Do you like this story?


Dan haripun berganti, Hui Fan sibuk pemotretan di dampingi Yu Ping....... Namun terlihat sama sekali tak bersemangat.
sementara Yang Guo menemani anak-anak di taman bermain, matanya tak henti melihat jam di tangannya. Akhirnya ia sedikit memaksa anak-anak untuk menemaninya ke tempat pemotretan Hui Fan.Hui Fan gamang, ia merasa tak bisa menampilkan sosok yang diminta fotografer karena ia sudah lupa bagaimana rasanya dicintai. Manager Hui Fan segera memberi kode pada Yu Ping untuk membantunya. Yu Ping mengerti, ia mendekati Hui Fan dan berlutut dihadapannya. Dipegangnya tangan Hui Fan dan di ucapkannya kata-kata penyemangat.





Yang Guo yang tahu Yu Ping bersama Hui Fan mencoba menelponnya, namun tak kunjung diangkat oleh Yu Ping. Ditengah kebingungannya, di dekatnya ada pembawa kostum Hui Fan yang menjatuhkan bawaannya. Yang Guo melihat kesempatan, ia ikut sibuk membantu pembawa kostum Hui Fan membawakan pakaian.
Caranya berhasil, haha, pak satpam tak sempat melihat wajahnya yang tertutupi pakaian.


Ini yang dibahas manager, Yu Ping bisa kok diganggu Yang Guo cuma gara-gara hal kecil seperti ice hockey, kenapa Hui fan yang pacarnya malah gak boleh ganggu. Hal inilah yang memicu penilaian manager terhadap Yu Ping turun. “Hui Fan, kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini.? Saat ini kau adalah selebrity paling terkenal di beberapa Negara, Masih banyak pria yang kualitasnya lebih bagus dari pada dia!” setuju ma mbok manager!!
Hui Fan tak mau mendengarnya, ia minta managernya tak lagi bicara. Ia bahkan menyalahkan managernya yang selalu mempengaruhinya dengan kata-kata itu hingga Yu Ping lepas darinya. “aku hanya punya satu pemikiran saat ini. Selama aku bisa mendapatkannya kembali, walau aku harus menyerahkan semua yang kumiliki sekarang, aku takkan ragu-ragu.”. Hui Fan lalu memegang kepalnya yang mulai pening, jauh di dalam lubuk hatinya (hayooo inget lirik lagunya sapa??? Naff??) sepertinya ia tahu kenyataannya tak sesuai dengan harapannya.
Menunggu Hui Fan yang minum obatnya, managernya membenarkan pepatah soal wanita bisa kalah oleh satu kata ‘cinta’, Hui Fan adalah contoh nyata. Hui Fan sangat sulit mencintai orang lain. “jika aku, aku lebih memilih orang yang mencintaiku”. Managernya jadi membahas Ke Zhong, ia heran pada Hui Fan yang tak mempertimbangkan Ke Zhong sebagai pengganti Yu Ping, padahal kualitasnya hampir sama dengan Yu Ping, bahkan mencintainya pula.


Hui Fan kemudian menceritakan Ke Zhong yang kini sudah bersama Yang Guo. “Yang Guo adalah gadis yang baik, aku akan mendoakan kebahagiaan mereka”
“Bahagia? Kebahagiaan apa? Bukankah kau yang bilang semua cuma akting? Ke Zhong khawatir Yang Guo akan mengganggu rujukmu dengan Pengacara Xiang , jadi ia mengorbankan dirinya untuk bersama Yang Guo. Lalu setelah kalian rujuk, Ke Zhong akan memutuskannya kan?”.


“tidak, Ke Zhong dan Yang Guo sudah cocok bersama“ jawab Hui Fan sedih… entah sedih untuk Yang Guo atau sedih menerima kenyataan Ke Zhong cocok dengan Yang Guo??
Manager tertawa, ia mengingatkan soal cerita Hui Fan tentang Ke Zhong yang meminta Hui Fan kembali pada Ke Zhong minggu lalu. Hui Fan minta managernya tak lagi bicara, ia tak ingin semua itu menyebar, Manager menenangkannya, ia bukan orang yang suka bergosip.



“kami… tadi…”
“Cuma bercanda!!” manager mencoba membantu, tapi Hui Fan melengos, ia tak berani menatap Yang Guo.
Tak mau mendengarkan apapun, Yang Guo yang tak bisa lagi menahan airmatanya segera berlari turun. Hui Fan segera mengejarnya, sementar sang manager cuma bisa menyalahkan dirinya dan menyesal.
Setelah menyelesaikan urusannya, Yu Ping yang tahu ada miscalled dari Yang Guo langsung menelpon balik, namun menemukan ponsel Yang Guo tak aktif.
Sementara itu Yang Guo terus berlari menuruni tangga tak menghiraukan Hui Fan yang terus mengejar dan memanggilnya.


Gagal menelpon Yang Guo, Yu Ping menelpon keponakannya, ia mendapatkan cerita lengkap bahwa mereka ada di kedai eskrim sementara Yang Guo sedang menemui Hui Fan.

“paman, aku melihat Jie jie!” Yu Fei melihat Yang Guo datang
“berikan telponnya pada Jiejie, biar paman bicara dengannya”Yu Fei hendak mendekati Yang Guo, namun tiba-tiba Hui Fan muncul dan memegang tangan Yang Guo.
“Yang Guo, dengarkan aku, aku akan menjelaskannya… ini tak seperti yang kau pikirkan….”
”paman, sepertinya jie jie … mereka tampak aneh” tanpa sadar Yu Fei mendengarkan Yang Guo dan Hui Fan tanpa menutup telponnya.
Akhirnya Yang Guo tak lagi menghindar. Hui Fan mencoba menjelaskan dengan tenang, “aku mengakui … aku mengaku pada awalnya aku takut Yu Ping akan menyukaimu, jadi aku memanfaatkan Ke Zhong. Ku memanfaatkan perasaannya padaku dan membuatnya mendekatimu, dengan begitu Yu Ping akan menyerah. Tapi pada akhirnya setelah kau selalu membantuku aku mempercayaimu….. Jadi Yang Guo, kumohon percayalah padaku“.
Semua yang dikatakan Hui Fan terdengar oleh Yu Ping. Karena ponsel yang di pegang Yu Fei belum ditutup, dan ia berdiri cukup dekat untuk membuat suara Hui Fan terdengar Yu Ping.
Yang Guo menggeleng, tapi Hui Fan terus berusaha meyakinkannya bahwa ia kini berharap kebahagiaan untuk Yang Guo dan Ke Zhong…. ”Tolong percaya... harapanku ini sungguh-sungguh”

“…..dan ingat, Ke Zhong kini juga serius padamu”. Tapi sebanyak apapun Hui Fan mencoba menjelaskan, hati Yang Guo sudah terlanjur patah. Ia menangis meminta Hui Fan tak lagi bicara, karena ia sendiri tak tahu apa yang ia harus percayai kini.



Yu Ping sudah ngebut untuk pulang, tetap saja ia tak bertemu Yang Guo. Yang Guo langsung pergi setelah mengantar anak-anak pulang. Yu Fei meminta pamannya mencari Yang Guo, sementara ia yang akan menjaga Yu Ting. Yu Ting mengangguk-angguk setuju. Gemes deh liat pipinya Yu Ting.


Yang Duo terang-terangan menolak Liang di depan teman-temannya, yang kontan membuat mereka menertawai Liang. Mereka memberi kode kalau gagal mengajak makan malam maka ia berhutang 500 NT (1NT teh sabaraha??) pada masing-masing orang.


Perbincangan mereka terputus karena telpon dari Yu Ping. Yu Ping yang sebelumnya mendatangi rumah keluarga Yang namun tak menemukan Yang Guo, bertanya pada Yang Duo mengenai tempat yang biasa di kunjungi atau orang yang di temui Yang Guo bila sedang bersedih. Yang Duo bermaksud menanyakan memangnya kenapa, tapi Yu Ping yang tak sabar setengah teriak memintanya langsung jawab pertanyaan saja. Walau heran, Yang Duo pun memberitahu biasanya cara efektif meredakan kesedihan Yang Guo adalah dengan hanya membuatnya makan yang banyak dan tidur meringkuk. Yang Duo lalu mencontohkan saat Yang Guo putus dengan Ah De, tapi tak diteruskannya Karena Yu Ping sudah menutup telponnya.
Melihat Liang masih berdiri dengan manis menunggunya, Yang Guo tersenyum menyetujui ajakan makan Liang. Liang berteriak gembira, sebaliknya teman-temannya mengeluhkan harus kehilangan uang, wkwkwk….. Kegembiraan Liang tak terlalu lama, karena Yang Guo mengajukan syarat-syarat, pembagian 70:30 dimana 70 untuknya, wkwkwk Yang Duo matre abis.

Melihat wajah Hui Fan yang pucat, manager mengkhawatirkannya, karena ternyata sejak siang Hui Fan belum makan. Hui Fan mengaku ia tak selera karena mengkhawatirkan keadaan Yang Guo.
“tak ada apapun yang akan terjadi. Gadis itu terlihat bodoh sekaligus optimis. Ia pasti akan langsung cerah setelah menangis” Manager mencoba mengurangi kekhawatiran Hui Fan.



Sesuai pesan managernya, Hui Fan pun sedikit berbasa-basi menyambut Yu Ping dengan cerita tentang anak-anak. Yu Ping tak mendengarkan, ia malah asyik memainkan kunci di tangannya lalu melemparnya ke lemari disampingnya.
“kulihat sakitmu sudah membaik. Aku akan mengantarmu pulang besok”
“kenapa?... bukankah kita cukup baik bersama-sama?... kalau ini soal anak-anak..”.
Yu Ping langsung memotong, “Ku pernah bilang bahwa kau sangat berbakat, tapi ku tak pernah tahu bakat aktingmu luar biasa.”
"Yu Ping, apa yang kau bicarakan?.. aku tak menger….”

“apa Yang Guo yang mengatakannya padamu?”
Yu Ping kesal pada Hui Fan yang tak kunjung mengerti, nadanya mulai naik (=bahasa halus membentak), Jika Yang Guo yang mengatakannya, ia tak mungkin bersembunyi sendiri dan menanggung derita sendiri.
Hui Fan akhirnya mengaku ia mengerti, “aku tahu aku salah. Aku menyesalinya, sangat-sangat menyesalinya”
“bukankah sudah terlambat untuk menyatakan penyesalan sekarang?... Jika sesuatu terjadi pada Yang Guo, aku takkan pernah memaafkanmu karena aku bahkan tak bisa memaafkan diriku sendiri!! Kau tahu itu?......Yang paling kusesali saat ini adalah kukira ia akan lebih berbahagia bila bersama Ke Zhong. Aku tak pernah menyangka justru itulah awal penderitaannya! ”


Yu Ping menahan tangan Hui Fan yang memegangnya, “bahkan aku tak bisa membedakan kesedihanmu ini nyata atau palsu… sebelum aku membencimu, PERGI!!” Yu Ping menyingkirkan tangan Hui Fan ke arah samping sementara ia langsung naik ke lantai 2 rumahnya. Kini tinggal Hui Fan yang sendirian menangis menyadari kesalahannya.
“jika bajingan itu datang, aku akan bicara padanya. Mereka kan belum menikah, bisa-bisanya ia membawa Guo Guo keluar semalaman?”
Yang Duo kesal mengira ayahnya tak mengerti, Yang Guo tak mungkin bersama Ke Zhong karena Ke Zhong sedang keluar negri.
“aku membicarakan orang yang bermarga Xiang!”
“hah? Kenapa ada hubungannya dengan bossku?
“siapa yang bilang… ayah..ayah mendadak memikirkan dia. .. bajingan itu tak jelek.” Tuan Yang berusaha mengelak dan tak membahasnya lebih lanjut.

Yu Ping terkejut Yang Guo tidak pulang.

Tuang Yang minta Yu Ping menjelaskan atas apa yang sedang dialami Yang Guo, sampai ia bersembunyi. Menerima tatapan 3 orang terdekat Yang Guo yang juga mengkhawatirkannya, Yu Ping akhirnya menceritakan semua. Tuan Yang langsung menyesali ia yang tak peka saat Yang Guo yang pernah menanyakan soal kristal ajaib. Aha!! Kristal ajaib! Inilah yang jadi petunjuk!. Tanpa permisi ia segera keluar untuk mencari Yang Guo, bergegas menuju suatu tempat…… gudang yang pernah di jadikan tempat penyekapan anak-anak oleh penculik. Tempat dimana bola ajaib Yang Guo hilang.






“Apa kau hanya mau pergi jika kau menemukannya?” Tanya Yu Ping.
Melihat Yang Guo mengangguk, Yu Ping minta Yang Guo mendengarkannya.
Akankah bola ajaib ketemu?? Nantikan kelanjutan DWL 13 part 2, hanya di pelangidrama.net!! ^^
0 comments:
Post a Comment