Do you like this story?


“Jin-ho kenapa kau ada di sini?” tanya Kae-in.
“Ini adalah kamarku” jawab Jin-ho.
“Kamu mengapa menarikku ke kamarmu?” tanya Kae-in lagi.
“Kamu tidak ingat? kamu mengikutiku masuk kemari” kata Jin-ho.
Kae-in lalu membayangkan kejadian semalam.


Kae-in memohon agar Jin-ho mau membuatnya jadi wanita, Jin-ho tentu saja langsung menolaknya karena itu berarti “sesuatu” (yg udah gede pasti taulah... hehehe..). Jin-ho menasehati Kae-in walaupun hatinya tertekan seharusnya ia tidak berkata seperti itu pada seorang laki-laki. Jin-ho meninggalkan Kae-in, tapi Kae-in mencegahnya dengan menarik kaki Jin-ho. Di bawah kaki Jin-ho, Kae-in terus memohon agar Jin-ho mau menjadikannya wanita. Ia adalah wanita tapi tak bisa menjadi wanita sesungguhnya, ia lalu mengungkit Jin-ho yang seorang pria tapi malah hidup tidak seperti pria sesungguhnya (gay). Jin-ho kesal, ia berkata hidup sendiri, selesaikan masalah sendiri dan ia bukanlah tipe orang yang suka ikut campur masalah orang lain.

“Boleh, mungkinkah jika ada pria dan wanita tidur bersama baru dinamakan cinta?” tanya Kae-in mabuk.
“Kamu pikir seorang pria jika ada kesempatan seperti itu adalah cinta? Ingin menyentuh wanita yang dicintai, ingin memeluknya. Ini adalah keinginan setiap laki-laki” kata Jin-ho.
“Keinginan setiap laki-laki? Dari mana Jin-ho bisa tahu hal ini? (secara dia kan gay... hehe...)” kata Kae-in curiga.
Jin-ho tak mau membahasnya, ia menyuruh Kae-in diam saja dengan menyuruhnya minum lagi.
“Tapi walaupun aku tidak ingin itu. Bukankah juga ada wanita yang tidak ingin menyerahkannya. Aku ingin menjadi wanita seperti itu. Wanita yang bisa membuat hati pria terharu. Tapi tidak ada hubungannya dengan tidur. Jika seperti itu, bukankah mereka seharusnya tidak akan melepaskanku?” kata Kae-in.
Setelah mengatakan itu Kae-in ambruk karena tertidur.

“Sampai kapan kau akan ada diranjangku?” tanya Jin-ho kesal.
Kae-in hanya tersenyum ia mengucapakn terima kasih karena Jin-ho menemaninya minum tadi malam dan mau mendengarkan curhatnya sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak.
“Kamu adalah teman terbaik pemberian ibu untukku” kata Kae-in.
Jin-ho hampir terpengaruh mendengarnya, tapi ia lalu bersikap dingin dan meminta Kae-in segera pergi dari kamarnya karena ia mau bekerja. Kae-in mendekati Jin-ho dan mengingatkan janji Jin-ho tentang janjinya tadi malam.
“Mungkin kata-kata mabuk, aku tidak ingat apa-apa” kata Jin-ho.
Kae-in kaget, ia lalu memancing Jin-ho.
“Jadi kamu pasti juga tidak ingat kata-kata itu. Tidak perlu mengembalikan uang sewamu lagi jika kau keluar” kata Kae-in.
“Wanita ini, kapan aku mengatakannya” kata Jin-ho kesal.
Kae-in tersenyum karena Jin-ho kena pancingannya (haha 1-1 sekarang). Jin-ho tak bisa menghindar lagi. Kae-in terus mendesak Jin-ho karena ia sudah berjanji membantunya berubah menjadi wanita sesungguhnya. Jin-ho terus mengelak ia berkata ia melakukannya karena Kae-in terus mendesak datang ke kamarnya tadi malam.
“Jin-ho kamu terlalu lucu. Bukankah kamu bilang tidak suka berbohong” kata Kae-in.
Jin-ho akhirnya menyerah.
“Dasar. Baiklah akan aku lakukan walaupun aku tahu tidak ada kemungkinan bisa mengubahmu. Tapi kita coba saja lah” kata Jin-ho akhirnya.
Kae-in senang sekali mendengarnya, ia lalu memeluk Jin-ho dan berkata “Jin-ho, kau benar-benar seperti hadiah yang diberikan oleh ibuku kepadaku”.
Jin merasa tidak enak dipeluk seperti itu, ia segera mendorong Kae-in menjauh darinya hingga jatuh keranjang (hatinya berdebar-debar kali ya.. haha..).
“Sudah ku bilang jangan mengacau lagi. Cepat pergi mandi sana” kata Jin-ho kesal.


Chang-ryul bangun dengan kepala pusing akibat mabuk tadi malam. In-hae menanyakan kapan Chang-ryul pulang padahal ia sudah memperingatkan agar Chang-ryul pulang cepat tadi malam. Chang-ryul mengacuhkannya dan berjalan menuju lemari es untuk mengambil minum. In-hae kesal, ia tanya apa Chang-ryul membecinya. Chang-ryul tak kalah kesal ia membanting botol minumannya.
“Keluar!” kata In-hae.
“Kenapa?” kata Chang-ryul.
“Jika kamu terus seperti ini, aku tidak akan nyaman tinggal disini. Kamu tahu uang dalam tabunganku sudah habis untuk pernikahan kita. Dan kamu juga tahu kalau aku masih harus membayar hutang. Tapi kenapa kamu malah mengungkitnya” kata In-hae.
Chang-ryul kesal ia menjawab dengan dingin. “Pertama, rumah ini bukan milikmu. Kedua, bukan aku yang mulai mengungkitnya”.
“Bukankah kau yang menyuruhku mengatakan berpisah” kata Chang-ryul.
“Tapi orang yang menyuruhku berakhir dengan Kae-in” kata In-hae.
“Maksudmu aku adalah orang jahat. Jadi semua akibatnya aku harus tanggung sendiri” kata Chang-ryul.
Chang-ryul menggeleng-gelengkan kepalanya tandak percaya In-hae bisa bicara seperti itu. Chang-ryul mengacuhkan In-hae lagi dan pergi dari sana. In-hae mengejarnya untuk menantang Chang-ryul. Chang-ryul berkata kalau ia sedang tidak mood karena tadi malam minum sampai pagi dan sekarang kepalanya pusing. Ia minta In-hae menunggunya selesai mandi dan baru meneruskan pertengkaran itu lagi. In-hae kesal ia berteriak agar Chang-ryul berbaik hati menyerahkan apartemen ini untuknya. Chang-ryul pun kesal dan berkata bahwa ia sudah minta In-hae menunggunya mandi dulu baru membicarakan masalah itu lagi. Tiba-tiba telepon Chang-ryul berbunyi. Chang-ryul mengangkatnya dan ternyata dari ibunya. Ibunya menelepon sambil menangis Chang-ryul jadi panik dengan keadaan ibunya.



“Kenapa harus telat 10 menit” kata Kae-in menyela.
Jin-ho terlihat kesal, Kae-in menunduk takut. Kae-in akhirnya mau melakukannya, tapi ia ragu. Jin-ho pura-pura marah karena Kae-in tidak mau menuruti perintahnya. Kae-in akhirnya memasukan wajahnya ke dalam baskom, tapi baru beberapa detik Kae-in sudah menunjukan tanda-tanda tak tahan. Jin-ho yang melihatnya mencoba menahan kepala Kae-in, tapi kepala Kae-in tiba-tiba tidak bergerak. Jin-ho panik, ia menggoyang tubuh Kae-in tapi tidak ada balasan. Lalu tiba-tiba Kae-in bergerak, ia langsung mengeluarkan wajahnya dari air.
“Aku bukan orang jahat, tapi kenapa kau siksa aku seperti ini” kata Kae-in memelas. Jin-ho melihatnya menggeleng tak percaya dan berkata kalau Kae-in tadi hanya bertahan 40 detik.






“Jin-ho kita berteman selama ya!” kata Kae-in sebelum pergi. Jin-ho heran mendengarnya.






“Sayangku” kata Sang-joon berpura-pura sedih karena Jin-ho mengusirnya kemudaian ia pergi dari rumah itu.
Di luar Sang-joon jadi geli sendiri dengan tingkahnya tadi, tapi ia langsung berpura-pura lagi begitu tahu Young-soon menyusulnya. Young-soon menyusul karena ia merasa bersalah. Sang-joon berkata Jin-ho tadi merasa malu karena hubungan mereka ketahuan. Young-soon minta Sang-joon mengerti karena masyarakat memang belum bisa menerima hubungan seperti mereka. Sang-joon berkata kalau ia sudah memahaminya tapi tetap saja ia merasa sedih. Young-soon jadi tidak enak dan bertanya apa yang bisa ia lakukan untuknya. Sang-joon berkata apakah ia boleh memanggil Young-soon “Eonni” (panggilan untuk kakak perempuan dari adik perempuan... haha.. Sang-joon merasa dirinya perempuan).


Do-bin berkata “Orang yang hidup pribadinya rumit, juga akan rumit dalam mengatasi suatu masalah. Semoga kamu bukan orang yang seperti itu. aku pamit dulu”.
Chang-ryul hanya bisa berdiam diri di sana melihat Do-bin pergi.


“Aku sudah berapa kali mengatakan agar kamu jangan mengatakan gay lagi” kata Jin-ho dingin tanpa melihat Kae-in dibelakangnya.
Kae-in langsung berlutut sambil mengangkat tangan dan berkata “Aku sudah salah”.
“Kamu sudah lupa perjanjian kita, jika ada sekali lagi membicarakan tentang kesukaanku maka kau akan melakukan apapun yang aku suruh” kata Jin-ho.
“Aku akan melakukannya tapi tadi juga bukan aku yang memulai lagipula ini bukan rahasia lagi” kata Kae-in membela diri.
Tapi begitu melihat Jin-ho menatapnya tajam, Kae-in langsung diam dan menunduk. Tiba-tiba ada sms di telepon Kae-in. Kae-in minta ijin menurunkan tangannya.
“Apakah aku menyuruhmu angkat tangan” kata Jin-ho dingin.
“Sepertinya ada pesan penting” kata Kae-in sambil menunjuk hpnya.
“Terimalah, tapi kali ini benar-benar paling terakhir” kata Jin-ho memperingatkan.
Kae-in menggangguk, lalu membuka pesan di hpnya. Kae-in menghampiri Jin-ho dengan senang dan berkata kalau ia mendapat panggilan interview. Kae-in memohon agar Jin-ho membantunya memilih pakaian yang akan ia kenakan. Jin-ho tak peduli ia bertanya kenapa ia harus membantu Kae-in. Sambil menunjukan muka sungguh-sungguh Kae-in berkata kalau ia sungguh-sungguh akan bertobat. Jin-ho malah geli melihat wajah Kae-in itu. Kae-in tersenyum senang karena itu berarti Jin-ho mau membantunya. Kae-in lalu memuji wajah Jin-ho yang halus.





Kae-in lalu duduk di pinggir teras dan berkata kalau ia iri dengan hubungan Jin-ho dengan ibunya yang begitu akrab. Kae-in berkata kalau ibunya masih ada ia juga ingin memanggil ibunya dengan sebutan nona. Jin-ho tanya kapan ibu Kae-in meninggal sambil mengikutinya duduk di pinggir teras. Kae-in berkata ketika umurnya 5 tahun, Kae-in juga bercerita seharusnya untuk umur segitu ia bisa mengingat ibunya walaupun sedikit, tapi ia sama sekali tidak ingat. Jin-ho berkata mungkin karena Kae-in terlalu bodoh. Kae-in membenarkannya, Jin-ho jadi tidak enak ia tadi hanya bercanda. Kae-in berkata kalau ia tidak marah karena sepertinya memang seperti itu. Jin-ho lalu berkata mungkin kejadian itu sangat menyakitkan Kae-in kecil jadi saat itu Kae-in memilih untuk melupakan kejadian itu saja agar bisa terus menjalani hidup ini. Kae-in jadi senang dan lega mendengar penjelasan Jin-ho itu.
“Jin-ho, aku belum mengatakan ini padamu kan? Selamat datang di rumahku” kata Kae-in sambil bersandar dibahu Jin-ho.
Jin-ho jadi tidak enak mendengar perkataan Kae-in itu (karena niat tersembunyinya terhadap Sang Go jae).




Ayah Chang-ryul memberitahu Chang-ryul bahwa proyek ini tetap akan di pegang oleh ketua Choi (ayah Do-bin). Chang-ryul tak percaya, yang ia tahu proyek ini ada ditangan Do-bin. Ayah Chang-ryul berakata kalau ketua Choi hanya memberi muka pada anaknya tapi ia tetap pengambil keputusan yang utama. Ayah Chang-ryul berkata kalau Chang-ryul tidak usah khawatir lagi tentang proyek ini karena ia akan pelan-pelan mengatur agar dilakukan perubahan peraturan dan mereka akhirnyalah yang akan menang. Chang-ryul bingung tak mengerti maksudnya. Ayahnya berkata kalau Chang-ryul tak perlu tahu, ia akan tahu itu pelan-pelan nantinya.
Do-bin meminta In-hae menelepon Prof. Park. Setelah tersambung Do-bin meminta Prof. Park agar mau menjadi juri dalam penentuan rancangan museum Damn kali ini. Tapi Prof. Park tetap menolak. Do-bin akhirnya memohon agar Prof. Park memikirkannya lagi. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Sang Go-jae menemui putri Prof. Park dengan harapan agar Prof. Park berubah pikiran kalau anaknya yang meminta.


Young-soon lalu heran kenapa Kae-in tidak menunjukan rasa kesalnya padahal ia sudah ditolak kerja, waktu di tinggal Chang-ryul pun ia tidak bereaksi apapun, waktu dikhianati In-hae juga seperti itu. Kae-in juga heran dan menganggap tak ada gunanya marah dan menangisi masalah seperti itu, tapi ia berkata ia kesal saat ia sudah datang untuk interview tapi orang disana malah bilang kalau ia kurang pengalaman kerja. Kae-in berakata kalau dirinya tidak cocok bekerja dalam team. Young-soon berkata kalau teamnya yang tidak cocok kerja dengan Kae-in. Kae-in kesal dan dengan bercanda dengan berkata “Kamu mau matikah”. Kae-in lalu mengalihkan pembicaraan dan berkata kenapa Jin-ho belum pulang juga padahal ia mau membagi kosmetik yang tadi diberikan. Young-soon jadi heran kenapa Kae-in akhir-akhir ini perhatian pada Jin-ho dan melakukan sesuatu bersama-sama terus padahal dulu mereka bertengkat terus. Kae-in tersenyum dan berkata kalau ia sudah terbiasa dengan sikap Jin-ho, ia juga merasa kalau wajah Jin-ho sedikit lucu dan kadang ia mengatakan hal-hal yang bisa membuat hati Kae-in hangat dan tenang. Kae-in mengatakan kalau ia kemarin mengatakan selamat datang ke rumahnya pada Jin-ho. Young-soon semakin curiga, ia mengingatkan agar Kae-in jangan jatuh cinta pada Jin-ho karena seperti yang mereka tahu Jin-ho adalah gay. Kae-in dan berkata kalau itu tidak mungkin.

Saat akan pulang Kae-in minta maaf pada Do-bin karena ia bukanlah anak yang bisa mempengaruhi keputusan ayahnya. Do-bin berkata dulu saat pertama kali melihat Kae-in, ia merasa Kae-in adalah orang yang pemberani, jadi ia tidak mempermasalahkan permasalah tentang Prof. Park tadi. Kae-in jadi heran, ia merasa belum pernah bertemu dengan Do-bin. Do-bin hanya tersenyum dan berkata mungkin lain kali mereka akan bertemu lebih sering. Do-bin pamit, Kae-in masih bingung tak mengerti, Young-soon pun berkata kalau ia sama sekali tak mengerti apa yang semua dibicara Do-bin tadi.


“Bukan berpura-pura jadi orang baik. Tapi benar-benar sangat baik” kata Jin-ho mengenai Kae-in.
In-hae kaget, tapi ia berkata karena terlalu sering dikasihani ia ingin sekali-sekali merebut. Orang hanya berpikiran ia jahat karena merebut barang yang tidak bisa dibagikan bersama, tapi orang ini pun ada sedikit hati untuk membaginya.
“Seperti orang bodoh. Jika mengkhianati teman hanya karena ingin merebut milik orang itu. Tentu saja ini adalah tnidakan jahat yang dilakukan orang bodoh” kata Jin-ho.
In-hae kaget, tapi ia lalu tersenyum dan bilang “Benar. Aku cuma orang jahat yang tak cukup jahat. Tapi tak tahu mengapa kata itu cukup berarti. Karena tidak cukup jadi bukan orang yang terlalu jahat kan. Bolehkah aku minum segelas arak”.







Kae-in masih menunggu di depan rumah, tapi saat ia sudah mau masuk mobil Jin-ho datang. Kae-in menunjukan sikap kesal. Jin-ho yang tak mau terlihat perhatian dengan dingin bertanya apa yang dilakukan Kae-in diluar, apa ia menunggunya. Kae-in jujur ia berkata walaupun Jin-ho sibuk seharusnya ia meneleponnya dulu dan mengatakan kalau akan telat pulangnya. Ia berkata kalau ia sudah bersusah payah memasak sup untuk Jin-ho. Jin-ho dengan dingin berkata agar Kae-in menganggapnya sudah makan masakan itu saja. Kae-in berkata kalau masakannya kali ini benar-benar enak.
“Aku sudah bilang kau anggap saja aku sudah memakannya. Apa mungkin kau belum makan karena aku?” kata Jin-ho.
Kae-in mengelak dan berkata kalau ia telah memakannya masakannya sampai habis, ia lalu melihat bingkisan yang di bawa Jin-ho. Ia berusaha merebut, tapi Jin-ho mencegahnya dengan mengingatkan Kae-in tentang kesabaran hati seorang wanita. Kae-in kesal karena ia pikir itu sebagai tanda maaf kepadanya.
“Benarkah?” kata Jin-ho sambil mempermainkan bingkisan itu didepan Kae-in yang terus mencoba mengambilnya, ia lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Apa hebatnya tinggi?” kata Kae-in kesal. “Jadi kamu gembira kamu pendek” kata Jin-ho mengejek.
Tiba-tiba perut Kae-in bunyi. Kae-in jadi malu karenanya.
“Aku sudah bilang kau anggap saja aku sudah memakannya. Apa mungkin kau belum makan karena aku?” kata Jin-ho.
Kae-in mengelak dan berkata kalau ia telah memakannya masakannya sampai habis, ia lalu melihat bingkisan yang di bawa Jin-ho. Ia berusaha merebut, tapi Jin-ho mencegahnya dengan mengingatkan Kae-in tentang kesabaran hati seorang wanita. Kae-in kesal karena ia pikir itu sebagai tanda maaf kepadanya.
“Benarkah?” kata Jin-ho sambil mempermainkan bingkisan itu didepan Kae-in yang terus mencoba mengambilnya, ia lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Apa hebatnya tinggi?” kata Kae-in kesal. “Jadi kamu gembira kamu pendek” kata Jin-ho mengejek.
Tiba-tiba perut Kae-in bunyi. Kae-in jadi malu karenanya.


“Sudahlah jangan pura-pura bertobat. Lebih baik cepat habiskan makananmu” kata Jin-ho.
Kae-in tersenyum dan makan dengan lahap. Jin-ho merasa aneh Kae-in bisa tanpa malu makan seperti itu didepannya.






Kae-in berkata kau itu tidak ada gunanya dan tidak akan mengubah apa pun. Jin-ho kaget mendengarnya.
“Aku tetap Park Kae-in yang tidak puasa apa-apa. Tetap hanya seorang yang pemarah dan tidak punya apa-apa” kata Kae-in sedih.
“Jadi yang paling ingin kamu lakukan adalah apa? Harus berkata bagaimana lagi sampai kamu bisa mengerti” kata Jin-ho.
“Aku tak tahu. Sebetulnya harus bagaimana baru bisa berakhir penderitaan ini. Sebetulnya harus bagaimana baru bisa lupa? Aku benar-benar tak tahu” kata Kae-in sedih.
Jin-ho lalu memikirkan sesuatu, ia bertanya apa Kae-in ada waktu sabtu nanti.
Kae-in kaget.
“Kamu luangkan waktu saja dan temani aku pergi ke suatu tempat” kata Jin-ho.
“Pergi ke mana?” tanya Kae-in.
“Pergi ke pesta. Chang-ryul juga akan pergi kesana. Kita biarkan bocah itu melihat bahwa kau bisa hidup dengan baik tanpanya” kata Jin-ho.
“Aku tetap Park Kae-in yang tidak puasa apa-apa. Tetap hanya seorang yang pemarah dan tidak punya apa-apa” kata Kae-in sedih.
“Jadi yang paling ingin kamu lakukan adalah apa? Harus berkata bagaimana lagi sampai kamu bisa mengerti” kata Jin-ho.
“Aku tak tahu. Sebetulnya harus bagaimana baru bisa berakhir penderitaan ini. Sebetulnya harus bagaimana baru bisa lupa? Aku benar-benar tak tahu” kata Kae-in sedih.
Jin-ho lalu memikirkan sesuatu, ia bertanya apa Kae-in ada waktu sabtu nanti.
Kae-in kaget.
“Kamu luangkan waktu saja dan temani aku pergi ke suatu tempat” kata Jin-ho.
“Pergi ke mana?” tanya Kae-in.
“Pergi ke pesta. Chang-ryul juga akan pergi kesana. Kita biarkan bocah itu melihat bahwa kau bisa hidup dengan baik tanpanya” kata Jin-ho.
Kemudian hari Jin-ho mengajak Kae-in berbelanja baju pesta. Kae-in mencoba baju dan Jin-ho merasa terkesan melihat perubahannya, tapi ia jaga imej dan berkata kalau itu tidak bagus dan memintanya ganti baju lagi. Kae-in mencoba beberapa pakaian sebalum akhirnya dapat yang cocok. Kae-in sangat berterima kasih karena Jin-ho mau membayarkannya. Jin-ho berkata itu tidak perlu ia hanya minta Kae-in menjaga kelakuannya nanti di pesta jangan sampai membuatnya malu. Kae-in berkata kalau ini adalah pesta pertamanya ia jadi merasa deg-degan.





“Kenapa, berdandan seperti itu lalu muncul keinginan untuk memacari dia kembalikah” kata In-hae kesal karena Chang-ryul terus memandangi Kae-in (cemburukah...?!).
Chang-ryul kaget, ia menoleh melihat In-hae. In-hae berkata kalau sikap Chang-ryul seperti itu adalah sifat sebenarnya. In-hae lalu pergi meninggalkan Chang-ryul setelah mengatakan itu.
Chang-ryul kaget, ia menoleh melihat In-hae. In-hae berkata kalau sikap Chang-ryul seperti itu adalah sifat sebenarnya. In-hae lalu pergi meninggalkan Chang-ryul setelah mengatakan itu.

“Tidak perlu cemaskan aku. Kau pergilah. Aku akan melakukan sesuai dengan yang aku pelajari dengan sempurna” kata Kae-in.
“Itu juga harus membuatku tenang karena kau selalu membuatnya berantakan” kata Jin-ho.
Jin-ho dan Sang-joon akhirnya pergi dengan In-hae dan Kae-in tetap bersama Do-bin.


Hye-mi datang dengan Tae-hoon ke pesta itu. Hye-mi kesal karena Tae-hoon mengemudi mobilnya tadi dengan sangat pelan. Ia takut Jin-hoo telah lama menunggunya. Tae-hoon menyangkal dan berkata kalau tadi itu jalanan macet sehingga mereka terlambat. Tae-hoon lalu merayu dan berkata kalau Hye-m pasti jadi wanita yang paling cantik malam itu. Hye-mi akhirnya tidak marah lagi. Mereka lalu berlari ke dalam ruang pesta.
Kae-in syok tak percaya Do-bin menawarinya pekerjaan untuk merancang ruangan anak-anak di museumnya. Do-bin membenarkannya. Untuk menyadarkan dirinya Kae-in terus-terusan minum banyak. Do-bin heran melihat tingkah Kae-in yang seperti itu tapi bisa memakluminya.

Belum selesai menjelaskan Hye-mi datang berteriak-teriak memanggil dan menghampiri Jin-ho. Hye-mi berkata kalua ia datang untuk menjadi teman wanitanya. Do-bin kaget karena teman wanita Jin-ho ada 2.
Hye-mi kaget “Ada dua? Selain aku siapa lagi. Kamu siapa?” kata Hye-mi memandang Kae-in curiga.
“Aku adalah Park kae-in” kata Kae-in bingung.
Sang-joon mencoba membawa Hye-mi pergi tapi Hye-mi menolaknya dan menarik lengan Jin-ho lagi. Do-bin berkata agar Kae-in menemuinya lagi hari senin besok. Kae-in bahagia sekali dan mengangguk setuju. Sang-joon mau menjelaskan tapi Do-bin keburu pergi.


Jin-ho bertanya bagaimana bisa Hye-mi sampai datang kesana. Tae-hoon menjawab bahwa ia yang mengantarkan Hye-mi datang kesana.
“Bukankah aku sudah bilang "diam" adalah bantuan sangat besar yang bisa kau lakukan” kata Jin-ho kesal pada Tae-hoon.
“Aku mengira hyung tidak ada pasangan wanita” kata Tae-hoon membela diri.
“Siapa wanita ini?” tanya Hye-mi kesal pada Jin-ho.
Jin-ho tidak enak ia mengajak Hye-mi keluar agar bisa menjelaskan lebih leluasa dan meminta Kae-in menunggunya. Hye-mi menolak karena ia merasa Jin-ho lebih memperhatikan Kae-in daripada dirinya. Kae-in mencoba menenangkan dan berkata kalau ia tidak seperti yang dikira Hye-mi, ia juga merasa Hye-mi tidak tahu tentang "rahasia" Jin-ho. Jin-ho mendekati Kae-in dan berbisik memperingatakan Kae-in tentang perjanjian mereka. Kae-in yang sepertinya sudah sedikit mabuk sehingga mendorong Jin-ho dan berkata sampai kapan Jin-ho mau menyembunyikan permasalahan "itu".
“Menyembunyikan apa?” tanya Hye-mi penasaran.
Jin-ho mendekati Kae-in dan memperingatkan dia lagi.
“Bukankah aku sudah bilang "diam" adalah bantuan sangat besar yang bisa kau lakukan” kata Jin-ho kesal pada Tae-hoon.
“Aku mengira hyung tidak ada pasangan wanita” kata Tae-hoon membela diri.
“Siapa wanita ini?” tanya Hye-mi kesal pada Jin-ho.
Jin-ho tidak enak ia mengajak Hye-mi keluar agar bisa menjelaskan lebih leluasa dan meminta Kae-in menunggunya. Hye-mi menolak karena ia merasa Jin-ho lebih memperhatikan Kae-in daripada dirinya. Kae-in mencoba menenangkan dan berkata kalau ia tidak seperti yang dikira Hye-mi, ia juga merasa Hye-mi tidak tahu tentang "rahasia" Jin-ho. Jin-ho mendekati Kae-in dan berbisik memperingatakan Kae-in tentang perjanjian mereka. Kae-in yang sepertinya sudah sedikit mabuk sehingga mendorong Jin-ho dan berkata sampai kapan Jin-ho mau menyembunyikan permasalahan "itu".
“Menyembunyikan apa?” tanya Hye-mi penasaran.
Jin-ho mendekati Kae-in dan memperingatkan dia lagi.




bersambung.....
credit : maldoeopsi
0 comments:
Post a Comment