Do you like this story?


Kae-in membersihkan dirinya di toilet. Ia kesal karena Jin-ho memberi harapan pada Hye-mi padahal Jin-ho tidak mungkin jatuh cinta pada Hye-mi karena ia gay. Tiba-tiba perut Kae-in terasa sakit.

Jin-ho dan Sang-joon kembali ke pesta. Sang-joon menyuruh Jin-ho melayani tamu dan ia akan mencari Kae-in di luar. Jin-ho mencari Kae-in di keramain pesta tapi tak menemukannya. Ia malah bertemu dengan Chang-ryul. Chang-ryul memarahi Jin-ho karena membiarkan Kae-in menerima perlakuan seperti tadi. Jin-ho menyindir apa Chang-ryul sekarang mulai perhatian pada Kae-in. Chang-ryul kaget.“Saya dengar kamu mengadakan pernikahan dengan temannya. Sepertinya itu bukan gosip” kata Jin-ho menyindir lagi sebelum pergi meninggalkan Chang-ryul.
Saat mencari Kae-in lagi Jin-ho berpapasan dengan In-hae. In-hae menyindir bahwa bukan hanya dia yang merasa kalau Jin-ho adalah laki-laki sesungguhnya. Jin-ho hanya bisa diam, In-hae kemudian pergi karena dipanggil Do-bin.



“Itu? sayap? Sayap apa? Sayap kenapa?” kata Jin-ho tak mengerti.
“Itu... hari ini harusnya hari itu” kata kae-in tidak enak menjelaskan.
“Hari itu? hari ini? Hari apa?” kata Jin-ho masih tak mengerti. (haha... ya iyalah co mana tau...)
Setelah mengerti Jin-ho segera lari ke minimarket.
“Dia sebenarnya mau menyiksa aku jadi apa?” kata Jin-ho kesal.
Setelah sampai mini market Jin-ho langsung menuju tempat bagian pembalut wanita tapi di sana ada beberapa anak ABG yang terpesona dengan ketampanan Jin-ho. Jin-ho jadi malu, ia lalu pura-pura mengambil pisau cukur sebelum akhirnya diam-diam mengambil pembalut itu. Para anak ABG melihatnya, mereka jadi tambah terpesona. Mereka berkata betapa beruntung pacar laki-laki itu karena ia rela malu membelikan pembalut untuknya (setuju..). Saat Jin-ho sudah keluar dari minimarket mereka masih menyoraki Jin-ho hingga membuatnya salah tingkah.


“Park Kae-in” panggil Jin-ho mencari Kae-in di toilet.
“Jin-ho, saya ada di sini” kata Kae-in senang.
“Ini gimana memberikannya, dari atas atau bawah?” tanya Jin-ho.
“Bawah” kata Kae-in menjulurkan tanganya dari bawah.
Jin-ho memberikan bungkusannya.
“Kenapa kamu begitu lama. Kaki saya sudah pegal dan tak tahan lagi” kata Kae-in masih menggerutu.
“Begitu menderita kah?” tanya Jin-ho.
“Ya... Tapi pisau cukur ini untuk apa?” kata Kae-in heran.
“Buat mencukur bulu kaki kamu” kata Jin-ho.
Kae-in tetap heran.
“Tapi terimakasih banyak” kata Kae-in.
“Saya keluar” kata Jin-ho.
“Saya juga akan segera keluar” kata kae-in.
“Terserah mau keluar cepat atau lama” kata Jin-ho kesal.
Kae-in keluar dari toilet. Jin-ho memarahi Kae-in, kenapa ia sampai tidak siap kalau tahu sudah harinya. Kae-in mengalihkan pembicaraan agar tidak terus dimarahi.
“Jin-ho kamu ada kantong kah? Bantu saya simpan ini di dalam kantong kamu!” kata Kae-in meminta Jin-ho menyimpan sisa pembalut yang dibeli tadi.
“Kamu sedang lakukan apa? Kamu mau saya menyimpan satu-satu ini dalam kantung saya!” kata Jin-ho kesal.
“Itu, karena saya tidak ada kantung makanya minta kamu” kata Kae-in.
“Kamu mau saya bagaimana?” kata Jin-ho kesal.
“Simpan beberapa saja gak papa kok” kata Kae-in tetap memaksa.
“Kamu sudah gila ya. Saya bantu kamu buang saja” kata Jin-ho kesal.
“Kenapa di buang?” tanya Kae-in tak rela.
“Saya pergi buangkan saja” kata Jin-ho sambil menarik bungkusan.
“Jangan buang” kata Kae-in mencegah tapi Jin-ho keburu pergi.
“Kamu harus buang yang baik” kata Kae-in akhirnya.
Kae-in sedang menunggu Jin-ho kembali saat Chang-ryul datang. Chang-ryul bertanya kenapa Kae-in bisa datang dengan Jin-ho. Ia berpikir Kae-in hanya ingin membuatnya kesal karena ia tahu Chang-ryul dan Jin-ho bermusuhan.
“Jangan geer” kata Kae-in. “Kamu, bagiku sudah bukan orang yang penting lagi” lanjut Kae-in.
Chang-ryul tak percaya Kae-in berkata seperti itu, ia merasa sangat memahami Kae-in dan ia merasa Kae-in tak mungkin berkata itu. Ia minta Kae-in tidak usah pura-pura mengikuti apa yang ia lakukan karena ia tahu Kae-in tidak akan mudah melupakan orang yang ia cintai.
Jin-ho telah kembali dan mendengar perkataan Chang-ryul tadi. Ia berhenti ingin melihat reaksi Kae-in bagaimana.

Chang-ryul masih tak percaya dan meyakinkan Kae-in dengan memegang bahu Kae-in dan berkata Kae-in pasti tidak bisa melupakannya jadi tidak usah pura-pura lagi (idih pede amat).
“Han Chang-ryul” teriak Jin-ho.
Kae-in dan Chang-ryul menoleh. Jin-ho mendekat dan menjauhkan Chang-ryul dari Kae-in.
“Saya beritahu kamu, jangan melihat dia begitu lagi” kata Jin-ho memperingatkan.
“Kamu jangan ikut campur. Ini adalah urusan kami berdua” kata Chang-ryul.
“Tidak perlu, kamu dan wanita ini tidak ada hubungan apa-apa. Benar kan Kae-in?” kata Jin-ho.
Kae-in hanya diam, Jin-ho lalu menarik tangan Kae-in pergi. Chang-ryul kesal melihatnya tapi tak dapat mencegahnya.




“Kau sedang apa? Tidak tidur kah?” tanya Jin-ho.
“Saya tidak dapat menemukan obat penahan sakit” kata Kae-in.
“Kamu mencari obat penahan sakit buat apa? Kamu sakit kepala?” tanya Jin-ho lagi.
“Tidak, itu... sedang sakit haid” kata Kae-in.
“Kenapa waktu pulang tidak mampir ke toko obat?” tanya Jin-ho.
“Waktu pulang pasti sudah tutup, lagi pula aku kira masih ada beberapa di rumah” kata Kae-in.
“Sangat sakitkah?” tanya Jin-ho sambil mendekati Kae-in.
“Mau pergi ke rumah sakit?” tanya Jin-ho lagi.
“Mana ada orang ke rumah sakit hanya karena sakit haid” kata Kae-in (betul...betul...betul...).
“Kalau begitu, kenapa kau seperti itu?” tanya Jin-ho khawatir .
“Sekarang hanya bisa bertahan saja” kata Kae-in sambil bangkit menuju kamarnya.
“Mau saya bantu sesuatu?” kata Ji-ho.
“Tidak usah, tidak apa-apa” kata Kae-in.
Jin-ho masih khawatir ia lalu mencari tahu di internet bagaimana cara menghilangkan sakit haid. Setelah tahu Jin-ho membuat minuman untuk Kae-in. Jin-ho membawa minuman itu kekamar Kae-in. Kae-in bertanya itu minuman apa. Kae-in terlihat kesakitan. Jin-ho khawatir.
“Apa begitu sakitkah? Hingga kamu tak dapat bicara seperti itu” tanya Jin-ho khawatir.
“Saya memang kesakitan” jawab Kae-in.
“Ini teh liang, bisa melemaskan tubuh. Kau coba minum saja” kata Jin-ho.
Kae-in akhirnya meminumnya, ia berkata kalau ia senang karena masih ada teman yang menemaninya sakit haid. Jin-ho menyuruh Kae-in tidur saja.


“Belum tidurkah?” tanya Jin-ho sambil membuka pintu kamar Kae-in.
Tapi Kae-in masih terlihat kesakitan.
“Minum teh pun tak ada gunanya” gumam Jin-ho.
“Besok pagi pergi ke toko obat sudah bisa kok. Kamu pergi tidur saja. Jangan karena saya besok kamu telat ke kantornya” kata Kae-in.
“Besok hari minggu” kata Jin-ho.
“Benarkah” kata Kae-in sambil menahan sakit.
Jin-ho semakin khawatir, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke rumahnya.
“Beneran.... kenapa dia setiap hari selalu bikin ulah” kata Jin-ho sedikit kesal.

“Oppa Jin-ho kenapa bisa membawa wanita lain pergi ke pesta” kata Hye-mi sedih.
“Mungkin benar hanya teman biasa. Kalau ada teman yang ia sukai pasti sudah dibawa ke sini ketemu saya” kata Ibu Jin-ho.
Lalu Jin-ho datang.
“Lihat kan Jin-ho sudah datang. Ia pasti datang untuk menghiburmu” kata ibu Jin-ho.
Hye-mi langsung senang dan mendekati Jin-ho. Ibu Jin-ho memarahi Jin-ho karena membawa wanita lain ke pesta. Jin-ho beralasan karena kerja makanya membawa orang lain. Hye-mi senang mendengarnya. Jin-ho lalu menanyakan ibunya memiliki obat penahan sakit atau tidak karena ia sedikit sakit kepala. Hye-mi berkata Jin-ho tak perlu sakit karena memikirkannya, ia tidak akan menangis lagi karena kejadian tadi (pede...).
“Lihat kan Jin-ho sudah datang. Ia pasti datang untuk menghiburmu” kata ibu Jin-ho.
Hye-mi langsung senang dan mendekati Jin-ho. Ibu Jin-ho memarahi Jin-ho karena membawa wanita lain ke pesta. Jin-ho beralasan karena kerja makanya membawa orang lain. Hye-mi senang mendengarnya. Jin-ho lalu menanyakan ibunya memiliki obat penahan sakit atau tidak karena ia sedikit sakit kepala. Hye-mi berkata Jin-ho tak perlu sakit karena memikirkannya, ia tidak akan menangis lagi karena kejadian tadi (pede...).

“Kamu kenapa tidur disitu?” tanya Jin-ho.
“Saya lihat di sini lebih nyaman” kata Kae-in.
“Bangun, minum obat ini” kata Jin-ho.
“Obat? Waktu begini mana ada yang jual obat” kata Kae-in.
“Saya pulang ke rumah” jawab Jin-ho.
“Rumah? Kamu masih ada rumah? Lalu kenapa masih tinggal disini?” tanya Kae-in.
“Karena rumah saya jauh dari kantor” kata Jin-ho berbohong.
“Seberapa jauh? Kalau begitu kamu kembali pulang ke rumah karena saya kah?” kata Kae-in terharu.
“Sudahlah, cepat minum obatnya....”.
Belum selesai Jin-ho bicara Kae-in sudah memeluknya.
“Saya mencintaimu, saya mencitaimu, teman” kata Kae-in.
Jin-ho kaget mendengarnya ia segera melepaskan pelukan Kae-in.
“Kamu cepat minum obatnya dan tidur lagi” kata Jin-ho dingin dan segera mau pergi dari sana.


“Itu.. teman, bisa bantu saya satu hal lagi tidak?” kata Kae-in memelas.

“Saya sedang melakukan apakah?” kata Jin-ho kesal sambil mengelus-elus perut Kae-in.
Kae-in berkata dulu jika ia sakit seperti itu In-hae yang mengelus-elus perutnya.
“Tangan ibu adalah obat tangan, perut bayiku adalah perut kecil” kata Kae-in mengingat kenangan bersama In-hae.
Kae-in jadi sedih dan berkata seharusnya ia membenci In-hae karena kejadian itu, tapi ia tidak bisa.
“Tangan ayah adalah tangan obat, perut bayi saya adalah perut kecil” kata Jin-ho mengalihkan pembicaraan.
Kae-in tersenyum sedih mendengarnya dan berkata terima kasih karena ayahnya sekalipun pun tak pernah melakukan itu padanya. Jin-ho jadi tak enak.
“Jin-ho kamu seperti teman dan ayah bagiku” kata Kae-in lagi sambil menghapus air matanya.
Jin-ho memegang bahu Kae-in dan menepuk-nepuknya hingga Kae-in tidur (jadi inget oppa bidam ya... oppa i miss u).



Anak Young-soon bertanya “Mama, bibi Kae-in sudah menikahkah?”.
“Bukan begitu” kata Young-soon.
Young-soon mencoba membangunkan Kae-in. Tapi malah Jin-ho yang terbangun. Jin-ho kaget melihat ia tidur di kamar Kae-in dan melihat Young-soon disana. Young-soon jadi tidak enak karena membangunkannya.
Jin-ho pergi ke kamar mandi, anak Young-soon mengikuti. Ia bertanya “Paman, anda dengan bibi Kae-in kapan menikahnya?”.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan” kata Jin-ho.
“Kalau begitu kenapa paman tidur dengan bibi Kae-in?” tanya anak Young-soon lagi. Jin-ho jadi kesal ia menyuruh anak Young-soon pergi menemui ibunya saja (Cek..cek.. anak kecil aja bisa bicara seperti itu).

Young-soon memohon-mohon agar Jin-ho mau menjadi modelnya. Jin-ho minta maaf karena benar-benar tidak bisa membantu. Young-soon lalu jatuh ke lantai ia perpura-pura sedih dan berkata kalau ia sebenarnya menjadi tulang punggung keluarganya karena uang suaminya tak cukup. Ia harus menanggung biaya hidup ibu mertua, ibu, nenek dan seorang adik lelakinya. Young-soon berkata kalau Jin-ho tak percaya ia bisa tanya Kae-in. Kae-in yang dari tadi hanya diam, akhirnya ikut berbohong juga. Anak Young-soon pun ikut-ikutan.
“Ibu kenapa kau sedih?” tanya anak Young-soon sambil ikut sedih.
“Ibu tidak akan sedih jika paman ini membantu ibu sedikit” kata Young-soon.
“Aku benci paman!” kata anak Young-soon.
Jin-ho tak percaya jadi seperti ini, ia akhirnya setuju membantu Young-soon.




Jin-ho lalu tanya apa Kae-in tidak mencuci baju hari ini. Kae-in berkata ia sudah 2 hari tidak mencuci, dan menyuruh Jin-ho pergi mencuci saja. Jin-ho pergi. Tiba-tiba Kae-in bertanya kenapa Jin-ho bisa tiap hari mencuci, apa karena minatnya tidak sama seperti orang kebanyakan. Jin-ho terlihat kesal. Kae-in jadi takut, ia lalu mengalihkan perhatian dengan berkata kalau ia punya alat pijit yang ditinggalkan In-hae. Kae-in berkata ia akan meminjamkan alat itu sebagai rasa terima kasih karena hari ini membantunya.

“Kamu jangan berkata begitu tentang mereka. Bagi saya mereka sangat berarti dan saya sangat menghargai mereka” kata Chang-ryul (anak baik nih..).
In-hae tetap tak mau, ia pergi meninggalkan Chang-ryul. Chang-ryul berusaha mencegah tapi tak bisa, ia kemudian menelepon ibunya dan bilang kalau In-hae hari itu sakit sehingga tidak bisa ketemu. Ibu Chang-ryul memaksa karena ia kan segera pergi keluar negeri. Chang-ryul kaget sekaligus heran kenapa mau pergi saja masih merepotkan dia. Ia akhirnya berjanji lain kali sebelum hari keberangkatan ibunya, ia pasti akan membawa In-hae menemui ibunya itu.

“Park Kae-in adalah wanita berkarakter yang tidak seperti wanita lainnya” gumam Jin-ho sambil tersenyum.
Tiba-tiba Kae-in masuk.
“Bisa nggak ketuk pintu dulu?” kata Jin-ho kesal.
Kae-in datang membawa minum sebagai bentuk ketulusan hatinya. Ia juga memijit kaki Jin-ho. Tapi Jin-ho menolaknya ia menyuruh Kae-in pergi keluar saja. Kae-in keluar, ia memberitahu agar alat pijitnya nanti di bersihkan karena ia mau memakainya juga.
“Dia sudah berapa kali mengatakannya” kata Jin-ho kesal.
Ia lalu melihat minuman dari Kae-in dan meminumnya. Setelah itu ia tersenyum karena ternyata minumannya enak.

“Jin-ho cepat kemari. Supnya sudah dingin” teriak Kae-in memanggil Jin-ho makan malam.
Jin-ho datang. Kae-in terlihat senang karena makan malam kali ini makanannya enak-enak. Jin-ho mengambil nasi Kae-in. Kae-in kaget, ia bertanya buat apa, bukankah ia sudah menampilkan yang terbaik di pesta pada Chang-ryul. Jin-ho berkata Chang-ryul begitu karena cemburu padanya bukan karena sikap Kae-in. Kae-in lalu berkata kalau ia bisa bersikap baik pada ketua Choi. Jin-ho mengingatkan kalau Kae-in malam itu juga mabuk didepan ketua Choi. Ia juga berkata agar bisa menarik laki-laki Kae-in harus memiliki kesabaran. Kae-in tak tahan ia minta evaluasi latihannya dilakukan setelah ia makan saja. Jin-ho lalu mengurangi nasi Kae-in dan berkata kalau makanan dari Young-soon Kae-in tak boleh memakannya. Kae-in kaget bagaimana bisa ia hanya makan nasi yang sedikit sekali. Jin-ho mengingatakan Kae-in harus mengatakan dengan halus bahwa ia sebenarnya orang yang tidak banyak makan. Kae-in akhirnya menuruti dan berkata sambil tersenyum kalau ia sebenarnya orang yang tidak banyak makan. Jin-ho memperingatkan lagi kalau Kae-in harus makan secara sopan. Tapi kali Kae-in tak peduli, ia makan makananya dengan lahap.

“Cantikkan!” kata Kae-in menunjukan gantungan baju yang ia buat.
“Sekali lihat saja sudah tahu tidak ada gunanya” kata Jin-ho dingin.
“Kau seharusnya bilang cantik sekali Park Kae-in. Bukan hal seperti tadi. Aku kan sudah sudah membuatnya sambil kelaparan” kata Kae-in memelas.
“Mau makan mie kah?” tanya Jin-ho.

Dalam perjalanan pulang Kae-in dan Jin-ho main sambung kata lalu Kae-in terus memandangi Jin-ho dan tersenyum kemudian.

Keesokan harinya. Ayah Chang-ryul menemui ketua Choi (Ayah Do-bin). Awalnya ia mumuji ketua Choi (Do-bin) tapi kemudian ia berkata kalau ia takut ketua Choi membuang waktu saja dengan melakukan sayembara desain museum nanti. Ayah Chang-ryul juga berkata takut tidak ada desain yang layak jadi lebih baik jika mempersiapkan orang untuk desain ini daripada membuat orang bersaing mendesainnya. Ayah Do-bin jadi terpengaruh, ia berkata akan mempertimbangkan masukan dari ayah Chang-ryul tadi. Ayah Chang-ryul jadi senang mendengarnya.
In-hae kaget melihat Kae-in datang ke kantor Maiseu dan tanya apa yang dilakukan Kae-in disana. Kae-in tak menjawab dan hanya menatap In-hae tajam. Kemudian Do-bin datang, ia senang Kae-in datang tepat waktu. Do-bin lalu berkata pada In-hae bahwa ia telah menemukan orang yang akan merancang tempat istirahat anak-anak dan orang itu adalah Park Kae-in. In-hae terlihat tidak senang, Do-bin lalu mengajak Kae-in ke melihat-lihat gedung Meiseu.

Saat mengantar Kae-in keluar, Kae-in berkata pada Do-bin bahwa ia akan berusaha sebaik-baiknya. Do-bin yang sekarang tidak enak, ia tidak enak karena nantinya Kae-in akan sering bertemu In-hae di sana. Ia bercerita kalau ia datang ke pesta pernikahan In-hae dan melihat Kae-in ada di sana. Kae-in berkata ia tidak apa-apa, selain itu ia tidak ingin kehilangan kesempatan menguji kemampun dirinya. Ia malah berterimakasih kepada Do-bin karena memberinya kesempatan. Do-bin lalu berkata kalau walaupun Kae-in dan Jin-ho hanya teman tapi ia merasa Kae-in dan Jin-ho ada seseuatu yang serasi. Kae-in hanya tersenyum mendengarnya.



“Ayah” kata Do-bin.
Ayah Do-bin berkata anaknya sudah memikirkan hal ini terlalu serius. Do-bin lalu bertanya kenapa pesertanya dibatasi. Ayah Do-bin berkata kalau ia tidak ingin ada pesertanya yang dapat memalukan museumnya. Do-bin mengingatkan ayahnya bahwa ia telah menyerahkan semua urusan proyek museum yang baru kepadanya. Ayahnya beralasan selama ini Do-bin tak berniat dengan usahanya. Do-bin berkata apa ayahnya ingin ia melakukan yang ia sukai saja. Ayah Do-bin lalu berkata ia akan senang jika Do-bin melakukan hal yang membanggakan. Do-bin lalu memohon agar ayahnya menyerahkan proyek museum baru ini kepadanya saja. Ia berkata persaingan antara perusahaan besar, tidak akan menimbulkan sesuatu yang baru. Ayahnya masih berpendapat bahwa perusahaan besar lebih siap untuk membuat rancangan museum kali ini. Do-bin berkata kalau begini terus, ia cuma bisa meninggalkan semua yang ada sekarang. Ayah Do-bin kaget mendengar ancaman itu.
Chang-ryul menemui ayahnya, dan bertanya apakah ayahnya tak percaya dengan kemampuannya hingga menutup peluang Jin-ho. Padahal ia sudah berjanji akan memenangkan tender itu tanpa lewat jalan belakang. Ayah Chang-ryul mengingatkan bahwa ia hanya ingin mencabut rumbut sampai akarnya. Chang-ryul kesal itu karena hanya akan mempermalukannya didepan Jin-ho karena menggunakan jalan belakang. Ayahnya tak kalah kesal ia berkata bahwa untuk memenangkan sesuatu itu harus menggunakan jalan apa pun.
“Kamu seharusnya mengucapkan terimakasih, karena saya sudah menyiapkan jalan yang baik untukmu sehingga kamu hanya perlu kerja yang baik, dengar kan?” kata ayah Chang-ryul.
Chang-ryul masih kesal tapi ia hanya bisa diam menerimanya. Lalu tiba-tiba sekretaris ayahnya berkata kalau In-hae sudah datang. Chang-ryul kaget mendengarnya.

“Saya tahu” kata In-hae.
Ayah Chang-ryul lalu bertanya kenapa In-hae tahu masih dengan santai mengatakan semuanya tadi.
“Dua orang berpisah. Chang-ryul yang begitu baik jatuh cinta pada saya adalah sebuah keberuntungan bagi saya. Waktu itu saya juga berpikir seperti itu, tapi setelah itu saya baru tahu. Orang yang begitu baik ternyata tidak baik. Sampai di gereja kemarin saya baru mengerti. Saya hanya ingin orang yang mempercayai saya dan menghormati saya. Tapi orang itu tak sesuai” kata In-hae sambil melirik Chang-ryul.
Setelah selesai bertemu ayah Chang-ryul. Chang-ryul langsung menemui In-hae dengan perasaan kesal.
“Kamu ini benaran sangat hebat. Tidak sangka biarkan kamu tinggalkan yang begitu mudah. Saya benar-benar begitu burukkah?”.
In-hae dengan tenang tapi menahan kesal berkata apa Chang-ryul mau ia menjelaskan lagi setelah apa yang ia sudah katakan didepan ayahnya. Chang-ryul semakin kesal, ia lalu menarik In-hae pergi. In-hae memberontak, tapi Chang-ryul tetap tak melepaskannya.

Jin-ho dan Sang-joon sedang pusing memikirkan nasib perusaan mereka jika gagal mengikuti ender proyek kali ini. Tiba-tiba Tae-hoon datang. Ia mendapat kabar dari ayahnya bahwa ketua Choi (Ayah Do-bin) mengambil keputusan pembatasan peserta tander setelah dipengaruhi oleh ketua Han (Ayah Chang-ryul). Jin-ho jadi kesal mendengarnya.



Kae-in sedang membuat rancangan furniture dirumah, ia jadi khawatir karena Jin-ho sudah malam belum pulang juga. Jin-ho minum hingga mabuk hingga ia susah untuk berjalan pulang.



“Teman saya Park Kae-in. Teman yang sama seperti teman saya Park Kae-in” kata Jin-ho tersenyum sambil memeluk Kae-in.
“Bau arak, Jin-ho kamu sebenarnya sudah minum berapa banyak” kata Kae-in sambil mengelak pelukan Jin-ho dan mencoba memapah Jin-ho masuk rumah.
Jin-ho menatap Kae-in dan berkata agar Kae-in jangan mencemaskannya.
“Teman saya yang memikirkan segalanya didunia ini secara sederhana. Park Kae-in” kata Jin-ho lagi.
“Orang ini sedang mengatakan apa? Perkataannya aneh. Jin-ho kuatkan mental kamu, ayo cepat masuk rumah saja” kata Kae-in mencoba memapah Jin-ho lagi.

“Karena difitnah hingga hampir gila, tapi tetap juga tidak bisa melakukan apapun jadi hanya bisa pergi minum saja” kata Jin-ho.
“Jin-ho” kata kae-in prihatin.
“Tak peduli bagaimanpun usaha saya, saya cuma bisa berlari ditempat saja” kata Jin-ho sedih hingga mengeluarkan air mata.
“Jin-ho kamu sedang menangiskah” kata Kae-in prihatin.
Ia lalu memegang wajah Jin-ho hingga mereka saling berpandangan. Kae-in memegang wajah Jin-ho dengan lembut dan berkata “Jin-ho, jangan menangis”.
Jin-ho memandang wajah Kae-in lama dan kemudian ia mendekat untuk mencium Kae-in.
“Jin-ho” kata kae-in prihatin.
“Tak peduli bagaimanpun usaha saya, saya cuma bisa berlari ditempat saja” kata Jin-ho sedih hingga mengeluarkan air mata.
“Jin-ho kamu sedang menangiskah” kata Kae-in prihatin.
Ia lalu memegang wajah Jin-ho hingga mereka saling berpandangan. Kae-in memegang wajah Jin-ho dengan lembut dan berkata “Jin-ho, jangan menangis”.
Jin-ho memandang wajah Kae-in lama dan kemudian ia mendekat untuk mencium Kae-in.



credit : maldoeopsi
0 comments:
Post a Comment