Do you like this story?
Melihat Kae-in begitu khawatir terhadap Chang-ryul, hati Jin-ho jadi panas ia tak tahan dan mau masuk ke Sang Go-jae lagi. Chang-ryul ia mencoba menghalangi Jin-ho masuk lagi tapi kali ini In-hae menengahi mereka berdua. In-hae membela Jin-ho dengan berkata kalau Chang-ryul hanya iri saja pada Jin-ho. Chang-ryul mencoba berkata kalau Jin-ho itu hanya pembohong, tapi In-hae selalu memotong pembicaraan Chang-ryul. Kae-in kaget juga melihat In-hae begitu perhatian dengan Jin-ho. In-hae menyuruh Kae-in membawa Jin-ho masuk. Kae-in menurut dan minta Chang-ryul bicara dengannya lain kali saja saat semua sudah tenang. Kae-in dan Jin-ho masuk rumah, Chang-ryul coba mencegah tapi dihalangi In-hae.


“Apa?” kata Kae-in bingung.
Kae-in diam sebentar dan berkata dengan tegas “Ya. Aku bisa melakukannya”.
Jin-ho menatap Kae-in dan melepas genggamannya sambil berkata “Kalau begitu apa kau bisa tepati janji ini?”.
“Di dunia ini teman baikku adalah janjiku” kata Kae-in.
Kae-in kemudian berkata kalau ia merasa tidak aman saat melihat In-hae begitu khawatir kepada Jin-ho tadi. Jin-ho berkata kalau ia tidak akan menjadi seperti yang dipikirkan Kae-in.
“Hati orang bisa selalu berubah. In-hae adalah anak yang apa pun yang ia inginkan akan mendapatkannya. Dia ingin jadi temanmu maka ia pasti akan menjadi temanmu” kata Kae-in.
“Hatiku.. hanya aku yang tahu bagaimana isinya. Kamu hanya perlu atur hatimu sendiri” kata Jin-ho.Jin-ho menatap Kae-in dan melepas genggamannya sambil berkata “Kalau begitu apa kau bisa tepati janji ini?”.
“Di dunia ini teman baikku adalah janjiku” kata Kae-in.
Kae-in kemudian berkata kalau ia merasa tidak aman saat melihat In-hae begitu khawatir kepada Jin-ho tadi. Jin-ho berkata kalau ia tidak akan menjadi seperti yang dipikirkan Kae-in.
“Hati orang bisa selalu berubah. In-hae adalah anak yang apa pun yang ia inginkan akan mendapatkannya. Dia ingin jadi temanmu maka ia pasti akan menjadi temanmu” kata Kae-in.



Kae-in memberikan kompres yang ia telah buat. Jin-ho berkata hal itu tak perlu. Kae-in tetap memaksa. Jin-ho lalu berkata kalau pukulan Chang-ryul itu tidak ada apa-apanya. Lalu tiba-tiba In-hae datang. Kae-in dan Jin-ho kaget melihatnya. In-hae berkata kalau ia khawatir dengan keadaan mereka jadi ia kembali membawa minuman untuk mereka berdua agar bisa minum bersama dan tidur nyenyak. In-hae juga berkata sebetulnya ia juga ingin ikut minum bersama mereka tapi ia tahu Kae-in pasti tidak suka jadi ia pamit pulang saja. Kae-in jadi kesal mendengarnya. In-hae kemudian berkata kalau ia bersyukur karena ada Kae-in yang menemani Jin-ho kami. Jin-ho dan Kae-in saling berpandangan setelah mendengarnya. In-hae kemudian pamit pada mereka berdua. Kae-in kesal dan menyerahkan kompresnya tadi dengan kasar pada Jin-ho dan masuk kamarnya (CEMBURU!!).
“Apa.. Jin-ho-kami?” gumam Kae-in kesal.Tiba-tiba Chang-ryul menelepon dan berkata kalau ia ingin bertemu sekarang dan ia sudah ada di depan Sang Go-jae. Kae-in sebetulnya tak ingin bertemu Chang-ryul, tapi Chang-ryul memaksa.

Akhirnya Kae-in masuk dan ia melihat bungkusan plastik pemberian In-hae tadi tergeletak di lantai. Kae-in mengambilnya dan menyerahkannya pada Jin-ho yang ada di kamar. Jin-ho kaget menerimanya dan berkata kenapa ia harus minum-minuman itu.
“Ini adalah In-hae yang kamu cintai yang beli untukmu. Kalau kamu tak minum lalu siapa yang minum” kata Kae-in kesal.
“Aku tak mau minum. Mau kau minum atau buang terserah kamu saja” kata Jin-ho.
“Kamu tidak perlu sengaja begini demi aku. Kalau kamu ingin berteman dengan In-hae maka lakukan saja” kata Kae-in.
“Apakah yang kamu katakan adalah benar?” tanya Jin-ho.
“Aku tidak bisa hanya memikirkan diriku sendiri hingga tidak biarkan kamu berteman dengan orang lain” kata Kae-in.
“Jadi yang kau maksud.. aku juga jangan mengaturmu berteman dengan siapa begitu kah?” kata Jin-ho kesal.
“Kapan aku bilang begitu!” teriak Kae-in.
“Kamu bukankah pergi bertemu Chang-ryul. bukankah kau yang katakan jika aku katakan Game over.. maka kamu akan putuskan dia. Sekarang kau tidak tanya aku.. tetap keluar” kata Jin-ho.
“Itu karena ada masalah sedikit. Apa ini pun harus minta tolong padamu? Lagipula aku takut kamu merasa dipusingkan oleh urusanku” kata Kae-in.
“Kalau begitu kelak kamu urus sendiri masalahmu” kata Jin-ho sambil menutup pintu kamarnya.
Kae-in tak percaya Jin-ho berkata seperti itu, ia kesal dan membuang bukusan plastik tadi di depan kamar Jin-ho. Kae-in masuk kamarnya dan mengambil boneka Jin-honya. Dalam hati ia berkata kalau dibandingakan dengan melihat acara pernikahan In-hae dan Chang-ryul, ia lebih takut dengan kalimat In-hae tadi yang berkata Jin-ho-kami.

“Aku juga tak tahu kenapa mau begini. Jika aku sudah keterlaluan.. maka maafkanlah” gumam Jin-ho.
Sementara itu Kae-in juga tak bisa konsentrasi kerja ia meninggalkan pesan suara untuk Jin-ho. Ia berkata kalau ia tidak ingin menyerah. Ia hanya hanya ingin balas dendam tapi malah membuat mereka bertengkar. Tapi Kae-in membatalkan pesan suara itu.
Jin-ho buru-buru pulang saat jam kerja telah selesai dan menolak ajakan makan bersama Sang-joon dengan alasan ia ingin istirahat. Sang-joon heran melihatnya, tapi ia lalu mengingatkan Jin-ho bahwa tanggal penyerahan draf gambar proyek musem sudah hampir tiba. Jin-ho berkata kalau ia sudah tahu dan akan mengurusnya. Ternyata Jin-ho tak langsung pulang hari itu, ia pergi ke supermarket membeli bahan makanan.
“Kenapa aku harus melakukan semua ini” gumam Jin-ho heran dengan tindakannya sendiri.
Jin-ho buru-buru pulang saat jam kerja telah selesai dan menolak ajakan makan bersama Sang-joon dengan alasan ia ingin istirahat. Sang-joon heran melihatnya, tapi ia lalu mengingatkan Jin-ho bahwa tanggal penyerahan draf gambar proyek musem sudah hampir tiba. Jin-ho berkata kalau ia sudah tahu dan akan mengurusnya. Ternyata Jin-ho tak langsung pulang hari itu, ia pergi ke supermarket membeli bahan makanan.
“Kenapa aku harus melakukan semua ini” gumam Jin-ho heran dengan tindakannya sendiri.
Saat tiba di rumah Jin-ho memanggil-manggil Kae-in tapi Kae-in belum pulang. Ia lalu melihat cuaca jadi mendung mau turun hujan.
Kae-in pulang dan turun di halte bis dekat rumahnya, saat itu hujan sudah turun dengan deras. Akhirnya ia nekat hujan-hujan untuk sampai rumah. Kemudian Jin-ho tiba di halte bis sambil membawa payung. Ia duduk menunggu Kae-in yang ia pikir belum datang, tapi ia kemudian melihat sebuah buku tertinggal di halte itu dan ia mengenali itu buku milik Kae-in.
Kae-in pulang dan turun di halte bis dekat rumahnya, saat itu hujan sudah turun dengan deras. Akhirnya ia nekat hujan-hujan untuk sampai rumah. Kemudian Jin-ho tiba di halte bis sambil membawa payung. Ia duduk menunggu Kae-in yang ia pikir belum datang, tapi ia kemudian melihat sebuah buku tertinggal di halte itu dan ia mengenali itu buku milik Kae-in.



“Kamu ini ingin bertengkar denganku di jalanan, iya kan?” kata Kae-in.
“Kamu kenapa tidak bisa siapkan dengan lengkap sedikit. Benar-benar ceroboh” kata Jin-ho.
“Apa kamu baru pulang kerja? Apa kamu naik angkutan umum dan datang kesini? Kalau begitu mobilmu mana?” tanya Kae-in.
“Aku sudah pulang sampai rumah” kata Jin-ho.
"Kalau begitu kamu sengaja datang menjemputku, iya kan?” tanya Kae-in lagi.
“Walaupun aku tidak tahu kenapa membuatmu marah, tapi aku lihat kamu masih ada rasa tidak puas jadi demi baikkan denganmu baru menjemputmu” kata Jin-ho.
“Kalau begitu seharusnya kamu bawa dua payung. Lihat kamu kebasahan” kata Kae-in.
“Kalau begitu dekat sedikit sudah bisakan” (Halah..bikin iri aja..).
Kae-in mendekat dan menggandeng lengan Jin-ho.“Kamu kenapa tidak bisa siapkan dengan lengkap sedikit. Benar-benar ceroboh” kata Jin-ho.
“Apa kamu baru pulang kerja? Apa kamu naik angkutan umum dan datang kesini? Kalau begitu mobilmu mana?” tanya Kae-in.
“Aku sudah pulang sampai rumah” kata Jin-ho.
"Kalau begitu kamu sengaja datang menjemputku, iya kan?” tanya Kae-in lagi.
“Walaupun aku tidak tahu kenapa membuatmu marah, tapi aku lihat kamu masih ada rasa tidak puas jadi demi baikkan denganmu baru menjemputmu” kata Jin-ho.
“Kalau begitu seharusnya kamu bawa dua payung. Lihat kamu kebasahan” kata Kae-in.
“Kalau begitu dekat sedikit sudah bisakan” (Halah..bikin iri aja..).
“Aku dulu merasa iri saat melihat ibu-ibu anak lain datang menjemput anaknya saat hujan. Tapi sekarang aku ada Jin-ho.. Jin-ho kamu seperti ibu nih. Jika bersama Jin-ho tidak akan ada orang yang bilang aku seperti tikus yang tenggelam” kata Kae-in senang.
“Barusan waktu aku katai, kamu masih melototi aku. Sekarang kamu dengan enaknya mengatakan itu” kata Jin-ho sedikit kesal.
“Aku bukannya tidak punya hati nuranikan” kata Kae-in.
“Kalau begitu kamu ada apa?” tanya Jin-ho.
“Kamu cari kesalahan apa lagi? Kita kan sedang berbaikan” kata Kae-in sambil mencubit Jin-ho.
“Hati-hati kehujanan. Ke sini..” kata Jin-ho sambil merangkul Kae-in agar tidak kehujanan.
Dan mereka pun pulang sambil berangkulan.



Tae-hoon mengelak dan berkata mungkin karena ada 1 payung makanya mereka berbuat seperti itu. Tapi Hye-mi tetap curiga dan tetap percaya dengan fillingnya kalau mereka berdua ada apa-apa.
Saat sudah sampai di rumah, Kae-in memberikan hadiah Jin-ho berupa miniatur apel sebagai tanda maafnya (kata maaf pada bhs. korea bunyi sama dengan kata maaf.. makanya untuk minta maaf orang korea biasanya memberikan apel).
Saat sudah sampai di rumah, Kae-in memberikan hadiah Jin-ho berupa miniatur apel sebagai tanda maafnya (kata maaf pada bhs. korea bunyi sama dengan kata maaf.. makanya untuk minta maaf orang korea biasanya memberikan apel).



“Eonni apakah ini mimpi?” kata Sang-joon.
Young-soon minta Sang-joon membuka kacamatanya dan kemudian plak!, Young-soon menampar Sang-joon.
“Sekarang merasa bagaimana? Jangan berlebihan aku hanya memintamu menjadi model beberapa lembar foto saja” (haha... kasihan3).
Sang-joon berkata kalau dirinya sebenarnya ingin jadi model meski ia hanya punya wajah tampan yang lumayan dan sedikit lemak diperut. Young-soon enek mendengarnya, tapi ia berkata kalau itu bisa diatur pakai efek. Sang-joon senang sekali mendengarnya. Young-soon lalu mengalihkan pembicaraan dengan berkata kalau kuku jari Sang-joon indah sekali. Sang-joon berkata kalau itu adalah salah satu daya tarik miliknya untuk menjerat wanita.
“Wanita?” kata Young-soon heran.
Sang-joon buru-buru berkata “Laki-laki tentunya”.

“Tidak ada yang tidak bisa” kata Jin-ho.
Kae-in heran ia berkata apa Jin-ho tidak malu berkata seperti itu.
“Ini adalah kenyataan. Buat apa malu?” kata Jin-ho.
Kae-in berkata ternyata kekurangan Jin-ho adalah sedikit pun tidak rendah hati. Kae-in lalu mengajak Jin-ho melakukan sesuatu besok, tapi Jin-ho menolak ia ingin membersihkan rumah dan tidur besok. Kae-in memaksa, Jin-ho kesal ia tanya apa Kae-in sehari saja tidak memerintahnya apa bisa mati bosan.
“Sedikit” kata Kae-in.
Lalu tiba-tiba hp Kae-in dan Jin-ho berbunyi bersamaan. Ternyata itu dari Young-soon dan Sang-joon yang minta bantuan mereka berdua besok.
Kae-in heran ia berkata apa Jin-ho tidak malu berkata seperti itu.
“Ini adalah kenyataan. Buat apa malu?” kata Jin-ho.
Kae-in berkata ternyata kekurangan Jin-ho adalah sedikit pun tidak rendah hati. Kae-in lalu mengajak Jin-ho melakukan sesuatu besok, tapi Jin-ho menolak ia ingin membersihkan rumah dan tidur besok. Kae-in memaksa, Jin-ho kesal ia tanya apa Kae-in sehari saja tidak memerintahnya apa bisa mati bosan.
“Sedikit” kata Kae-in.
Lalu tiba-tiba hp Kae-in dan Jin-ho berbunyi bersamaan. Ternyata itu dari Young-soon dan Sang-joon yang minta bantuan mereka berdua besok.


“Sang-joon adalah penutupnya.. sasarannya adalah Jin-ho” kata Young-soon.
Kae-in kaget mendengarnya dan berkata kalau Young-soon sudah membohongi orang. Pemotretan selesai, Kae-in tiba-tiba mendapat telepon dari Chang-ryul yang mengajaknya bertemu. Kae-in menolak dan berkata kalau ia sedang membantu Young-soon melakukan pemotretan, ia juga berkata tidak ingin di jemput dan akan menelepon Chang-ryul nanti. Young-soon heran sebenarnya Kae-in mau melakukan apa dengan Chang-ryul. Kae-in berkata kalau ia ingin mata dibalas mata, gigi dibalas gigi.. Young-soon memperingatkan agar Kae-in jangan bertindak aneh-aneh dan jangan pernah kembali pada Chang-ryul bagaimanapun masalahnya. Chang-ryul menelepon lagi tepat saat Sang-joon dan Jin-ho datang mendekat. Kae-in akhirnya setuju bertemu dengan Chang-ryul, ia lalu berkata pada Jin-ho bahwa Chang-ryul baru saja meneleponnya.
“Lalu kenapa?” kata Jin-ho.
“Sebelum pergi berkencan. Kita latihan dulu satu kali. Ok!” kata Kae-in.
“Latihan apa. Sekarang kalian taktiknya benar-benar banyak” kata Young-soon heran.
“Young-soon... Sang-joon.. kalian balik duluan saja. Kami mau pergi ke suatu tempat. Ada sedikit urusan darurat” kata Kae-in.
Kae-in menarik Jin-ho pergi. Sang-joo bingung sebenarnya ada apa. Young-soon semakin heran ia berkata pada Sang-joon kalau mereka berdua yang aneh. “Satu pasangan yang serasi” kata Sang-joon. Young-soon kaget, Sang-joon buru-buru berkata kalau ia melihat sepasang burung yang serasi.

“Kenapa aku harus melakukan hal itu” kata Jin-ho.
“Betul, kamu bukan orang suka bersantai. Mana ada waktu demi aku melakukan hal seperti ini” kata Kae-in lesu.
“Aku akan bantu kamu” kata Jin-ho tiba-tiba.
Kae-in kaget mendengarnya.
“Jika benar-benar berkembang sampai tahap itu. Aku akan bantu kamu. Karena kita adalah teman” lanjut Jin-ho.
Kae-in tersenyum senang mendengarnya.
Kae-in dan Jin-ho sudah hampir sampai Sang Go-jae.
Kae-in menarik tangan Jin-ho dan berkata “Nanti kamu tarik tanganku seperti ini.. lalu kita lari bersama”.
“Kamu ini benar-benar suka membuat janji” kata Jin-ho.
Mereka pulang sambil bergandengan tangan. Lalu tiba-tiba mereka melihat Ibu Jin-ho, Hye-mi dan Tae-hoon ada di depan Sang Go-jae.
“Jin-ho.. Ya Tuhan.. kamu.. kamu bagaimana bisa” kata Ibu Jin-ho kaget dan kemudian pingsan melihat Jin-ho dan Kae-in bergandengan.


“Kamu kenapa bisa seperti ini.. aku begitu mempercayaimu saat kamu bilang hal itu.. jadi baru tinggal di Sang Go-jae ini. Aku merasa kasihan sekali padamu saat itu, tapi kamu membelakangi ibu tinggal bersama wanita lain” Kata Ibu Jin-ho kecewa.
“Bukan begitu ibu!” kata Kae-in mencoba menjelaskan.
“Ibu!! Kamu atas dasar apa memanggil ibuku sebagai ibumu” kata Hye-mi kesal.
Jin-ho minta Hye-mi tenang sedikit. Hye-mi kesal ia berkata, ia bereaksi seperti itu karena ia adalah tunangan Jin-ho.
“Tunangan?” tanya Kae-in kaget.
Jin-ho jadi khawatir melihat reaksi Kae-in.
“Ya. Aku adalah tunangan Jin-ho oppa” kata Hye-mi.
“Jin-ho.. sebentar.. kita keluar bicara sebentar” ajak Kae-in.
Hye-mi melarang tapi Ji-ho akhirnya keluar bersama Kae-in.
Jin-ho dan Kae-in masuk ke kamar Kae-in. Kae-in berkata sebaiknya Jin-ho terus terang saja pada ibunya tentang kenyataannya.
“Kenyataan apa?” kata Jin-ho bingung.
Kae-in berkata akan sangat kasihan jika wanita tadi (Hye-mi) terus menganggap Jin-ho sebagai tunangannya padahal Jin-ho tak mungkin menikahinya. Jin-ho mengerti sekarang dan sedikit kesal mendengarnya.
“Lagi pula jantung bibi sepertinya juga tidak baik hingga sampai sekarang tidak tahu. Jadi kamu sebaiknya mengatakan lebih awal. Selagi ada kesempatan katakan yang sejujurnya. Aku rasa ia bisa mengerti kamu” kata Kae-in.
“Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan hal ini” kata Jin-ho dan mau pergi.
Kae-in mencegah dan berkata "Jin-ho, sebagai ibu ia pasti bisa mengerti keadaan anaknya sendiri. Meskipun awalnya pasti akan terpukul. Tapi harusnya ia bisa mengerti kamu” kata Kae-in.
Jin-ho sudah kesal, ia berkata “Apakah kamu ingin memberitahu ibuku bahwa aku adalah gay?”.
“Ya” kata Kae-in.
“Apa kamu masih normal?” tanya Jin-ho.“Bukan begitu ibu!” kata Kae-in mencoba menjelaskan.
“Ibu!! Kamu atas dasar apa memanggil ibuku sebagai ibumu” kata Hye-mi kesal.
Jin-ho minta Hye-mi tenang sedikit. Hye-mi kesal ia berkata, ia bereaksi seperti itu karena ia adalah tunangan Jin-ho.
“Tunangan?” tanya Kae-in kaget.
Jin-ho jadi khawatir melihat reaksi Kae-in.
“Ya. Aku adalah tunangan Jin-ho oppa” kata Hye-mi.
“Jin-ho.. sebentar.. kita keluar bicara sebentar” ajak Kae-in.
Hye-mi melarang tapi Ji-ho akhirnya keluar bersama Kae-in.
Jin-ho dan Kae-in masuk ke kamar Kae-in. Kae-in berkata sebaiknya Jin-ho terus terang saja pada ibunya tentang kenyataannya.
“Kenyataan apa?” kata Jin-ho bingung.
Kae-in berkata akan sangat kasihan jika wanita tadi (Hye-mi) terus menganggap Jin-ho sebagai tunangannya padahal Jin-ho tak mungkin menikahinya. Jin-ho mengerti sekarang dan sedikit kesal mendengarnya.
“Lagi pula jantung bibi sepertinya juga tidak baik hingga sampai sekarang tidak tahu. Jadi kamu sebaiknya mengatakan lebih awal. Selagi ada kesempatan katakan yang sejujurnya. Aku rasa ia bisa mengerti kamu” kata Kae-in.
“Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan hal ini” kata Jin-ho dan mau pergi.
Kae-in mencegah dan berkata "Jin-ho, sebagai ibu ia pasti bisa mengerti keadaan anaknya sendiri. Meskipun awalnya pasti akan terpukul. Tapi harusnya ia bisa mengerti kamu” kata Kae-in.
Jin-ho sudah kesal, ia berkata “Apakah kamu ingin memberitahu ibuku bahwa aku adalah gay?”.
“Ya” kata Kae-in.


“Gay” teriak Hye-mi.
Tae-hoon dan Hye-mi masih tak percaya. Ibu Jin-ho juga kaget dan hampir pingsan lagi.
Tapi Jin-ho buru-buru berkata “Bukan ibu.. aku bukan gay”.
Kae-in kecewa Jin-ho berbohong pada ibunya.
"Nona Kae-in.. kamu kesini” kata Jin-ho tiba-tiba.
Kae-in kaget dan hanya diam saja.
Jin-ho menyeretnya mendekat.
“Ibu. Aku mencintai dia dan akan menikahinya” kata Jin-ho sambil merangkul Kae-in.

“Aku ingin menikah dengannya” kata Jin-ho menegaskan lagi.
“Jin-ho” kata ibu Jin-ho bingung.
Jin-ho lalu menyuruh Kae-in memberi salam pada ibunya. Kae-in mulanya ragu, tapi ia akhirnya melakukannya. Hye-mi menangis dan pergi dari sana, Tae-hoon menyusul Hye-mi.
Ibu Jin-ho hampir jatuh pingsan lagi dan berkata “Gay.. kamu bukan gay betul kan?”.
“Bukan” kata Jin-ho tegas.
“Nama.. nama kamu siapa tadi?” tanya Ibu Jin-ho.
“Park Kae-in” kata Kae-in.
“Nona Kae-in.. kamu.. cinta Jin-ho kami kah?” tanya ibu Jin-ho lagi.
Jin-ho dan Kae-in kaget mendengarnya. Jin-ho memberi tanda agar Kae-in menjawabnya ya, tapi Kae-in memberi tanda tidak setuju. Ibu Jin-ho menunggu dan Kae-in langsung bilang “Ya. Aku mencintai Jin-ho”.

“Walaupun mendadak tapi bagaimana bisa berbohong begini. Apalagi di depan ibu.. apa ia mau kelak aku menanggung akibatnya” gumam Kae-in sendiri.
Tiba-tiba Young-soon datang, ia berkata kalau ia merasa khawatir dengan Kae-in makanya datang kesana. Kae-in tak mengerti. Young-soon berkata kalau ia khawatir dengan hubungan Kae-in dan Jin-ho yang aneh dan terlihat seperti bukan hubungan pertemanan biasa bahkan seperti sedang pacaran.
“Aku dan dia bagaimana mungkin pacaran” kata Kae-in.
Young-soon berkata kalau ia tadi mengikuti Kae-in dan ia melihat Kae-in dan Jin-ho berjalan berduaan sambil menyanyi. Kae-in berkata ia hanya sedang latihan demi membalas dendam pada Chang-ryul. Young-soon tetap tak percaya, ia berkata Kae-in hanya menggunakan alasan balas dendam agar bisa terus bersama Jin-ho. Kae-in tak bisa mengelak kali ini. Young-soon menyuruh Kae-in sadar karena Jin-ho tak mungkin tertarik padanya. Kae-in berkata kalau situasinya sekarang sudah semakin parah. Young-soon langsung tanya ada masalah apa.
Sementara itu Jin-ho setelah mengantar pulang ibunya menemui Hye-mi yang sedang di tenangkan oleh Tae-hoon karena ingin bunuh diri. Jin-ho berkata kalau selama ini Hye-mi pun tahu kalau ia tak mencintainya. Hye-mi berkata bukankah sudah cukup kalau ia yang mencintainya.
“Cinta bukan masalah satu orang” kata Jin-ho.
“Aku bisa laksanakan itu” kata Hye-mi.
“Orang yang mencintai kamu adalah orang ini” kata Jin-ho sambil menarik Tae-hoon.
“Sama seperti kamu yang cinta sepihak padaku. Orang ini juga sama. Karena kamu orang ini juga benar-benar ikut sedih” lanjut Jin-ho.
“Jin-ho mau menikah denganku” kata Kae-in.Tiba-tiba Young-soon datang, ia berkata kalau ia merasa khawatir dengan Kae-in makanya datang kesana. Kae-in tak mengerti. Young-soon berkata kalau ia khawatir dengan hubungan Kae-in dan Jin-ho yang aneh dan terlihat seperti bukan hubungan pertemanan biasa bahkan seperti sedang pacaran.
“Aku dan dia bagaimana mungkin pacaran” kata Kae-in.
Young-soon berkata kalau ia tadi mengikuti Kae-in dan ia melihat Kae-in dan Jin-ho berjalan berduaan sambil menyanyi. Kae-in berkata ia hanya sedang latihan demi membalas dendam pada Chang-ryul. Young-soon tetap tak percaya, ia berkata Kae-in hanya menggunakan alasan balas dendam agar bisa terus bersama Jin-ho. Kae-in tak bisa mengelak kali ini. Young-soon menyuruh Kae-in sadar karena Jin-ho tak mungkin tertarik padanya. Kae-in berkata kalau situasinya sekarang sudah semakin parah. Young-soon langsung tanya ada masalah apa.
Sementara itu Jin-ho setelah mengantar pulang ibunya menemui Hye-mi yang sedang di tenangkan oleh Tae-hoon karena ingin bunuh diri. Jin-ho berkata kalau selama ini Hye-mi pun tahu kalau ia tak mencintainya. Hye-mi berkata bukankah sudah cukup kalau ia yang mencintainya.
“Cinta bukan masalah satu orang” kata Jin-ho.
“Aku bisa laksanakan itu” kata Hye-mi.
“Orang yang mencintai kamu adalah orang ini” kata Jin-ho sambil menarik Tae-hoon.
“Sama seperti kamu yang cinta sepihak padaku. Orang ini juga sama. Karena kamu orang ini juga benar-benar ikut sedih” lanjut Jin-ho.

“Kalau begitu .. kamu mau demi aku yang tak mencintaimu pergi bunuh diri? Kalau begitu kamu lakukan saja” kata Jin-ho.
“Hyung bagaimana bisa kamu katakan perkataan yang begitu sadis” kata Tae-hoon.
Tae-hoon kemudian menutup telinga Hye-mi dan berkata “Jangan dengar. Jangan dengar. Jangan dengar”.
“Kamu jangan lihat aku. Coba lihat orang ini. Mungkin nanti kamu jatuh cinta padanya” kata Jin-ho pergi meninggalkan mereka berdua. Tae-hoon lalu memeluk Hye-mi dan berkata “Tak apa – apa Hye-mi kalau kamu mau menangis.. menangis saja yang kuat” (oh so sweet... aku suka Tae-hoon.. suka.. suka... walaupun Hye-mi gak mencintainya tapi ia bisa melakukan apapun buat Hye-mi.. mau dong da yg kayak gitu satu buat aku.. hehe).
“Hyung bagaimana bisa kamu katakan perkataan yang begitu sadis” kata Tae-hoon.
Tae-hoon kemudian menutup telinga Hye-mi dan berkata “Jangan dengar. Jangan dengar. Jangan dengar”.
“Kamu jangan lihat aku. Coba lihat orang ini. Mungkin nanti kamu jatuh cinta padanya” kata Jin-ho pergi meninggalkan mereka berdua. Tae-hoon lalu memeluk Hye-mi dan berkata “Tak apa – apa Hye-mi kalau kamu mau menangis.. menangis saja yang kuat” (oh so sweet... aku suka Tae-hoon.. suka.. suka... walaupun Hye-mi gak mencintainya tapi ia bisa melakukan apapun buat Hye-mi.. mau dong da yg kayak gitu satu buat aku.. hehe).


“Apa! Kamu sudah gila ya?” kata Young-soon.
“Jin-ho sepenuhnya tak punya keberanian mengatakan hal sebenarnya pada ibunya. Aku ingin seumur hidup begini. Demi dia, halangi angin dan hujan yang mendera. Begitu tak bisakah?” kata Kae-in.
Young-soon semakin kaget tak percaya.

“Hidup sebagai teman tak bisakah?” tanya Kae-in lagi.
“Kae-in.. kita masih ada banyak hal yang bisa kita kerjakan bukannya tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. Dasar anak bodoh”.
“Jin-ho terhadapku selalu baik. Setidaknya akupun harus baik pada ibunya.. aku.. kalau ada hal yang bisa kulakukan hanya itu aku rela” kata Kae-in.
“Kamu hanya menggunakan pertemanan sebagai alasan iya kan? Kamu hanya ingin berada disampingnya makanya berbuat begini iya kan?” tebak Young-soon.
Kae-in tak bisa membalas. Young-soon merasa bersalah karena dulu ia lah yang mendorong Kae-in agar mau tinggal bersama Jin-ho. Saat pulang Young-soon tiba-tiba ada ide untuk mengatasi masalah itu.
Kae-in merenungi keputusannya di teras. Tiba-tiba Jin-ho datang. Kae-in tersenyum dan Jin-ho membalasnya. Mereka lalu ngobrol diteras. Kae-in tanya bagaimana keadaan ibu Jin-ho. Jin-ho minta maaf karena membuat kaget Kae-in hari ini. Kae-in berkata kalau ia tak apa-apa dan ia mengerti kalau Jin-ho sangat mencintai ibunya makanya berkata seperti itu.
“Hanya perlu tunggu ia sedikit tenang dulu saja” kata Jin-ho.
“Jin-ho.. jika... aku bilang "jika" ya.. jika kamu benar-benar tak ada keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibumu.. jadi tetap ingin bersama laki-laki tapi menikah dengan seorang wanita didepan ibumu... Aku bisa bantu kamu” kata Kae-in.
Jin-ho kaget mendengarnya.
“Jika aku bisa menjadi perisaimu.. kamu tak perlu memikirkan orang lain dan bisa melakukan apa yang ingin kamu lakuakan” kata Kae-in.
Jin-ho kesal, ia berdiri dan berkata “Apa kamu merasa ini tindakan yang benar?”.
Kae-in tak mengerti.“Kae-in.. kita masih ada banyak hal yang bisa kita kerjakan bukannya tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. Dasar anak bodoh”.
“Jin-ho terhadapku selalu baik. Setidaknya akupun harus baik pada ibunya.. aku.. kalau ada hal yang bisa kulakukan hanya itu aku rela” kata Kae-in.
“Kamu hanya menggunakan pertemanan sebagai alasan iya kan? Kamu hanya ingin berada disampingnya makanya berbuat begini iya kan?” tebak Young-soon.
Kae-in tak bisa membalas. Young-soon merasa bersalah karena dulu ia lah yang mendorong Kae-in agar mau tinggal bersama Jin-ho. Saat pulang Young-soon tiba-tiba ada ide untuk mengatasi masalah itu.
Kae-in merenungi keputusannya di teras. Tiba-tiba Jin-ho datang. Kae-in tersenyum dan Jin-ho membalasnya. Mereka lalu ngobrol diteras. Kae-in tanya bagaimana keadaan ibu Jin-ho. Jin-ho minta maaf karena membuat kaget Kae-in hari ini. Kae-in berkata kalau ia tak apa-apa dan ia mengerti kalau Jin-ho sangat mencintai ibunya makanya berkata seperti itu.
“Hanya perlu tunggu ia sedikit tenang dulu saja” kata Jin-ho.
“Jin-ho.. jika... aku bilang "jika" ya.. jika kamu benar-benar tak ada keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibumu.. jadi tetap ingin bersama laki-laki tapi menikah dengan seorang wanita didepan ibumu... Aku bisa bantu kamu” kata Kae-in.
Jin-ho kaget mendengarnya.
“Jika aku bisa menjadi perisaimu.. kamu tak perlu memikirkan orang lain dan bisa melakukan apa yang ingin kamu lakuakan” kata Kae-in.
Jin-ho kesal, ia berdiri dan berkata “Apa kamu merasa ini tindakan yang benar?”.


Kae-in hanya diam menunduk.
“Masih harus aku katakan berapa kali lagi agar kamu bisa mencintai diri kamu sendiri baru kamu mengerti?” teriak Jin-ho.
Kae-in berdiri dan berkata “Tapi kamu.. bukankah tak bisa menikahi orang yang kamu cintai. Walaupun kau tak mengganggapku sebagai wanita yang untuk dicintai aku rela.. jika itu adalah denganmu, aku merasa aku bisa seumur hidup bersamamu”.
“Karena begini, kamu mau hidup seumur hidup ditipu orang. Ternyata pemikiran menikah dengan seoranng gay adalah pemikiran yang sangat bodoh” kata Jin-ho.
“Walaupun aku sangat bodoh. Tapi setidaknya kamu akan merasakan bahwa aku adalah temanmu yang terbaik didunia ini. Jadi demi kamu aku bisa lakukan apa pun” kata Kae-in sedih.
Jin-ho sudah tak habis pikir Kae-in bisa berkata seperti itu demi dia. Ia lalu berkata “Kita jangan jadi teman lagi. Aku benar-benar sangat capek. Tidak usah teruskan ini lagi”.
Jin-ho kemudian masuk kamarnya. Kae-in terdiam dan menahan tangisnya ia sangat ingin terus bersama Jin-ho meski harus mengorbankan dirinya.
Di dalam kamar Jin-ho sangat pusing, ia lalu bergumam “Kamu seharusnya tanya aku.. bisa tidak anggap kamu sebagai wanita untuk dicintai. Itu baru betul! Wanita bodoh ini!”. (huwa marahan lagi.. ntar baikan lagi.. cek.cek..).
“Masih harus aku katakan berapa kali lagi agar kamu bisa mencintai diri kamu sendiri baru kamu mengerti?” teriak Jin-ho.
Kae-in berdiri dan berkata “Tapi kamu.. bukankah tak bisa menikahi orang yang kamu cintai. Walaupun kau tak mengganggapku sebagai wanita yang untuk dicintai aku rela.. jika itu adalah denganmu, aku merasa aku bisa seumur hidup bersamamu”.
“Karena begini, kamu mau hidup seumur hidup ditipu orang. Ternyata pemikiran menikah dengan seoranng gay adalah pemikiran yang sangat bodoh” kata Jin-ho.
“Walaupun aku sangat bodoh. Tapi setidaknya kamu akan merasakan bahwa aku adalah temanmu yang terbaik didunia ini. Jadi demi kamu aku bisa lakukan apa pun” kata Kae-in sedih.
Jin-ho sudah tak habis pikir Kae-in bisa berkata seperti itu demi dia. Ia lalu berkata “Kita jangan jadi teman lagi. Aku benar-benar sangat capek. Tidak usah teruskan ini lagi”.
Jin-ho kemudian masuk kamarnya. Kae-in terdiam dan menahan tangisnya ia sangat ingin terus bersama Jin-ho meski harus mengorbankan dirinya.
Di dalam kamar Jin-ho sangat pusing, ia lalu bergumam “Kamu seharusnya tanya aku.. bisa tidak anggap kamu sebagai wanita untuk dicintai. Itu baru betul! Wanita bodoh ini!”. (huwa marahan lagi.. ntar baikan lagi.. cek.cek..).


Chang-ryul menelepon Kae-in dan tanya apa ia bisa bertemu hari ini. Kae-in berkata tak bisa karena ia sedang tak mood bertemu Chang-ryul. Chang-ryul memaksa. Asisten Kim datang memberitahu ayah Chang-ryul ingin Chang-ryul datang menemuinya. Chang-ryul memberi isyarat agar asisten Kim diam. Kae-in tetap tak mau dan menutup telepon Chang-ryul.
Chang-ryul datang ke kantor ayahnya dan tak sengaja mendengar ayahnya sedang telepon dengan Prof. Park. Ayah Chang-ryul berkata pada Prof. Park bahwa ia ingin bertemu dengan Prof. Park untuk membicarakan pernikahan anak-anak mereka. Chang-ryul kaget mendengarnya, ayah Chang-ryul memberi isyarat agar Chang-ryul diam. Ayah Chang-ryul tanya kapan Prof. Park pulang jika masih lama ia bisa datang menemui Prof. Park di Inggris. Chang-ryul semakin kaget dan mau menghentikannya, tapi Ayahnya memberi isyarat lagi agar Chang-ryul tidak ikut campur. Prof. Park berkata kalau ia tidak lama lagi akan pulang. Ayah Chang-ryul senang sekali dan berkata ingin sekali membuat janji bertemu setelah Prof. Park setelah ia pulang, kemudian percakapan telepon berakhir. Chang-ryul kesal ia langsung tanya apa maksud ayahnya berbuat seperti itu padahal ia sudah memberitahu bahwa masalahnya dengan Kae-in ia bisa selesaikan sendiri. Ayah Chang-ryul berteriak bahwa sudah tak ada waktu lagi dan berkata bahwa sekarang manajemen perusaam Meiseu sudah diserahkan hampir sepenuhnya pada Do-bin dan sekarang Do-bin sedang baik pada Jin-ho. Ia takut Do-bin dalam hatinya sudah putuskan Jin-ho sebagai pemenangnya. Chang-ryul berkata bukankah sudah cukup kalau mereka memberikan desain yang lebih bagus dari Jin-ho.
“Bodoh.. ada jalan yang mudah kenapa harus putar jalan” kata ayah Chang-ryul.
Ia juga berkata bahwa Do-bin masih menunggu Prof. Park mau menjadi arsiteknya, jadi jika bisa menarik Prof. Park disisi mereka maka mereka akan memenangkan tander kali ini. Chang-ryul kesal ia berkata bukankah ayahnya sudah memberikan tanggung jawab penuh kepadanya untuk proyek kali ini. Ayahnya berkata bahwa tugas Chang-ryul adalah menangkap kembali hati Kae-in.
Chang-ryul menemui Kae-in di gedung Maiseu. Kae-in kaget melihatnya dan berkata bukankah ia sudah bilang tak ingin bertemu hari itu. Chang-ryul berkata ada yang ia ingin katakan pada Kae-in. Kae-in dengan dingin berkata apa tidak bisa dikatakan lain kali saja karena ia sedang ada banyak kerjaan.
“Jin-ho.. sampai kapan ia mau tinggal di Sang Go-jae?” tanya Chang-ryul.
“Kamu datang cuma mau katakan ini kah? Bukankah kamu bilang bisa mengerti dan bilang bisa menunggu” kata Kae-in.
“Betul, tapi.. tinggal bersama dalam satu rumah bukankah sedikit keterlaluan. Kamu gadis yang begitu polos, tapi tinggal bersama dengan orang yang keji” kata Chang-ryul.
“Jika kamu masih katakan hal jelek tentang Jin-ho sebaiknya kamu jangan katakan lagi. Kamu tahu.. bagaimana aku sulit melewati waktu itu. Waktu saat kamu datang mencariku dan berkata karena akau tak bisa memberikan semuanya padamu makanya kau membuangku.. waktu itu bersama Jin-ho sambil minum aku sudah katakan semuanya padanya tapi hatiku tetap tak bisa tenang. Dia bilang aku bukan wanita, aku hanya seorang gadis muda. Jin-ho adalah orang yang selalu menemaniku saat itu. Jadi walaupun kau katakan ingin kembali padaku saat ini tapi luka yang kau berikan saat itu belum benar-benar sembuh. Saat ini pun aku belum ada persiapan menerimamu kembali. Dan juga... sekarang dibandingkan kau.. temanku Jin-ho jauh lebih penting” kata Kae-in.
“Jeon Jin-ho.. apakah sebegitu pentingnya bagimu?” tanya Chang-ryul lagi.
“Baiklah, aku mengerti. Kamu kerja lagi saja” kata Chang-ryul sedih kemudian pergi dari sana.

“Tentu” kata In-hae yakin.
“Kalau begitu kamu harus berhasil” kata Chang-ryul.
“Kenapa?” tanya In-hae heran.
“Kamu harus berhasil. Lalu pisahkan Kae-in dari sisi Jin-ho” kata Chang-ryul.
“Kae-in bilang apa padamu?” kata In-hae curiga.
“Dibandingkan dengan aku, dia jauh lebih menghargai Jin-ho” kata Chang-ryul menjelaskan.
“Benar-benar seperti yang aku katakan, iya kan? Kae-in ada maksud lain pada Jin-ho” kata In-hae.
“Aku minta tolong kamu. Kali ini aku tak ingin gagal dalam percintaan” kata Chang-ryul kemudian pergi dari sana (suruh siapa dulu selingkuh... sukurin!!!).
Dikantor Jin-ho sedang memperlihatkan beberapa gambar draf museum yang sudah jadi pada Sang-joon. Tiba-tiba Jin-ho mendapat telepon dari Young-soon. Sang-joon kaget dan heran Young-soon menelepon Jin-ho. Young-soon berkata agar nanti malam Jin-ho langsung pulang saja karena ia ingin makan melam bersama Jin-ho. Jin-ho menyanggupinya. Sang-joon heran ia tanya Young-soon ada urusan apa menelepon Jin-ho. Jin-ho berkata kalau Young-soon akan menyiapkan makan malam dan menyuruhnya langsung pulang nanti. Sang-joon senang dan mau ikut makan malam bersama. Jin-ho berkata bukankah Sang-joon ada janji malam itu. Sang-joon berkata kalau ia akan membatalkan janji itu. Tiba-tiba karyawan Jin-ho datang dan berkata kalau ada telepon dari Chang-ryul. Jin-ho dan Sang-joon kaget mendengarnya.
Ternyata Chang-ryul ingin bertemu dengan Jin-ho dan mereka bertemu di bawah jembatan. Jin-ho tanya ada hal apa Chang-ryul ingin bertemu dengannya. Chang-ryul berkata kalau ia tidak pernah sekalipun menunggu Kae-in sampai saat itu. Ia lalu bercerita dulu Kae-in lah yang selalu menunggunya jika mereka janjian.
“Buat apa kamu ceritakan semua ini padaku?”kata Jin-ho.
Chang-ryul tetap bercerita, Kae-in tetap akan menunggunya meski ia datang kemalaman dan sekarang ia tahu bagaimana rasanya menunggu itu saat Kae-in belum bisa membuka hatinya lagi untuknya.
“Kamu sebenarnya katakan semua ini padaku buat apa?” kata jin-ho lagi.
“Aku tahu kamu bukan gay” kata Chang-ryul.
Jin-ho kaget mendengarnaya.
“Bagaimanapun juga aku tak percaya saat kamu bilang gay padaku, makanya suruh orang menyelidikinya. Awalnya aku ingin memberitahu Kae-in karena kamu demi mendekati kepala Choi berpura-pura jadi gay. Tapi tak bisa. Karena jika begitu.. Kae-in akan mengusirmu dari Sang Go-jae. Kae-in lebih menghargaimu dari pada aku sekarang. Jika ia tahu teman yang begitu dipercayainya adalah seorang pembohong besar. Kae-in takutnya akan sedih lagi. Jadi tak peduli bagaimana.. aku sudah putuskan tidak akan membuat Kae-in sedih lagi. Jadi Jeon Jin-ho.. kamu sekarang sebaiknya pindah dari sana. Dengan status masih sebagai teman pergi dari sisinya. Aku merasa kamu sudah cukup mengerti perkataanku bukan?” kata Chang-ryul kemudian pergi meninggalkan Jin-ho.
“Aku minta tolong kamu. Kali ini aku tak ingin gagal dalam percintaan” kata Chang-ryul kemudian pergi dari sana (suruh siapa dulu selingkuh... sukurin!!!).
Dikantor Jin-ho sedang memperlihatkan beberapa gambar draf museum yang sudah jadi pada Sang-joon. Tiba-tiba Jin-ho mendapat telepon dari Young-soon. Sang-joon kaget dan heran Young-soon menelepon Jin-ho. Young-soon berkata agar nanti malam Jin-ho langsung pulang saja karena ia ingin makan melam bersama Jin-ho. Jin-ho menyanggupinya. Sang-joon heran ia tanya Young-soon ada urusan apa menelepon Jin-ho. Jin-ho berkata kalau Young-soon akan menyiapkan makan malam dan menyuruhnya langsung pulang nanti. Sang-joon senang dan mau ikut makan malam bersama. Jin-ho berkata bukankah Sang-joon ada janji malam itu. Sang-joon berkata kalau ia akan membatalkan janji itu. Tiba-tiba karyawan Jin-ho datang dan berkata kalau ada telepon dari Chang-ryul. Jin-ho dan Sang-joon kaget mendengarnya.
Ternyata Chang-ryul ingin bertemu dengan Jin-ho dan mereka bertemu di bawah jembatan. Jin-ho tanya ada hal apa Chang-ryul ingin bertemu dengannya. Chang-ryul berkata kalau ia tidak pernah sekalipun menunggu Kae-in sampai saat itu. Ia lalu bercerita dulu Kae-in lah yang selalu menunggunya jika mereka janjian.
“Buat apa kamu ceritakan semua ini padaku?”kata Jin-ho.
Chang-ryul tetap bercerita, Kae-in tetap akan menunggunya meski ia datang kemalaman dan sekarang ia tahu bagaimana rasanya menunggu itu saat Kae-in belum bisa membuka hatinya lagi untuknya.
“Kamu sebenarnya katakan semua ini padaku buat apa?” kata jin-ho lagi.
“Aku tahu kamu bukan gay” kata Chang-ryul.
Jin-ho kaget mendengarnaya.
“Bagaimanapun juga aku tak percaya saat kamu bilang gay padaku, makanya suruh orang menyelidikinya. Awalnya aku ingin memberitahu Kae-in karena kamu demi mendekati kepala Choi berpura-pura jadi gay. Tapi tak bisa. Karena jika begitu.. Kae-in akan mengusirmu dari Sang Go-jae. Kae-in lebih menghargaimu dari pada aku sekarang. Jika ia tahu teman yang begitu dipercayainya adalah seorang pembohong besar. Kae-in takutnya akan sedih lagi. Jadi tak peduli bagaimana.. aku sudah putuskan tidak akan membuat Kae-in sedih lagi. Jadi Jeon Jin-ho.. kamu sekarang sebaiknya pindah dari sana. Dengan status masih sebagai teman pergi dari sisinya. Aku merasa kamu sudah cukup mengerti perkataanku bukan?” kata Chang-ryul kemudian pergi meninggalkan Jin-ho.







Jin-ho kecewa dan berkata “Perkataanku yang bilang sebaiknya kita menikah ternyata telah membuatmu kaget iya kan?”.
Kae-in kaget mendengarnya.
“Apakah kamu mau begini terus.. kekhawatiran sepanjang hidup akan berubah menjadi candaan” kata Jin-ho marah.
“Jin-ho” kata Kae-in.
“Langsung dorong kepada kepala Choi kan sudah bisa. Seperti inikah pemikiranmu?” tanya Jin-ho kesal.
“Kamu jelas tahu bukan begitu” kata Kae-in mencoba menjelaskan.
“Tidak peduli bagaimana masih lumayan beruntung. Selama ini mengira kamu sangat bodoh.. tidak terpikir ternyata masih bisa gerakkan otak” kata Jin-ho.
“Kamu sedang katakan apa?” kata Kae-in.
“Akhir minggu ini aku akan pindah keluar” kata Jin-ho.
“Kamu bilang apa?” kata Kae-in kaget.
“Sisa uang sewanya akan aku tunggu jika kamu sudah temukan orang sewa baru, saat itu baru kamu kembalikan padaku” kata Jin-ho kemudian mau pergi dari sana.
“Jin-ho.. kamu mau pergi kemana?” kata Kae-in mencoba menghalangi.
“Aku mau keluar” kata Jin-ho.
“Apa! Kamu mau pergi sekarang kah?” tanya Kae-in lagi.Kae-in kaget mendengarnya.
“Apakah kamu mau begini terus.. kekhawatiran sepanjang hidup akan berubah menjadi candaan” kata Jin-ho marah.
“Jin-ho” kata Kae-in.
“Langsung dorong kepada kepala Choi kan sudah bisa. Seperti inikah pemikiranmu?” tanya Jin-ho kesal.
“Kamu jelas tahu bukan begitu” kata Kae-in mencoba menjelaskan.
“Tidak peduli bagaimana masih lumayan beruntung. Selama ini mengira kamu sangat bodoh.. tidak terpikir ternyata masih bisa gerakkan otak” kata Jin-ho.
“Kamu sedang katakan apa?” kata Kae-in.
“Akhir minggu ini aku akan pindah keluar” kata Jin-ho.
“Kamu bilang apa?” kata Kae-in kaget.
“Sisa uang sewanya akan aku tunggu jika kamu sudah temukan orang sewa baru, saat itu baru kamu kembalikan padaku” kata Jin-ho kemudian mau pergi dari sana.
“Jin-ho.. kamu mau pergi kemana?” kata Kae-in mencoba menghalangi.
“Aku mau keluar” kata Jin-ho.
“Betul” kata Jin-ho kemudian pergi dari Sang Go-jae.

“Laporan cuaca park Kae-in: seorang pasangan yang mengikuti angin musim semi yang hangat.. malam seorang teman. Musim panas segera datang. Tapi aku pikir tidak akan ada musim panas yang begitu.. semua tetap sama terasa dingin tidak bisa mempererat bahu”.
Keesokan harinya ternyata Jin-ho tidak pulang ke rumahnya dan malah kembali ke kantor. Sang-joon heran melihat sikap Jin-ho, ia memberanikan diri mengajak Jin-ho makan, tapi Jin-ho menolaknya dan menyuruh Sang-joon pergi saja. Sang-joon pergi, Jin-ho tak bisa konsentrasi kerja ia memikirkan perkataan Chang-ryul kemudian bergumam “Apa kau sudah puas sekarang? Malah sampai jadi teman pun tak bisa”.
Tiba-tiba In-hae datang. Jin-ho mengira itu Sang-joon dan berkata kalau ia tak selera makan. “Kenapa tak selera makan?” kata In-hae. Jin-ho kaget dan bertanya sedang apa In-hae datang kesana. In-hae berkata kalau perusahaannya memberikan beberapa lembar tiket pertunjukan musik dan minta Jin-ho menemaninya.
“Tak mau” kata Jin-ho sambil mengambil mantelnya dan mau pergi dari sana (Bagus!!!).
“Kae-in hari ini juga mendapat tiket dari kepala Choi. Chang-ryul dua hari ini terus datang ke gedung Maiseu demi berbaikan kembali dengan Kae-in. Hari ini mereka juga bersama melihat pertunjukan musik ini” kata In-hae.
“Hal ini tak ada hubungannya denganku” kata Jin-ho dan mau pergi lagi.
In-hae berkata “Kae-in sekarang sepertinya juga ingin kembali ke sisi Chang-ryul. Bukankah sebagai teman kamu seharusnya mau membantunya.. atau jangan-jangan kamu tak mau bantu diakah? Jika kamu pergi bersamaku, aku rasa Kae-in bisa lebih fokus pada hubungannya dengan Chang-ryul, iya kan?” kata In-hae (salah Jin-ho.. jangan dengar bisikan setan...).
Keesokan harinya ternyata Jin-ho tidak pulang ke rumahnya dan malah kembali ke kantor. Sang-joon heran melihat sikap Jin-ho, ia memberanikan diri mengajak Jin-ho makan, tapi Jin-ho menolaknya dan menyuruh Sang-joon pergi saja. Sang-joon pergi, Jin-ho tak bisa konsentrasi kerja ia memikirkan perkataan Chang-ryul kemudian bergumam “Apa kau sudah puas sekarang? Malah sampai jadi teman pun tak bisa”.
Tiba-tiba In-hae datang. Jin-ho mengira itu Sang-joon dan berkata kalau ia tak selera makan. “Kenapa tak selera makan?” kata In-hae. Jin-ho kaget dan bertanya sedang apa In-hae datang kesana. In-hae berkata kalau perusahaannya memberikan beberapa lembar tiket pertunjukan musik dan minta Jin-ho menemaninya.
“Tak mau” kata Jin-ho sambil mengambil mantelnya dan mau pergi dari sana (Bagus!!!).
“Kae-in hari ini juga mendapat tiket dari kepala Choi. Chang-ryul dua hari ini terus datang ke gedung Maiseu demi berbaikan kembali dengan Kae-in. Hari ini mereka juga bersama melihat pertunjukan musik ini” kata In-hae.
“Hal ini tak ada hubungannya denganku” kata Jin-ho dan mau pergi lagi.
In-hae berkata “Kae-in sekarang sepertinya juga ingin kembali ke sisi Chang-ryul. Bukankah sebagai teman kamu seharusnya mau membantunya.. atau jangan-jangan kamu tak mau bantu diakah? Jika kamu pergi bersamaku, aku rasa Kae-in bisa lebih fokus pada hubungannya dengan Chang-ryul, iya kan?” kata In-hae (salah Jin-ho.. jangan dengar bisikan setan...).






“Aku benar-benar tak bisa lakukan ini lagi” kata Kae-in.
“Lakukan apa?” tanya Chang-ryul heran.
“Aku sebenarnya demi membalas dendam padamu baru berbuat begini padamu. Sama seperti saat kamu membuang aku, aku juga ingin lakukan hal yang sama. Tapi aku juga tidak ingin melakukan hal begini lagi. Aku benar-benar tak bisa melakukan ini lagi” kata Kae-in sedih.
“Kae-in jadi kau mengatakan ini karena merasa bersalah padakukah? Aku tidak apa-apa jika itu bisa membuatmu balik padaku” kata Chang-ryul.
“Salah. Kamu tak bisa membuatku kambali padamu lagi" kata Kae-in.
“Kae-in” kata Chang-ryul.
“Chang-ryul kamu sama sekali tak tahu hatiku.. hatiku sekarang sebenarnya mengarah kepada siapa” kata Kae-in.



Credit : maldoeopsi
0 comments:
Post a Comment