beo Jin. Beo Jin terduduk di tanah dan mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
“Istirahat dulu baru kita lanjutkan”pinta Beo Jin. Yan hanya berbalik sesaat dan kembali berjalan. Bagi Yan nyawa William lebih penting daripada harus mengikuti permintaan Beo Jin.
“Bocah jahat”gumam Beo Jin kesal dan kembali berjalan.
Chi Young masih mengejar William dan Park Kyu. Sayang mereka kehilangan jejak dan hanya menemukan kuda yang dikendarai William dan Park Kyu. Chi Young akhirnya memutuskan mundur sejenak dan melanjutkan pencarian di lain waktu.
“Park Kyu, bertahanlah”ucap William.
Baru saja Chi Young pergi, gerobak yang ditumpangi Yan dan Beo Jin melintas.
“Apa ada kamar kosong?”tanya Yan,
“Oh ya, pas tinggal satu”jawab pemilik penginapan dan mengantar mereka menuju kamar.
“Sangat memaksa, meskipun tahu kalau kau adalah orang yang bodoh tapi ternyata memiliki nyali yang sangat besar. Di sini bukan Tamra dan disini tidak ada seorangpun yang kau kenal. Di kamar ini cuma ada kau dan aku saja, hanya berdua”ucap Yan sedikit emosi dan menakut-nakuti Beo Jin.
“Benar, cuma ada kita berdua dan kita tidak akan kesepian, bersama denganku juga kita bisa saling tolong menolong, bukankah itu sangat baik”ucap Beo Jin berusaha membela diri.
“William di mana kamu,akiu sangat ingin bertemu denganmu”gumam Beo Jin. Yan yang mendengarnya bertanya pada Beo Jin, “setelah bertemu William apa yang akan kamu lakukan? Apa akan bersembunyi di gua lagi seperti waktu di Tamra?”. Beo Jin kesal mendengar pertanyaan Yan,“kenapa kamu harus begini, William sangat senang bertemu denganku”.
Pak tua kemudian menyuruh William untuk beristirahat.
Mereka merasa heran melihat Yan yang berjalan sendirian di hari yang masih sangat pagi. Yan berusaha menjelaskan kalau dirinya sedang buru-buru ingin naik kapal. “Keadaan sangat tidak aman, Tuan Pelaksana yang melakukan perjalanan ke Hanyang tiba-tiba menghilang dan pengawalnya ditemukan mati”ucap salah satu penjaga. Yan sontak terkejut, “mati, orang barat juga ikut terbunuh?”. Para penjaga merasa heran dengan keterkejutan Yan, mereka juga sama sekali tidak mengungkit-ngungkit tentang orang barat. Yan bukan orang yang bodoh dan mempunyai banyak ide, Yan mengatakan kalau berita tentang penangkapan orang barat sudah tersebar luas.
“Abang”teriak Beo Jin tiba-tiba. Beo Jin sudah mengganti pakaian menjadi Hanbok. “Abang, kenapa kau terus meninggalkan ini, walaupun buru-buru ingin naik kapal tetapi kau tidak boleh melupakan tanda pengenalmu”ucap Beo Jin dan menunjukkan tanda pengenal Yan kepada penjaga. Para penjaga mengangguk-nganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Beo Jin.
“Ayo cepat, ibu….”.
“Tunggu sebentar kenapa nada bicaramu terdengar sangat aneh”ucap salah satu penjaga. Beo Jin tiba-tiba menguap, “oh ini pasti karena terlalu dingin”ucap Beo Jin berkilah “Abang penjaga pagi-pagi sudah merepotkan kalian”tambah Beo Jin dan tersenyum semanis-manisnya.
“Ah, benar-benar cantik. Kalian silahkan teruskan perjalanan”ucap penjaga lainnya ikut tersenyum dan mempersilahkan Beo Jin dan Yan pergi.
“Sepertinya kamu sangat penasaran dan sangat ingin tahu ini dimana. Saat aku mengobatimu, aku menemukan ini di tubuhmu”ucap pak tua dan memberikan medali milik Park Kyu.
“Apakah ada orang lain yang melihatnya?”tanya Park Kyu.
Pak tua menggeleng,“mana mungkin, aku meninggalkan kota dan hidup sendirian di sini. Masih ingat dua hari yang lau, kamu bertaruh dengan kematian”.
Park Kyu tiba-tiba mengingat saat dirinya terluka dan ditarik William ke atas kuda. “Kalau begitu…..”
“Dia menggendong dirimu yang pingsan sampai di sini. Kamu mengeluarkan banyak darah, terlambat sedikit saja, nyawamu pasti akan melayang”ucap pak tua dan melihat William yang masih tertidur.
“Kenapa kamu tidak lari, kamu sebenarnya bisa meninggalkanku sendirian dan lari”tanya Park Kyu
William tertawa, “kalau begitu setelah kamu sadar, kamu berharap aku tidak ada ya?”.
“Kamu tidak membenciku karena membawamu ke Hanyang?”tanya Park Kyu lagi.
“Membawaku ke Hanyang bukan tanggung jawab Park Kyu. Aku tidak akan membencimu hanya karena masalah ini, aku akan membencimu mungkin karena masalah lain”ucap William.
“Sekarang masih memikirkan Beo Jin ya?”tanya Park Kyu namun William hanya terdiam
Pak tua kembali dari kota. Saat melewati sebuah batu besar, pak tua menambahkan sebuah batu berukuran kecil diatas tumpukan batu kecil.
“Apa benar di sana William dan Park Kyu bersembunyi?”tanya Beo Jin khawatir.
“Kalau tidak, kenapa mereka bisa mencari ke tempat yang begitu sepi”jawab Yan dan tetap siaga.
Beo Jin kembali mengingat ucapan penjaga tadi pagi tentang mengilangnya Park Kyu dan adanya perampok hutan.
“Kalau begitu mereka adalah perampok hutan, kita harus memberitahukan William dan Park Kyu”ucap Beo Jin panik dan berlari menuju persembunyian Park Kyu dan William.
“Kalian siapa, kenapa masuk rumah orang sembarangan”teriak pak tua dan mencoba menghalangi Chi Young.
Chi Young tetap masuk dan tidak mengindahkan pak tua. Chi Young tiba-tiba berhenti dan merasa aneh dengan susunan batu di dekatnya. Baru saja Chi Young ingin mendekat dan memeriksanya, Pak Tua tiba-tiba berbicara, “katanya pejabat akan datang memeriksa, kenapa begitu cepat sudah sampai. Saya dengar kalian akan segera kemari tapi tidak menyangka akan secepat ini, kalian bergerak sangat cepat. Saya tinggal sendirian di sini dan takut jika perampok hutan tiba-tiba muncul. Tiap kali saya melapor kalian selalu bilang akan datang,…. Tapi akhirnya tidak datang juga, tetapi tidak menyangka baru melapor sudah datang. Kalian menghancurkan barang-barangku, kalian tahu ini sangat penting bagiku, kamu harus ganti rugi baru pergi”ucap pak tua. Pak tua sengaja melakukannya dan berkomentar panjang lebar agar Chi Young segera pergi begitu mendengar jika pejabat akan datang.
Pak tua mengetuk batu yang sempat dilihat Chi Young tadi.
“William”panggil Beo Jin sedih.
“Beo Jin”ucap William terkejut.
“Yandari”panggil Beo Jin lagi.
Written by Dewi Rf and Pictures By Iis Rf @PelangiDrama
0 comments:
Post a Comment