Do you like this story?

“Kamu mau berangkat kerja?” tanya Kae-in.
Jin-ho mengangguk ia berkata sepertinya tadi malam ia banyak minum hingga jadi mabuk dan tak tahu apa ia telah buat masalah.
“Apa kamu tidak ingat apa-apa?” tanya Kae-in lagi.
Jin-ho hanya diam seperti berusaha mengingat sesuatu.
“Bahkan tidak ingat kalau kau berhutang padaku 50.000 won?” tanya Kae-in seperti tak percaya.
Jin-ho langsung mengambil uang di dalam dompetnya. Kae-in langsung bilang tak perlu dan berkata kalau ia hanya bercanda.
“Lagi pula tidak ada hal besar yang terjadi” kata Kae-in terlihat sedikit kecewa, ia lalu berbalik mau ke kamarnya lagi.
“Jika aku melakukan hal-hal yang terlalu, tolong maafkan aku. Aku minum terlalu banyak semalam” kata Jin-ho tiba-tiba.
Kae-in berbalik dengan wajah ceria, ia berkata kalau ia mengerti keadaan Jin-ho dan menyuruh Jin-ho pergi kerja saja.
Kae-in masuk kamar, dan berkata pada dirinya sendiri “Ya, dia pasti salah menganggapku sebagai kekasihnya. Tapi tak peduli seberapa banyak minumnya mana bisa ia melakukan hal seperti itu”.


Kae-in datang ke ruang kerja In-hae. In-hae memberikan sebuah amplop dengan kasar. Ia bilang isi amplop itu adalah uang yang bisa digunakan oleh Kae-in untuk biaya produksi pembuatan furniture. Setelah menjelaskan itu In-hae menatap Kae-in seperti menyuruhnya pergi. Kae-in berbalik segera mau pergi dari sana, tapi kemudian ia mendengar In-hae menelepon Jin-ho. Maendengar nama Jin-ho Kae-in jadi berhenti dan mendengarkan pembicaraan itu. In-hae berkata, ia menelepon karena ingin tahu bagaimana keadaan Jin-ho sekarang. Jin-ho di seberang berkata kalau ia tidak apa-apa, ia lalu mengajak In-hae pergi minum sebagai rasa terima kasih atas perhatiannya. In-hae menerimanya kemudian ia menutup telepon itu dengan senang. Kae-in langsung bertanya sebenarnya ada apa dengan Jin-ho kemarin. In-hae dengan dingin berkata bagaimana bisa Kae-in tidak tahu keadaan teman serumahnya. Kae-in hanya diam. In-hae lalu bercerita kalau kemarin perusahaan Maiseu membuat pengumuman pembatasan peserta proyek tender musem dan hal ini secara tak langsung menghalangi langkah perusahaan Jin-ho. Kae-in lalu ingat perkataan Jin-ho. “Tak peduli seberapa keras telah berusaha tapi tetap sia-sia saja” kata Jin-ho saat itu.

Saat perjalanan pulang Kae-in melihat sebuah boneka di toko. Ia tertarik dan membelinya. Setelah sampai di rumah ia berkata pada boneka itu bahwa mulai sekarang rumahnya adalah rumah boneka itu juga. Dan ia menamai boneka itu Jin-ho. Kae-in lalu berusaha keras membuat makan malam. Jin-ho pulang dari kerja. Sebelum masuk ia memandangi plang nama Sang Go-jae dan berkata setelah hari sabtu nanti ia tak perlu tinggal di sana lagi.

“Kemudian kamu makan lebih banyak dan jadi semangat kerja” kata Jin-ho dingin.
Kae-in mengiyakannya ia berharap Jin-ho makan banyak kali ini. Jin-ho dengan dingin mengingatkan agar Kae-in hati-hati saat memasak agar jarinya tidak terkena pisau terus. Kae-in berkata tidak apa-apa karena jika ia terluka ada Jin-ho yang siap membantunya memberikan obat dan jika obatnya tidak ada Jin-ho akan membelikannya untuknya sehingga ia tidak perlu khawatir.
“Apakah kamu pikir aku akan selamanya tinggal di sini?” kata Jin-ho dingin.
Kae-in kaget ia berkata bagaimana Jin-ho bisa mengucapkan hal seperti itu dan pergi secara tiba-tiba. Jin-ho berkata bagaimanapun kelak ia kan pergi dari sana juga. Kae-in berkata ia tahu tapi mendengar Jin-ho berkata tiba-tiba seperti itu ia merasa aneh. Jin-ho berkata ia tidak akan segera pergi dari sana dan minta Kae-in tidak memikirkannya dan makan dengan tenang saja.


“Tapi kau menghianatiku. Aku mungkin sudah akan mendengarkan baik-baik jika itu tak tejadi” kata Kae-in.
Ia lalu mau masuk kembali, Chang-ryul mencegahnya. Ia menangis dan menyebut ibunya. Kae-in jadi tidak enak ia tanya apa yang terjadi dengan ibunya.
“Meninggalkah?” tanya Kae-in.

“Afrika, tempat yang cukup jauh” kata Kae-in dingin.
Chang-ryul bercerita lagi bahwa ibunya kemarin gagal datang ke acara pernikahannya dengan In-hae karena ayahnya. Sehingga sekarang ia ingin melihat anak dan menantunya sebelum pergi, dan ingin membuat makanan untuknya.
“Bukankah hal seperti ini seharusnya kamu katakan pada In-hae” kata Kae-in masih dingin.
“Kami telah perpisah. In-hae bilang aku jauh dari laki-laki yang ia bayangkan. Selama ini ia membayangkan Chang-ryul yang kau gambarkan sebagai pacarmu adalah laki-laki yang paling sempurna di dunia ini” kata Chang-ryul.
Jin-ho keluar kamarnya. Ia heran kamar Kae-in sepi sekali. Ia lalu masuk memeriksanya. “Apa ia pergi jalan-jalan sendiri?” gumam Jin-ho.
“Ok, aku tahu ini akan sia-sia. Kau berhak marah. Aku bahkan ingin kau melakukan itu. Aku ini benar-benar bersalah. Park Kae-in aku menyesal. Tapi ketika aku menjadi anjing gila, hanya di depanmu anjing gila ini di panggil” kata Chang-ryul berusaha membujuk Kae-in untuk bertemu ibunya.
“Cih..Chang-ryul kau benar-benar orang gila” kata Jin-ho yang mendengar pembicaraan itu dari dalam.


“Benar-benar hebat. Bagaimana mungkin kau membiarkanku melakukan itu” kata Kae-in dingin.
“Meski ia adalah ibu kandungku? Dia adalah ibu kandungku” kata Chang-ryul.
Jin-ho mendengarkan dengan baik, ia ingin tahu bagaimana reaksi Kae-in. Kae-in kaget.
“Ibu kandungmu, tapi kau bilang ibumu sudah meninggal” kata Kae-in prihatin.
Jin-ho masuk ke rumah setelah mendengarnya karena ia tahu itu artinya Kae-in setuju. Chang-ryul berkata kalau itu karena ibunya dan ayahnya marahan. Oleh karena itu ia ingin memberikan kenangan terakhir pada ibunya.
Jin-ho langsung mengambil minum di dapur, sepertinya ia kesal karena sikap Kae-in pada Chang-ryul tadi (cemburu???). Ia langsung ingin mau masuk ke kamarnya begitu melihat Kae-in masuk, tapi Kae-in mencegahnya. Kae-in meminta Jin-ho membatalkan ujiannya besok dan mengganti harinya karena ia harus menjenguk temannya yang baru melahirkan. Jin-ho terlihat kesal ia tanya bukankah teman Kae-in hanya Young-soon dan In-hae. Kae-in menyangkalnya dan berkata kau ia juga punya teman lain. Jin-ho tak peduli dan masuk ke kamarnya (Jin-ho kan tahu kalau Kae-in bohong... jadi kesal deh). Kae-in mencegah lagi, ia tanya apa Jin-ho marah karena ia minta ujiannya di tunda. Jin-ho berkata kenapa ia harus marah lagipula ini ujian untuk Kae-in bukan untuknya. Kae-in jadi tidak enak, ia berkata kalau ia dulu telah janji belajar sungguh-sungguh. Jin-ho dengan dingin berkata oleh karena itu ia mengadakan ujian terakhir untuk Kae-in tapi ia malah menyia-nyiakannya. Kae-in jadi kesal, ia tanya kenapa Jin-ho berubah jadi dingin kepadanya. Jin-ho juga kesal ia langsung masuk ke kamarnya.



“Kenapa? Apa urusannya denganmu?” kata Jin-ho.
“Maaf, tetang ujian itu dan telah membuatmu marah” kata Kae-in sedikit takut.
Jin-ho jadi tidak enak mendengarnya.
“Tapi kau akan memberiku satu kesempatan lagi bukan?” kata Kae-in berani.
Jin-ho hanya diam.
“Kau mau pergi kemana? Aku ikut ya!” kata Kae-in lagi.
Akhirnya Jin-ho dan Kae-in pergi jalan-jalan bersama naik mobil. Di dalam perjalanan Kae-in berteriak-teriak keluar mobil, ia minta Jin-ho mengikutinya karena itu bagus untuk melepaskan kekesalannya. Jin-ho menganggap Kae-in gila dan tak mau menurutinya. Kae-in terus memaksa, Jin-ho akhirnya mau tapi teriakkan kecil. Kae-in menyuruh agar Jin-ho lepas agar teriakkannya keras. Jin-ho kembali tak mau. Kae-in menggelitik Jin-ho agar mau lagi. Jin-ho kesal ia bilang nanti bisa tabrakan jika Kae-in terus menggelitiknya. Kae-in senang Jin-ho kembali bersikap normal padanya, ia minta Jin-ho mencoba berteriak lagi satu kali saja. Jin-ho akhirnya mau berteriak dan berhasil. Mereka lalu berteriak bersama-sama.



Jin-ho lalu bersikap serius “Park Kae-in”.
“Ya” kata Kae-in bingung.
“Kau tidak menyukaiku. Karena aku tidak bisa mencintaimu” kata Jin-ho.
Kae-in semakin bingung “Baik. memang itulah yang seharusnya terjadi” kata Kae-in.
Tiba-tiba Kae-in sadar “Ini ujiannya ya?” kata Kae-in.
Jin-ho hanya diam. Kae-in senang dan menyuruh Jin-ho melanjutkan.
“Oleh karena itu, kau tahu hubungan kita sudah bertahun-tahun. Sekarang aku bertemu denganmu karena ingin mengatakan padamu bahwa kau tampak seperti pacarku sebelumnya. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya. Aku akan selalu melihatnya di dalam dirimu. Aku akan selalu memintamu melakukan tindakan yang sama dengannya. Apa kau tidak masalah?” kata Jin-ho (tapi ini sepertinya kata hatinya deh...).
“Apakah kau begitu mencintai perempuan itu?” tanya Kae-in.
“Ya” jawab Jin-ho.
“Aku akan melakukannya. Karena aku mencintaimu. Jadi saya akan mencoba memenuhi permintaanmu” kata Kae-in.
Jin-ho langsung menarik tubuh Kae-in. “Hey! Apa yang kau bilang ini? Apa ini yang kau sebut berubah? Kau seperti orang tolol tidak ada perubahan dari sebelumnya” kata Jin-ho marah.
“Aku tidak sengaja” kata Kae-in bingung.
“Kau begitu mendesak” kata Kae-in lagi.
“Ini yang disebut ujian akhir! Seharusnya kamu bisa melaluinya” kata Jin-ho marah lagi.
Kae-in hanya diam, Jin-ho jadi tidak enak dan melepasakan tangannya dari tubuh Kae-in.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Kae-in.
Jin-ho terlalu kesal sehingga tidak menjawabnya.
“Cinta tak perlu harga diri” kata Kae-in beralasan.
“Cinta tak meminta orang kehilangan harga dirinya. Tapi mengawal seseorang. Lakukan ini! Jangan percaya, jangan cinta, tidak memaafkan” kata Jin-ho memberi saran.
“Kau harus menjadi 10 juta kali lebih kuat dari sebelumnya” kata Jin-ho lagi.
“Saya akan mencobanya” kata Kae-in.
Dalam hati Jin-ho berkata “Kau seharusnya tidak mendengarkan kata-kata Chang-ryul kalau kau ingin berubah”.
“Bagaimanapun aku telah berusaha mengubahmu” kata Jin-ho tiba-tiba.
“Kenapa? Apa kau tak percaya padaku?” kata Kae-in.
Jin-ho tak peduli ia masuk ke dalam mobil. Kae-in mengejar ia berkata kalau ia bisa berubah dan minta Jin-ho percaya kepadanya. Jin-ho tetap tak peduli dan tetap masuk ke dalam mobil.


“Apa kau akan pulang lagi?” tanya Kae-in.
“Aku tak tahu” kata Jin-ho dingin.
Kae-in turun dengan sedih, dan Jin-ho tetap pergi. Jin-ho terlihat sangat pusing memikirkan Kae-in saat pergi jalan-jalan lagi. Ia lalu berhenti di pinggir jalan dan ia melihat sebuah toko bunga. Jin-ho kembali ke rumah Kae-in, ia meletakkan setangkai bunga mawar di depan kamar Kae-in.
Ia bergumam “Kau harus kuat”.



Jin-ho mendengarnya heran “Eonni?”.
Sang-joon janjian bertemu Young-soon di suatu restoran. Sebelum masuk Sang-joon bergumam pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengakhiri kebohongannya selama ini karena itu sudah tidak ada gunanya lagi. Tapi saat sudah bertemu Young-soon, Sang-joon susah mengatakan yang sebenarnya karena Young-soon begitu baik padanya. Sang-joon lalu berusaha bicara serius dan berkata kalau ia sebenarnya adalah orang yang sempurna.
Young-soon kaget dan bertanya “Benarkah”.
Tapi Sang-joon malah berkata “Tentu saja tidak benar, aku hanya bercanda”.
Young-soon lalu lega, ia berkata kalau ia juga sebenarnya ingin mengaku sesuatu. Young-soon berkata sebenarnya ia malu menanyakannya, tapi Sang-joon menyuruhnya mengatakan saja. Young-soon lalu bertanya apa Sang-joon menyukai wanita seperti dirinya. Sang-joon kaget dan berkata kalau ia tidak suka wanita. Young-soon menjelaskan maksud sebenarnya. Ia tanya apakah ia masih memiliki pesona di mata orang-orang. Sang-joon tentu saja mengatakan bahwa Young-soon tentu masih mempunyai pesona itu. Young-soon tak percaya ia berkata kalau ia sudah lama tidak pergi ke pusat kecantikan. Sang-joon meyakinkan lagi hingga Young-soon percaya. Saat Young-soon ke toilet, Sang-joon bergumam bagaimana caranya menjelaskan yang sebenarnya kalau ia malah kecanduan berpura-pura menjadi gay.

“Kau sudah pulang?” tanya Kae-in.
“Kau sedang melakukan apa?” tanya Jin-ho balik saat melihat rambut Kae-in masih berhanduk.
“Oh, ini. Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan pergi menjenguk temanku yang baru saja melahirkan” kata Kae-in.
“Benarkah?” kata Jin-ho.
“Tentu saja benar, makanya aku menbersihkan rambutku takut anaknya akan mual” kata Kae-in.
Jin-ho tak peduli dengan penjelasan Kae-in dan pergi masuk kamarnya. Kae-in menyesal karena ia telah berbohong pada Jin-ho.




Jin-ho sedang keluar kamar saat ia melihat Kae-in pulang. Ia heran karena Kae-in langung masuk kamar mandi. Ia melihat Kae-in di dalam kamar mandi sedang muntah-muntah. Kae-in menyuruhnya pergi tapi Jin-ho malah membantunya. Setelah selesai Kae-in berterima kasih dan mencoba berbohong kenapa ia bisa seperti tadi. Jin-ho tak peduli dan menyuruh Kae-in pergi tidur saja. Kae-in lalu minta bantuan lagi karena ia merasa perutnya masih tidak enak. Jin-ho bertanya bantuan seperti apa. Kae-in berkata cukup mudah cuma menusuk jarinya dengan jarum. Jin-ho berkata kalau mudah lakukan sendiri saja. Kae-in berkata kalau melakukan sendiri ia bisa gugup. Jin-ho tetap menolak. Kae-in lalu terlihat kesakitan dan masuk kamar mandi lagi.

“Apa Chang-ryul yang mengatakannya?” tanya Jin-ho.
“Bukan. Aku cuma tiba-tiba memikirkannya” kata Kae-in.
Jin-ho lalu menjelaskan bahwa ayahnya dan ayah Chang-ryul dulu adalah rekan bisnis. Tapi kerena persaingan hak menajemen perusahaan ayahnya disingkirkan. Kae-in jadi tidak enak, ia berkata apa karena cuma hal itu keluarga Chnag-ryul jadi kejam padanya. Jin-ho berkata walaupun ia berusaha keras tapi usahanya tetap sia-sia. Kae-in lalu menyemangati dan berkata agar Jin-ho jangan menyerah karena trik-trik kotor yang dilakukan keluarga Chang-ryul untuk menjegal Jin-ho berpartisipasi dalam proyek museum. Jin-ho kaget ia bertanya dari mana Kae-in tahu masalah ini. Kae-in jadi gugup ia berbohong dengan mengatakan kalau ia mendengarnnya dari orang-orang museum. Jin-ho tahu kalau Kae-in bohong tapi ia diam saja dan menyuruh Kae-in tidur saja. Kae-in mencegah ia memberi semangat dan bercerita tentang makanan yang bisa memberikan energi. Jin-ho tersenyum mendengarnya.








Tiba-tiba Kae-in berteriak “Tuan Choi Do-bin, semangat!!”.
Kae-in lalu mau menelepon Jin-ho tapi tak jadi.


“Prof. Park” kata asistem kim.
Ayah Chang-ryul langsung memukul Chang-ryul dan marah-marah bagaimana bisa Chang-ryul menyia-nyiakan anak Prof. Park dan memilih gadis tak tahu diri (In-hae). Chang-ryul tak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba marah dan tanya memangnya Prof. Park itu siapa. Ayahnya tambah marah bagaimana Chang-ryul sampai tidak tahu siapa Prof. Park, ia lalu berkata kalau Prof. Park adalah seorang arsitek terkenal di Korea. Chang-ryul berkata siapa pun ayah Kae-in sudah tidak ada gunanya lagi. Chang-ryul pergi, ayahnya masih marah-marah tapi dihalangi asisten Kim.


“Kau tahu hatiku hanya untukmu” kata Sang-joon merayu Jin-hoo.
Jin-ho segera menjauhkan tangan Sang-joon. Sang-joon berkata kalau Jin-ho tidak usah malu di depan Kae-in. Jin-ho kesal dan menyuruh Sang-joon keluar. Kae-in berkata kalau ia marah karena Sang-joon mengkhianati Jin-ho, dan jika Sang-joon wanita ia tidak akan mengampuninya. Jin-ho lalu berbicara serius mau mengatakan sebenarnya.
“Telah terjadi kesalahpahaman sejak awal tentang hubungan kami” kata Jin-ho.
“Apa?” kata Kae-in bingung.
Jin-ho diam sejenak dan berkata “Aku tidak gay”.
Tapi tiba-tiba Sang-joon masuk lagi dan berkata kalau ia dan Tae-hoon tidak ada hubungan apa-apa. Jin-ho mengusir Sang-joon lagi. Kae-in tidak mendengar ucapan Jin-ho tadi, dan tiba-tiba ia ingat tujuannya datang kesana adalah untuk mengatakan kalau masalah proyek museum telah diselesaikan dengan lancar oleh Do-bin, jadi Jin-ho tak perlu khawatir lagi.
Jin-ho tersenyum dan tanya “Jadi hanya untuk ini kau datang kesini”.
Kae-in berkata kalau Do-bin telah berjudi dengan dirinya sendiri (membiarkan semua orang bersaing memenangi tander) jadi Jin-ho tak perlu kecil hati karena ia masih ada kesempatan. Jin-ho tersenyum lagi dan berkata bukankah bisa mengatakan itu ditelepon saja. Kae-in berkata kalau ingin melihat senyum Jin-ho secara langsung makanya datang kesana.
Chang-ryul dan asisten Kim sedang menunggu Kae-in di dalam mobil. Lalu mereka tiba-tiba melihat Kae-in kembali dengan Jin-ho. Asisten Kim memanasi dengan bertanya apa Jin-ho ada hubungan dengan Kae-in hingga datang bersama. Chang-ryul berkata kalau semua itu karenanya sehingga sekarang Kae-in mau balas dendam kepadanya. Tiba-tiba mobil Chang-ryul di ketuk seorang bule. Ternyata bule itu adalah teman lama Chang-ryul.
Mereka lalu ngobrol di sebuah restoran. Chang-ryul tanya temannya yang bernama Joy itu sedang ada urusan apa di Korea. Temannya bilang ia ada perlu dengan teman wanitanya yang kerja dengan Do-bin. Chang-ryul heran Joy kenal dengan Do-bin. Joy berkata kalau ia dulu satu sekolah dengan Do-bin tapi ia tidak akrab, karena Do-bin berbeda dengannya. Chang-ryul makin penasaran ia tanya apa masudnya beda dengannya. Joy berkata kalau Do-bin punya kesenangan tertentu. Chang-ryul tidak mengerti ia terus memaksa Joy menjelaskannya.


“Apakah kau tahu kau mencintai kalian semua” kata Do-bin.
“Saya tahu” jawab Jin-ho.
“Benarkah?” kata Do-bin.
“Ya. Anda adalah orang yang berkharisma” jawab Jin-ho.
Do-bin diam sejenak mau menjelaskan maksudnya.


“Maaf, apa maksud anda sebenarnya” kata Jin-ho kaget.
“Seperti yang anda telah dengar. Sejak pertama kali bertemu dengan anda hatiku sudah bergetar. Dan saat hari itu aku mendengar kalau anda juga gay. Saya semakin yakin dengan perasaan saya. Oleh karena itu sekarang saya memberanikan diri memintamu untuk melakukan hubungan khusus itu dengan saya” kata Do-bin.
Jin-ho masih kaget, Do-bin berkata agar Jin-ho memikirkannya dulu karena ia tidak ingin mendengar jawabannya sekarang. Do-bin berkata karena orang itu adalah Jin-ho makanya ia memiliki keberanian untuk mengaku. Jin-ho sebenarnya mau langsung menolaknya tapi ia tidak tega melihat pandangan Do-bin kepadanya.

“Apa yang kau lakukan. Apa ini adalah sebuah pengakuan? Saya sangat kecewa ternyata kau menggunakan kelemahan Do-bin untuk memenangkan tander ini” kata Chang-ryul.
“Aku belum memanfaatkan Do-bin” kata Jin-ho dingin.
“Apa itu? apa kalian berdua disini ada hubungan? Jika tidak kenapa kau ada disini. Semua orang juga tahu. Menjengkelkan saja!” kata Chang-ryul.


“Balaslah?” kata Chang-ryul lagi.
Jin-ho mau menjawab. Semua orang menunggu jawaban Jin-ho.
“Aku.. aku adalah gay” kata Jin-ho akhirnya.
Kae-in kaget mendengarnya, Jin-ho menoleh ke samping dan kaget melihat Kae-in ada di sana, ia lalu terlihat lemah dan hanya menunduk ke bawah saja. Kae-in terlihat sedih. Chang-ryul terus mengejeknya “Ternyata kau aslinya begitu kah? Jadi kau bukan orang kah? Jika orangtua tahu pasti akan lebih menyakitkan. Seharusnya kau mengatakan kepada semua orang. Hari ini saya akan pura-pura simpati padamu. Kau benar-benar menyedihkan”.
Do-bin tak terima dan mau membela Jin-ho tapi keduluan oleh Kae-in.
“Hentikan. kenapa kau menertawakan orang begitu?” kata Kae-in.
“Park Kae-in” kata Chang-ryul kaget melihat Kae-in ada di sana.
“Apakah kau lebih baik hingga memandang rendah orang seperti ini. Jin-ho pun tidak ingin dilahirkan seperti ini” kata Kae-in lagi.
“Jangan katakan itu lagi” pinta Jin-ho pelan.
Melihat sudah ada Kae-in, Do-bin pergi dari sana.
“Apa laki-laki yang mencintai wanita baru disebut laki-laki? Lalu apa kau disebut laki-laki jika kau menyakitiku?” kata Kae-in marah.
“Tolong jangan katakan itu lagi” teriak Jin-ho tak tahan.
Jin-ho lalu pergi dari sana. Kae-in mau mengejar tapi di tahan oleh Chang-ryul. Kae-in menghempaskan tangan Chang-ryul dan mengejar Jin-ho lagi.
“Bicara apa? Tak ada lagi yang perlu dibicarakan” kata Jin-ho dingin.
Ia kemudian pergi dengan mobilnya. Kae-in kembali ke dalam gedung. Chang-ryul menghampirinya tapi Kae-in menghindar. Chang-ryul mencegah Kae-in pergi.
“Apa kau ada hubungan dengan pria itu akhir-akhir ini? Mengapa kau bersama-sama orang kotor seperti itu terus” kata Chang-ryul.
Kae-in kaget ia memandang Chang-ryul berapi-api.
“Apakah kau sekarang cinta dengan laki-laki gay?” kata Chang-ryul lagi.
Kae-in tak tahan lagi ia langsung menampar Chang-ryul. Dan hal ini tak sengaja di lihat oleh In-hae. Chang-ryul dan In-hae kaget melihat reaksi Kae-in seperti itu.
“Kotor? Apa kotor? Jin-ho mengapa dia kotor? Sesama laki-laki atau sesama perempuan apa salahnya? Orang yang suka orang lain apa salahnya? Kau sama sekali tak berhak. Kau atas dasar apa mengatai Jin-ho kotor?” kata Kae-in marah.
“Kae-in kenapa kau begini? Saat kita putus dan ketika pernikahanku. Kau tidak memukuliku Tapi kenapa kau melakukannya sekarang?” kata Chang-ryul.
Ia kemudian pergi dengan mobilnya. Kae-in kembali ke dalam gedung. Chang-ryul menghampirinya tapi Kae-in menghindar. Chang-ryul mencegah Kae-in pergi.
“Apa kau ada hubungan dengan pria itu akhir-akhir ini? Mengapa kau bersama-sama orang kotor seperti itu terus” kata Chang-ryul.
Kae-in kaget ia memandang Chang-ryul berapi-api.
“Apakah kau sekarang cinta dengan laki-laki gay?” kata Chang-ryul lagi.
Kae-in tak tahan lagi ia langsung menampar Chang-ryul. Dan hal ini tak sengaja di lihat oleh In-hae. Chang-ryul dan In-hae kaget melihat reaksi Kae-in seperti itu.
“Kotor? Apa kotor? Jin-ho mengapa dia kotor? Sesama laki-laki atau sesama perempuan apa salahnya? Orang yang suka orang lain apa salahnya? Kau sama sekali tak berhak. Kau atas dasar apa mengatai Jin-ho kotor?” kata Kae-in marah.
“Kae-in kenapa kau begini? Saat kita putus dan ketika pernikahanku. Kau tidak memukuliku Tapi kenapa kau melakukannya sekarang?” kata Chang-ryul.


credit : maldoeopsi
0 comments:
Post a Comment