Recent Post


Sinopsis Paradise Ranch Episode 16

Do you want to share?

Do you like this story?

PARADISE RANCH
EPISODE 16
-END-
Da Ji akhirnya membalas pelukan Dong Joo. Dong Joo tersenyum dan berkata, "Bahkan aku bisa mendengar detak jantungmu. Apakah kau begitu gembiranya?" Da Ji kesal dan langsung melepaskan pelukannya. Dong Joo masih terus tersenyum dan menggoda Da Ji, "Tentu saja kau gembira, kau sudah terlalu lama sendirian." Da Ji kesal dan marah pada Dong Joo, "YA! Apa yang harus aku katakan sekarang hah? Sampai Jumpa!!" Da Ji berniat pergi namun Dong Joo kembali menarik Da Ji kedalam pelukannya. Dong Joo berkata lembut, "Aku... Tidak mau melihat wajahmu yang kesusahan lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi. Tidak akan!" Da Ji terdiam mendengar kata-kata itu.


Sementara itu Yun Ho terlihat masih sibuk di kantornya bersama Asisten Baek.


Kakek keluar kamarnya dan menemukan Dong Joo yang sudah duduk serius di ruang tengah. Kakek bertanya pada Dong Joo, "Apakah kau kembali dengan kabar baik?" Dong Joo terdiam menatap Kakek. Dong Joo memulai berbicara, "Kau ingat bahwa aku pernah meminta kau untuk membatalkan pembangunan di Peternakan? Peternakan itu milik Da Ji..." Kakek tidak bereaksi karna dia sudah tau hal itu. Dong Joo bingung dengan sikap Kakek dan bertanya, "Ka-Kau sudah tau?" Kakek tidak menjawab dan justru bertanya balik, "Kau pagi-pagi datang kemari hanya untuk membicarakan hal ini denganku?" Dong Joo menjawab, "Hm Kakek sudah tau kan jika aku sudah berhasil mengumpulkan surat persetujuan masyarakat?" Kakek mengangguk dan melihat surat persetujuan masyarakat yang di bawa oleh Dong Joo. Dong Joo kembali berbicara, "Aku sudah mengumumkan bahwa pembangunan taman hiburan itu tidak akan menganggu lahan milik masyarakat."


Ayah Dong Joo datang dan langsung berteriak saat melihat Dong Joo ada di rumah, "Bocah nakal! Apa yang sedang kau lakukan disini?" Dong Joo menjawab serius, "Aku disini sedang menyelesaikan masalah besar yang kau buat!" Kakek bertanya pada Ayah Dong Joo, "Kau melakukan pembangunan tanpa persetujuan lagi hah?" Ayah Dong Joo terlihat panik, "Ayah... Itu...." Kakek berkata serius, "Kau ikut berbicara denganku." Kakek berjalan ke kamarnya dan Ayah Dong Joo mengikutinya.


Kakek bertanya, "Masalah apa lagi yang kali ini kau perbuat?" Ayah Dong Joo menjawab, "Aku hanya berencana untuk membangun yang sudah kita rencanakan. Direktur Seolin(Perusahaan Ayah Jin Young) sangat senang dengan Dong Joo dan dia bilang bahwa dia ingin agar anak kita di nikahkan. Dan lagi mereka juga bekerja sama dengan kita, Ayah ini adalah sebuah kesempatan besar!"

Kakek berkata serius, "Apakah itu sikap yang benar dengan mempermainkan lahan milik masyarakat hah? Bagaimana bisa kau berfikir bahwa pernikahan putramu itu sebagai bisnis?! Mengapa kau menjadi begitu rakus??" Ayah Dong Joo Menjawab, "Ayah, kau tidak tau seberapa kerasnya aku bekerja demi perusahaan. Kau tidak tau apa-apakan? Kau selalu mengtakan agar aku mempercayai Dong Joo, tapi apakah kau pernah mempercayai aku? Hanya sekali aku ingin kau berada di sisiku! Aku adalah Ayahnya Dong Joo! Saat Dong Joo sedih maka aku juga ikut sedih. Saat dia tersenyum maka aku ikut tersenyum. Apakah kau benar-benar menilai bahwa pernikahan itu adalah bisnis? Ayah kau terlalu berlebihan..." Kakek terdiam mendengarkan kata-kata itu.


Dong Joo terus berdiri di depan pintu kamar Kakek. Ibu Dong Joo yang melihatnya pun bertanya, "Apakah kau harus pergi hingga sejauh ini? Aku juga tidak ingin kau kembali dengan Da Ji! Cepat bereskan urusanmu disana dan kembali kemari!" Setelah mengatakan hal itu Ibu Dong Joo pergi meninggalkan Dong Joo.


Ayah Da Ji sedang berada di Restaurant. Ahjumma dan Ahjushi sedang mengeringkan peralatan sambil membicarakan masalah lahan ini. Ahjumma berkomentar, "Semua masalah ini terjadi setelah semua surat persetujuan masyarakat itu di tanda tangani. Apakah mungkin sejak awal Dong Joo mendekati itu demi..." Ahjumma belum menyelesaikan kata-katanya tapi sudah menerima tatapan tajam dari Ahjushi. Ahjushi berkata, "Apakah kau masih tidak tau kepribadiannya setelah selama ini?"


Yun Ho datang ke Restaurant dan hal itu membuat Ahjumma dan Ahjushi terkejut. Yun Ho melihat Ayah Da Ji dan segera memberi salam, "Aku kemari karna khawatir dengan Da Ji." Ayah Da Ji menjawab, "Aku tidak memiliki apapun untuk di katakan atau mendengarkan apapun dari kau mengenai Putriku." Yun Ho berkata, "Aku merasa bersalah telah menyakiti Da Ji. Tapi... Aku tetap ingin bersamanya. Walaupun aku belum mendengar keputusan apapun dari Da Ji sekarang ini... Aku akan tetap menunggunya. Maafkan aku telah membuatmu khawatir."

Yun Ho lalu menyerahkan sebuah map pada Ayah Da Ji, "Pertama-tama, ini adalah hal yang baik untuk berkonsultasi dengan perserikatan perumahan penduduk. Aku menemukan beberapa cara yang memungkinkan kita memenangkan gugatan. Dan juga... Walaupun hal ini tidak nyaman untuk di selesaikan dengan cara ini namun pengacara ini pernah memenangkan kasus yang mirip seperti kasus kita ini." Ayah Da Ji terdiam menatap Yun Ho.


Da Ji datang ke ruangannya Dong Jo dan bingung saat melihat barang-barang di ruangan itu sedang di pindahkan. Asisten Lee yang sudah tau status Da Ji yang merupakan mantan istri Dong Joo pun langsung bersikap sangat sopan dan itu membuat Da Ji bingung. Da Ji bertanya, "Apakah Direktur(Dong Joo) sudah kembali ke Seoul? Aku tidak bisa menghubunginya." Dengan segera Asisten Lee menjawab, "Aku akan memastikannya untukmu." Kemudian Asisten Lee berkata, "Selama ini aku tidak menyadari kau. Aku membuat beberapa kesalahan padamu. Mulai dari sekarang tolong maafkan dan kita saing membantu." Da Ji semakin bingung mendengarnya, "Ah baiklah..."

Asisten Lee mengeluarkan HPnya untuk menghubungi Dong Joo. Dan selama dia menghubungi Dong Joo, dia bergumam pelan di hadapan Da Ji, "Mengapa aku tidak menyadarinya dari awal? Sikap Direktur sudah terlihat dengan sangat jelas padanya." Da Ji terdiam tidak mengerti yang di maksud oleh Asisten Lee.


Yun Ho berjalan ke kamar Resortnya dan dia bertemu dengan asisten Baek, "Hyung aku akan beristirahat 30 menit." Saat Yun Ho mau masuk, Asisten Baek memberikan sebuah kabar, "Kepala Direktur menghubungiku dan mereka memutuskan pemindahanmu ke Australia. Mereka bilang saham di Australia jatuh. Dan ini permintaan langsung dari Kepala Direktur." Yun Ho terdiam mendengarnya.


Da Ji menelfon Dong Joo di kamarnya dan tetap saja Dong Joo tidak menjawab telfonnya itu. Da Ji pun akhirnya hanya bisa meninggalkan pesan, "Sebenarnya kau ini ada dimana? Aku sudah menelfonmu lebih dari 20 kali. Saat kau menerima pesan ini cepat hubungi aku. Mengerti?" Da Ji mematikan HPnya dan dia terlihat kecewa karna tidak ada kabar sama sekali dari Dong Joo.


Dari lantai bawah terdengar ada keributan dan Da Ji segera keluar kamar untuk melihatnya. Terlihat Dong Joo yang sedang duduk di hadapan Ayah Da Ji. Ayah Da Ji bertanya pada Dong Joo, "Apa yang mau kau lakukan disini dengan membawa kopermu hah?" Dong Joo menjawab, "Aku sudah memikirkannya sejak lama... Walaupun Ayahku akan memecatku atau mengusirku, Tapi apakah aku bisa hidup tanpa melihat Da Ji? Aku tidak bisa... Ayah Mertua, Aku tidak membutuhkan uang atau reputasi, selama aku bisa hidup bersama Da Ji disisiku itu sudah cukup. Mulai dari sekarang, aku akan tinggal disini bersama Da Ji." Da Ji terkejut mendengarnya. Ayah Da Ji langsung memarahi Dong Joo, "Hey bocah! Kau tau jika kau melakukan hal ini maka kau hanya akan menyusahkan Da Ji? Mana mungkin kau tidak mengerti hah? Tolong bawa kopermu itu dan segera pergi." Dong Joo menjawab, "Aku tidak ada tempat yang bisa di tuju lagi. Terserah kau mau membunuhku atau menyelamatkan aku, aku yakin bahwa aku tidak bisa pergi dari sini Ayah Mertua." Ayah Da Ji terlihat bingung dan segera pergi meninggalkan ruangan.


Da Ji bertanya pada Dong Joo, "Ya, apa yang sedang kau lakukan? Mengapa membawa koper??" Dong Joo yang sejak tadi duduk menekuk kakinya pun merasa kesakitan, "Da Ji, kakiku sakit." Da Ji menggerutu kesal dan meluruskan kaki Dong Joo, "Kau ini keras kepala! Apakah ini terasa sakit?" Dong Joo dengan manjanya mengangguk pada Da Ji. Dan tiba-tiba saja Dong Joo mengecup bibir Da Ji singkat, "Saranghae..."


Ayah Jin Young pulang ke rumah dan Jin Young segera menyambutnya. Jin Young memulai pembicaaan, "Kau bilang aku akan menikah dengan Dong Joo?" Ayah Jin Young balas bertanya, "Apakah kemari karna tidak suka Ayahmu mengurusi hal itu?" Jin Young menjawab, "Bukan begitu. Jika aku mengikuti keinginanmu, Apakah aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan? Ayah, dengan melakukan hal ini apakah kau mendapatkan semua yang kau inginkan? Jika begitu maka aku akan menunggu. Dengan kekuatanmu... Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan?"


Ayah Da Ji terlihat kasian pada Dong Joo yang tertidur di ruangan tengah. Ayah Da Ji pun memutuskan untuk memberikan selimut pada Dong Joo tapi ternyata Da Ji sudah lebih dulu membawakan selimut untuk Dong Joo. Dong Joo bergumam pada Da Ji, "Aku sangat lapar." Da Ji terlihat kaget, "Kau belum makan? Bangunlah." Dong Joo menolaknya, "Besok, aku akan makan besok saja. Besok masakan makanan yang aku suka, ok?" Da Ji mengangguk mengerti. Sementara itu Ayah Da Ji tersenyum melihat kebersamaan antara Da Ji dan Dong Joo.


Penduduk peternakan melakukan rapat untuk membicarakan masalah peternakan. Dong Joo tiba-tiba saja datang sambil membawa papan untuk ber-demo. Da Ji dan Ayahnya sama-sama menunduk malu melihat sikap Dong Joo.


Dong Joo datang ke ruangan direkturnya dulu dan bertanya pada Asisten Lee, "Jadi mulai sekarang ada direktur baru?" Asisten Lee menjawab, "Hm ya." Dong Joo melihat dekor ruangan baru itu dan berkomentar, "Ya bagaimana bisa menjadi seperti ini." Asisten Lee terlihat sangat tegang di depan Dong Joo dan Dong Joo berkata, "Kau tidak perlu tegang di depanku. Sekarang aku bukan atasanmu lagi. Ini aku serahkan surat pengunduran diriku." Asisten Lee terlihat bingung saat menerima surat itu, "Hm kau serius akan mengundurkan diri?" Dong Joo tidak menjawab dan dia justru mengatakan hal lain, "Ah aku penasaran dengan kompensasi yang aku terima. Karna jadwal kita masih ada jadi tolong kau urus secepatnya." Asisten Lee kebingungan karna setau dia Dong Joo tidak ada kerjaan apa-apa lagi. Dong Joo berkata, "Aku dan masyarakat menyiapkan sebuah press conference. Kita akan menampilkan masalah surat persetujuan masyarakat itu."


Da Ji menempelkan pengumuman mengenai sikap curang Resort di dinding peternakan Resort, "Sikap Dong In Resort yang tidak bertanggung jawab. Para tamu juga harus tau yang sebenarnya mengenai hal ini. Walaupun hanya satu orang yang mendukung, aku akan terus menempelnya!!" Ada 2 orang pekerja Resort yang memergoki Da Ji sedang menempelkan pengumuman itu dan Da Ji hanya tersenyum malu.


Kakek baru sampai di Resort dan dia melihat Da Ji yang di usir oleh 2 orang pekerja Resort. Da Ji terus marah-marah pada pekerja itu, "Lepaskan aku! Kau pikri dapat menghentikan aku dengan cara mengusir seperti ini? Hingga hari dimana Resort membatalkan pembangunan itu, aku akan terus datang ke sini setiap harinya!!" Da Ji melihat sekelilingnya dan kaget saat menyadari ada Kakek yang sedang menatapnya, "Kakek..." Kakek melihat Da Ji dan berkomentar, "Bagaimana bisa kau menjadi sekurus ini?"


Kakek datang ke rumah Da Ji dan bertemu dengan Ayah Da Ji. Da Ji memotong buah peach dan memberikannya pada Kakek. Kakek berkomentar, "Kau masih ingat bahwa aku menyukai peach?" Da Ji hanya tersenyum. Kakek lalu mulai berbicara serius dengan Ayah Da Ji, "Kau mungkin merasa terganggu." Ayah Da Ji membuka mulut, "Dong Joo, dia bekerja sangat keras demi surat persetujuan masyarakat. Dia bahkan membantu kami untuk menuntut Resort. Aku merasa khawatir, jadi tolong bawa dia kembali bersamamu." Kakek mengangguk mengerti, "Baiklah, aku harus melakukannya. Dan mengenai peternakan dan juga perumahan penduduk... Aku rasa Dong Joo akan kembali untuk mengurusi masalah itu. Ayahnya saat ini sedang sangat marah padanya. Semakin Dong Joo mencoba menghindar, aku semakin takut jika hal ini akan semakin membuat Dong Joo, Da Ji dan penduduk semakin sulit. Jadi itu sebabnya aku memutuskan untuk datang kemari untuk meminta bantuanmu. Dong Joo... Kumohon terima dia sebagai anggota keluargamu kembali." Da Ji dan Ayahnya sama-sama terkejut mendengar permintaan Kakek.


Yun Ho berada di ruangannya sambil terus menatap cincin dan kalung yang ingin dia berikan pada Da Ji. Asisten Baek masuk kedalam ruangannya dan memberikan kabar masalah demonstrasi,"Para penduduk sedang berdemo di daerah pembangunan. Dan... Direktur Dong Joo pun ikut dalam demo itu." Yun Ho bingung mendengarnya.


Para penduduk mulai berdemo dan Dong Joo ikut berdemo di barisan depan. Yun Ho datang menghampiri Dong Joo, "Kau tidak seharusnya bersikap seperti ini. Ini bukan jalan yang tepat menyelesaikan masalah. Apa kau tidak bisa menghentikannya? Para pekerja melihat hal ini." Dong Joo menjawabnya santai, "Aku bukan Direktur Resort ini lagi. Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku dan sekarang aku ada di sisi penduduk!" Tuan Yang ikut berdemo dan dia berdiri di belakang Dong Joo dengan bangga.


Kakek dan Da Ji datang ke lokasi pembangunan dan memarahi Dong Joo, "Direktur Han Dong Joo apa yang sedang kau lakukan??!" Dong Joo segera menghampiri Kakek senang. Yun Ho memberikan salam pada Kakek dan Kakek berkata, "Direktur Seo, kau sudah bekerja keras." Dong Joo berkata pada para penduduk, "Lihat, ini hal yang baik. Direktur Utama datang untuk membantu kita." Kakek justru semakin memarahi Dong Joo, "Kau berhentilah!! Kau sebaiknya segera pergi dari sini!" Dong Joo kaget mendengarnya.


Dong Joo dan Kakek sedang berbicara. Kakek berkata, "Kau kembalilah ke Kantor Pusat!" Dong Joo menjawab, "Kau adalah orang yang mengatakan padaku untuk menggunakan hatiku dalam memilih. Aku memiliki alasan mengapa aku bisa menerima semua surat persetujuan masyarakat itu. Tapi sekarang... Resort kita ini bersikap tidak bertanggung jawab. Kakek apakah ini yang kau sebut dengan Ketulusan? Kakek kau ini sama saja dengan mereka semua!"

Dong Joo bangkit dari duduknya dan berkata serius, "Aku akan melakukan apapun untuk menghentikan ini semua!" Kakek berkata, "Kau ingin penduduk kehilangan rumahnya karna sikap kau yang seperti ini? Ini tidak ada urusannya dengan kesengajaan atau karna surat yang sudah di tanda tangani untukmu itu. Hidup mereka akan semakin sulit. Ini bukan saatnya membicarakan siapa yang salah dan siapa yag benar. Jika kau mau membantu mereka maka pikrikan lah apa hal yang tepat untuk kau lakukan!" Dong Joo bertanya bingung, "Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku akan melakukannya!" Kakek menjawab, "Pertama-tama, kau harus meyakinkan Ayahmu." Dong Joo terlihat menolak hal itu, "Ayahku tidak akan pernah mendengarkan apa yang aku katakan. Kau sudah tau hal itu kan?" Kakek menjawab, "Kau tidak pernah mencoba meyakinkan dia atau mempercayai dia. Kalian berdua selalu bersikap sama. Kau kembalilah ke rumah! Ayah Da Ji juga berjanji padaku bahwa dia tidak akan memperbolehkan kau kembali ke keluarganya." Dong Joo kaget mendengarnya, "Kakek..." Kakek berkata, "Terserah kau akan meyakinkan Ayahmu atau tidak tapi setidaknya kembalilah ke rumah. Jika kau berencana seperti ini lagi dan membuat masalah pada peternakan itu maka aku akan membiarkan Ayahmu melakukan apapun."


Dong Joo berjalan dengan lemah ke tempat demo tadi. Terlihat beberapa warga yang kelelahan dan Dong Joo merasa bersalah. Dia ingat saat Ahjumma membanggakan dirinya di depan semua warga dan pada saat itu seluruh warga juga angat membanggakan dirinya.

Da Ji melihat kedatangan Dong Joo dan segera menghampirinya. Da Ji bertanya, "Kau bisa membantuku? Aku mau mempersiapkan Paulist yang akan ikut pertandingan. Sangat banyak yang harus di persiapkan, jadi apa kau mau membantuku?" Dong Joo tersenyum dan mengangguk.


Da Jo dan Dong Joo pun mulai melatih Paulist bersama-sama. Setelah selesai maltih, mereka berdua pun pulang ke peternakan sambil membawa Paulist. Da Ji berkata, "Kau harus kembali ke Seoul, Dong Joo." Dong Joo menghentikan langkahnya, "Kau tau kan apa artinya jika aku kembali ke Seoul?" Da Ji menatap Dong Joo, "Tapi jika kau tinggal disini, itu hanya akan membuat keadaan semakin sulit. para penduduk, Ayahku, Orang tuamu dan juga kau dan aku. Jadi kembalilah. Kembalilah dan coba mencari jalan yang terbaik untuk menyelesaikan ini semua. Maafkan aku karna hanya bisa meminta bantuanmu dan membuat situasi sulit untukmu." Dong Joo bertanya, "Apa yang kau katakan? Kau mencoba berpisah denganku hah?"

Da Ji mengenggam tangan Dong Joo dan menatapnya, "Aku berharap aku bisa bersamamu tanpa memikirkan orang lain. Itu akan lebih baik jika yang aku lihat hanyalah kau... tapi aku tidak bisa diam saja melihat banyak orang menderita karna kita." Dong Joo mendekati Da Ji dan memeluknya, "Sudah kukatakan padamu sebelumnya, aku tidak mau kita berpisah." Da Ji menangis mendengarnya. Dong Joo melepaskan pelukannya dan menatap Da Ji, "Aku akan pulang dulu dan mencoba menyelesaikan masalahnya. Aku juga akan mencoba mengubah pikiran Ayahku. Jadi, hingga aku kembali... kau tidak boleh menangis dan tidak boleh sakit. Jangan melihat pria lain! Kau harus menungguku. Mengerti?" Da Ji menganggukan kepalanya mengerti.


Alat-alat besar untuk pengahancuran lahan masih terparkir di depan peternakan. Ahjumma mengomel akan masalah itu, "Aish hingga kapan mereka akan meninggalkan alat-alat itu disini?" Ahujsi bertanya pada Ayah Da Ji, "Hyung, apa tidak ada panggilan dari Resort?" Ayah Da Ji menjawab, "Aku tidak yakin. Kita sudah melakukan yang kita bisa jadi sebaiknya kita menunggu saja." Ahjumma melihat ke peternakan dan tidak menemukan sosok Da Ji, "Dimana Da Ji? Apa dia pergi ke Resort lagi? Dia bahkan tidak makan dan terus bekerja tanpa lelah. Oppa(Ayah Da Ji) kau harus melakukan sesuatu..."


Yun Ho melihat ke lahan pembangunan dan melihat Da Ji duduk sendirian di lahan itu sambil memegang papan yang menolak pembangunan di peternakannya.


Asisten Lee menghampiri Da Ji bersama dengan 2 petugas Resort, "Permisi, jika kau tetap seperti ini maka situasi akan semakin sulit." Da Ji menjawab, "Sebelum masalah pembangunan ini selesai maka aku tidak akan pergi. Tidak akan pergi satu inci pun. Kami emmang setuju akan pembangunan namun bukan berarti kami setuju pembangunan yang merusak wilayan kami!" Asisten Lee berkomentar, "Tapi itu adalah hal yang sama." Da Ji tetap tidak mau menerima hal itu, "Walaupun seperti itu, pengacara kami akan bekerja keras mencari solusinya. Kami juga sudah mengirim pesan pada Blue House(Rumah president) Jika kau menemukan sesuatu maka kau harus mengabarkannya padaku!"


Yun Ho datang menghampiri Da Ji dan Da Ji terlihat kaget. Yun Ho tersenyum melihat tingkah Da Ji ini dan kemudian dia mengajak Da Ji makan bersama.


Yun Ho dan Da Ji kini berada di sebuah Restaurant. Da Ji terlihat melamun dan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Yun Ho mencoba menyadarkan Da Ji, "Apa kau tidak mau makan makanan enak ini?" Da Ji tersadar dari lamunannya, "Ah akhir-akhir ini aku jarang makan namun aku tetap makan." Yun Ho bertanya, "Kau pasti merasa lelah kan?" Da Ji hanya tersenyu, "Surat yang kau berikan pada Ayahku, mereka sangat membantu. Tapi jika kau membantu kami, apakah itu tidak akan menjadi masalah untukmu?" Yun Ho menjawab, "Aku hanya memberikan saran saja. Jika bisnis ini salah maka harus di hentikan, benar bukan?" Da Ji hanya mengangguk dan tersenyum.

Yun Ho mengeluarkan sebuah map dan memberikannya pada Da Ji, "Ini adalah tempat pacuan kuda yang di sebut 'Magic Millions' di Australia. Mereka mencari seorang dokter hewan yang ahli dalam mengurus kuda. Aku rasa itu sangat bagus untukmu. Bukankan bersekolah kembali itu akan menjadi hal yang bagus?" Da Ji terkejut mendengarnya,"Ini terlalu tiba-tiba." Yun Ho tersenyum, "Aku haru kembali ke Australia secepatnya. Aku akan segera pergi. Aku berharap kau mau tinggal bersamaku. Aku tau ini terlalu mendadak dan pasti mengangetkan untukmu. Tapi, Hingga hatimu terbuka lagi untukku, aku akan tinggal di sisimu sebagai teman. Aku berharap kau tidak akan menolak tawaran ini." Da Ji terdiam dan melihat isi map itu.


Da Ji sedang bersih-bersih di rumah dan dia menemukan kaus kaki Dong Joo. Da Ji berkomentar, "Bukankah ini kaus kakinya? Sudah kukatakan padanya agar tidak melempar benda seperti ini kemana saja." Ayah Da Ji diam-diam melihat hal itu. Da Ji menyadari kehadiran Ayahnya dan hanya tersenyum. Ayah Da Ji bertanya, "Apakah kau masih berhubungan dengannya?" Da Ji menjawab, "Tidak. Dia pasti bekerja dengan baik disana. Dibandingkan disini, dia hanya mendapatkan masa yang sulit. Tempatnya disana pasti lebih baik." Ayah Da Ji duduk di hadapan Da Ji dan membahas masalah Yun Ho, "Aku sudah dengar bahwa Yun So akan ke Australia. Aku harap kau mau pergi kesana untuk melakukan riset yang selama ini kau inginkan dan juga melanjutkan sekolahmu." Da Ji terlihat ragu, "Aku tidak begitu yakin, Ayah. Sebenarnya apa yang ingin aku lakukan? Mulai sekarang hal yang aku inginkan adalah fokus pada peternakan..."


Dong Joo datang ke sebuah Restaurant dan bertemu dengan Yun Ho. Dong Joo bertanya bingung, "Mengapa kau ingin bertemu denganku?" Yun Ho tersenyum, "Aku akan kembali ke Resort di Australi se-segera mungkin. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan. Dan juga, aku ada sesuatu yang mau dibicarakan mengenai kontrak dengan Seolin Group." Yun Ho memperlihatkan berkas-berkas yang sudah dia siapkan itu pada Dong Joo, "Seperti yang kau lihat, ini adalah pembelian peternakan dan perencanaan pembangunan. Sebenarnya pembangunan ini tidak mungkin." Dong Joo membaca berkas itu dan ikut berkomentar, "Jika ada masalah dengan lahan ini maka Dong In lah yang harus bertanggung jawab. Yun Ho berkata, "Dan lagi sejauh yang kami perhatikan, jika Dong In terus memaksa pembangunan ini maka ini akan berdampak buruk pada image Resort." Dong Joo bertanya penasaran, "Dari mana kau bisa mendapatkan informasi ini?" Yun Ho tersenyum, "Kau tau? Aku rasa kau harus memerlukan seorang teman baik Han Dong Joo."


Ayah Dong Joo, Ayah Jin Young dan Jin Young sedang makan bersama. Dong Joo datang dan membungkuk memberi salam. Ayah Jin Young berkata, "Aku sudah menunggu lama untuk kau menuangkan minum padaku." Ayah Dong Joo memberikan Teko pada Dong Joo agar menuangkan minum pada Ayah Jin Young. Dong Joo pun dengan terpaksa menuangkan minum untuk Ayah Jin Young. Ayah Dong Joo lalu membahas masalah rencana pernikahan Dong Joo dan Jin Young, "Ah karna keluarga kita sudah berkumpul, bagaimana jika kita menentukan tanggalnya?" Ayah Jin Young terlihat tertarik untuk membicarakan hal ini juga.

Namun Dong Joo segera memotong pembicaraan mengenai pernikahan ini, "Direktur(Ayah Jin Young). Jin Young adalah wnaita yang mengagumkan yang di cintai banyak orang. Tanpa Direktur mengatur masalah asmaranya maka dia pasti bisa menemukan yang lebih baik dari pada aku. Jadi yang aku maksud adalah aku berharap kau tidak akan memaksa Ayahku mengenai bisnis dan masalah pernikahan ini." Ayah Dong Joo terkejut dan memarahi Dong Joo namun Dong Joo tidak mempedulikannya, "Ayah kita tidak boleh menandatangani kontrak dengan Seolin. Jika kita melanjutkan proyek ini maka pada akhirnya Dong In lah yang akan di atur oleh Seoling dan kita akan menjadi budak mereka yang mendengarkan segala perintah mereka!"

Ayah Jin Young tidak suka dengan sikap Dong Joo itu, "Direktur Han(Ayah Dong Joo) apakah aku harus mendengarkan kat-kata dari mulut anakmu ini?" Ayah Dong Joo menjawab, "Ah ini... ini karna anaku tidak begitu mengerti masalah ini." Tiba-tiba Jin Young membuka mulut, "Dong Joo mengatakan yang sebenarnya. Paman(Ayah Dong Joo) jika kau menandatangani kontrak dengan Seolin maka kamilah yang akan lebih mendominasi perusahaanmu." Ayah Jin Young sangat marah dan lagsung keluar pergi. Ayah Dong Joo pun mengejarnya.


Dong Joo berterima kasih pada Jin Young karna bantuannya tadi, "Terima kasih sudah membantu memberikan penjelasan pada Seo Yun Ho." Jin Young tersenyum, "Awalnya aku berfikir jika aku mengikuti rencana Ayahku maka kau bisa berada disisiku. Itu akan sangat sempurna jika terjadi. Aku terlalu rakus. Tapi hal ini tidak akan berhasil jika hanya sebuah cinta satu pihak. Tapi aku tetap tidak berharap kebahagiaanmu dengan wnaita lain. Jaga dirimu..." Dong Joo balas tersenyum pada Jin Young. (Ternyata yang memberikan data mengenai DongIn-SeoLin pada Yun Ho itu adalah Jin Young.)


Jin Young pulang ke rumah dan melihat Ayahnya sudah menunggu. Ayahnya bertanya, "Apakah kau sudah merencanakannya dari awal?" Jin Young menjawab, "Aku hanya berfikir bahwa aku harus menunjukan padamu bahwa kau tidak bisa mengontrol perasaan seseorang dengan kekuatanmu itu." Ayah Jin Young berkata, "Jika kau mau, aku bisa membawanya(Dong Joo) untuk berlutut di depanmu." Jin Young kembali menjelaskan pada Ayahnya, "Kau selalu saja menggunakan kekuatanmu untuk mendapatkan apa yang kau mau. Apa kau tidak sadar bahwa hal itu lah yang membuatku menjauhi dirimu? Dia adalah laki-laki yang aku cintai dan akhirnya aku bisa mengatakan selamat tinggal padanya. Aku akan pulang ke rumah. Aku merasa sangat kecewa. Aku ingin menangis di depanmu. Aku juga ingin menjagaku. Sesungguhnya aku tidak mau melihat Dong Joo menderita karena aku. Aku mohon padamu Ayah..."


Kakek dan Ayah Dong Joo serta Ibu Dong Joo sedang membahas masalah Seolin yang tidak jadi berinvestasi pada Dong In. Ayah Dong Joo sangat meminta maaf karena telah membuat kesalahan. Dong Joo datang dan ikut bergabung. Ayah Dong Joo berkata, "Walaupun kau tidak bersama Jin Young, aku tidak akan membiarkan kau dan Da Ji bersama! Jangan pernah berfikir untuk menemuinya kembali!" Dong Jo mejawab, "Hingga kau setuju, aku tidak akan kembali bersamanya. Jika aku meninggalkan rumah untuknya sekarang ini, Aku akan menjadi anak yang membangkang orangtuanya. Dan itu justru akan membuatmu semakin tidak menyukai Da Ji. Da Ji lah satu-satunya yang aku cintai. Aku akan mencoba bekerja keras mulai sekarang ini. Hingga suatu hari kau mempercayai aku dan membiarkan aku untuk mengatur bisnis ini. Aku akan bekerja keras. Tapi... Aku tidak akan menyerah mengenai Da Ji." Dong Joo kemudian pergi meninggalkan Kakek, Ayah Dong Joo dan Ibu Dong Joo yang masih terdiam.


Dong Joo masuk kedalam kamarnya dan terus menatap foto pernikahannya bersama Da Ji.


Da Ji sedang bekerja di Restauramt. Da Ji melihat ada gelas yang masih berisi bir dan dia pun berniat meminumnya namun dia teringat ucapan Dong Joo,"Ya! Mengapa kau meminumnya? Itu sisi. Jangan diminum!" Da Ji menangis mengingat hal itu, "Han Dong Joo... Mengapa kau memeprlakukan aku seperti ini? Kau mengatakan apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan, berdebat denganku setiap harinya. Ini sangat melelahkan bertengkar denganmu. Jadi aku tidak akan meminum ini...." Dan ternyata Yun Ho melihat hal itu.


Yun Ho melihat buku sketsanya yang di penuhi gambar Da Ji. Yun Ho tersenyum setiap melihat wajah Da Ji.


Yun Ho menunggu di luar peternakan dan Da Ji segera menghampirinya. Yun Ho bertanya, "Apakah permintaan kencanku ini terlalu tiba-tiba?" Da Ji hanya tersenyum. Da Ji melihat Yun Ho sedang memegang buku sketsa makanya dia bertanya, "Apa yang sedang kau gambar?" Yun Ho menjawab, "Paradise Ranch..." Da Ji melihat gambaran Yun Ho dan ternyata itu gambar peterenakannya. Da Ji membuka gambaran lainnya dan ternyata ada gambar dirinya. Da Ji bertanya, "Kenapa?" Yun Ho menjawab, "Aku memberikan gambar ini padamu sebagai hadiah. Aku akan pergi hari ini, lebih cepat dai yang di rencanakan. Sebelum pergi aku ingin melihat wajahmu dan mengucapkan selamat tinggal. Walaupun begitu aku tau hatimu tidak sama seperti yang dulu. Aku sesungguhnya senang saat aku menunggu dirimu. Hatiku selalu merasa berdebar debar dan aku selalu tersenyum melihatmu. Terima kasih!" Da Ji balas tersenyum, "Terima kasih. Bertemu denganmu membuatku bahagia. "

Da Ji berkata, "Aku sepertinya akan tetap tinggal disini. Aku sudah memikirkannya dan sepertinya mimpiku yang sebenarnya adalah disini." Yun Ho tersenyum, "Aku tau, tanpa kau katakan juga aku percaya bahwa kau akan selalu menjaga dirimu. Buatlah orang-orang di sekitarmu terus tertawa dan bahagia. Ok?" Da Ji menganggukan kepalanya.


Yun Ho menatap Resort dan dia pun masuk kedalam mobil untuk segera pergi ke bandara.


Da Ji keluar dari rumahnya dengan terburu-buru. Da Ji melihat alat-alat pengahcur pembangunan itu sudah pergi dan terlihat Dong Joo sedang berdiri menatapnya. Dong Joo bertanya, "Apa kau baik-baik saja?" Da Ji langsung menganggukan kepala, "Ya... Apa kau baik-baik saja?" Dong Joo tersenyum, "Bagaimana mungkin aku baik-baik saja? Seorang Ahjumma bernama Lee Da Ji yang setiap hari berdemo di wilayah pembangunan. Bahkan dia menulis surat pada pemerintahan. Sebagai Direkturnya aku merasa lelah. Pembangunan ini sudah di batalkan. Aku sudah katakan padamu kan bahwa aku akan menyelesaikan masalahnya dan kembali?" Da Ji tetap tersenyum pada Dong Joo. Dong Joo berkata, "Aku lapar, berikan aku makanan. Aku hanya ingin masakan yang buat oleh istriku." Dong Joo mendekati Da Ji dan Da Ji terlihat menangis. Dong Joo berkata lembut, "Saranghae..." Dong Joo pun kemudian mencium Da Ji.


Kejadian 6 tahun lalu pun terulang kembali... Terlihat Dong Joo dan Da Ji sama-sama berlutut di depan orang tua mereka memohon izin agar boleh kembali bersama. Ayah Dong Joo tetap sama, dia menolak Da Ji dan Dong Joo kembali bersama. Ternyata Ayah Da Ji berfikir sama juga, "Aku rasa kesalahan tidak boleh terulang dua kali." Ayah Dong Joo berkomentar, "Wow tumben sekali kau dan aku memiliki opini yang sama." Kakek menatap Dong Joo dan Da Ji, "Orang tua kalian tidak setuju kalian menikah, lalu bagaimana?" Da Ji menjawab, "Jika orang tua tidak setuju, kami tidak akan menikah." Dong Joo terkejut mendengar jawaban dari Da Ji itu, "Ya! Apa yang kau katakan?" Da Ji mengenggam tangan Dong Joo.

Ibu Dong Joo bertanya, "Apa kau akan berpisah dengan Dong Joo?" Da Ji menggeleng, "Tidak. Aki tidak akan berpisah dengan Dong Joo. Kali ini kami akan menunggu. Dahulu kami menikah terburu-buru karna kami yang keras kepala dan pada saat itu kami maish terlalu muda sehingga kami cepat bercerai. Tapi untuk kali ini, hingga kami mendapatkan persetujuan, kami aka membuktikan pada kalian bahwa kami bisa hidup bersama dan mendapatkan persetujuan kalian. " Para orang tua terdiam mendengarnya. Kakek bertanya pada Ayah Dong Joo dan Ayah Da Ji, "Mereka bilang akan menunggu. Bagaimana?" Ayah Dong Joo terlihat tidak ada jawaban lain, "Baiklah kalau begitu."



1 TAHUN KEMUDIAN...

Da Ji kini mulai bekerja di salah satu rumah sakit perawatan kuda. Da Ji menelfon Dong Joo dan berusaha membangunkannya, "Sayang kau belum bangun juga? Ini sudah jam 8 pagi. Kau harus segera bekerja." Dong Joo tersenyum menjawab telfon itu, "Kemana kita akan pergi berlibur kali ini?" Da Ji menjawab, "Bagaimana ini? Aku tidak bisa pergi di akhir minggu ini." Dong Joo tentu langsung protes, "Ya! Kenapa lagi?" Da Ji berkata, "Aku harus belajar mengenai operasi. Aku ingin menyelesaikan sekolahku dengan cepat jadi aku harus bekerja keras." Dong Joo terlihat mengomel, "Ya ini sudah dua minggu. Aku sangat merindukanmu. AKu tidak mau menundanya lagi!" Da Ji berkata, "Kau harus menundanya ok? Aku harus ke ruang operasi saat ini, bebricara denganmu nanti ya... " Da Ji dengan segera menutup telfonnya.


Da Ji pergi ke ruang operasi dan melihat hasil ronsen tulang kuda. Da Ji berkata pada Dokter, "Menurutku kuda ini tidak membutuhkan operasi." Doker itu melihat hasil ronsen dan berkomentar, "Dr. Lee, itu bukanlah hasil ronsen kuda yang akan di operasi ini." Da Ji malu saat menyadari hal itu. Dokter bertanya, "Mengapa kau masih berada di ruangan operasi?" Da Ji menjawab, "Aku ingin membantu. Minggu ini aku belum masuk kedalam ruangan operasi." Dokter itu berkomentar, "Minggu lalu kau membuat kuda yang mau di operasi itu berlari." Da Ji lagi-lagi tertawa malu.


Perusahaan Dong In sedang melakukan rapat. Semuanya fokus pada yang sedang di jelaskan, sementara Dong Joo justru asik mencari informasi paket wisata untuk dirinya dan Da Ji. Ayah Dong Joo berkata, "Direktur Han, untuk Resort apa yang akan dilakukan?" Dong Joo sama sekali tidak mendengarnya hingga akhirnya Ayah Dong Joo membentaknya dan Dong Joo hanya tersenyum.


Terlihat Tuan Yang yang sedang memarahi Jong Dae karna melukai kudanya. Ayah Da Ji pun mengbati kuda itu. Ahjumma dan Ahjushi datang dan ternyata mereka sudah menikah, bahkan Ahjumma kini sedang hamil.


Dong Joo cemberut sepanjang hari. Kakek bertanya, "Bukankah seharusnya minggu ini kau bertemu Da Ji?" Dong Joo menjawab kesal, "Sejak dia bekerja kami sulit bertemu. Bahkan dua kali dalam sebulan pun sangat sulit. Hisup seperti ini sangat sulit. Aku ingin sekali tinggal bersama dengan Da Ji namun Ayah sama sekali tidak mau mendengarkannya. Da Ji sangat sibuk dan aku bahkan tidak bisa bertemu dengannya."

Kakek yang melihat Dong Joo terus cemberut pun akhirnya mengeluarkan kartu kreditnya, "Ini pakailah, tidak ada batasnya." Dong Joo melihat kartu kredit itu dan berkomentar, "Kakek, apa kau pikir aku ini anak kecil hah? Mengapa memberikan aku uang untuk menenangkan aku? Kakek jika kau tetap seperti ini maka perang akan di mulai hari ini!" Kakek menjawab, "Jika kau ingin berperang maka setidkanya kau harus membutuhkan peluru. Peluru yang besar. Kali ini saat kau menemuinya(Da Ji) setidaknya buatlah cicit untukku dan baru kembali. Ok? Aku akan membantu mengurusnya." Dong Joo tersenyum mendengar ide itu, "Cicit?" Kakek mengangguk, "Iya! Kau bisa melakukannya dengan baik kan?" Dong Joo tertawa, "Wow mengapa aku tidak memikirkannya dari awal ya? Kau jangan khawatir Kakek, hingga aku sukses aku tidak akan kembali!" Dong Joo tersenyum dan segera pergi.


Da Ji sedang membantu Ayahnya dan Da Eun merawat peternakan. Ayahnya melarang Da Ji bekerja karna pasti Da Ji sudah sangat lelah bekerja di rumah sakit, namun Da Ji tetap ingin membantu. Ayah Da Ji juga berjanji pada Da Ji bahwa suatu hari nanti dia akan membangunkan rumah sakit hewan di peternakan ini. Da Ji sangat senang mendengarnya.


Ayah Dong Joo menghampiri Ibu Dong Joo dan meminum teh yang sudah di buatkan. Ayah Dong Joo mencubit pipi Ibu Dong Joo gemas. Kakek yang melihat sikap itu pun terlihat salah tingkah. Ayah Dong Joo dan Ibu Dong Joo juga sama-sama salah tingkah. Ayah Dong Joo bertanya, "Aku belum bertemu Dong Joo, kemana dia?" Kakek menjawab, "Ada satu masalah yang terjadi aku mengirimnya pergi."


Dong Joo sudah menunggu Da Ji di dalam rumah Da Ji. Da Ji sangat senang saat melihat kedatangan Dong Joo, "Lama tidak bertemu membuatmu tampak jelek." Dong Joo menjawab, "Tapi dilihat dari matamu kau mengatakan kebalikannya!" Da Ji tersenyum dan mengecup Pipi Dong Joo, "Apa kabarmu? Aku pikir kau marah padaku dan tidak akan mengunjungiku." Dong Joo menjawab, "Sebenarnya aku tidak meu menemuimu tapi Nenek(Yang tinggal di pulau sebelah) memintaku datang." Da Ji terlihat khawatir, "Nenek? Kenapa?" Dong Joo menjawab, "Dia khawatir jika dia akan menyusahkanmu makanya dia memintaku agar tidak memberitahu hal ini padamu. Aku rasa kita harus melihat keadaannya. Kau bisa belajar lain waktu kan?" Da Ji khawatir, "Apa yang terjadi?"


Da Ji dan Dong Joo pun datang ke rumah Nenek namun tidak terlihat sosok nenek sama sekali. Da Ji terlihat sangat panik sementara Dong Joo justru tersenyum. Da Ji bertanya, "Dimana Nenek?" Dong Joo menjawab, "Ah dia bilang akan pergi ke pemandian air panas bersama teman-temannya. Dia khawatir tidak ada yang menjaga rumahnya makanya dia meminta kita menjaganya. Haruskah kita istirahat sebentar?" Da Ji kesal dan merasa di bohongi oleh Dong Joo makanya dia segera menyikut perut Dong Joo.


Da Ji dan Dong Joo pergi ke pinggir laut untuk menyelam mengambil seafood. Dong Joo tentu kesal, "Apa-apaan ini? Haruskah kita melakukan ini?" Da Ji menjawab, "Jika kau dan aku mengambil seafood bersama maka itu akan membantu Nenek untuk bahan makan selama 2 bulan kedepan. Bukankah itu ide yang bagus?" Dong Joo yang mengira dia akan menikmati liburannya ini tentu tidak senang, "Kau bahkan masih memikrikan hal itu?" Da Ji mengangguk ceria.


Yun Ho datang ke Korea dan menemui Mil Hye yang kini menjadi seorang designer. Yun Ho bertanya pada Mil Hye, "Apa kau kesulitan?" Mil Hye terkejut melihat kedatangan mantan suaminya itu. Yun Ho mendekati Mil Hyedan mengomentari jas rancangan Mil Hye, "Apa ini model clasic? Lebih baik jika bagian ini di hilangkan." Mil Hye tersenyum, "Apakah kau masih bersikap seperti kau tau segalanya?" Yun Ho balas tersenyum, "Kau pasti mengalami kesulitan karna telat belajar design... Hmm ayo makan siang bersama." Mil Hye berkomentar, "Kau tiba-tiba datang setelah setaun pergi dan kini mengajakku makan bersama? Apakah kau ada suatu niat?" Yun Ho tertawa, "Kau sama sekali tidak berubah. Apakah kau mau pergi bersamaku?" Mil Hye menjawab, "Jika kau sangat ingin pergi bersamaku maka maukah kau menunggu?" Yun Ho menganggukan kepalanya dan tersenyum.


Dong Joo dan Da Ji sedang berjalan bersama dan Da Ji merangkul lengan Dong Joo. Da Ji bertanya, "Dong Joo ah, apakah kita kaan terus bertengkah sepanjang hidup kita? Bertengkar dan kemudian baikan kembali, apakah akan seperti itu?" Dong Joo tertawa dan bertanya, "Apakah kau mau hidup bersamaku sepanjang sisa hidupmu?" Da Ji balas bertanya, "Kenapa? Kau berencana mencari wanita lain?" Dong Joo merangkul pundah Da Ji, "Apa aku gila? Mengingat betapa susahnya kita kembali bersama, aku pasti ingin bersama denganmu sepanjang sisa hidupku. Walaupun kau membenciku." Da Ji berkomentar, "Bahkan jika aku membencimu aku akan tetap sangat mencintaimu. Mengerti?"

Dong Joo lalu berkata, "Aku sangat lelah sekarang ini, haruskah kita kembali?" Da Ji menjawab, "Kau ini jika merasa lelah maka kau harus membuangnya. Huh apakah aku benar-benar bisa hidup bersamamu sepanjang sisa waktuku? Dan lagi kau ini cepat marah." Dong Joo cemberut dan berjalan mendahului Da Ji. Da Ji mengejar Dong Joo dan merangkul lengannya, "Tapi apa kau tau? Karna kaulah Han Dong Joo yang aku cintai." Dong Joo mash kesal dan berkata, "Huh kau mencoba bebricara hal yang baik kan? Hari ini aku melarangmu mendekatiku!" Da Ji terus mengejar Dong Joo dan membujuknya.

Da Ji berkata, "Dong Jo ah. Walaupun aku memiliki banyak kelemahan, terima kasih karna kau selalu mengatakan bahwa aku yang terbaik. Terima kasih sudah sangat mencintai aku. Dan karena kaulah yang aku cintai, aku sangat sangat gembira." Dong Joo tersenyum, "Benarkah? Kalau begitu bisakah kita pulang ke rumah sekarang?" Da Ji menjawab, "Ayo jalan-jalan dulu. Disini sangat cantik." Dong Joo berkata, "Jalan-jalan kan masih bisa besok. Sekarang ayo kita pulang saja. Kakek memberiku tugas yang sangat penting(Bikin anak =)))"



THE END


Pst :
Akhirnya Paradise Ranch tamat :-) Terima kasih untuk semua pihak yang sudah sangat mendukung hehehehe terima kasih banyak sekali lagi :-) Endingnya kurang memuaskan sih karna hubungan mereka masih belum pasti, Apakah akan menikah atau Tidak tapi sepertinya mereka pasti akan menikah lagi hehe. Dan Zola sempat kesal dengan team Make Upnya, Kenapa Da Ji rambutnya gak dari dulu lurus kaya gitu sih? Kan lebih cantik lurus gitu ya. Kenapa cuma di menit-menit akhir Da Ji keliatan cantiknya?

Sampai jumpa di Project Sinopsis lainnya :-)

BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA



2 comments:

Ahh br sekali ini ya nonton drakor ini....n untuk yg pertama klinya jg,ak bener2 berharap endingnya bkn OTP,knnp ya Da Ji ga jadian sm ahjussi ajah,,,padahal keren kan Yun Ho nya.....Joo Sang Wook emang "laki" banget ya hahaha

Baru kali ini ak berharap endingnya gag OTP,,,pgnnya da ji sm yun ho aja..

Post a Comment


Friend Link List