Do you like this story?
Jin-ho minta maaf pada Do-bin dan berkata kalau ia mencintai Park Kae-in. Do-bin kaget mendengar Jin-ho bukanlah gay. Sementara itu Kae-in sudah selesai bicara dengan Chang-ryul, tiba-tiba Chang-ryul bertanya apakah Kae-in dan Jin-ho bahagia. Kae-in berbalik dan mengangguk, Chang-ryul tersenyum lega karena itu artinya ia bisa melepaskan Kae-in selamanya dengan rasa tenang. Kae-in pergi tapi Chang-ryul melihat sebuah truk berjalan kencang menuju arah Kae-in berada. Chang-ryul reflek berlari menyelamatkan Kae-in.
Di tempat lain Do-bin berjalan lunglai meninggalkan Jin-ho. Sementara itu Chang-ryul berhasil menyelamatkan Kae-in dan mereka terjatuh dipinggir jalan. Kae-in selamat tapi Chang-ryul tak sadarkan diri sehingga membuat Kae-in panik.
Di tempat lain Do-bin berjalan lunglai meninggalkan Jin-ho. Sementara itu Chang-ryul berhasil menyelamatkan Kae-in dan mereka terjatuh dipinggir jalan. Kae-in selamat tapi Chang-ryul tak sadarkan diri sehingga membuat Kae-in panik.

Kae-in menunggui Chang-ryul dengan perasaan cemas.


Chang-ryul mulai sadar dan terkejut Kae-in ada disana. Kae-in langsung tanya bagaimana keadaan Chang-ryul. Chang-ryul berkata dia tidak apa-apa tapi Kae-in masih kawatir karena tadi kepala Chang-ryul terbentur aspal jalan. Chang-ryul mulai ingat kejadian kecelakaan itu dan tetap berkata kalau ia tidak apa-apa. Kae-in berkata Chang-ryul sudah tidak sadarkan diri selama 5 jam. Chang-ryul terharu karena selama itu Kae-in terus menjaganya. Kae-in berkata tentu saja ia harus melakukan itu karena Chang-ryul terluka karena mencoba melindunginya. Chang-ryul berkata tentu saja ia harus melindungi Kae-in bahkan apa pun ia akan lakukan demi Kae-in. Kae-in jadi tak enak. Chang-ryul tersenyum dan berkata ia hanya bercanda. Tapi Kae-in tetap tak enak. Chang-ryul berkata Kae-in tak perlu mencemaskannya lagi karena ia adalah laki-laki yang kuat, yang akan keluar membantu jika Kae-in ada masalah. Kae-in mengucapkan terima kasih. Chang-ryul berkata itu tak perlu karena apa yang dilakuannya saat ini tidak ada bisa dibandingkan dengan apa yang telah dilaukan Kae-in dulu kepadanya.
Jin-ho pergi minum-minum sendirian di bar hotel, tiba-tiba In-hae datang dan memanasi dengan menebak bahwa Jin-ho minum-minum pasti karena Kae-in sedang bersama Chang-ryul. In-hae berkata kalau hubungan Kae-in dan Chang-ryul dulu berjalan lama jadi membutuhkan waktu untuk melupakan masing-masing. Jin-ho berkata kalau ia ingin minum sendirian. In-hae bukannya pergi malah berkata bahwa ia tahu Jin-ho itu orang seperti apa sejak pertama kali bertemu.
“Barang yang diinginkan, sebelum mendapatkannya tak akan dilepaskan. Kalau sekali tak berhasil maka akan mencoba lagi” kata In-hae.
Jin-ho hanya diam tak membalas (berarti benar yak??). In-hae kemudian bertanya apakah Jin-ho sudah menjelaskan semuanya kepada Do-bin. Jin-ho belum menjawab. Tapi In-hae sudah bisa menebak, ia kecewa karena jin-ho tak perlu melakukannya, Jin-ho hanya perlu menjadi teman Do-bin agar memenangkan tender itu. Kali ini Ji-ho menimpali. Ia berkata jika ia melakukan hal seperti itu maka itu namanya penipuan. In-hae tak percaya, ia berkata kalau Jin-ho tak berniat menipu orang lain maka sejak awal seharusnya Jin-ho tidak mengaku gay. Jin-ho tak bisa menjawabnya lagi. In-hae kembali berkata kalau ia sebetulnya ada sedikit pertanyaan tentang kenapa Jin-ho pura-pura menjadi gay untuk tinggal di Sang Go Jae. Jin-ho kaget mendengar hal itu.

“Jika kamu benaran ingin menipu saya, saya rela untuk menerimanya (jiah... om ini)” kata Do-bin dalam hatinya.
Chang-ryul dan Kae-in kembali ke hotel. Kae-in sedikit khawatir karena Chang-ryul terlihat masih kesakitan. Chang-ryul bilang kalau Kae-in tak perlu merisaukan dia karena luka itu tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit saat melihat Kae-in bergandengan tangan dengan Jin-ho. Kae-in jadi tidak enak. Chang-ryul menenangkan Kae-in dengan berkata kalau ia sekarang sudah bisa menerima hubungan Kae-in dengan Jin-ho.
Jin-ho buru-buru pergi menuju lift. In-hae terus mengejarnya dan mendesak Jin-ho mengakui bahwa tebakannya tentang niat Jin-ho tinggal di Sang Go-jae adalah benar. Jin-ho meminta In-hae untuk diam. In-hae bertanya apa Jin-ho takut karena niatnya Jin-ho sesungguhnya sudah terbaca olehnya. Jin-ho dengan dingin menyuruh In-hae diam. In-hae terus berbicara. Ia menebak karena desain musium damn dulunya diserahkan pada Prof. Park maka jika Jin-ho menjadi menantu Pof Park akan.... Belum selesai In-hae bicara, Jin-ho mendorong In-hae ke pinggir lift. Jin-ho memperingatkan agar In-hae menjaga bicaranya. In-hae malah tersenyum, ia berkata dengan reaksi Jin-ho seperti itu maka sudah menjawab bahwa tebakannya adalah benar.






“Apa kamu tidak merasakan hal sama, saat melihat Jin-ho bersama wanita lain?” tanya Young-soon sedikit curiga dengan Kae-in.
Jin-ho dan Sang-joon baru saja selesai mengikuti pertemuan. Tiba-tiba Chang-ryul datang dan berkata kalau ia ingin bicara empat mata dengan Jin-ho. Chang-ryul dan Jin-ho kemudian bicara empat mata dipinggir pantai. Chang-ryul menjelaskan kalau kemarin Kae-in hanya menemaninya dirumah sakit saja. Jin-ho berkata kalau ia sudah tahu. Chang-ryul tersenyum tipis dan berkata kalau kemarin ia sudah mau melepaskan Kae-in tapi malah terjadi kecelakaan itu. Jin-ho segera berkata kalau ia sudah mendengar hal itu. Jin-ho dengan ketus bertanya apa demi menjelaskan hal ini Chang-ryul menemuinya. Bukannya menjawab, Chang-ryul malah menjelaskan hal lain. Chang-ryul berkata kalau ia tidak menyangka ayahnya menemui Kae-in di Sang Go-jae, padahal ayahnya tahu kalau ia dan Kae-in tidak memiliki hubungan apa-apa. Jin-ho sedikit kaget mendengarnya. Untuk menjaga gengsinya Chang-ryul berkata kalau ia juga sebenarnya tak mau menjelaskan semuanya tapi demi tidak melihat Kae-in sedih ia mau melakukan hal itu. Jin-ho kemudian minta agar Chang-ryul tidak memperdulikan apa-apa lagi yang berhungan dengan Kae-in.


Chang-ryul tersenyum senang dan berkata “Apa? Kamu masih bisa perhatian pada saya! Karena cinta apakah dendam kepadaku sudah hilang?” .
“Tidak peduli. Kamu karena wanita saya baru bisa terluka. Terimakasih” kata Jin-ho dengan sedikit gengsi.
“Hay Jon Jin-ho. Walaupun masalah percintaan saya mengalah kepadamu. Tapi kamu jangan mengira saya akan mengalah dalam hal pekerjaan. Kali ini saya tidak akan main belakang. Saya ingin bersaing secara sehat denganmu. Setuju?” kata Chang-ryul tak kalah jaim. Jin-ho tersenyum kecil dan berkata “Setuju”. Kemudian mereka berpisah.

“Kenapa kamu tidak mengangkat telepon saya?” kata Jin-ho sedik kesal dan sedikit jaim.
“Apa pedulimu” kata Kae-in tak kalah kesal dan mau pergi dari sana.
Jin-ho menghalangi jalan Kae-in dengan tangannya.
“Kenapa? Kamu ada yang ingin dibicarakan dengan saya kah?” tanya Kae-in.
Jin-ho diam saja.
“Tidakkah kau ingin berkata maaf atau apa kepadaku!” sindir Kae-in.
“Maaf karena membuatmu marah atau apa” kata Jin-ho.
Kae-in pura-pura masih terlihat tidak senang kemudian pergi dari sana.
“Kamu mau pergi kemana?” kata Jin-ho sambil menarik tangan kae-in.
Kae-in melepas tangan Jin-ho sambil tersenyum kecil.
Jin-ho termakan permainan Kae-in. Ia akhirnya pergi mengejar Kae-in.

“Kamu tidak beli apa-apa.. buat apa datang kesini” kata Jin-ho kesal.
“Aku mau beli” kata Kae-in yakin.
“Beli apa?” kata Jin-ho penasaran.
“Buat apa membertitahumu” kata kae-in kesal.
“Kalau begitu kenapa kau membawaku kesini?” kata Jin-ho kesal.
“Karena saya tidak kenal jalan” kata Kae-in kesal.
Kae-in kemudian melihat-liat syal yang dipajang tak jauh darinya.
“Ah... kamu hanya mencari alasan” kata Jin-ho.
Kae-in tak menanggapi ia sibuk melihat-lihat.
“Kamu mau beli ini? Ibu saya yang dengan usia yang begitu juga tidak akan menggunakan ini” kata Jin-ho menyindir.
“Kalau begitu mana yang ia suka” kata Kae-in.
Jin-ho terlihat kaget.
“Kamu datang untuk membelikan hadiah untuk ibu sayakah?” kata Jin-ho penasaran.
Kaae-in terlihat sedikit putus asa, ia berkata “Saya tahu ini masih tidak cukup, tapi saya...”.
Jin-ho tersenyum senang ia jadi gemas pada Kae-in sehingga mencubit pipinya.


“Kamu kira saya tidak bisa memecahkan code itu” kata Jin-ho.
“Itu siapa yang tahu” kata Kae-in.
Jin-ho kemudian menarik tangan Kae-in dan mengajaknya untuk main game itu.
Jin-ho berusaha sendirian untuk memecahkan code itu tapi gagal berkali-kali. Kae-in mencoba membantu tapi ditolak Jin-ho. Akhhinya Kae-in tak tahan, ia mengambil alih permainan dan dengan asal memasukan code. Tapi malah berhasil. Jin-ho, Kae-in dan pengunjung lain kaget melihatnya. Dan sebagai pemenang mereka harus foto pasangan dengan hadiahnya.
Sementara itu In-hae mengajak Chang-ryul untuk bicara empat mata. Begitu tiba Chang-ryul langsung bertanya maksud In-hae mengajaknya bertemu. Bukannya menjawab. In-hae malah bertanya apa Chang-ryul tau ide dasar museum kesenian di mana?. Chang-ryul terlihat bingung.
“Sang Go Jae” kata In-hae.
“Sang Go Jae! bukankah itu rumah Kae-in” kata Chang-ryul heran.
“Dari awal ketua Choi sudah memutuskan untuk menggunakan desain Sang Go Jae” kata In-hae.
“Kenapa kamu bisa tahu?” tanya Chang-ryul kaget sekaligus heran.
“Waktu berbicara dengan sekretaris pengarah baru tahu. Kamu tidak heran kenapa Jin-ho mau masuk ke Sang Go Jae?” tanya In-hae.
Chang-ryul tambah kaget dan menatap In-hae tajam.
“Kamu kira dia masuk karena kebetulankah?” pancing In-hae.
“Apa! Tunggu jadi masud kamu Jin-ho masuk Sang Go Jae karena tahu rahasia ide dasar itu?” kata Chang-ryul.
“Otak kamu akhirnya berputar juga” kata In-hae sambil tersenyum menang.
“kalau begitu maksud kamu ia berpacaran dengan Kae-in juga karena alasan itu?” tanya Chang-ryul.
“Kalau bukan begitu bagaimana menjelaskan kebetulan itu” kata In-hae.
Chang-ryul terlihat kesal mendengarnya.
“Jeon Jin-ho adalah orang yang tak boleh kamu remehkan. Jadi kamu masih relakah Jin-ho bersama Kae-in” kata In-hae memanasi.
“Jeon Jin-ho, brengsek!” kata Chang-ryul sudah tak dapat menahan marahnya.
Ia segera pergi mau mencari Jin-ho.


bersambung.... kekee....sampai ada waktu n mood...
0 comments:
Post a Comment