Do you like this story?



“Apa?” kata Chang-ryul tak percaya.
“Mulai sekarang, saya mau dengan identitas sebagai lelaki berpacaran dengan wanita ini” kata Jin-ho.
Kae-in kaget mendengarnya.
“Jeon Jin-ho!” kata Chang-ryul kesal.
In-hae kaget tak percaya mendengar pengakuan Jin-ho.
“Jin-ho apa maksud semua ini? Kamu kenapa bisa dengan identitas sebagai lelaki” tanya Kae-in bingung.
Jin-ho menghampiri Kae-in dan menjelaskan.
“Kae-in, saya bukan gay” kata Jin-ho.
Kae-in tambah bingung “Kalau begitu!”.
“Sangat maaf, sekarang baru memberitahumu” kata Jin-ho.
Kae-in mulai mengerti bahwa itu kenyataan.
“Walaupun terlambat. Tapi, kamu bisa maafkan saya kan?”tanya Jin-ho lagi.




“Kamu kira itu adalah cinta? Jangan salah, Han Chang-ryul. Itu hanyalah alasan untuk menutupi kelemahanmu saja. Kamu hanya bisa disini minum-minum untuk menghilangan pikiran tentangnya. Tapi aku mulai sekarang akan melakukan tindakan” kata In-hae kemudian berdiri hendak pergi.
Chang-ryul menariknya duduk kembali “Aku mohon kamu hentikan ini saja. Kim In-hae, kamu berbuat begini hanya akan membuat dirimu makin parah saja”.
"Dalam kasus cinta hanya ada satu ketepatan saja. Yaitu jika saya tidak dapat memilikinya, maka orang lain jangan harap memilikinya” (Hoi.. sadar dong.. sejak kapan Jin-ho pernah mau jadi milikmu).

“Apa kamu lain hari pun tak ingin bertemu dengan saya lagi? Kamu tak tahu saya juga melewati ini dengan sangat kacau” kata Jin-ho memancing.
Kae-in diam saja dan mengingat pembicaraan mereka setelah kejadian ciuman itu disuatu tempat.



Tapi dalam hati Kae-in bergumam “Laporan cuaca Park Kae-in besok: terus berharap dia dengan identitas ini sebagai teman terus berada tinggal disiiku. Hari ini dia malah berharap kita bisa berhubungan sebagai teman wanita dan lelaki dan juga minta maaf kepada saya. Walapun terharu dan mengeluarkan air mata untuknya, tapi hari ini jangan memaafkan dia dulu. Tapi mulai besok ,tak peduli cuaca sedang bagaimana saya tidak akan takut lagi”.

“Kae-in aku tahu kamu merasa dikhianati jadi tak ingin memaafkan saya. Tapi saya baru pertama kali mengatakan hal itu pada orang lain jadi tak tahu harus bagaimana menyelesaikannya. Kamu anggap saya kalah saja, dan sedikit memaafkan saya” kata Jin-ho.
“Kamu juga bukan pertama kali seperti ini”kata Kae-in.
Jin-ho bingung mendengarnya.
“Jin-ho kamu.. kamu bukankah pernah mencintai orang lain, iya kan? Saat bertemu dengan Eun-soo, bukankah dengan orang itu kau juga mencintainya?” kata Kae-in lagi.
“Rupanya kamu lagi keberatan dengan Eun-soo” kata Jin-ho (Iya.. Kae-in cemburu tu!!).
“Kalau begitu saya akan jelaskan pada kamu. Saya dan Eun-soo...” kata Jin-ho.


“Oppa kenapa bukan saya?” kata Hye-mi.
“Tae-hoon, kamu jagakan dia!” kata Jin-ho.
Kae-in tak suka melihat Hye-mi terus mendekati Jin-ho.
“Saya tanya kamu, kenapa bukan saya? Saya lebih muda dan lebih cantik dibandingkan wanita itu. Memang benar oppa tak mencitai saya, tapi mengapa?” tanya Hye-mi.
“Hye-mi!” panggil Jin-ho.
Kae-in tak tahan ia beranjak menuju kamarnya.
“Kae-in..” kata Jin-ho mencoba mencegah.
Hye-mi menghalangi dan berkata “Kenapa saya tidak bisa, tapi wanita itu bisa?”.
“Dalam mata saya kecuali dia, mata saya tak bisa melihat wanita manapun” teriak Jin-ho mulai kesal menghadapi Hye-mi.



Sementara itu Kae-in kesal karena Jin-ho pergi tanpa memberitahunya. Ia mondar-mandir menunggu Jin-ho.
“Tidak pulang iyakah?” kata Kae-in kesal.
Sementara itu di tempat lain Jin-ho sedang pamitan pada ibunya. Ibunya memperingatkan jika Jin-ho terus tinggal di rumah Kae-in tanpa ikatan pernikahan akan sangat tidak enak jika diomongkan orang lain. Jin-ho tetap beralasan karena ada proyek bersama Kae-in makanya memutuskan untuk tinggal bersama dengannya agar lebih leluasa. Ibunya tanya apa Kae-in juga seorang arsitek (saya buk yang digitek). Jin-ho berkata bukan, dan menjelasakan kalau Kae-in adalah Designer furniture yang sekarang punya tugas penting mendesain salah satu proyeknya. Ibunya sedikit tak percaya. Jin-ho lalu mengalihkan pembicaraan dan minta ibunya menyelesaikan masalah tetang Hye-mi karena nanti bisa mengganggu hubungannya dengan Kae-in. Ia kemudian pamit pulang lagi.
“Tidak pulang iyakah?” kata Kae-in kesal.
Sementara itu di tempat lain Jin-ho sedang pamitan pada ibunya. Ibunya memperingatkan jika Jin-ho terus tinggal di rumah Kae-in tanpa ikatan pernikahan akan sangat tidak enak jika diomongkan orang lain. Jin-ho tetap beralasan karena ada proyek bersama Kae-in makanya memutuskan untuk tinggal bersama dengannya agar lebih leluasa. Ibunya tanya apa Kae-in juga seorang arsitek (saya buk yang digitek). Jin-ho berkata bukan, dan menjelasakan kalau Kae-in adalah Designer furniture yang sekarang punya tugas penting mendesain salah satu proyeknya. Ibunya sedikit tak percaya. Jin-ho lalu mengalihkan pembicaraan dan minta ibunya menyelesaikan masalah tetang Hye-mi karena nanti bisa mengganggu hubungannya dengan Kae-in. Ia kemudian pamit pulang lagi.

“Kamu, Jin-ho. Kamu baik-baik sadarkan diri. Kamu sebenarnya bagaimana terhadap wanita? Membuat mereka terus terseyum terhadapmu. Kamu ini lelaki jahat!”.

“Kenapa boneka ini bernama Jin-ho?” lanjut Jin-ho.
Kae-in panik, ia langsung menurunkan bonekanya dan hendak pergi.
“Memukul boneka ini, apa membuat hatimu jadi agak baikkan? Jangan begini, lebih baik kamu memukuli aku saja” kata Jin-ho sambil menarik tangan Kae-in agar tidak pergi.
Kae-in tidak enak, ia tetap mau pergi.
Tapi Jin-ho menghalangi lagi dan berkata “Saya ini orang jahat, jadi lebih baik kamu pukul saya saja”.
Jin-ho yang masih memegang tangan Kae-in lalu menarik tangan Kae-in untuk memukuli dirinya.
“Benar.. benar.. lepaskan!” kata Kae-in menarik tangannya.
“Kamu dengan Hye-mi ada hubungan apa?” tanya Kae-in tiba-tiba.
Jin-ho kaget, Kae-in langsung menjelaskan maksudnya “Bukan begitu tadi Hye-mi bilang ia adalah calon istri kamu. Itu pasti ada hal yang disembunyikan iya kan?”.
“Dari umur 7 tahun Hye-mi sudah begitu” kata Jin-ho.
“Ha.. mulai dari umur 7 tahun sudah suka kamu?” kata Kae-in kaget.
“Kamu benar-benar membuat banyak wanita menangis” lanjut Kae-in.
“Kamu lagi cemburukah?” kata Jin-ho sambil tersenyum.
“Siapa yang cemburu?” kata Kae-in gengsi.
“Saya lihat kamu memang benar-benar lagi cemburu” kata Jin-ho sambil tersenyum lagi.
“Tidak cemburu! Saya benar-benar tak mengerti kamu. Saya kira seharusnya kamu menjadi orang yang tegas. Hye-mi sudah mengejarmu dari umur 7 tahun. Kamu mana bisa begitu terhadap dia? Hal ini tidak ada kaitannya dengan saya, kamu suka bagaimana ya terserah kamu” kata Kae-in.
Jin-ho hanya senyum-senyum kecil melihat reaksi Kae-in yang cemburu.
“Orang yang begitu kejamkah menurutmu, yang mengatakan hal sebenarnya? Saya memang kejam tidak memperdulikan perasaan ornag lain bagaimana. Juga tidak ada waktu memperdulikan hal itu. Jadi saya baru bisa membuatmu sedih” kata Jin-ho menjelaskan.
Kae-in jadi tak enak, ia lalu mencoba menayakan sikap kejam yang bagaimana Jin-ho tunjukan saat berhubungan dengan Eun-soo.
“Sebelum dia pergi kuliah, dia bilang pada saya jika saya suruh dia tinggal maka dia akan tinggal. Tapi saya tidak menyuruhnya tinggal” jelas Jin-ho.
Kae-in kaget mendengarnya, ia tanya kenapa alasannya karena Eun-soo adalah orang yang bisa menarik perhatian Jin-ho begitu besar dulu.
“Saya tak yakin dia adalah orang yang begitu berarti dalam hidup saya” jelas Jin-ho lagi.
“Kalo begitu saya bagimu apa?” tanya Kae-in.
“Walaupun kehidupan dimulai kembali, kamu adalah orang yang tak ku inginkan hilang dari kehidupan saya” kata Jin-ho.


“Jika merasa malu kamu selalu menanyakan tentang makanan, dasar wanita aneh” kata Jin-ho sambil memeluk Kae-in.
“Aku mencintaimu (aku juga... wkwk)" lanjut Jin-ho. Kae-in senang mendengarnya dan mereka saling berpelukan malam itu.






“Bicara apa kau? Benar-benar ingin aku menghajarmu ya? Kae-in dan Jin-ho sedang berpacaran” kata Young-soon.
“Apa? Siapa berpcaran dengan siapa?” tanya Sang-joon kaget.

“Kamu..” kata Sang-joon.
“Apa?” kata Jin-ho bingung.
"Kamu dan Kae-in??” kata Sang-joon terbata-bata.
“Wah kabarnya sangat cepat juga ya?” kata Jin-ho senang.
“Apa?! Kalau begitu ini adalah kenyataan?” tanya Sang-joon.
“Ya.. kenyataan” kata Jin-ho sambil senyum lebar.
“Kalau begitu bagimana ini? Bagaiman dengan ketua Choi?” kata Sang-joo khawatir.
“Dia tahu kamu adalah gay, makanya begitu mendukungmu” kata Shang-joon lagi.
“Aku akan katakan yang sebenarnya padanya” kata Jin-ho.
“Kamu jangan terburu-buru, ini adalah masalah yang sangat serius. Jika ketua Choi marah lalu membatalkan kamu, kita harus bagaimana? Kamu apa benar begitu mencintai Kae-in?” kata Sang-joon.
Jin-ho mengangguk senang.


Sang-joon yang merasa khawatir mulai berpikiran aneh-aneh. Ia menjadi senang Jin-ho jadian dengan Kae-in, karena itu berarti Jin-ho akan menjadi menantu arsitek terkenal Korea. Jin-ho jadi pusing memikirkannya.
“Hyung, kamu jangan katakan sembarangan” kata Jin-ho.
“Saya mengerti. Saya mengerti. Kamu bukan demi hal itu, tapi saya sekarang merasa tenang” kata Sang-joon.
“Jika kamu begini lagi, saya pergi ke gedung Meiseu saja dan menjelaskan yang sebenarnya” kata Jin-ho.
“Baiklah, aku akan tutup mulut. Kamu ini benar-benar..” kata Sang-joon.
“Keluar” teriak Jin-ho.
Sang-joo keluar sambil senyum-senyum terus.
“Saya mau gila” gumam Jin-ho sendiri.

“Bocah ini kamu apakah tak mau hidup lagi” kata Ayah Chang-ryul.
Ayah Chang-ryul terus marah-marah saat Chang-ryul mulai bangun, ia juga mengancam akan mengirim Chang-ryul ke Cina.
“Ya, saya akan lakukan” kata Chang-ryul setuju dikirim ke Cina.
Ayah Chang-ryul dan asisten Kim kaget mendengarnya. Ayah Chang-ryul langsung mau menghajar Chang-ryul tapi dihalangi oleh asisten Kim.
“Saya tidak ada kepercayaan diri lagi tinggal disini. Jadi saya pergi saja ke Cina” kata Chang-ryul menjelaskan.

“Kae-in ada begitu mulia kah?” tanya In-hae.
“Ya” jawab Jin-ho tegas.
In-hae jadi kesal mendengarnya. Jin-ho lalu pamit mau bertemu Do-bin. In-hae menyindir lagi dengan berkata memang seharusnya Jin-ho mengatakan yang sebenarnya pada Do-bin, tapi sayang Do-bin sedang pergi ke Jepang. Jin-ho langsung pamit pulang. In-hae tiba-tiba memberikan undangan rapat di pulau Jeju oleh perusahaannya. Jin-ho menerimanya. In-hae memberitahu bahwa pulau Jeju adalah tempat kesukaan Do-bin jadi ia harap Jin-ho tidak menjadikan tempat itu menjadi tempat yang menyedihkan bagi Do-bin. Jin-ho tak peduli dan pamit pergi lagi.
“Kenapa Kae-in?” tanya In-hae tiba-tiba.
“Saya tak dapat dibandingkan dengan dia kah? Membujuk ketua Choi yang kecewa dan membuat pengaruh pada juri saya lebih bisa dibandingkan dengan dia” lanjut In-hae.
Jin-ho berbalik sambil tersenyum dan bilang “Yang saya cari bukan teman dalam bisnis. Melainkan orang yang dapat mendampingi saya dalam kehidupan ini” (bagus.. i loop you Jeon Jin-ho).
“Kamu kira Kae-in bisa seperti itu?” tanya In-hae lagi.
“Kenapa kamu membuang waktu mengurusi hal ini?” tanya Jin-ho.
In-hae kesal mendengarnya.


“Ini mungkin karena saya tidak rela kalah” kata In-hae.
“Kamu memang orang yang sedikitpun tak punya kepedulian dengan kehidupan dirimu sendiri ya!” kata Jin-ho.
Kemudian Jin-ho pergi, In-hae terlihat begitu kesal mendengarnya (syukurin).


“Benarkah?” tanya Kae-in.
“Ya. Ia pasti akan menganggapmu sebagai putrinya juga” kata Jin-ho menenangkan.
Kae-in mulai lega, tapi tiba-tiba ia melihat ibunya Jin-ho datang. Kae-in langsung reflek berdiri memberi hormat dengan tegang. Kemudian mereka bertiga duduk bersama.
“Nona Park Kae-in, iya kan?” kata ibu Jin-ho.
“Ya” kata Kae-in.
“Hari itu terlalu kacau, jadi tidak bicang-bincang dengan baik dengan kamu” kata ibu Jin-ho.
“Tidak, sayalah yang tidak baik. Seharusnya sejak awal pergi bertemu dengan anda” kata Kae-in.
“Saya masih banyak kekurangan” kata Kae-in malu-malu.

“Dia ini begitu jujur” kata Jin-ho pada ibunya.
“Kelihatannya Jin-ho sangat menyukai dia” kata Ibu Jin-ho pada Jin-ho (ibu anak ini selalu panggil nama sebagai tanda sayang).
“Ini pertama kali melihatmu didepan saya masih membantu orang lain berbicara” lanjut ibunya.
“Jika saya tidak membantunya, dia tidak akan dapat saya” kata Jin-ho.
“Saya ini bukan orang yang begitu pelitkan? Walaupun bukan pelit, tapi saya ada sedikit kecemasan” kata ibu Jin-ho.
“Apa?” kata kae-in kaget.
“Proyek yang sekarang kalian kerjakan. Walaupun kalian katakan tidak ada cara lain selain harus bersama” kata ibu Jin-ho.
“Proyek?” tanya Kae-in bingung.
Jin-ho langsung berusaha menjelasakan.
“Kita sekarang bukannya sedang bekerja sama menangani proyek gedung Meiseu kan?”. Kae-in bingung, Jin-ho memberi tanda agar Kae-in mengikuti saja cerita karangannya. Kae-in akhirnya mengangguk membenarkannya.
“Jadi kalian benar-benar bekerja sama? Ini saya bisa mengerti, tapi harap kamu janji pada saya satu hal” kata ibu Jin-ho.
“Apa?” kata Kae-in cemas.
“Sebelum menikah jangan hamil dulu. Saya harap ini tidak terjadi” kata ibu Jin-ho. Kae-in dan Jin-ho kaget mendengarnya.
“Kelihatannya Jin-ho sangat menyukai dia” kata Ibu Jin-ho pada Jin-ho (ibu anak ini selalu panggil nama sebagai tanda sayang).
“Ini pertama kali melihatmu didepan saya masih membantu orang lain berbicara” lanjut ibunya.
“Jika saya tidak membantunya, dia tidak akan dapat saya” kata Jin-ho.
“Saya ini bukan orang yang begitu pelitkan? Walaupun bukan pelit, tapi saya ada sedikit kecemasan” kata ibu Jin-ho.
“Apa?” kata kae-in kaget.
“Proyek yang sekarang kalian kerjakan. Walaupun kalian katakan tidak ada cara lain selain harus bersama” kata ibu Jin-ho.
“Proyek?” tanya Kae-in bingung.
Jin-ho langsung berusaha menjelasakan.
“Kita sekarang bukannya sedang bekerja sama menangani proyek gedung Meiseu kan?”. Kae-in bingung, Jin-ho memberi tanda agar Kae-in mengikuti saja cerita karangannya. Kae-in akhirnya mengangguk membenarkannya.
“Jadi kalian benar-benar bekerja sama? Ini saya bisa mengerti, tapi harap kamu janji pada saya satu hal” kata ibu Jin-ho.
“Apa?” kata Kae-in cemas.
“Sebelum menikah jangan hamil dulu. Saya harap ini tidak terjadi” kata ibu Jin-ho. Kae-in dan Jin-ho kaget mendengarnya.
Saat pulang ke Sang Go-jae, Kae-in masih memikirkan perkataan ibu Jin-ho. Ia akhirnya tiba-tiba menyuruh Jin-ho pulang ke rumahnya saja.
“Apa?” kata Jin-ho kaget.
“Kamu kenapa harus tinggal disini dan berbohong pada ibumu? Sebelum menikah hamil!, saya dengan apa harus mendengar perkataan seperti ini?” kata Kae-in kesal.
“Kamu jangan terlalu memikirkannya. Saya dengan satu jari pun tak ada niat mau menyentuhmu. Jadi kamu jangan salah paham” kata Jin-ho.
“Hanya kamu yang memikirkan begini. Apa gunanya? Ibu tetap saja khawatir” kata Kae-in.
“Kalau begitu saya akan pergi saja” kata Jin-ho mengancam.
“Pergilah” kata Kae-in ringan.
“Kamu ini benar-benar sangat dingin. Saya benar-benar akan pergi nih” kata Jin-ho.
“Pergilah” kata Kae-in dingin.
“Apa?” kata Jin-ho kaget.
“Kamu kenapa harus tinggal disini dan berbohong pada ibumu? Sebelum menikah hamil!, saya dengan apa harus mendengar perkataan seperti ini?” kata Kae-in kesal.
“Kamu jangan terlalu memikirkannya. Saya dengan satu jari pun tak ada niat mau menyentuhmu. Jadi kamu jangan salah paham” kata Jin-ho.
“Hanya kamu yang memikirkan begini. Apa gunanya? Ibu tetap saja khawatir” kata Kae-in.
“Kalau begitu saya akan pergi saja” kata Jin-ho mengancam.
“Pergilah” kata Kae-in ringan.
“Kamu ini benar-benar sangat dingin. Saya benar-benar akan pergi nih” kata Jin-ho.
“Pergilah” kata Kae-in dingin.

“Mau saya bantu?”.
“Tak perlu” kata Jin-ho kesal.
“Benar juga ini adalah masalahmu sendiri jadi harus kamu selesaikan sendiri” kata Kae-in menggoda.
“Saya mulanya sudah begini” kata Jin-ho.
Kae-in senyum dan tanya “Tak ingin pergi ya!”.
“Kenapa tak ingin pergi? Tidak ada kamu, saya malah bahagia” kata Jin-ho kesal.
Kae-in menggoda lagi dengan berkata kalau sebaiknya mereka kencan seminggu sekali saja. Jin-ho kaget mendengarnya. Kae-in berkata ia sedang sibuk akhir-akhir ini jadi cukup kencan sekali seminggu saja.
“Saya juga sedang sibuk dengan proyek baru. Kalau begitu bagaimana kalau kita sebulan sekali bertemu saja?” kata Jin-ho balas menggoda.
Tapi Kae-in malah langsung menggangguk menyetujuinya, dan berkata sebaiknya Jin-ho segera beberes dan lekas pergi karena ia sedang banyak kerjaan. Kae-in pergi, Jin-ho kesal godaannya tak berhasil.
“Tak bisa begini” kata Jin-ho.
Jin-ho selesai berberes, ia pamit pada Kae-in dari luar kamar kerja Kae-in. Kae-in yang sedang bekerja dari dalam dengan enteng mempersilahkannya.
“Tidak pergi mengantar keluar sayakah?” kata Jin-ho kesal.
“Saya sangat sibuk, tak ada waktu untuk itu” kata Kae-in.
“Kalau begitu kamu rajin bekerja saja, saya pergi” kata Jin-ho memancing.
“Selamat jalan” kata Kae-in.
“Beneran.. Saya pergi nih” kata Jin-ho.
Di dalam Kae-in kesal “Kamu buka pintu sendiri tak bisakah? Benar-benar sangat keterlaluan”.
Jin-ho kesal pergi menuju mobilnya.
“Park Kae-in, kau benar-benar bodoh. Jika saya pulang ke rumah bagaimana bisa keluar lagi” gumam Jin-ho sendiri.
Kae-in tak bisa konsentrasi kerja, ia kesal karena Jin-ho menuruti saja perintahnya untuk keluar dari rumahnya. Ternyata Jin-ho tidak pergi, ia tinggal di dalam mobilnya. Ia mencoba membuat alasan-alasan agar bisa kembali ke Sang Go-jae.
“Tidak pergi mengantar keluar sayakah?” kata Jin-ho kesal.
“Saya sangat sibuk, tak ada waktu untuk itu” kata Kae-in.
“Kalau begitu kamu rajin bekerja saja, saya pergi” kata Jin-ho memancing.
“Selamat jalan” kata Kae-in.
“Beneran.. Saya pergi nih” kata Jin-ho.

Jin-ho kesal pergi menuju mobilnya.
“Park Kae-in, kau benar-benar bodoh. Jika saya pulang ke rumah bagaimana bisa keluar lagi” gumam Jin-ho sendiri.
Kae-in tak bisa konsentrasi kerja, ia kesal karena Jin-ho menuruti saja perintahnya untuk keluar dari rumahnya. Ternyata Jin-ho tidak pergi, ia tinggal di dalam mobilnya. Ia mencoba membuat alasan-alasan agar bisa kembali ke Sang Go-jae.
Tiba-tiba Kae-in mendengar pintu gerbang rumahnya terbuka. Ia kaget sekaligus senang mendengarnya karena ia mengangap itu Jin-ho. Dan benar Jin-ho kembali ke dalam. Kae-in lalu keluar dengan sikap sok dingin, ia tanya kenapa Jin-ho kembali. Jin-ho berkata kalau laptopnya ketinggalan.
“Barang yang begitu penting dan dipakai tiap hari kenapa sampai kelupaan tidak di bawa?” sindir Kae-in.
“Saya juga ada saat tidak hati-hati” kata Jin-ho.
Jin-ho memberekan laptopnya dengan pelan-pelan, Kae-in menggoda agar Jin-ho segera memberekan laptopnya dan pergi dari sana.
“Saya bukannya sedang membereskannya” teriak Jin-ho kesal.
“Barang yang begitu penting dan dipakai tiap hari kenapa sampai kelupaan tidak di bawa?” sindir Kae-in.
“Saya juga ada saat tidak hati-hati” kata Jin-ho.
Jin-ho memberekan laptopnya dengan pelan-pelan, Kae-in menggoda agar Jin-ho segera memberekan laptopnya dan pergi dari sana.
“Saya bukannya sedang membereskannya” teriak Jin-ho kesal.

“Saya sudah kemas semuanya” kata Jin-ho kesal.
“Kalau begitu kamu baik-baik di jalan, ya!” kata Kae-in.
“Kamu harusnya yang baik-baik” kata Jin-ho.
“Huah.. sangat ngantuk” kata Kae-in pura-pura ngantuk dan masuk kamarnya.
“Lihat.. mengantar pergi pun tidak “kata Jin-ho kesal.
Jin-ho pergi, Kae-in di dalam mengupingnya. Ia khawatir Jin-ho kali ini benar-benar pergi, kemudaian ia pura-pura sakit. Dan benar Jin-ho langsung khawatir dan masuk melihat keadaan Kae-in.
“Ada apa?” tanya Jin-ho.
“Saya tadi terjatuh, sepertinya kaki saya terluka” kata Kae-in.
“Mana, disinikah?” kata Jin-ho sambil memegang kaki Kae-in yang sakit.





“Bertengkar dengan oppa lagi kah?” tanya Kae-in.
“Kae-in, saya bisakah tinggal sementara di sini?” tanya Young-soon memelas.
Kae-in kaget mendengarnya tapi ia hanya bisa mengangguk-angguk menyetujuinya. Sementara itu Jin-ho yang sedang sembunyi di dalam lemari kesal mendengarnya.
“Orang ini kenapa mau tinggal di sini?” kata Jin-ho.
Kae-in khawatir dengan Jin-ho, ia mencoba memeperingatkan Young-soon bahwa ia tidak bisa keluar rumah begitu saja karena masih ada anaknya di rumah. Young-soon tetap pada pendiriannya dan cerita permasalahannya. Kae-in bingung harus bertindak bagaimana. Tiba-tiba Young-soon ingat, ia tanya apa Jin-ho ada di rumah karena ia takut Jin-ho mendengar curhatnya tadi.
“Tidak, Jin-ho sedang tak ada sini” kata Kae-in.
Young-soon jadi tenang, ia ingat Jin-ho bukan gay jadi pasti tak enak tinggal dengan Kae-in. Young-soon kemudian tanya apa Kae-in pernah melihat sesuatu yang tak boleh dilihat saat mereka tinggal bersama.
“Kamu ini khawatiran apa, kami ingin melihat pun tak dapat melihat” gumam Kae-in pelan (hehe bisa keganggu terus).
“Apa?” tanya Young-soon.
“Tidak. Tidak ada apa-apa” kata Kae-in.
Young-soon kemudian mau masuk kamar Kae-in untuk membereskan barang-barangnya dan menyuruh Kae-in menyiapkan makanan untuknya. Kae-in langung cemas, ia mencoba menyuruh Young-soon mandi dulu sebelum masuk kamarnya. Young-soon heran tapi akhirnya menurutinya.

“Kalau begitu kamu menyuruhku sembunyi disini sampai kapan?” tanya Jin-ho kesal.
Kae-in menyuruh Jin-ho pelan sedikit bicaranya sambil menyuruh Jin-ho pergi diam-diam saja dari sana.
“Kalau begini labih baik waktu menjadi gay, lebih leluasa” kata Jin-ho.
Kae-in tersenyum dan menggoda “Begitu ingin bersama saya kah?”.
Jin-ho hanya diam. Kae-in lalu mencium pipi Jin-ho.



Keesokan harinya In-hae menerima laporan proyek museum untuk diserahkan pada Do-bin. Si karyawan curhat sedikit dengan berkata proyek museum pasti sudah berjalan jika sejak awal di serahkan kepada Prof. Park. Mendengar nama Prof. Park, In-hae jadi penasaran. Ia bertanya sebenarnya ada alasan apa sampai harus berurusan dengan Prof. Park. Si karyawan menjelaskan karena ketua Choi menyukai desain-desain bangunan rancangan Prof. Park. In-hae mulai menyadari sesuatu saat itu.




Hye-mi dengan membawa koper tiba-tiba mengahampiri Kae-in di tempat kerja Kae-in.
“Kamu benar ingin menikah dengan Oppa Jin-ho kah?” tanya Hye-mi langsung.
Kae-in kaget mendengarnya dan hanya diam saja.
“Tidak ada waktu lagi. Jangan menjawab bertele-tele. Saya masih mau pergi ke bandara” kata Hye-mi mendesak.
“Mau pergi kah?” tanya Kae-in.
“Kamu mau saya bagaimana menerima oppa Jin-ho menikah dengan wanita lain? Saya kenapa bisa datang ke Korea? Orang tua dan teman pun saya tak ada disini, hanya demi oppa Jin-ho seorang baru datang kesini” kata Hye-mi.
“Maaf. Tidak sangka bisa separah ini” kata Kae-in tak enak.
"Maaf? Saya benar tidak tahu kenapa saya bisa dikalahkan orang seperti kamu? Saya benar-benar mau gila. Di dunia ini tidak ada orang lain yang bisa mencintai oppa Jin-ho melebihi saya” kata Hye-mi lagi.
”Saya tak ada keyakinan diri mengatakan saya bisa lebih mencintai oppa Jin-ho melebihi kamu” kata Kae-in.
“Lihatlah!” seru Hye-mi.
“Tapi saya mengira Jin-ho gay waktu itu, sehingga demi menyembunyikan itu melamar saya. Bagi saya jika Jin-ho ingin walaupun dia gay saya tetap akan bersedia menikah dengannya” kata Kae-in.
Hye-mi kaget mendengarnya.
“Ini lah saya, saya benar-benar ingin bersama dengan Jin-ho” kata Kae-in lagi.
“Apa?” kata Hye-mi merasa kalah dan pergi dari sana.
“Kamu benar ingin menikah dengan Oppa Jin-ho kah?” tanya Hye-mi langsung.
Kae-in kaget mendengarnya dan hanya diam saja.
“Tidak ada waktu lagi. Jangan menjawab bertele-tele. Saya masih mau pergi ke bandara” kata Hye-mi mendesak.
“Mau pergi kah?” tanya Kae-in.
“Kamu mau saya bagaimana menerima oppa Jin-ho menikah dengan wanita lain? Saya kenapa bisa datang ke Korea? Orang tua dan teman pun saya tak ada disini, hanya demi oppa Jin-ho seorang baru datang kesini” kata Hye-mi.
“Maaf. Tidak sangka bisa separah ini” kata Kae-in tak enak.
"Maaf? Saya benar tidak tahu kenapa saya bisa dikalahkan orang seperti kamu? Saya benar-benar mau gila. Di dunia ini tidak ada orang lain yang bisa mencintai oppa Jin-ho melebihi saya” kata Hye-mi lagi.
”Saya tak ada keyakinan diri mengatakan saya bisa lebih mencintai oppa Jin-ho melebihi kamu” kata Kae-in.
“Lihatlah!” seru Hye-mi.
“Tapi saya mengira Jin-ho gay waktu itu, sehingga demi menyembunyikan itu melamar saya. Bagi saya jika Jin-ho ingin walaupun dia gay saya tetap akan bersedia menikah dengannya” kata Kae-in.
Hye-mi kaget mendengarnya.
“Ini lah saya, saya benar-benar ingin bersama dengan Jin-ho” kata Kae-in lagi.
“Apa?” kata Hye-mi merasa kalah dan pergi dari sana.
Hye-mi berfikir sebentar kemudian berkata “Anak orang yang mencelakakan ayah oppa Jin-ho meninggal. Kamu bagaimana bisa tahu dia?”.
“Dia adalah orang yang mau jadi suami saya” kata In-hae.
“Benarkah?” seru Hye-mi.
“Tapi saat hari pernikahan tiba, semuanya jadi sia-sia” kata In-hae.
“Kenapa?” tanya Hye-mi penasaran.
“Kae-in, dia adalah dulunya teman wanita Chang-ryul. karena dia kami berdua sampai berpisah” jelas In-hae(mau diputar balikaan nih ceritanya.. dasar wanita jelek....)
Hye-mi kaget mendengarnya.
“Tapi setelah saya berpisah dengan Chang-ryul, tak lama kemudian dua orang ini bersama lagi” kata In-hae.
“Kalau begitu Park Kae-in selingkuh kah?” tanya Hye-mi.


“Saya tak menyangka kamu kenal orang ini yang mau menjadi menantu kami” kata ayah Chang-ryul lagi.
“Menantu? Kalau begitu” kata Hye-mi.
“Ibu” kata Kae-in mau menjelaskan.
“Ibu, kamu memanggilnya ibu?” kata ayah Chang-ryul kaget.
“Ibu, saya akan jelaskan pada anda” kata Kae-in.
“Jangan panggil saya ibu” kata ibu Jin-ho marah.
“Ibu” kata Kae-in.
Ibu Jin-ho dan Hye-mi kemudian pergi. Kae-in mencoba mengejar tapi tak berhasil.

“Kamu diam” kata Jin-ho.
Ia kemudian menghampiri ibunya untuk menenangkan serta menjelaskan keadaan sesungguhnya.
“Ibu, saya akan beritahu semuanya” kata Jin-ho.
“Sebelum saya mati, dia pasti tidak akan berhenti. Jika kamu ingin melihat saya mati kamu lakukan hal begitu saja” kata ibu Jin-ho tak menyetujui hubungan Jin-ho dan Kae-in.

Kae-in menunggu Jin-ho pulang dengan cemas. Ia berjalan mondar-mandir di teras dan saat Jin-ho pulang. Ia langsung tanya bagaimana keadaan ibu Jin-ho. Jin-ho malah tanya balik. Ia tanya kenapa ayah Chang-ryul datang membawa hadiah untuk Kae-in. Kae-in berkata kalau ia juga tidak tahu dan tak tahu harus melakukan apa dalam keadaan seperti tadi. Jin-ho curiga Kae-in mau berhubungan kembali dengan keluarga Chang-ryul. Kae-in menyakal dan berkata kalau Jin-ho sudah tahu maksudnya selama ini bersikap baik pada Chang-ryul. Jin-ho tetap memarahi Kae-in dan berkata seharunya Kae-in tidak balas dendam sejak awal. Kae-in mulai kesal dan balik bertanya kenapa Jin-ho tak mengatakan hal sebenarnya kalau ia bukan gay sejak awal. Mereka jadi bertengkar. Jin-ho kemudian pergi. Kae-in bingung harus melakukan apa.


“Tapi saya duluan yang menyukai dia?” kata Jin-ho. Ibu Jin-ho kaget mendengarnya.
“Jika dalam hati wanita masih ada sedikit bayangan Chang-ryul, saya juga tidak akan melakukan begitu. Saya adalah anak ibu. Apa ibu tak bisa mengerti saya kah?” kata Jin-ho.
“Saya tidak suka dia. Tak peduli dia bagaimana. Asalkan orang itu ada hubungannya dengan Han Chang-ryul. saya tak beniat menerimanya menjadi menantu” kata Ibu Jin-ho kesal.
“Ibu.. saya harus ada dia. Jika tidak saya tak akan menikah” ancam Jin-ho.
Ibu Jin-ho kaget mendengarnya.

Ia berkata “Diantara pasangan kekasih bertengkar hanyalah seperti air pasang surut saja. Asal diantara kalian tidak mengambil hati. Tidak akan ada masalah”.

“Saya telepon Sang-joon dulu” kata Young-soon.
Kae-in kaget mendengarnya.
“Saya sebenarnya sudah putuskan untuk tak menghubungi orang itu lagi tapi demi kamu, saya akan telepon dia” kata Young-soon beralasan.
“Kalau begitu Jin-ho sekarang lagi lakukan apa?” tanya Young-soon.
“Asalkan tidak ada di kantor” kata Kae-in.
Tiba-tiba Young-soon dapat ide bahwa Kae-in harus ikut ke pulau Jeju menyusul Jin-ho. Kae-in bisa baik-baik menghibur Jin-ho di sana. Young-soon menyarankan agar Kae-in hamil dulu, pasti ibu Jin-ho akan menyutujui mereka (ups.. jangan ditiru ya....).
“Kalau begitu Jin-ho sekarang lagi lakukan apa?” tanya Young-soon.
“Asalkan tidak ada di kantor” kata Kae-in.
Tiba-tiba Young-soon dapat ide bahwa Kae-in harus ikut ke pulau Jeju menyusul Jin-ho. Kae-in bisa baik-baik menghibur Jin-ho di sana. Young-soon menyarankan agar Kae-in hamil dulu, pasti ibu Jin-ho akan menyutujui mereka (ups.. jangan ditiru ya....).

Saat di pulau Jeju Kae-in harus menunggu Young-soon di lobby hotel sebelum pergi. Young-soon beralasan tiba-tiba suaminya telepon jadi ia akan turun terlambat. Kemudian Young-soon menelepon Sang-joon dan memberitahu bahwa Kae-in ada di lobby hotel saat itu. Sang-joon berkata kalau Jin-ho juga sudah ada disana. Dan benar saja Jin-ho kaget melihat Kae-in sedang menunggu seseorang di lobby. Jin-ho senang sekali melihat Kae-in di sana dan merasa ialah yang sedang di tunggu Kae-in, ia lalu menghampiri Kae-in.
“Nona Kae-in, kamu apakah begitu menyukai saya” kata Jin-ho tiba-tiba.
Kae-in kaget mendengarnya, sekaligus kesal. Ia lalu pura-pura dingin dan berkata kalau ia ada kerjaan juga disana. Jin-ho tak percaya.
“Saya tidak beralasan” kata Kae-in.
“Kita keluar saja” kata Jin-ho sambil menggandeng tangan Kae-in pergi.


“Bagaimana keadaan ibumu? Mungkin tidak akan mudah menurunkan amarahnya iya kan?” tanya Kae-in.
“Asalkan kamu percayakan pada saya saja” kata Jin-ho.
“Kamu mau melakukan bagaimana?” tanya Kae-in lagi.
“Keculi dia benar sanggup membunuh anaknya sendiri! Jika tidak ada Kae-in saya akan mati, saya bilang begitu” kata Jin-ho.
“Jin-ho” kata Kae-in tak enak.
“Jangan terlalu terharu saya katakan begitu” kata Jin-ho sambil senyum-senyum.
“Apakah kamu benar mengira saya akan mati demi kamu?” tanya Jin-ho.
“Jangan bercanda, saya khawatir sekali memikirkannya” kata Kae-in kesal.
Jin-ho lalu memeluk Kae-in dari belakang dan berkata “Saya tidak bercanda. Saya tidak akan berpisah dengan kamu, jadi jangan khawatir”.
Kae-in dan Jin-ho akhirnya bisa senyum bersama lagi sekarang.





“Apa?” kata Kae-in kaget.
“Mempermainkan Young-soon dan Sang-joon bukankah sangat menyenangkan” kata Jin-ho.
“Kamu ini benar-benar jahat” kata ae-in.
Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Do-bin. Jin-ho langsung memberi hormat.
“Acara di Jepang lebih cepat berakhir, jadi saya lebih awal ke sini” kata Do-bin. Ia lalu mengajak mereka makan malam bersama. Kae-in jadi tidak enak pada Do-bin kerana Do-bin memintanya untuk mendekatkan dia dengan Jin-ho. Jin-ho berkata kalau ia ingin mengatakan sesuatu pada Do-bin. Do-bin kaget dan bertanya apa ingin diucapkan sekarang.
“Ya” kata Jin-ho.
“Baiklah, ayo” kata Do-bin senang.
“Ini adalah bagian yang mau saya selesaikan. Pergi langsung datang” kata Jin-ho pada Kae-in sebelum pergi.



Ya, saya bisa” kata Chang-ryul.
“Selama ini saya telah begitu dalam melukaimu. Lain hari saya tidak ingin begitu lagi” lanjut Chang-ryul.
Kae-in jadi tidak enak, ia minta maaf karena telah berniat balas dendam padanya.
Chang-ryul tersenyum dan berkata “Kamu juga tidak bisa baik-baik balas dendam kan? Buat apa menyalahkan diri?”.
Kae-in kemudian pamit masuk ke hotel kembali.

Kae-in berbalik.
“Saya tanya kamu dan Jin-ho bahagia kan?” kata Chang-ryul lagi.
Kae-in mengangguk.
“Kalau begitu saya sudah bisa melepaskanmu” kata Chang-ryul kemudian mau pergi juga. Tiba-tiba Chang-ryul melihat sebuah truk melaju kencang ke arah Kae-in. Ia berlari menyelematkan Kae-in.
“Maaf” kata Jin-ho pada Do-bin.
“Maaf apa?” kata Do-bin.
“Saya mencintai Park Kae-in” kata Jin-ho langsung. Do-bin kaget mendengarnya.



nb: (sos) eps 12 dst da yg mau bantu g?
0 comments:
Post a Comment