Recent Post


[Sinopsis] It's Okay, Daddy's Girl Episode 3

Do you want to share?

Do you like this story?

 
Ki Hwan menerima telepon saat makan bersama Chae Ryung setelah membelikan tas yang diinginkan oleh Chae Ryung. Ia mendapat kabar bahwa anak muda yang telah berkelahi dengannya meninggal.
Choi Wook Gi sedang bekerja sebagai kuli bangunan. Teleponnya berdering.
"Ya, ini dengan Choi Wook Gi," katanya sambil menghela nafas lelah. Lawan bicara Wook Gi berbicara menanyakan apakah Ia keluarga dari Choi Duk Gi.
"Ya, Choi Duk Gi adalah kakak keduaku" Wook Gi dikabari bahwa Duk Gi telah meninggal.
Jong Suk sedang mengendarai mobil. Ia sedang bercakap dengan seseorang di telepon. Dari lawan bicaranya, Jong Suk mengetahui bahwa Chae Ryung dan ayahnya sedang menuju kantor polisi terkait dengan kematian Duk Gi.
Chae Ryung dan ayahnya sudah sampai di kantor polisi.
"Maafkan aku, karena kesalahanku kau jadi ikut ke kantor polisi," kata Ki Hwan pada anaknya.
"Itu bukan kesalahanmu,"
"Seandainya saja tadi malam aku tidak pergi, pasti hal ini tidak akan terjadi," kata Chae Ryung sedih.
"Berjanjilah pada ayah, apapun yang terjadi nanti ini semua bukan kesalahanmu tetapi kesalahanku, janji?"
Ki Hwan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Chae Ryung.
Jong Suk menepikan mobilnya. Dirinya tegang karena polisi sudah mulai menyelidiki siapa tersangka pembunuhan Duk Gi. Jong Suk langsung mengambil ipadnya dan menghapus nama Duk Gi dari daftar phone book lalu menghubungi Sin Byung Chun, saksi kunci pembunuhan Duk Gi.
"Ini Park Jong Suk, dimana kau sekarang? Jangan pergi ke dekat club dan jangan mengangkat teleponmu. Kau... tidak tahu Duk Gi mati? Kau benar-benar tidak tahu. Jangan pergi sampai aku menghubungimu dan sembunyilah.. Jika kau tidak melakukannya.... Jika kau mengerti itu bagus!!!"
Jong Suk menutup teleponnya dan berteriak kesal.

Ki Hwan dan Chae Ryung memasuki kantor polisi bergandengan tangan. Ki Hwan menemui polisi yang sedang berjaga dan mengatakan bahwa Ia kemari karena investigasi kematian Duk Gi. Polisi itu menghampiri rekannya yang duduk diseberang dan berbisik padanya.
 
Polisi yang menangani kasus Duk Gi melihat berkas sebentar dan menatap Ki Hwan dengan pandangan mata yang menakutkan.
"Apakah kau Eun Ki Hwan?" tanyanya.
"Ya aku Eun Ki Hwan"
"Gadis muda, apakah kau Eun Chae Ryung?"
"Ya"
"Eun Chae Ryung kau tetap di sini, Eun Ki Hwan ikut aku"
Polisi itu beranjak dari tempat duduknya dan memasuki sebuah ruangan. Ki Hwan hendak pergi tetapi Chae Ryung masih memegangi lengannya. "Aku akan segera kembali," katanya.
 
Chae Ryung melihat ayahnya masuk ke dalam ruang interogasi. Saat itulah trio cowok yang pernah menyaksikan kejadian perkelahian tersebut masuk ke dalam kantor polisi dan memanggil Chae Ryung.

"Lalu, apakah kau mengakui kau telah memegang kerahnya dan memukul Choi Duk Gi?" tanya polisi pada Ki Hwan.
"Karena anak perempuanku, itu mengapa aku memukulnya," jawab Ki Hwan.
"Laporan Choi Duk Gi mengatakan bahwa Ia menghindari seranganmu dan membenturkan kepalanya ke dindinng."
"Apakah ini benar?"
"Ya"
Polisi itu memandangi Ki Hwan. "Baiklah kita akan memulai interogasi sebenarnya. Segala sesuatu yang Eun Ki Hwan katakan sekarang akan digunakan untuk melawanmu di pengadilan nanti"
"Semua kata-kata ini.. Jadi artinya.."
Polisi itu mengangguk.
Chae Ryung bersama tiga sekawan yang kemarin menolongnya di luar kantor polisi.
"Pembunuhan yang terjadi secara kebetulan? Apa maksudnya? Apa maksudnya?" tanya Chae Ryung panik.
"Itu artinya dia secara kebetulan membunuh seseorang," jawab Sun Do.
"Mengapa bisa ayahku membunuh seseorang? Kalian tahu apa yang terjadi, kalian melihat apa yang terjadi"
"Itulah mengapa mereka mengatakan itu pembunuhan yang kebetulan. Dia kebetulan saja mengakibatkan orang terbunuh"
"Terbunuh? Siapa membunuh siapa? Beri aku penjelasan lagi! Katakan pada mereka itu bukan kesalahan ayahku. Katakan pada mereka bahwa kalian melihat segalanya, Choi Duk Ki baik-baik saja"
"Semua polisi di sini mengetahui itu juga, ada laporan Choi Duk Ki yang sudah keluar"
"Lalu mengapa mereka mengatakan ayahku membunuh seseorang?"
"Polisi berpikir bahwa itu bisa terjadi karena pukulannya ke kepala yang membentur dinding. Mereka melihat laporan Duk Gi dan menanyakan hal itu pada kami juga," kata Yun Do.
"Tidak dapat dipercaya. Dia memukul itu dengan pelan, bagaimana bisa membuatnya mati? Bagaimana dia bisa mati?"
"Kami berkata pada mereka dia memukul kepalanya, kami mengatakan dengan jelas bahwa dia memiliki perilaku yang buruk, tetapi...," Sun Do menepuk pundak Yun Do menghentikan perkataannya.
"Tetapi mengapa mereka mengklaim itu pembunuhan yang kebetulan? Ayahku tidak pernah bisa membunuh orang. Ayahku bukan orang yang seperti itu!"
Jong Suk keluar dari lift. Seseorang lewat dan menunduk hormat padanya. Jong Suk berjalan melewati lorong. Ia juga melewati tempat orang-orang yang sedang bekerja di kantor, semua orang berdiri dan menghormat padanya. Ia memasuki ruangan. Di sana sudah ada ayah dan ibunya.
"Tutup pintunya dan duduk!" suruh ayahnya, Pengacara Park. "Kau berkata pada ibumu kau perlu menyelesaikan beberapa kelas untuk menunggu kelulusanmu dan dia hanya ingin melihat kau lulus. Ini dokumen dari sekolahmu"
Ibunya meletakkan rapot Jong Suk ke meja lalu Ia duduk. "Hasilmu hanya rata-rata dan kau banyak tidak mengikuti kelas. Apakah dokumen ini benar? Atau kau yang benar?"
"Kembalilah! Cari tau! Minta pertolongan jika kau merasa sesak nafas ketika di kelas. Apakah kau berbohong dengan itu? Cari cara menghapuskan kalau kau dikeluarkan, mencari perantara, atau mencari kelemahan profesor. Aku tidak peduli berapa uang yang akan dikeluarkan. Belajar atau beli itu dengan uang, dapatkan ijazahmu! Gunakan semua motode untuk membuatmu mendapatkan ijazah dan bawa padaku!" teriak ayahnya. [orang tua yang menyeramkan]
"Apakah mulutmu tersegel? Mengapa kau tidak menjawab? Jika itu bukan sebuah kebohongan, kau tidak bisa bicara? Apakah itu sebuah penyakit?" tanya Ibunya tajam.
"Itu bukan masalah"
"Jika ini tidak, lalu apa? Ayah dan Ibumu adalah pengacara terbaik di Korea tetapi anaknya telah dikeluarkan dari sekolah hukum. Mewarisi perusahaan hukum ini? Aku tidak berpikir aku bisa berjalan dengan kepala tengadah, masalah apa yang lebih besar dari ini?"
"Seorang... Aku telah membunuh"
Ayahnya memandang bertanya-tanya. Ia menoleh pada istrinya. "Apa? Katakan lagi," kata istrinya.
"Dia mati" kata Jong Suk dengan pandangan takut. "Jika kita tidak melakukan sesuatu dengan cepat, aku akan dalam bahaya.
"Setiap menit.. setiap detik.. Jangan lupakan apapun, katakan padaku segalanya. Cepat!!"

Sook Hee dan Man Soo sedang ada di restoran bersama Lee Son Jung -dia ini yang di episode satu saat pertemuan pertama Sook Hee dan Man Soo direstoran Korea-yang akan menjodohkan Ae Ryung.
"Jung Jin Goo menyukai Ae Ryung. Istri direktur rumah sakit bersungguh-sungguh dengan pernikahan"
Sook Hee tersenyum, "Jadi, jika istri direktur rumah sakit sudah memutuskan, pernikahan akan terjadi, itulah yang ingin kau katakan?"
"Tentu saja, tidak bisakah kau mengatakan situasinya? Jin Goo hanya seperti sebuah sedotan, aku benarkan?" sahut Man Soo.
"Sedotan? Apa maksudnya?" tanya Lee Son Jung.
"Haha.. lihat" Man Soo mengambil sedotan minumannya, "Aku adalah sedotan kecil kakakku dan kakak iparku di dalam dompetnya, dan hanya slurp... slurp... Aku menghisap uang untuk hidup dan Jin Goo juga seorang sedotan tebal di dalam dompet ibunya dan menyedotnya. Jika kau mengambil keduanya, kami tidak berarti apa-apa" Sook Hee menahan kekesalannya mendengar perkataan adiknya yang tidak sopan. Son Jung juga terkejut mendengar ucapan Man Soo. "Aku benarkan??" tanya Man Soo. "Apakah kau terkejut?? Ah kau benar-benar terkejut!" Man Soo senang karena sebenarnya Ia hanya bergurau.
"Jangan pikirkan dia, ini hanya caranya untuk mengekspresikan diri," kata Sook Hee
"Kau pikir hidupmu seperti sedotan, tetapi Jin Goo memiliki dua bangunan di Kang Nam atas nama dirinya. Dan warisannya, banyak tanah dan apartemen menyebar di Korea," kata Son Jung dengan arogan.
"Mendengar itu saja membuat kakiku terasa berat. Untuk melihat propertynya kita harus mengunjungi daerah lain?"
"Warisannya atas nama dirinya, tetapi apakah dia bisa menjual sesuai keinginannya? Banyak sedotan tidak bisa melakukannya," kata Man Soo.
Sook Hee menjadi salah tingkah lagi, Ia pura membenarkan rambut dan berbisik pada Man Soo. "Apa yang kau lakukan? Apakah kau ingin memutuskan ini? Apakah kau ingin mengecewakan Ae Ryung?"
"Aii,, mengecewakan?? Dia adalah keponakan pertamaku dan dia keponakan favoritku. Sebelum menikah kau harus memperlihatkan segala sesuatu dengan mata terbuka keduanya. Setelah menikah, kau harus hidup dengan mata tertutup sebelah, itu mengapa aku berakting seperti ini"
"Pergi sekarang!" perintah Sook Hee.
"Baiklah.., aku sibuk, aku pergi dulu." pamit Man Soo. "Aku tidak akan berubah, bisakah aku mendapatkan 20 dolar?" Man Soo akhirnya pergi.
"Jadi mengenai istri direktur rumah sakit, jika kau tidak mengatakan tentang saudara laki-lakiku..."
Man Soo masuk terburu-buru memanggil kakaknya untuk keluar. "Noona.. Cepat.. Cepat.." Man Soo keluar duluan. Sook Hee memohon maaf pada Son Jung.
Ae Ryung sedang menata lukisan di galeri. Ia melihat direktur masuk. Ae Ryung pura-pura tidak menyadari kedatangannya.
"Ayo kita bicara," pinta direktur.
"Kau sudah tahu jawabannya?" tanya Ae Ryung tetap konsentrasi mendata lukisan.
Mereka pindah tempat untuk berbicara.
"Alasan kau marah karena aku besikap tidak mau bertemu dengan anak perempuan Lee, tetapi segera kau pergi dari Seoul, aku akan bertemu dengannya tetapi kami tumbuh bersama seperti saudara kandung, jadi aku tidak melihatnya sebagai seorang wanita, hanya..."
"Tidak, bukan itu"
"Itu benar, ketika ibuku memulai galeri ini, keluarga kami menjadi dekat,"
"Alasan mengapa aku berpikir Hyun Gyo lagi bukan karena apa yang kau katakan"
"Jika tidak, lalu apa? Apa yang aku lakukan sehingga menjadi sedemikan salah?"
"Hyun Gyo, kau..." telepon Ae Ryung berdering.
"Jangan diangkat, katakan padaku"
Ae Ryung tetap mengangkat teleponnya, "Ya Chae Ryung, ada apa dengan suaramu?" Ae Ryung mendengarkan penjelasan Chae Ryung, raut wajahnya khawatir. Setelah selesai menelpon, direktur mendekati Ae Ryung, "Jika aku berkata padamu untuk tidak mengangkat telepon, apakah aku benar?"
"Katakan pada direktur -Ibu direktur- aku memiliki masalah keluarga dan tidak bisa membantu persiapan untuk pameran, juga aku akan meninggalkan itu untuk Mr Park," Ae Ryung berbalik menghadap direktur, "Tidak, Hyun Gyo bisakah kau bekerja padaku?"
"Mengapa? Lagi? Apakah sesuatu terjadi pada ayahmu? Kau meninggalkanku hanya karena melakukan sesuatu dengan ayahmu?"
Ae Ryung marah pada Hyun Go "Aku akan menyelesaikan ini, jangan telepon direktur!" Ae Ryung berlari meninggalkan Hyun Go.
"Aku ingin bertemu ayahmu. Mengapa aku selalu berada pada peringkat setelahnya?"
Ae Ryung tidak peduli dengan teriakan Hyun Go. Ia tetap berlari sambil memanggil-manggil ayahnya dan menangis.
Chae Ryung sedang menunggu proses interogasi yang sangat lama. Bora datang sambil membawakan minum untuk Chae Ryung. Bora merasa bersalah karena Ia yang telah mengajak Chae Ryung pergi ke kafe malam itu.
"Yang diinterogasi adalah ayahku, dia akan mencari pengacara"
"Mintalah orang tua Jong Suk, mereka adalah pengacara terbaik di Korea, haruskah aku menelponnya?"
"Aku akan meminta Ibu saat Ia datang nanti"
Ibu dan Paman Chae Ryung datang bersama. Mereka menanyakan keberadaan Ki Hwan.
"Mengapa kalian baru kemari sekarang?" tanya Chae Ryung dengan berteriak.
"Ibumu pusing tadi, jadi kami harus ke apotek untuk membeli obat," jelas pamannya.
"Dimana ayahmu sekarang?" tanya ibunya.
"Dia sedang berada di ruang interogasi"
"Dia tidak melakukan sesuatu yang salah, mengapa dia berada di ruang interogasi?"
"Chae Ryung di investigasi juga," Bora ikut menimpali
"Mengapa kau?" tanya ibunya menatap Chae Ryung.
"Mereka berkata untuk menemukan kebenarannya," jawab Bora lagi.
Ki Hwan keluar dari ruang interogasi. Semua orang mendekati Ki Hwan. Mereka bertanya apa yang terjadi. Sook Hee dan Man Soo marah-marah pada polisi yang menginterogasi karena Ki Hwan bukanlah orang yang bersalah. Ki Hwan menenangkan keduanya dan meminta polisi untuk menelponnya jika hasil interogasi sudah keluar.
"Jika kau ingin pergi ke suatu tempat kau harus memberitahuku," pesan polisi.
"Ya aku tahu, terima kasih," kata Ki Hwan.
"Mengapa dia harus memberitahumu kemana dia ingin pergi?" tanya Sook Hee protes.
"Aku memintamu untuk diam" kata Ki Hwan pada istrinya.
"Dia tidak memiliki rekaman buruk dan tidak ada resiko untuk lari. Itu mengapa kami membiarkannya untuk tinggal di rumah. Kalian harus memahami situasinya"
"Jika dia tidak mendengarkan, apakah itu artinya kau akan menaruhnya di penjara?"
"Aku bisa saja melakukan itu sekarang," kata polisi itu membuat Sook Hee dan Man Soo terhenyak.
"Kau berkata rumah sakit Han Sung?" tanya Ki Hwan pada polisi membiarkan istri dan adik iparnya terkejut.
Jasad Duk Gi dibuka oleh petugas. "Apakah ini kakakmu?" tanya seorang polisi.
Wook Gi tertunduk melihat kakaknya yang sudah terbujur kaku. Ia mengangguk sebagai jawaban. "Jika kau yakin, ayo pergi"
"Tunggu.. tunggu sebentar. Bisakah aku diberi waktu untuk bersama kakakku??"
"Kami harus menampilkan autopsinya sesegera mungkin karena untuk diinvestigasi"
"Kakakku, mengapa dia mati?"
"Tanpa investigasi secara keseluruhan, aku tidak bisa mengatakan padamu. Aku akan menunggu dibelakang pintu." Polisi dan petugas rumah sakit keluar meninggalkan Wook Gi.
Wook Gi memegang tangan kakaknya, "Hyung mengapa tanganmu begitu dingin, kau harus selalu merasa hangat. Mengapa kau tidak pulang ke rumah dan tidur?" Wook Gi menggoyang-goyangkan tangan Duk Gi, air matanya mulai keluar, "Bangunlah... Kumohon buka matamu.. Bangun!!" Wook Gi memeluk kakaknya dan menangis. Saat itulah Ki Hwan membuka pintu dan masuk. Wook Gi menyadari seseorang mendekat. Ia bangkit dan menoleh pada Ki Hwan.
"Aku minta maaf.. Aku minta maaf" Ki Hwan menunduk pada Wook Gi. Wook Gi juga ikut menunduk. "Aku telah mendorong dan memukul kepalanya ke dinding dan aku berpikir itulah yang menyebabkannya Ia berakhir di sini. Aku menyebabkannya dalam masalah dan membuatnya pergi dari dunia ini. Aku tidak tahu apa yang aku katakan.." Ki Hwan berlutut memohon maaf, "Jika aku bisa mengembalikan waktu, jika hanya aku yang bisa menyelamatkan hidupnya, aku rela menukarkan nyawaku"
Mereka sama-sama menangis.
Ki Hwan keluar dari rumah sakit. Di belakang Wook Gi mengikuti. Ki Hwan memegangi kepalanya, langkahnya limbung. Wook Gi segera memegangi Ki Hwan. Chae Ryung dan keluarganya sedang menunggu di luar. Chae Ryung melihat ayahnya sempoyongan, Ia langsung menghampiri ayahnya. Tetapi ayahnya tidak mempermasalahkan dirinya, Ia malah menawarkan Wook Gi pulang bersama. Tetapi Wook Gi menolak dan meminta Ki Hwan dan keluarganya untuk pergi. Wook Gi pamit duluan dan berlalu.
"Siapa dia?" tanya Chae Ryung.
"Dia adik laki-laki Choi Duk Gi"
"Dia tidak menyalahkan kita?"
"Dia tidak berkata apa-apa dan hanya menangis."
Ki Hwan masih memegangi kepalanya. Chae Ryung khawatir dengan kondisi ayahnya tetapi ayahnya berkata tidak apa-apa. Bora menelpon Jong Suk dan Jong Suk bersedia membantu Chae Ryung. Sook Hee yang meminta Bora untuk meminta bantuan pengacara Park. Bora mengajak Chae Ryung untuk bertemu Jong Suk. Chae Ryung terlihat tidak senang dengan keputusan ibunya. Ibunya yang melihat tatapan Chae Ryung segera memasuki mobil.
"Aku harus pergi untuk mencari informasi," kata Ibu Jong Suk sambil memakai mantelnya. Ibunya pesan untuk tidak menghindari kontak mata dengan Chae Ryung dan bertingkah biasa saja. Jong Suk meminta ibunya untuk tidak membawa Chae Ryung dalam masalah, cukup menutup mulut Byung Chun cukup. Tetapi Ibunya tak mau ambil resiko terlambat mengambil sikap. Saat ibunya mengambil tas, Jong Suk ingat kalau Ia memberikan tas pada Duk Gi yang sebenarnya akan Ia berikan pada Chae Ryung. Ibunya kesal karena ternyata ada bukti lain selain Shim Byung Chun. Ibunya mengirim pesan pada suaminya dan memberitahu tentang tas tangan.
Saat itu Pengacara Park ternyata sedang bersama Byung Chun. Pengacara Park memaksa Byung Chun untuk tutup mulut dan menghilang.
"Katakan pada teman-temanmu bahwa kau mendapat pekerjaan dan pergi," kata Pengacara Park.
"Aku sudah mengetahui itu saat Jong Suk memintaku untuk sembunyi. Tapi... Duk Ki.. Mati dengan cara seperti itu.. Sangat menyedihkan..," Byung Chun menundukkan kepala menahan rasa sedih.
"Aku ingin kau menghapus semua ingatanmu mengenai peristiwa itu dan segera menghilang. Aku akan menyediakan uang untukmu agar kau bisa hidup. Lalu dimana tas itu?"
Byung Chun berpikir sejenak. Ia mengingat kalau Duk Gi pernah bilang tas dari Jong Suk itu Ia berikan pada Ibunya.
"Sepertinya Duk Gi telah membuangnya karena Ia tidak membutuhkan tas itu," kata Byung Chun menutupi.
"Dimana kau membuangnya?"
"Aku tak tahu pasti. Mungkin didekat lokasi kejadian."
Pengacara Park mengamati Byung Chun memastikan kalau Byung Chun tidak berbohong.
Jong Suk duduk di meja ayahnya, Ia sedang memikirkan sesuatu. Dari luar seseorang datang mengetuk pintu. Ternyata yang datang Bora dan Chae Ryung. Jong Suk berdiri dan mempersilahkan Bora dan Chae Ryung duduk.
"Chae Ryung, kau pasti terkejut"
"Aku mendengar penjelasan Bora, apa yang sebaiknya dilakukan?" tanya Chae Ryung tanpa mempedulikan pernyataan Jong Suk sebelumnya.
"Apakah mereka bisa mendapatkan pengacara?" tanya Bora.
"Aku pikir karena ini sudah pasti investigasi, kau memerlukan pengacara"
"Apa yang bisa kau lakukan tentang itu?" tanya Chae Ryung.
"Ayah dan Ibuku adalah pengacara terkenal di Korea. Mereka akan berusaha"
Chae Ryung masih tidak percaya dengan Jong Suk. Bora menanyakan dimana kedua orang tua Jong Suk dan bertanya apakah mereka bisa berbicara secara langsung. Tetapi Jong Suk mengatakan orang tuanya sedang sibuk. Chae Ryung menatap Jong Suk dengan gelisah karena memikirkan nasib ayahnya. Jong Suk terlihat sedikit menghindari kontak mata dengan Chae Ryung.
Ibu Jong Suk sampai di rumah keluar Choi. Ia hendak masuk ke dalam tetapi saat itu Ia mendengar teriakan ayah Wook Gi yang meminta alkohol. Ia marah-marah pada istrinya dan memukuli istrinya. Wook Gi datang melindungi Ibunya. Ayahnya lupa tentang anaknya itu, Ia tetap marah-marah dan mengatakan anak laki-laki tidak ada gunanya. Wook Gi berteriak pada ayahnya. Ayahnya tidak terima dan Ia memukuli Wook Gi dan terus berteriak anak tidak berguna. Ibunya berusaha melerai. Ibu Jong Suk ketakutan mendengar makian-makian itu, Ia tidak jadi masuk.
Ki Hwan sedang bersama istrinya. "Apakah kau menyembunyikan uang dariku?" tanya istrinya. "Bagaimana bisa aku menyembunyikan sesuatu darimu?" tanya Ki Hwan balik. "Lalu bagaimana kau akan membayar mereka? Bagaimana kita akan hidup?"
"Anak mereka mati. Dan itu karena aku. Orang tua Jong Suk berkata memberikan uang kompensasi adalah jalan yang baik. Aku telah meminta orang tua Jong Suk untuk melakukan yang terbaik."
"ooh.. Berhenti bicara. Mengapa kau berkata seperti itu, jika hasilnya sudah keluar apakah kau akan dimasukkan ke dalam penjara?" teriak Sook Hee, ia kesal karena suaminya terlihat pasrah.
"Sayang.. mereka bisa mendengar dari luar. Uang hanya jalan keluar. Berikan saja apa yang kita punya"
"Uang yang kita punya tidak akan cukup untuk pernikahan Ae Ryung"
Ki Hwan memegangi kepalanya, "Sayang.. kepalaku sakit.. aku harus istirahat" Ki Hwan beranjak tidur.
"Kau telah membuat keributan di rumah. Tetapi kau ingin beristirahat? Mengapa kau tidak membuangnya untuk pesta di rumah?!!" Sook Hee langsung pergi setelah meneriaki Ki Hwan. Sedang Ki Hwan masih memegangi kepalanya dan menahan sakit.
Pengacara Park mencari tas di tempat TKP tetapi Ia belum menemukan. Istrinya datang mendekat dan menanyakan keberadaan tas itu. Istrinya mengajak suaminya pergi saja karena tidak akan ada sesuatu yang bisa ditemukan ditempat itu. Pengacara Park begitu marah dengan anaknya. Dimana anak itu sekarang!!
Suk Jong sedang bersantai membaca buku di apartemennya. Ia langsung berdiri ketika ayahnya datang.
"Apakah kalian menemukan tas itu? Tidak ada di sana? Tanya Byung Chun dimana Ia membuangnya"
"Kau... Apakah kau berbohong kau telah mendorongnya karena dia telah memukulmu?" tanya Ibunya dengan menahan amarah. Jong Suk diam saja tak menjawab. Ayahnya langsung mendekat dan menghajar Jong Suk, ia kesal karena memiliki anak yang tidak berguna dan selalu menyusahkan orang tua.
"Tunggu... tunggu sebentar.. Ayah Chae Ryung yang akan disalahkan dengan hal ini karena Ia telah mendorongnya ke dinding. Jika dia mendapatkan tuduhan itu, dia akan memintamu untuk mengatasi masalah itu dan aku hanya memukul dengan tongkat golf di tempat dia memukul dirinya sendiri, aku juga menggunakan sarung tangan kulit. Jadi tolong maafkan aku" Orang tuanya terdiam mendengar penjelasan Jong Suk.
Ae Ryung pulang dengan taksi. Setelah turun Ia tidak bisa masuk dan tangisannya keluar. Chae Ryung keluar dari rumah dan melihat Ae Ryung. Unni.. mengapa kau tidak masuk? Ae Ryung segera menghapus air matanya dan berbalik menghadap Chae Ryung.
"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Ae Ryung. "Dia baik-baik saja, dia sedang istirahat di dalam"
"Kau mau kemana?"
"Aku ingin membeli obat untuk ayah karena dia merasa sakit kepala"
Ae Ryung mengkhawatirkan ayahnya. Ia meminta Chae Ryung untuk membawanya ke rumah sakit, tetapi ternyata ayahnya menolak saat Chae Ryung mengusulkan hal itu. Ayahnya baru saja melihat orang yang meninggal di rumah sakit, Ia tidak ingin ke rumah sakit karena itu.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa yang ayah akan terjadi pada ayah?" tanya Ae Ryung sedih.
"Kita hanya perlu membuktikan ketidakbersalahannya."
"Mereka berkata akan mendapatkan pengacara."
"Mengenai pengacara, kita akan menggunakan orangtua Jong Suk, ayah dan ibu juga sudah menyetujui."
"Jika kita membutuhkan pengacara... lalu..."
"Apakah maksudmu bersalah?"
Ae Ryung mengangguk tidak yakin. "Lalu.., apakah ayah akan dihukum karena membunuh orang?"
"Itu hal terburuk"
Chae Ryung shock mendengar kemungkinan itu. "Lalu apa yang akan kita lakukan? Ayah kita..." Chae Ryung menangis.
Ki Hwan sedang merenung di kamarnya. Ae Ryung dan Chae Ryung masuk membawa obat. Kau sangat sibuk, bagaimana kau bisa di sini? Aku disini karena merindukan ayah.. Ki Hwan memegang tangan Ae Ryung. Chae Ryung menyuapkan obat dan mengambilkan minum. Mereka memberikan perhatian pada ayahnya dan mereka berpelukan. Chae Ryung berkata pada ayahnya kalau anak ayah baik-baik saja. Katakan lagi ayah aku ingin mendengarnya, ungkap Ae Ryung. It's okay, daddy's girl, Ki Hwan mengulangi kata-kata itu dan mereka saling berpelukan
Wook Gi mendorong baju kotor. Dari belakang seseorang muncul dengan pakaian tentara, ia memanggil Wook Gi dan Wook Gi terkejut melihat siapa yang datang.
"Hyung!" Hyuk Gi langsung memeluk adiknya. "Bagaimana kabar Duk Gi? Dimana dia?"
"Dia pergi. Dia akan diautopsi" Hyuk Gi menangis mengetahui nasib adiknya.
Ki Hwan sedang berbicara dengan atasannya di kantor. Ia menjelaskan tentang peristiwa yang sedang menimpanya dan memohon maaf karena merepotkannya. Hasil pemeriksaan akan keluar dua sampai tiga hari dan itu akan menentukan nasib Ki Hwan di perusahaan itu. Direktur teman baik Ki Hwan tetapi Ia juga memikirkan nasib karyawan jika ternyata sesuatu terjadi pada Ki Hwan. Secara tidak langsung direktur meminta Ki Hwan untuk mengundurkan diri. 
Ki Hwan berada di ruangannya sedang menulis surat pengunduran diri. Kepalanya tiba-tiba sakit. Sekretarisnya datang dan menghentikan Ki Hwan menulis surat pengunduran diri, Ia meminta Ki Hwan untuk tidak mengundurkan diri karena hasilnya belum pasti. Ki Hwan berkata jika hasilnya buruk aku akan mencemarkan nama perusahaan, jadi lebih baik aku keluar sekarang. Sekretarisnya sempat mencoba untuk membujuk tetapi Ia tetap melanjutkan menulis surat pengunduran diri.
Man Soo dan Sook Hee membaca artikel di internet. Man Soo menyalahkan Jong Suk yang berkata baik-baik saja pada Chae Ryung padahal perkembangan kasusnya tidak sesuai yang mereka inginkan. Keluarga korban meminta biaya kompensasi yang cukup besar.
Sook Hee bertanya pada Man Soo. "Jika ini yang terjadi padamu? Apa yang kau lakukan? Membayar kompensasi atau membiayai pernikahan anak perempuanmu?" Man Soo menatap kakaknya sedih. Sook Hee hanya tidak ingin menjadi orang yang jahat yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Karena ini sudah sangat terlambat, aku akan mempersiapkannya untuk Ae Ryung. Bagaimana ini bisa terjadi pada keluargaku?
 
Jong Suk sedang bersama seorang wanita di apartemennya. Wanita tersebut memijat punggung Jong Suk dan berkomentar kalau punggung Jong Suk terasa sangat kaku. Jong Suk tersenyum dan mengatakan kalau dirinya kembali memegang tongkat golf setelah sekian lama tidak bermain lagi dan kali ini dia bermain dengan baik.
 
Hyuk Gi dan Wook Gi mulai membahas mengenai kematian Duk Gi, saudara mereka. Wook Gi menceritakan kalau kemarin dia bertemu dengan orang yang bertengkar dengan Duk Gi.
“kemarin aku bertemu dengan orang yang bertengkar dengan Duk Gi” ucap Wook Gi sedih
“mengapa ada pertengkaran? Apa memang dia tertabrak mobil?” tanya Hyuk Gi penasaran
“aku mendengar dari polisi, Hyung melakukan sesuatu terhadap putrinya dan pria tersebut melawan”
“jadi Duk Gi membawa pulang tas putrinya?”
“aku tidak berpikir seperti itu, tidak ada laporan seperti itu…… Ahjussi hampir saja jatuh dan aku membantunya”
“Wook Gi kamu dapat mengatakan apa yang ingin kamu katakan jika kamu berpikir itu adalah kesalahan Duk Gi dan yang terjadi padanya bukan kesalahan Ahjussi itu” ucap Hyuk Gi meyakinkan dongsaengnya.
“bukan itu, Hyung mengatakan kalau dia tertabrak mobil namun sama sekali tidak ada saksi, jadi itulah alasan kenapa Ahjussi itu disalahkan”
Sementara itu di tempat lain, beberapa orang polisi memeriksa lokasi kejadian tempat perkelahian antara Duk Gi dan Ayah Chae Rung. Sun Do, Yun Do dan temannya juga berada di tempat yang sama. Sun Do mengatakan kalau terlalu aneh rasanya jika Duk Gi mengganggu pelanggan dan tidak bekerja. Teman Sun Do juga berpikir hal yang sama, karena bagi Duk Gi uang jauh lebih penting dari seorang wanita.
Mereka akhirnya menarik kesimpulan kalau ada orang yang sengaja memerintahkan Duk Gi dan orang tersebut pasti pelakunya.
Seseorang tiba-tiba memanggil Sun Do. Sun Do terlihat terkejut melihat Hyuk Gi, teman kuliahnya berada di tempat seperti ini. “aku adalah Hyung Duk Gi” ucap Hyuk Gi memperkenalkan diri pada Sun Do, Yun Do dan teman mereka dan membuat ketiga sahabat itu terkejut.

Sun Do mengajak Hyuk Gi ke basecampnya. Sun Do menjelaskan kalau dirinya sekarang membuat sebuah band dan sering manggung di klub tempat Duk Gi bekerja.
“jadi kamu mengenal Duk Gi? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku melihat pelecehan seksual di laporan kepolisian dan namamu ada disitu” tanya Hyuk Gi
“kepala Duk Gi tidak sengaja terbentur di dinding. Untuk pria seperti Duk Gi mustahil rasanya terjadi kerusakan otak hanya karena benturan ringan, kecuali ia memang sedang sakit”
“Duk Gi tidak sakit sama sekali”
“Byung Chun adalah orang yang terakhir kali bersamanya, apa kamu ingin bertemu dengannya?”
Sun Do mengajak Hyuk Gi ke tempat Duk Gi bekerja dan dirinya biasa manggung. Manager klub mengatakan kalau Byung Chun sudah tidak bekerja di klub lagi semenjak beberapa hari yang lalu. Sun Do meminta nomor telepon Byung Chun yang bisa dihubungi. Manager memberikannya dan mengatakan kalau dia sudah menghubungi Byung Chun namun tidak teleponnya tidak diangkat.
Wook Gi gelisah, barang yang sedaritadi dicarinya sama sekali tidak ketemu. Wook Gi mencoba menelepon Ibunya dan bertanya apa Ibunya melihat tas yang dibawa Duk Gi, sang Ibu menjawab tidak. Tetapi kenyataannya, tas tersebut ada pada Ibu Duk Gi. Dia dan suaminya menyembunyikan tas tersebut di sebuah rumah.
 
Chae Ryung dan Ae Ryung terlihat senang mempersiapkan makan siang untuk Ayah mereka sementara Ayah mereka justru sedih karena harus berhenti dari kantor yang merupakan tempat kerjanya selama bertahun-tahun.
Saat Ayah sedang berbenah dan merapikan barang yang akan dibawanya, Ayah terlihat sedih saat memasukkan barang-barang yang dihadiahkan kepadanya. Pena, dua buah uang 20 dolar, kacamata, lem, bantalan kursi.

Ingatan Ayah kembali melayang ke saat-saat bahagia itu.

=Flashback=
Chae Ryung, Ae Ryung, Ho Ryung dan Man Soo terlihat berlarian masuk ke dalam rumah. Di belakang punggung mereka tersembunyi sesuatu.
“Ayah ini pena, Ayah bisa menggunakannya untuk waktu yang sangat lama” ucap Ho Ryung senang dan memeluk Ayah
“Seperti yang sudah kamu duga, ini adalah uang 20 dolar. Uang ini melambangkan panjang umur dan aku berharap karir anda seperti uang ini juga” ucap Man Soo
“Ayah, jangan bekerja terlalu keras, ini kacamata untukmu” ucap Ae Ryung
Kali ini giliran Sook Hee 
“disini, tidak ada hadiah yang lebih bagus dari ini”
“bagaimana bisa lem super menjadi hadiah Bu?” tanya Ho Ryung heran
“jadilah seperti lem, menempel dengan pekerjaanmu dan jangan pernah jatuh, jangan pernah dipecat ataupun keluar sampai semua anak-anakmu menyelesaikan studi mereka dan menikah, oke?” jawab Sook Hee senang dan memberikan lem super kepada suaminya.
Chae Ryung sedikit cemburu “Oh, Ibu, itu seharusnya menjadi milikku?” keluh Chae Ryung
“bagaimana itu milikmu? Ibu membelinya dengan uang sendiri?” tanya Sook Hee
“bukan itu, maksudku…. Ini adalah bantal magnetic, jika Ayah menggunakannya, Ayah tidak akan pernah bisa melepaskannya” ucap Chae Ryung senang
Sook Hee merebutnya dari tangan Chae Ryung “bagaimana bisa, lihat, jika Ibu menariknya itu akan terlepas, tidak ada di dunia ini yang dapat mencegahnya dari jatuh selain lem super”
Chae Ryung tak ingin kalah dari Ibunya “Siapa di dunia ini yang memberikan lem super di hari pertama suami mereka bekerja?”
Ayah dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Sook Hee dan Chae Ryung, terutama Ayah.

=Flashback end=

Ayah Jong Suk heran melihat istrinya yang tampak sangat gelisah. Alasannya tidak lain adalah Jong Suk. Ibu Jong Suk bertanya bagaimana perkembangan selanjutnya tentang Byung Chun. Ayah Jong Suk menjawab kalau dia sudah mengirim Byung Chun ke luar negeri dan memberinya sejumlah uang. Mereka kemudian membagi tugas, Ayah Jong Suk akan mendekati keluarga Duk Gi sementara istrinya akan memata-matai keluarga Chae Ryung.
Tidak butuh waktu lama bagi Ayah Jong Suk. Setelah berdiskusi dengan Istrinya dia menemui Ayah dan Ibu Duk Gi. Ayah Jong Suk berusaha meyakinkan Orang tua Duk Gi agar mereka menuntut keluarga Chae Ryung dan meminta uang kompensasi. Orang tua Duk GI tentu saja senang ketika mendengar kata “UANG” karena bagi mereka uang jauh lebih penting daripada apapun yang ada di dunia ini termasuk anak mereka.
Ayah Jong Suk juga menambakan kalau tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui masalah kompensasi ini dan hubungan diantara mereka. 

Ayah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Para Karyawan telah berkumpul dan ingin mengucapkan perpisahan. Para karyawan tidak sanggup membendung kesedihan mereka ditinggalkan salah satu orang yang berdedikasi dan memiliki semangat kerja yang tinggi.
“jaga dirimu baik-baik” ucap Ayah pada sekretarisnya dan berjabat tangan
“Pak” ucap sekretaris Ayah dan tidak mampu menahan air matanya yang perlahan menetes.
Dari kejauhan terlihat Chae Ryung dan Ae Ryung yang baru saja datang. Langkah kaki mereka terhenti saat melihat Ayah mereka berpamitan dengan para karyawan.
“Ayah” panggil Chae Ryung. Ayah berbalik dan terkejut saat melihat kedua putrinya datang ke kantornya.
“mengapa kalian disini?” tanya Ayah dan mendekati kedua putrinya
“kami membawakan Ayah makan siang, tapi Ayah, apa yang kamu….?” tanya Ae Ryung
“Ayah, apa yang kamu lakukan? Apa Ayah berhenti dari perusahaan? Pemeriksaan bahkan belum keluar” teriak Chae Ryung
“mari kita bicara di rumah” ucap Ayah dan menarik tangan Chae Ryung
“dimana Bosnya? Dimana dia? Katakan padanya untuk keluar! Apa yang dia lakukan? Lepaskan, suruh dia keluar sekarang” teriak Chae Ryung histeris dan menjatuhkan kotak makan siang yang sudah disiapkan untuk Ayah.
“apa kau gila? Hentikan! Eun Chae Ryung. Apa kamu tidak dengar?” teriak Ae Ryung pada Chae Ryung
“apa?! Kesalahan apa yang sudah dilakukan Ayah? Ayah, kau tidak melakukan kesalahan, jadi mengapa? Ayah” teriak Chae Ryung dan mulai menangis
Ayah berusaha menenangkan Chae Ryung dengan memeluknya.
Dari kejauhan terlihat Hyuk Gi yang sedang memperhatikan mereka. Mimik wajah Hyuk Gi juga sedih melihat Chae Ryung. Dan tanpa disadari mereka berdua, kematian Duk Gi membawa mereka mengenal lebih jauh satu sama lain (tunggu di episode selanjutnya).
 
Ayah Jin Goo sangat marah kepada Istrinya ketika melihat kartu nama yang tertera nama Jin Goo sebagai salah satu dokter di Rumah Sakit Manin. Ibu Jin Goo beralasan kalau Jin Goo suatu saat nanti akan mewarisi rumah sakit ini jadi Jin Goo membuatnya terlebih dahulu. Ayah Jin Goo tidak terima dan mengatakan bagaimana bisa seorang yang selalu pergi ke salon, minum dan berkelahi menjadi pewaris sebuah rumah sait dan Jin Goo bukan seorang dokter. Ayah Jin Goo menambahkan kalau dia tidak ingin melihat Jin Goo seperti ini lagi dan akan mengusirnya keluar jika Jin Goo tidak berubah.

Selepas bertemu dengan suaminya, Ibu Jin Goo segera menelepon sahabatnya (mak comblang antara Jin Goo dan Ae Ryung) yang saat itu sedang mengadakan pertemuan dengan Sook Hee. Ibu Jin Goo mengatakan kalau Jin Goo harus segera menikah agar suaminya tidak marah lagi.
“Omma” ucap Jin Goo mengambil alih telepon
“kenapa kau ada disana juga?”
“aku ikut kesini karena kamu tidak membantuku, jangan khawatir Ibu” ucap Jin Goo berusaha meyakinkan dan menutup telepon

Jin Goo berusaha mencari perhatian Sook Hee dengan memijat bahunya “ah, Ibu bagaimana bisa bahumu setegang ini? Apakah karena kamu memikirkan pernikahan Ae Ryung? Jangan khawatir tentang Ae Ryung, aku akan menangani semuanya”
“bagaimana bisa?” tanya Sook Hee penasaran
“dapatkah kamu memberikanku nomor telepon Ae Ryung dan alamat rumah?”
“mengapa kamu meminta alamat rumah? Rumah kami tidak bisa dikunjungi untuk sementara waktu”
“aku tidak akan masuk, aku hanya ingin memberinya kejutan dan mengajaknya berkencan”
“jika hanya itu,… kondisi Ae Ryung tidak terlalu baik”
“Ibu, kamu tidak menolakku sebagai menantumu kan?”
“tidak, aku ingin melihat kalian berdua menikah”
“kalau begitu beritahu aku alamat rumah”
Baru saja Sook Hee ingin berbicara, Hp-nya berdering. Man Soo mengabarkan kalau pemeriksaan terhadap kematian Duk Gi telah keluar dan suaminya dinyatakan bersalah. Sook Hee sontak terkejut. Sook Hee memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kali ini dan segera pulang. Jin Goo menawarkan diri untuk mengantar dirinya pulang. Sook Hee awalnya menolak namun pada akhirnya setuju karena kondisi tubuhnya yang tiba-tiba drop.

Sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah keluarga Eun. Dua orang polisi turun dan memencet bel rumah. Man Soo yang kebetulan berada di ruang tamu terkejut saat mengetahui tamu mereka adalah polisi.
Man Soo segera memberitahu Chae Ryung dan Ae Ryung yang berdiri di depan pintu kamar mereka. “bagaimana ini, polisi sudah datang”.
Chae Ryung dan Ae Ryung panik. Mereka berdua memutuskan masuk ke dalam kamar orang tua mereka. Di dalam kamar, Ayah berpegangan pada pintu lemari, kondisinya benar-benar down.
“Ayah, kau baik-baik saja?” tanya Chae Ryung khawatir. Ayah berbalik dan merasa ingin jatuh. Chae Ryung dan Ae Ryung segera memegangi Ayah mereka namun tidak mampu menahannya.
“Ayah, Ayah” panggil Chae Ryung dan Ae Ryung pada Ayahnya yang pingsan dan tak sadarkan diri. Ayah tidak menjawab dan membuat ke dua putrinya menjadi sedih dan histeris.

Written by : Ooppie Rf & Dewi Rf @ Pelangidrama.net
Picture by : Dewi Rf @ Pelangidrama.net

BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA



0 comments:

Post a Comment


Friend Link List