Do you like this story?
Dokko menunjuk Ae Jung dan menjawab “Ding dong”.
Mereka duduk untuk membicarakannya, tepatnya Dokko Jin yang membicarakannya, ia berkisah semua yang terjadi dengan dirinya saat ini dimulai sejak 10 tahun yang lalu, ia dengan jujur merasa telah mempermalukan dirinya sendiri (mengejar-ngejar Ae Jung), namun kini ia merasa telah sembuh dan pulih seperti sedia kala.
“apa kau yakin kau baik-baik saja?” Ae Jung sepertinya bingung, mengapa di saat hatinya mulai menyambut justru Dokko Jin yang berubah. Ia pun ingin memeriksanya sendiri…..
Dan inilah caranya Ae Jung, ia mendekatkan kupingnya ke dada Dokko Jin membuat Dokko Jin jengah, “apa yang kau lakukan?”
“diamlah” Ae Jung berusaha menajamkan telinganya, “Terdengar berdetak”
“Jika tak berdetak maka aku mati… Kong dak, kong dak, kong tarara ta.. detaknya normal kan? Tidak ‘woo lung woo lung woo lung’ seperti sebelumnya??”
Ae Jung tak setuju, menurutnya detaknya sangat cepat. Tapi Dokko Jin merasa wajar karena bagaimanapun Ae Jung duduk terlalu dekat hingga ia mungkin saja terpengaruh.
Dan Dokko Jin pun akhirnya menyadarinya, “Apa ini? Apa kau ... kecewa?” Ae Jung langsung menegakkan badannya, “Apa kau kecewa karena jantungku tak berdetak secepat dulu lagi?... hahahaha… aw, sakit!” tawa Dokko Jin terhenti saat Ae Jung memukul dadanya.
Menutupi perasaannya, Ae Jung mengaku ia hanya khawatir soal sakit Azaleanya Dokko Jin, ia juga senang kalau ternyata Dokko Jin sehat tapi dengan tampang cemberut, haha.. Ae Jung berdiri, ada yang uang masih tak di fahaminya. Dokko Jin mendengar lagunya pada saat menjalani operasi jantung, bagaimana bisa sepuluh tahun kemudian, jantungnya baru merespon ketika mendengar lagu itu? “Apa ada penjelasan medis untuk itu? Apa kau tak merasa aneh?”
“Ini tidak aneh, tapi tidak adil! … Jantungku menipuku, aku mencukur kumis karena ku pikir aku menyukaimu, pipiku jadi tipis.. Ini menyedihkan!”.
Ae Jung merasa menyesal untuk kumisnya Dokko Jin. Walau sedih, setidaknya Ae Jung lega, karena penjelasan Dokko Jin lebih masuk akal daripada tuduhannya bahwa ia telah mengguna-gunai Dokko Jin agar menyukainya.
Dokter Joeng bingung saat suster memberitahunya perihal Dokko Jin. “Jantungnya merespon lagu yang dimainkan saat dia dioperasi?? aah, benar-benar…. Tapi jantungnya sehat selama lebih dari sepuluh tahun, mengapa tiba-tiba bereaksi terhadap lagu setelah bertahun-tahun? Lagu ini mendorong jantungnya yang sekarat untuk berdetak lagi, lagu itu membuatnya tetap kuat….. Jangan katakan padaku, jantungnya masih memerlukan lagu ini untuk tetap kuat?” Dokter Joeng justru merasa khawatir, ia langsung minta hasil pemeriksaan terbaru jantung Dokko Jin pada susternya.
Sementara itu, Ae Jung menemui Pil Joo untuk berkonsultasi, ia ingin tahu jika jantung yang selalu berdebar saat melihat orang tertentu ...”Apakah mungkin bisa kita salah menyangka kalau kita menyukai orang itu?”
“maksudmu jantung yang berdebar cepat karena sesuatu dapat membuat ilusi jatuh cinta?”
“Ini aneh, kan? Tidak mungkin sebuah ilusi, kan?”
“mungkin saja… “ Pil Joo memberi contoh, sesaat setelah tersengat listrik atau naik roller coaster kemudian melihat seorang lawan jenis sementara detak jantung masih tinggi, ketertarikan kita pada orang itu akan meningkatkan dramatis. Pil Joo mengaku pernah melihatnya dalam studi medis.
“Lalu, cinta semacam itu ilusi?”
“Jika ada kondisi eksternal yang membuat jantung berdetak lebih cepat, bisa jadi seperti itu”
Dan bunyi ringtone ponselnya membuat Ae Jung mengerti penjelasan Pil Joo, “Jika di ulang terus menerus, bisa menyebabkan ilusi ... ini tak adil” hehe, tak adil bagi Ae Jung yang kini mulai menyukai Dokko Jin tanpa ilusi.
Setelah yakin ia tak menyukai Ae Jung, Dokko Jinpun bertemu dengan Se Ri untuk memberitahunya soal iklan yang mereka bintangi tetap berjalan (=tak akan ada pengumuman perpisahan). Se Ri senang, karena tadinya ia pikir Ae Jung sudah tahu kelemahan Dokko Jin dan berusaha memanfaatkannya. Ia juga bertanya untuk memastikan apa memang Dokko Jin menyukai Ae Jung.
“Siapa yang bilang? aku akan menuntut siapa pun yang telah menyebarkan desas-desus itu. Apa itu kau?” Se Ri langsung mingkem, haha.
Dokko Jin akan masuk ke ruangan kepala Moon saat di dengarnya kepala Moon dan Jae Suk membicarakannya.
“Menyedihkan, Ae Jung noona menolaknya”
“Jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Aku akan menuntut siapapun yang mengedarkan rumor itu”
Dokko Jin senang, karena mengira Kepala Moon ada di pihaknya, tapi senyumnya segera berakhir.
“Tidakkah Dokko hyungnim terpengaruh?” Tanya Jae Suk lagi.
“Sejujurnya, itu cukup menghibur … Dokko Jin kadang menjadi tiran narsistik, dan aku selalu harus melayaninya, aku capek! Bagaimana tidak?... Dokko Jin kita, selalu memandang tinggi dirinya sendiri. Tapi sekarang, dia ditolak oleh seorang wanita. Goo Ae Jung-ssi ...” kepala Moon memberi applaus, “Dia benar-benar menakjubkan”. Wkwkwk… parah, gak Cuma narsis tapi juga tiran….
Jae Suk menambahkan kalau tak hanya Ae Jung yang tak suka Dokko Jin, tapi juga seluruh keluarganya.
Kesal mendengar perkataan Jae Suk soal keluarga Ae Jung yang tak menyukainya, Dokko Jin segera mencari informasi lewat Hyung Kyu. Lewat semangkok besar eskrim, ia membujuknya. Tapi ia tak sanggup mendengarnya lagi saat yang keluar pertama adalah ‘Dokko Jin adalah butthole’, langsung di tutupnya mulut Hyung Kyu.
“Ajussi, apa kau ingin menempel pada bibiku seperti ini?” Tanya Hyung Kyu menunjukkan dua batang magnet.
“Dulu iya, tapi sekarang tidak lagi. Awalnya kupikir ada kekuatan yang menarikku pada bibimu. Tapi sekarang, kekuatan itu hilang.” Dokko Jin mengambil batang yang bawah dan membaliknya lau menempelkannya lagi, “Lihat, tidak menempel lagi. Tidak lengket. Tidak menempel sama sekali.”


Ae Jung datang untuk menjemput Hyung Kyu, Hyung Kyu menolak ia masih mau menonton dengan kacamata 3D. Dokko Jin minta ae Jung menunggu sambil mereka bicara. Dokko Jin menunjukkan batang magnetnya Hyung Kyu, ia mengibaratkan batang magnet itu dirinya dan Ae Jung. Tentang rumor Ae Jung yang menolaknya, dan kini situasi berbalik. Dokko Jin memutar batangnya hingga berbeda kutub, ia ibaratkan dirinya yang berbalik tak mengejar Ae Jung… tapi ups… kini batang magnet lambang Ae Jung yang justru menempel padanya.
“Goo Ae Jung, kau tertarik padaku sekarang, kan?” melihat Ae Jung diam memalingkan muka tak mau menjawab, Dokko Jin makin yakin kalau Ae Jung menyukainya.
“Siapa bilang aku tertarik? Itu hanya magnet.”
“Seperti magnet, karena aku berpaling darimu ...kau sekarang tertarik, bukan?”
Ae Jung terus menyangkal, Dokko Jin berusaha memakaikan monitor jantungnya pada Ae Jung untuk membuktikannya. Ae Jung kesal, ia menolak monitor itu dan menaruhnya di meja tepat di atas batang magnet.
Dokko Jin serasa mendapat mainan baru, ia terus menggoda mengatai Ae Jung yang menyukainya, haha.. Ae Jung segera menarik Hyung Kyu pulang (yang tetap tak lupa mengambil magnetnya).


Tanpa di sadari siapapun, magnet itu merusak jamnya Dokko Jin.
Seperginya Ae Jung, Dokko Jin benar-benar menikmati cinta bertepuk sebelah tangannya Ae Jung. Ckckckck…
Sementara Ae Jung kini memikirkan soal magnet dan Dokko Jin. Magnetnya dan magnet Dokko Jin yang tolak menolak… wajahnya langsung terkejut saat magnet itu saling menempel, ia segera melepaskannya dan menjauhkannya.
Ibunya Pil Joo mencoba membujuk Pil Joo untuk mengakhiri program CMnya, ia bahkan meminta Pil Joo kembali ke China untuk melanjutkan belajar obat-obatan. Karena gagal membujuk Pil Joo, ia kini mencari sendiri alamat Goo Ae Jung. Ia ingin mencari bukti Ae Jung tinggal di rumah pacarnya yang Yakuza agar Pil Joo mau meninggalkan Ae Jung.
Kenyataan membuatnya kaget, kalau ternyata Dokko Jin tinggal umpel-umpelan bersama dengan keluarganya di rumah sewa. “Seorang wanita dengan rahasia mudah disingkirkan. Tapi yang miskin adalah yang paling sulit!”
Dokko Jin menemui kepala Moo dan Jae Suk, ia meyakinkan mereka bahwa ‘kegilaannya’ kemarin-kemarin di karenakan jantungnya. Untuk itu ia ingin membereskannya, seperti Kontrak CF dengan Kang Se Ri yang ia minta dilanjutkan seperti biasa. juga sumbangan sepatu, ia minta Ae Jung Ae yang menanganinya. Khusus mengenai Ae Jung, ia ingin Ae Jung memperbaiki citra yang negatifnya, walau kepala Moon juga bilang bahwa Yoon Pil Joo sudah cukup untuk memperbaiki citranya Ae Jung. Tak hanya itu ia juga mempersilahkan van untuk bebas di pakai Ae Jung.


“Tentu saja. Kita harus membiarkannya bergengsi (artis berarti harus naik van, baru di bilang berkelas). Bahkan jika perlu, biar saja mereka memakainya bersamaaaaaaaa… hahahaha”. Sikap Dokko Jin mengundang banyak Tanya di wajah Jae Suk dan Kepala Moon.
Ae Hwan menemui nona Han dan PD Kim, untuk menyatakan kesediaannya Ae Jung ikut segmen tambahan CM. Ae Hwan bercucuran air mata, ia terharu akhirnya karir Ae Jung mulai bersinar… begitu pula cintanya.
Jenny yang menemani datang ke gedung MBS memarahi Ae Hwan yang tak berhenti menangis. Tapi ia juga dengan jujur ikut merasa senang seperti yang di rasakan Ae Hwan. Ia menawarkan diri untuk menjadi manager Ae jung suatu hari nanti, agar ia juga bisa mengawasi Se Ri (dari menjahati Ae Jung).
“Benar? Kalau kita menikah, kita dapat bertukar peran….Dan aku menjaga restoran?”
“tidak!” tiba-tiba sebuah suara menyahut, Jae Suk langsung mengklaim kalau ia lah yang akan menjaga restoran. Wkwkwk, kedua pria kembali berseteru untuk mendapatkan Jenny. Jenny mau keduanya, “Rekaman albumnya Ae Jung (=Jae Suk)" kata Jenny menggamit lengan Jae suk, "dan variety show (=ae Hwan)"sambil menggamit lengan Ae Gwan "aw.. ia hanya perlu berakting di drama TV, makin lengkaplah mahkotanya”.
Ae hwan dengan getir membandingkan bahwa Ae jung bukanlah Lee Seung Gi yang layak mendapat mahkota bersusun tiga (tiara---jadi inget ngisi TTS, haha), dan tanpa di sangka orang yang di bicarakan muncul!
Sama seperti pertemuan pertama Dokko Jin dan Ae Jung… kali ini terjadi pada pertemuan Seung Gi dan Jenny: awalnya Seung Gi ramah pada semua orang, sampai ia tahu bahwa SCARFNYA SAMA DENGAN YANG DIPAKAI JENNY!! Hahaha.
Ia segera menyembunyikan scarfnya dan berusaha pamit sambil tersenyum. Bertiga mereka memuji-muji Seung Gi yang amat berkebalikan dengan dokko Jin. Jae Suk bahkan dengan lebay mengisahkan Dokko Jin yang juga bersikap manis saat kali pertama bertemu, namun ia tertipu.
Padahal kenyatannya Seung Gi dan Dokko Jin sebelas dua belas (kebayang enggak kalau pemeran Dokko Jin jadinya Lee Seung Gi?... walau aku yakin Seung Gi juga actor hebat yang bisa meranin Dokko Jin dengan bagus, tapi aku dah terlanjur jatuh cinta ma Dokko Jinnya uri CSW) . Saat tak ada orang Seung Gi memarahi managernya, “Apa ini yang biasa dipakai kucing atau anjing?”
“Ini adalah edisi terbatas” Manager membela diri.
“Kucing dan anjing memakainya!! kau masih mau mengelak?? Aku tak bisa memakainya” Seung Gi pun dengan kasar melempar scarfnya pada managernya.
Di Lift, ia berpapasan dengan Dokko Jin, Seung Gi menyapanya dengan hormat. Dokko Jin membalasnya dengan manis pula, ia tiba-tiba teringat sesuatu, “ah, Seung Gi-ah”.


“Kau MC untuk Steel Heart, kan? Mengapa kau tak mengundang Goo Ae Jung, dari agencyku, untuk berpartisipasi?”
“Keputusan itu milik penulis dan sutradara. aku tak memiliki kekuatan semacam itu.”
“Apa maksudmu tak ada kekuatan? Kau tidak bisa? Atau kau belum sampai ke tingkat itu (artis berkuasa)?”
Seung Gi tak mau dipandang remeh, akhirnya ia menyanggupi untuk mencobanya. “Tapi, sebegitu pentingkah hingga perlu campur tanganku?”
“Jika kau melakukannya dengan bagus, aku takkan menyentuh iklan kulkasmu”.
“Kulkas? Aku Lee Seung Gi. tak seorangpun yang bisa mengambil iklanku, bahkan walau kau sunbaenimku. Aku selalu menjaga iklanku erat. Selanjutnya, jangan pernah masuk zona amanku”.
“Jika itu yang kau inginkan, maka undanglah Goo Ae Jung.” Dokko Jin menjentikkan jarinya, “Kulkas”
“Aku tidak bisa”.
Tiba-tiba serombongan wanita mengelukan seung Gi.
“Satu, dua, tiga ... hahahaha” merekapun bertingkah akrab.
Wkwkwk, Jae Suk menggeleng-geleng prihatin. Gak mungkin kan di depan orang banyak mereka gontok-gontokkan???. “Mari kita pergi, Seung Gi”…”Ya, sunbaenim”… “Terima kasih ... Terima kasih ...”.


Goo bersaudara plus Jenny membicarakan perihal kelakuan Dokko Jin (soal amal sepatu dan van) yang makin tak jelas. Ae Jung melarang kakanya atau Jenny ikut campur. Ia yang akan menanyakannya sendiri pada Dokko Jin (diam-diam tersenyum)… hm, Ae Jung senang karena itu berarti Dokko Jin masih peduli padanya.
Dokko Jin menemui dokternya, dan dengan bangga menunjukkan monitornya yang stabil di angka 88. Tapi Dokternya justru khawatir jantung Dokko Jin justru tengah mengalami komplikasi. Untuk itu ia minta Dokko Jin menjalani pemeriksaan lebih rinci. Dokko Jin menolak, baginya itu hanya hipnotis.
“Apa kau yakin itu hanya hipnotis? Detak jantungmu membuatmu menyukainya?”
“Jelas”.
“Bukannya karena menyukainya maka jantungmu berdetak cepat? Tak mungkinkah jantung mu berdetak cepat karena kau menyukainya? Kau yakin mana yang lebih dulu terjaga?”…. hayooo, mana telor dulu atao ayam dulu??? wkwkwk


“Pergi ke rumah sakit itu sia-sia dan malah mempengaruhi suasana hatiku”.




Ae Jung bahkan memeluk Dokko Jin membayangkan dirinya magnet yang menempel erat. Dokko Jin sengaja membalas pelukan Ae Jung dan mempererat pelukannya. Lalu membalik tubuh Ae Jung dan membuatnya melangkah ke arah tangga.
Ae Jung yang tahu akhir tujuan Dokko Jin ke kamar tidurnya berusaha menahan kakinya. Tanpa suara Dokko Jin tahu kalau Ae Jung menolak ajakannya, iapun memutar arah kembali ke arah pintu dan melepaskan Ae Jung menyuruhnya pergi.
Tapi Ae Jung kembali bertanya satu hal sebelum ia pergi, “Ketika kau mengejarku, kau berniat untuk bersamaku kan? Kau bermaksud untuk tetap bersamaku sampai akhir, tanpa meninggalkanku kan?..... Aku menginginkan orang yang benar-benar bisa bersamaku…. Pada akhirnya, kau tak perlu memikirkan hal serumit itu. Jantungmu berbalik sendiri. Kau pernah bilang jantungmu, buatan? Jantung yang ... sangat cerdas”
Sepeninggal Ae Jung, Dokko Jin memegang dadanya, “Aku pasti sudah gila… Aku tak pernah memikirkan hal serumit itu”.


Se Ri terlihat kurus dengan wajah pucat, ia yakin Pil Joo takkan bisa mendiagnosanya….. sakit cinta, haha. Maksud kedatangan Se Ri tak lain dan tak bukan adalah untuk mengubah pandangan Pil Joo. “Apa kau tahu Ae Jung eonni mempunyai citra yang sangat buruk? Jika kau bersamanya, itu akan mempengaruhimu juga”
“Jika aku menunjukkan betapa aku menyukainya, orang lain akan mulai menyukai dia juga”
“Apa kau tahu Ae Jung eonni menyukai orang lain?”
“Aku berpikir bahwa jika aku menyukainya lebih, akhirnya akan berhasil”
Se Ri kecewa, baginya Pil Joo dokter yang tak berguna (=tak bisa menyembuhkan sakit cintanya) haha, ia dengan marah keluar dari ruangan Pil Joo.


Suara Mi Na yang kebetulan ada di meja administrasi bersama putrinya menarik perhatiannya. Pandangan mereka bertemu.Mi Na jelas terlihat marah, sementara Se Ri jelas terlihat merasa bersalah. Se Ri melawan ketakutannya, ia berusaha mendekat pada Mi Na, namun dua orang pria yang ingin minta tandatangannya menghalanginya. Mi Na pergi, Se Ri ingin menyusul tapi ia langsung ambruk sebelum sempat mengejar.
Dokko Jin masih terus memikirkan jantungnya dan Ae Jung. Ia menyalahkan jantungnya yang pintar. Untuk mengurangi rasa malu (plus bersalah) ia berencana membalik semua yang pernah terjadi. Hal yang pertama harus dimulai dari anggur yang harusnya jadi sogokan Peter. (dari sinilah kedekatannya dengan Ae jung dimulai)
Ae Jung heran melihat meja yang penuh dengan makanan. Jenny mengaku semua untuk merayakan keberhasilan Ae Jung, dan kini mereka tinggal menunggu pangeran keberuntungannya ae Jung.
Tapi salah, yang datang bukan Pil Joo, melainkan Dokko Jin!!
Dokko Jin bermaksud untuk meminta maaf, ia minta Ae Jung meminum anggur yang di bawanya, ia meyakinkan akan menghipnotis Ae Jung untuk tak lagi menyukainya.
Ae Jung mulai membuka tutup botol, Dokko Jin bertepuk tangan menyemangati Ae Jung, “Goo Ae Jung, sembuh, sembuh! Goo Ae Jung, pulih. pul ... Hei, apa yang kau lakukan?”.


Setelah hampir menghabiskan seluruh isi botol, Ae Jung berhenti, ia melap mulutnya, “sekarang aku sembuh”.
Dokko Jin khawatir kalau Ae Jung akan muntah jika minum langsung bayak sebanyak itu, tapi Ae Jung meyakinkannya kalau ia takkan muntah, ia akan menelan semua kenangan bersama Dokko Jin dari awal sampai akhir, mencerna semuanya dan mengubahnya menjadi omong kosong.Ae Jung pergi di papah Jae Suk.
Dokko Jin bingung, ia kecewa saat Ae Jung dengan yakin akan melupakan kenangan mereka terlebih saat Jenny memintanya pergi karena Pil Joo akan segera datang.
Dari jenny juga Dokko Jin akhirnya sadar telah salah faham mengenai pulpen, matanya mulai memerah dan berkaca, jelas terlihat penyesalan di matanya.
Pil Joo masih merawat Se Ri. Pil Joo tahu sakit yang di derita Se Ri adalah cinta, tapi ia tak tahu kalau orang itu adalah dirinya.

“Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku tentang pena?”
“Tidak menjelaskan.”
“Kau tidak percaya padaku, kan?”
“Tidak percaya.”
“Jadi terakhir kali, ketika kau bilang kau takkan pernah menyukaiku, kau ingin membatalkannya?”,
“ingin membatalkanya”
“kau membawa kentang itu untuk memberikannya padaku?”
“memberikannya”
“Jadi, kau datang ke rumahku untuk memberi makan ikan, bukan?”
“aku datang”.




Dokko Jin pulang, ia memarahi ikannya yang tak memberitahunya kalau Ae Jung datang memberi mereka makan, setidaknya mereka bisa mengeluarkan gelembung untuk memberitahunya, haha.. ia membayangkan harusnya ia memelihara binatang yang bisa bicara.









“Apa?”
“Lihat betapa gugup dirimu”.
“Apa kau bercanda? Aku sudah gugup seperti ini ...Tolong jangan membuat lelucon seperti itu”
“kau sebelumnya bingung, dan sekarang kau marah, kan? Jangan lupa perasaan itu. Ini akan membuat lebih mudah untuk menjelaskannya nanti“.
Pil Joo bingung dengan maksud perkataan Se ri.












Mungkin ia masih ragu soal Dokko Jin. Dokko Jin berusaha menuju kejembatan.
Akhirnya Ae Jung menerima uluran tangan Pil Joo dan ikut masuk kedalam lingkaran bunga berbentuk hati, seketika kembang api menyala. Se Ri kecewa, begitu pula Dokko Jin yang kesakitan memegang dadanya.


Met weekEnd Fams^^
Semoga yang punya masalah cepat beres masalahnya
yang sakit cepet sembuh sakitnya
Yang mo ujian, yang mo sidang, yang lagi TA, yang lagi tesis,
yang nunggu hasil UMPTN, yang nunggu rapot, yang mo lahiran,
yang nunggu lamaran, yang nunggu di lamar,
FiGhTiiing!!!
0 comments:
Post a Comment