Recent Post


[Sinopsis] Ob/gyn - Obstetrics and Gynecology Doctors Episode 02

Do you want to share?

Do you like this story?


Aku tidak yakin apa yang akan dipilih bayi. Kelahirannya tak akan pernah terdaftar, dan dia tak akan pernah memiliki nama. Dia akan disebut ‘bayi jadi-jadian’, anak seperti apa dia, mirip siapa, ibunya tak akan pernah ingat. Keberadaannya harus menjadi rahasia. Dia akan tetap sebagai sesuatu yang mematahkan hati orang-orang.
Tidak ada yang lahir hanya untuk menghancurkan hati orang, bayi yang tidak mendapatkan perhatian, ini ibu dan ayah yang akan memberi perhatian.

Episode 2
"The Many Secrets of the O & G Dept
"
(Episode yang menguras air mata)
Dokter Seo berusaha menyelamatkan Yoon Jin.
Lalu tiba-tiba dokter Lee yang telah berpakaian seragam operasi masuk.
“Tidak menangis, denyut jantung 60. BP (tekanan darah) 62 ini tekanan asfiksia”lapor suster padanya.
Dokter Lee pun mencoba memberikan pertolongan pertama pada sang bayi. Kondisi sang ibu pun mulai lemah, monitor mulai mengindikasikannya. Dokter Seo memerintahkan agar menggantung darah lebih banyak.
“Menyerahkan bayi ke unit neonatal dan berkonsetrasi pada operasi ini”tambah dokter Seo. Dokter Ahn pun mengerti. Tiba-tiba dokter Lee menoleh ke arah dokter Seo ia merasa familiar dengan suara yang di dengarnya. Lalu ia pun kembali fokus ke penyelamatan sang bayi.
“Saturasi (oksigen) 70”lapor suster Young Mi.
“Pindahkan bayi ke ruang NICU (Neonatal intensive care unit)”perintah dokter Lee.
“Jangan menyerah untuk bertahan hidup”pinta dokter Seo dalam hati pada sang pasien.
Dokter Lee dan suster Young Mi pun membawa sang bayi ke ruang NICU. Bayi yang sudah dalam inkubator pun dipasangi perlengkapan pernafasan. Monitor pengindikasi terus menunjukkan kenaikan.
“Saturasi (oksigen) 80”lapor suster. Dokter Lee pun sedikit merasa putus asa.
Kembali ke ruang operasi, dokter Seo akan memisahkan plasenta yang akan menyebabkan pendarahan akan parah.
“Anda bahkan tidak akan memotong akar”tanya dokter Ahn.
“Kau tidak melihat situasi”.
“Tapi masih plasenta perkreta”ucap dokter Ahn.
“Jika kau tidak dapat menyelamatkan rahim, setidaknya selamatkan pasien. Apa kau tidak tahu siapa ini?”ujar kepala Jung.

Monitor terus berbunyi pasien dalam keadaan bahaya. Kepala Jung semakin panik, sedangkan dokter Seo fokus berusaha menyelamatkan sang pasien.
“Ini terlalu berbahaya! Pendarahan tidak akan berhenti!”lapor dokter Ahn. Darah terus saja mengalir tanpa berhenti.
“Apa yang akan anda lakukan?”tanya dokter Ahn. Bukannya menjawab dokter Seo malah meminta Kelly penjepit.
“Aku akan menjepit arteri rahim”jelas dokter Seo. Lalu mulai melakukannya. Dokter Ahn, dokter Tae Joon mulai pecah konsentrasi terus memperhatikan dokter Seo yang fokus dan tak menyerah menyelamatkan pasien.
Dokter Seo berhasil menemukan arteri rahim. Dokter Seo pun meminta penjahit.
“Mulai sekarang kita akan menjahitnya”jelas dokter Seo. Dokter Ahn pun meminta peralatan yang dibutuhkan dokter Seo dan memberikan padanya.
Dokter Seo fokus menjahit dan keadaan monitor pengindikasi hidup pasien bergerak stabil dan normal.
Kepala Jung mencari dokter Seo yang ternyata ada di ruang wastafel pencuci tangan.
“Mengapa kau mematikan teleponmu. Kau jelas-jelas diperintahkan untuk berada dalam proses operasi untuk mendukung kami”cecar kepala Jung.
“Sejak mendekati tanggal jatuh. Kau harus membatalkan makan malam dan minum-minum. Apa yang kau pelajari selama ini?”teriak kepala Jung.
“Maafkan aku”ucap dokter Seo lalu melangkah pergi tanpa mendengarkan omelan kepala Jung.
“Apa yang akan kau lakukan dengan kondisi bayi?”teriak kepala Jung kesal.
Dokter Seo mengambil air minum. Seo Jin yang menunggu menghampirinya.
“Seperti yang diharapkan dari Seo Hye Young. Bagus”puji Seo Jin. Dokter Seo tersenyum getir.
“Saat aku mendengar hal-hal seperti itu aku merasa di dorong, seolah-olah aku mendapat suntikan obat. Tapi aku pikir sekarang obat yang telah memudar”ujar dokter Seo lalu berlalu seraya meminum air yang diambilnya.
Keesokannya di depan rumah sakit telah banyak wartawan berdatangan untuk mencari informasi mengenai pasie Lee Yoon Jin.
Salah seorang wartawan menanyakan keadaan Yoon Jin saat dokter Wang tiba bersama suster Sook Jung dan Young Mi. Dokter Wang pun tak menjawab ia segera berlalu, menyerahkan suster Sook Jung dan Young Mi untuk menjawab.
“Apakah ibu dan bayi sehat?”tanya wartawan.
“Ya, Halo. Aku kepala perawat dan bertanggung jawab atas kasusnya, Lee Jung Sook. Seperti yang aku lihat, Lee Yoon Jin….”jawab suster Sook Jung.
Sementara itu Yoon Jin yang sudah agak sehat termenung di kamarnya meratapi kenapa keinginannya tak terkabul.
Di ruang administrasi telepon terus berdering menanyakan kasus Yoon Jin.
“Ugh, itu menjijikan”keluh suster Sook Jung.
“Aku tahu… aku merasa begitu kasihan padanya. Ketenaran tidak menjamin semuanya”jawab suster Young Mi.
“Tidak ada makan siang gratis. Kau juga akan dipergunjingkan sebagai imbalan untuk menjadi terkenal atau kaya. Jika kau tidak ingin itu, kau hanya harus hidup sebagai orang normal”jelas suster Sook Jung.
“Pokoknya, evaluasi rumah sakit lusa. Bagaimana jika mereka masih ada saat itu?”tanya suster Sook Jung.
“Mereka tidak bisa”jawab suster Young Mi.
Di ruang NICU dokter Lee memeriksa bayi Yoon Jin.
Tiba-tiba monitor berbunyi,dokter Lee pun memeriksa denyut jantung yang tertera di monitor , denyut jantung sang bayi pun kembali normal.
“Berapa banyak urin yang dikeluarkan?”tanya dokter Lee.
“10 ml”jawab suster.
“Aku akan melakukan analisis gas darah arteri. Panggil untuk pendukung. Infantogram”ujar dokter Lee. Suster yang menemani dokter Lee pun mengerti.
“Bayi, jadilah kuat”guman dokter Lee seraya tersenyum.
Dokter Seo berjalan di lorong rumah sakit , ia pun melihat Yoon Jin dan ibunya yang sedang bertengkar. Karena Yoon Jin tak mau diajak menemui bayinya.
“Mengapa kau datang ke sini! Aku tidak akan pergi!”seru Yoon Jin.
“Apakah kau akan meninggalkan anak yang kau lahirkan. Apakah kau berpikir keluarga suamimu akan merawatnya”balas ibu Yoon Jin.
“Bahkan jika mereka membuangnya, mereka akan mendirikan semacam fasilitas ata u taktik dengan nama lain sebelum mereka lakukan. Biarkan saja mereka melemparnya keluar!”teriak Yoon Jin. Yoon Jin pun menoleh dilihatnya dokter Seo memandangnya dengan serius. Yoon Jin pun bersiap kembali ke ruangannya tiba-tiba dokter Lee yang baru saja keluar ruangan memanggilnya.
“Yoon Jin-ssi”. “Halo”sapa dokter Lee.
“Kondisi bayi agak stabil sekarang. Dia mengalami kesulitan bernafas setelah lahir, tapi sekarang bernafas terjaga dengan obat-obatan. Dia masih menggunakan alat bantu pernafasan tapi ada nafas spontan juga, jadi jika terus begini kita bisa mengerluarkan dia dari alat bantu pernafasan dalam beberapa hari”lapor dokter Lee. Namun sepertinya Yoon Jin enggan mendengarkannya.
“Karena bayi lahir premature dan telah down syndrome, sulit untuk mengatakan apa-apa dengan pasti, namun dia masih menahannya dengan baik. Kita akan mengetahuinya besok. Dan dia tidak memiliki cacat jantung, namun itu tidak parah, jadi kita tidak perlu untuk mengobatinya sekarang”tambah dokter Lee.
Yoon Jin pun berkomentar,”Apakah anda pikir aku bersyukur?”.
Dokter Lee pun bingung,”Maaf?”.
“Kenapa dia tidak bersyukur sama sekali meskipun aku menyelamatkan bayinya?”jelas Yoon Jin.
Dokter Lee pun paham sekarang.
“Kami tidak melakukan pekerjaan kami untuk mendapatkan ucapan terima kasih dari siapa pun”jawab dokter Lee. Yoon Jin pun hanya bisa menahan kesal.
Dokter Seo kembali ke ruangannya. Tiba-tiba seorang suster melapor bahwa pasien Kim Yoen Hee (pasien yang minta janinnya dites darah itu lho) ada di sana kembali.
“Apa harus saya lakukan?”tanya suster.
“Katakan padanya untuk masuk”jawab dokter Seo.
“Ya”.
Dokter Seo pun teringat kata-kata Yoen Hee yang ingin mempertahan bayinya.
Dokter Seo telah bersiap melakukan tes darah pada sang janin.
Dengan melihat dari layar USG dokter Seo pun menusukkan jarum dari pusar sang pasien. Jarum pun di arahkan ke sang janin untuk diambil darahnya.
Dokter Seo pun menyerahkan jarum suntik yang telah berisi darah pada suster untuk dibawa ke ruang laboratorium.
“Kau lihat sang bayi kan?. Dia baik-baik saja”ujar dokter Seo.
“Itu akan butuh waktu lama?”tanya Yoen Hee.
“Tes lain butuh beberapa hari, tapi tes darah hanya beberapa jam”.
Yeon Hee pun tersenyum, “terima kasih”ucapnya.
“Aku hanya melakukannya karena memberikan kesempatan terakhir untuk bayi”jawab dokter Seo lalu berlalu pergi.
Dokter Seo dan seorang suster yang menemaninya ke ruangan Yoon Jin di rawat namun kamar itu kosong. Dokter Seo pun melihat ke sekeliling namun tak ditemukan tanda-tanda Yoon Jin di sana. Dokter Seo pun bergegas keluar mencarinya.
Di tengah jalan dokter Seo bertemu dokter Lee.
“Pernahkan kau melihat Lee Yoon Jin?”tanya dokter Seo.
“Tidak, belum”.
Dokter Seo pun kembali bergegas mencarinya namun dokter Lee menahannya.
“Dokter Seo”panggil dokter Lee. Dokter Seo pun berhenti.
“Jangan lari”pinta dokter Lee. Lalu dokter lee berbisik di dekat dokter Seo,”ini awal kehamilanmu”.
“Kenapa kau tidak menyebarkannya?”seru dokter Seo lalu bergegas pergi mencari Yoon Jin kembali. Dokter Lee pun mengikutinya.
Ternyata adegan tadi di lihat suster Sook Jung, Young Mi dan dokter Ahn.
Mereka pun bingung dan penasaran.
“Apakah dokter Seo tuli? Kenapa dia berbisik-bisik?”tanya suster Sook Jung.
Dokter Ahn pun memberi tanda pada suster Sook Jung dengan memukul-mukulkan gelas minumannya.
Di atas atap rumah sakit Yoon Jin termenung sendirian. Dokter Seo yang di susul dokter Lee pun tiba di atas atap. Dokter Seo segera menghampiri Yoon Jin.
“Dunia ini begitu kejam, bukan?”ujar Yoon Jin. “Sampai kemarin, aku pasien VIP dan presiden sendiri keluar untuk menyapaku. Lalu bahkan suamiku berkomunikasi melalui proxy”.
“Mari kita pergi ke bawah. Di sini dingin”ajak dokter Seo.
“Kenapa kau menyelamatkannya?”tanya Yoon Jin pada dokter Seo.
“Kenapa kau begitu berusaha keras menyelamatkannya?”ujar Yoon Jin pada dokter Lee.
“Apakah kau tidak mengerti? Tak seorang pun akan datang untuk melihatnya “tambah Yoon Jin.
“Bayi lebih kuat dari ibunya”ucap dokter Lee. “Bayimu berjuang untuk hidupnya sepanjang malam. Dia memiliki cacat jantung, paru-paru belum matang, membuatnya sulit untuk bernafas dan ia bahkan tidak bisa memberitahu kita sakit. Tapi ia tetap selamat. Sekarang bayimu membutuhkan seseorang untuk mengatakan padanya’bagus’, ‘kau sungguh berani’, seseorang yang mendorongnya”ujar dokter Lee.
“Perwakilan itu bisa melakukan itu. Sejak ayah bayi mengirim dia dan semua”jawab Yoon Jin. “Aku akan turun, suamiku mengirim surat cerai aku harus melihatnya”. Yoon Jin pun berjalan pergi.
Dokter Seo menahan Yoon Jin.
“Pergi melihatnya sekali saja”pinta dokter Seo.
“Aku tidak mau”seru Yoon Jin.
“Apakah ada yang memintamu untuk merawatnya. Bayi begulat kematian untuk bertahan hidup. Jadi apa yang salah dengan menunjukkan padanya wajah ibuny sekali?. Kau berpura-pura begitu murah hati pada dunia. Bagaimana kau bisa begitu pelit pada anak sendiri?”cecar dokter Seo.
“Orang-orang memberiku uang dan kehormatan. Apa yang bisa anak berikan padaku?. Rasa bersalah? Sebuah beban? Sebuah usikan hati nurani?”seru Yoon Jin.
Dokter Lee yang diam mendengarkan sedari tadi menjawabnya,”kelegaan”.
“Ketika mereka tidak bisa melihat sesuatu yang buruk, orang membayangkan untuk menjadi jauh lebih buruk daripada itu. Jadi mereka merasa lebih takut saat mereka tidak bisa melihatnya. Tetapi saat kau benar-benar melihatnya. Kekhawatiranmu akan dipotong setengah dan saat kau menghadapi itu, akan dipotong setengah lagi”jelas dokter Lee. Yoon Jin pun berkaca-kaca mendengarkan perkataan dokter Lee.
“Yoon Jin-ssi. Apakah kau tidak penasaran bayimu terlihat seperti siapa?”lanjut dokter Lee. Yoon Jin pun meneteskan air mata.
Di ruangannya dokter Seo membacakan hasil tes pasien Yoen Hee. Yoen Hee pun menunggu dengan harap-harap cemas. Dokter Seo pun tersenyum melihat hasilnya.
“Type O”ujar dokter Seo.
Yoen Hee pun terpana tak percaya. “Benarkah?”. “Oh, dokter, terima kasih! Terima kasih”ucap Yoen Hee.
“Tuhan, Buddha, terima kasih banyak”ucap Yoen Hee bahagia tak terkira.
“Selamat dari lubuk hatiku”ucap dokter Seo.
Sepulang dari rumah sakit Yoen Hee menelepon selingkuhannya agar tak menghubunginya karena Yoen Hee akan mengganti nomor teleponnya dan lagi pula bayi yang dikandungnya anak suaminya. Ia pun ingin mempunyai kehidupan yang baik begitu pula dengan selingkuhannya. Dan menyuruh mereka saling melupakannya karena Yoen Hee. Yoen Hee pun menutup teleponnya bersamaan dengan suaminya yang menghampirinya. Sang suami pun memberikan jus tomat yang di dibawanya. Mereka pun berjalan pulang seraya membahas makanan apa yang diinginkang sang istri, sang suami akan mencarinya walaupun ia harus mencari ke mana pun.
Malam harinya, dokter Lee sudah berada di ruang NICU, ia pun tersenyum melihat bayi Yoon Jin tenang. Dan ternyata Yoon Jin mendatangi ruang NICU walaupun hanya di luar ia memandang inkubator tempat bayinya dirawat. Yoon Jin pun berniat pergi namun tiba-tiba monitor pendeteksi kehidupan bayi berbunyi. Dokter Lee pun segera mengeceknya dan Yoon Jin kembali menoleh ke arah sang bayi. (lagu You’re My Everthing mengalun dengan sedihnya, episode yang penuh air mata *nulis sambil nangis ni, scene yang bisa meneteskan air mata walaupun hanya nulis*).
Dokter Lee terus memeriksa sang bayi, Yoon Jin melihatnya dengan harap-harap cemas. Ia pun berniat pergi namun diurungkannya kembali ia tak tega melihat penderitaan bayinya. Ia pun menoleh kembali sang bayi, sang bayi yang berjuang antara hidup dan mati pun seolah-olah tersenyum membuka matanya, air mata Yoon Jin pun mengalir begitu pula air mataku hikhikhikhikhik. Dan ternyata dokter seo pun datang ke ruang NICU, ia pun melihat Yoon Jin yang memperhatikan bayinya.
Dokter Lee pun tersenyum karena sang bayi mampu melewati masa kritis, lalu ia menoleh dilihatnya Yoon Jin berada di luar kaca menahan tangis.
Yoon Jin pulang dijemput ibunya, dokter Lee pun mengambil Koran yang memberitakan perceraian mantan penyiar Lee Yoon Jin dengan suami kayanya begitu anak lahir. Di pintu keluar Yoon Jin bertemu dengan dokter Seo, Yoon Jin pun memberi hormat pada dokter Seo, dokter Seo pun tersenyum. Dokter Seo pun menghampiri dokter Lee.
“Apakah kau pikir dia akan kembali? Dia akan datang kembali untuk mengambil bayinya,kan?”tanya dokter Seo.
“Ya. Karena bayi telah mengampuni ibunya”jawab dokter Lee.
Keesokan paginya dokter Seo bersiap ke rumah sakit mengendarai mobilnya.
Tiba-tiba dokter Ahn menyapanya.
“Kepala, anda tinggal di sini?”sapa dokter Ahn.
“Halo”sapa dokter Seo yang dibalas dokter Lee.
“Wah, dinginnya. Selamat pagi”sapa dokter Wang yang juga datang tiba-tiba.
Dokter Seo pun agak terkejut.
“Kenapa kau begitu terkejut?”tanya dokter Wang. “oh, kau tidak tahu? Rumah sakit mengembangkan seluruh kompleks. Mereka mungkin memblokir kita bersama untuk membuat perawatan lebih mudah. Itu rumahku”lanjut dokter Wang.
“Dan ini rumahku”tambah dokter Ahn seraya menunjuk ke arah rumahnya.
“Sampai bertemu di rumah sakit”ucap dokter Wang pamit, yang diiyakan dokter Seo.
Begitu pula dokter Ahn juga pamit pada dokter Lee lalu dokter Seo dan menyusul dokter Wang.
Dokter Lee pun menghampiri dokter Seo.
“Aku pikir aku sudah sering berlari ke arahmu. Jadi ada alasan?”ujar dokter Seo lalu masuk ke dalam mobil. (karena dokter Seo sering lari-lari kalau bertemu dokter Lee jadi dia mau naik mobil hahaha). Dokter Lee pun mengetuk kaca mobil dan dokter Seo pun membukanya.
“Bagaimana perasaanmu?”tanya dokter Lee.
“Kau seorang yang terlalu peduli pada orang lain”.
“Huh..ya…itu kepribadianku”jawab dokter Lee. Sepertinya dokter Seo merasa tak enak dengan sikap dokter Lee.
“Aku berharap jika kau berhenti”ucap dokter Seo.
“Ah, ya…”.
“Ini akan sangat baik jika kau tidak membuat keributan, kehamilanku sebagai rahasia besar. Aku akan mempercayaimu”lanjut dokter Seo lalu segera berlalu tanpa menawarkan tumpangan pada dokter Lee hahaha.
“Repotnya”guman dokter Lee.
Asisten direktur, chief Oh Jae Ho menjelaskan tempat-tempat mana saja yang akan di renovasi pada kepala suster Sook Jung dan beberapa stafnya.
“Kepala, mari kita mengambil suara”enterupsi suster Sook Jung yang diiyakan salah seorang pegawai pelaksana renovasi.
“Haruskah itu?”tanya chief Oh Jae Ho. Yang diiyakan suster Sook Jung dan yang lainnya.
Salah seorang pegawai renovasi pun mulai melakukan vote, ia pun menyarankan tempat mana bagus. Suster Sook Jung dan 2 suster stafnya pun mengangkat tangan. Pegawai renovasi pun memutuskan itu sebagai pemenang suara terbanyak.
Chief Oh Jae Ho tak terima.
“Ini tidak sopan untuk mengabaikan pendapat minoritas. Mengapa kau pikir itu tidak baik di sini?”tanya chief Jae Ho.
“Karena itu di samping tong sampah”jawab suster Young Mi. chief Jae Ho dan para pegawai renovasi pun menoleh ke arah tempat yang ada tong sampahnya itu.
“Oh ada tempat sampah di sini bisa… itu tidak baik”pikir chief Jae Ho.
Pegawai renovasi yang sepertinya kepalanya menyuruh barang yang mau dipasang dibawa keluar.
“Konsultasikan dengan rekan kerja dulu baru silahkan hubungi kami. Jika anda terus menunda bagaimana bisa saya melukan pekerjaan saya yang lain”serunya.
“Tapi ada tempat sampah bisa ada….”jawab seru chief Jae Ho namun menghentikan kata-katanya karena melihat dokter Lee lewat.
“Ohhh…Mr. Lee!”.
“Eh, ya” lalu dokter Lee menghampir mereka.
“Apakah kau tahu di mana kita dapat menempatkan sebuah dispenser air?”tanya chief Jae Ho. Oh yang mau dipasang dispenser ai ta, lha kalau di dekat tong sampah mah siapa yang mau minum hahaha. Suster Sook Jung yang sudah malas berdebat bergegas pergi bersama suster Young Mi.
“Ya..karena dalam tempat kerja adalah suatu keharusan…”.
Suster Sook Jung pun ngedumel di perjalanannya bersama suster Young Mi.
“Mengapa kau harus membawa sampai itu. Apakah kau ada perdagangan kecerdasanmu dengan permen?. Dr. Lee membuatku menaiki dinding, mengapa dia akan menunjukkan arahnya”guman suster Sook Jung.
Dr. Lee pun berusaha menjelaskan letak dispenser yang bagus sesuai dengan arah mata angin. Tiba-tiba dokter Wang memanggilnya untuk ke konferensi.
Dokter lee pun mengiyakan lalu menyusul dokter Wang smeentara chief Jae Ho masih bingung di mana dispenser harus diletakkan.
Dokter Seo turun menuruni eskalator dilihatnya Seo Jin telah menunggunya.
Karena Seo Jin nampak tak menyari kedatangan dokter Seo, dokter Seo pun berjalan melewatinya. Namun dengan segera Seo Jin berjalan di samping dokter Seo.
“Mari kita makan bersama”ajak Seo Jin. “Apakah istirahat makan siangmu di lantai 12?”
“Aku punya banyak pekerjaan hari ini”jawab dokter Seo.
“Cobalah untuk meluangkan sedikit waktu, mari kita bahas tentang penempatan rumah sakit, tempat ini tidak sesuai denganmu”.
“Aku suka di sini”jawab dokter Seo senang.
“Apa yang kau sukai?”.
“Ubah passwordmu. Berhenti datang ke sini”jawab dokter Seo. Dan ternyata percakapan itu di dengar suster Sook Jung dan Young Mi yang berdiri tak jauh dari mereka. Tapi tiba-tiba direktur rumah sakit datang.
“Apa yang membawamu kemari?”tanya direktur. Dokter Seo dan Seo Jin pun memberi hormat.
“Oh, lama tidak bertemu”sapa Seo Jin.
“Apa yang membawamu kemarin tanpa pemberitahuan?”tanya direktur.
“Oh…aku ingin pergi melihat evaluasi rumah sakit”jawab Seo Jin.
“Menjadi prihatin tentang suatu tempat setelah di angkat ke posisi yang lebih tinggi, kau pasti berubah”ujar direktur. Seo Jin tersenym lalu berkata pada dokter Seo,”lalu, aku akan melihat nanti”. Dokter Seo pun pamit pergi.
“Aku pikir pembangunan berjalan baik, anda ingin menunjukkan sekitarnya”ujar Seo Jin. Direktur pun setuju ia pun memandu Seo Jin melihat-lihat.
“Apakah dia datang benar-benar datang untuk menilai rumah sakit? Dia sudah tahu dia pindah rumah sakit dan datang ke sini”pikir suster Sook Jung.
“Itu benar”jawab suster Young Mi.
“Apakah mereka pacaran?”tanya suster Sook Jung.
“Artinya mereka putus”jawab dokter Wang yang asyik membaca Koran dan ternyata mendengar percakapan kedua suster tersebut.
“Benar, jika mereka putus itu berarti mereka harus pergi keluar”ujar suster Sook Jung yang sudah duduk di samping dokter Ahn yang asyik memperhatikan laptopnya. .
“Kau memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan kau memiliki energi untuk peduli tentang hal-hal seperti itu?”tanya dokter Wang.
“Ini bukan energi tetapi hanya firasat”jawab suster Sook Jung. Eh ternyata dokter Ahn sedang melihat-lihat cincin di internet buat melamar ari kah bwahahaha mimpi di siang bolong*.
Dokter Seo mengajak dokter Ahn pergi ke klinik.
Dokter Ahn pun mengiyakan, ia mengambil catatan yang diulurkan dokter Wang, lalu bergegas menyusul dokter Seo dan sebelumnya menengok layar laptopnya.
Suster Sook Jung pun mengintip layar laptop yang dibuka dokter Ahn tadi dan berkata,”harus memiliki banyak uang”.
“Siapa?”tanya suster Young Mi.
“Dokter Ahn”.
“Dia tidak punya uang”ucap suster Young Mi.
“Kencan?!”pikir suster Sook Jung.
“Tidak”jawab suster Young Mi cepat. Dokter Wang menatap suster Young Mi dengan atatapan aneh.
“Maksudku dokter Ahn. Dia melihat beberapa cincin. Mengapa cincin pasangan begitu mahal? Apakah cinctin kawin atau?”ujar suster Sook Jung. Suster Young Mi pun bergegas ikut melihat layar laptop.
“Ahhhh, itu cantik”guman suster Young Mi.
“Bilang dia berkencan”ucap suster Sook Jung.
“Aku bilang dia tidak….”jawab suster Young Mi.
“Bukan kau, maksudku dokter Ahn”.
“Tapi, yang satu ini cantik, bukan?”ujar suster Young Mi.
Dokter Wang pun tertawa kecil dan melirik ke arah suster Sook Jung.
Konferesi pun dimulai dan di pimpin direktur rumah sakit, direktur memberitahu bahwa ada evaluasi seluruh rumah sakit untuk hari dan besok.
“Tentu saja penting untuk mengungkapkan hasil evaluasi tetapi tidak hanya sekedar untuk evaluasi. Tetapi juga untuk kesejahteraan rumah sakit aku meminta staf untuk sepenuhnya kooperatif ”sahut chief Jae Ho.
“Apakah kau menghafal hak-hak pasien?”tanya Chief Jae Ho pada dokter Ahn.
“Eh..ya. seorang pasien memilik hak untuk…pasien memiliki hak untuk…”jawab dokter Ahn seraya mengingat-ngingat namun hanya berputar-putar.
“Lihatlah ini….bagaimana denganmu?”tanya chief Jae Hoo pada dokter Tae Joon yang duduk di samping dokter Ahn.
“Seorang pasien memiliki hak untuk menerima perhatian dan cinta…Eh tunggu, bukan cinta…”jawab dokter Tae Joon juga tergagap.
“Seorang pasien memiliki hak untuk mendapatkan perhatian dan rasa hormat”jelas chief Jae Hoo. Dokter Ahn dan dokter Tae Joon pun hanya bisa saling pandang.
“Semua pasien memiliki hak untuk menerima perawatan yang tulus dari staf. Semua pasien memiliki hak untuk tahu tentang pengobatan mereka lalu memutuskan sendiri. Semua pasien memilik hak untuk kerahasiannya”tambah chief Jae Hoo. Semua dokter pun mendengarkannya dengan seksama.
“Aku pikir yang terbaik untuk mengubah jadwal kerja anggota staf baru untuk hari itu. Aku merasa sedikit gugup. Hal terbaik untuk mengubah dengan benar?”keluh suster Sook Jung. Namun para suster tak setuju.
“Apakah kau menghafal hak-hak pasien?”tanya suster Sook Jung pada suster Young Mi. Suster Young Mi hanya terdiam.
“Aku tidak akan pergi jika mereka hanya minta untuk mengirimkan perwakilan. Aku dengar mereka hanya memilih secara acak dan memintamu untuk mengatakannya”jelas suster Sook Jung.
Suster Sook Jung mencatat obat-obat yang masuk dan merapikannya. Mereka pun merapikan lorong-lorong rumah sakit dan merapikan tabung pemadam kebakaran.
“Selama terjadi kebakaran, evakuasi dibagi menjadi orang-orang yang sakit kritis, sakit tidak terlalu parah dan pasien yang bisa berjalan. Kita akan bergerak keluar dan mereka bisa berjalan ditemani seorang wali”jelas suster Sook Jung.

Tim pengevalusi di temani Seo Jin telah tiba disambut direktur dan chief Jae Hoo.
Di ruang NICU,bayi yang di gendong suster Young Mi terus saja menangis.
“Bagaimana dengan bayi itu?”tanya dokter Lee yang tiba di ruangan tersebut.
“Dokter, bayi ini”ujar suster Young Mi lalu memasukkan bayi ke dalam inkubator.
“anda harus mengkonfirmasi apakah ia dehidrasi sehingga aku bisa mendapatkan susu formula bayi”lanjut suster Young Mi.
Dokter Lee pun memeriksa sang bayi yang terus menangis.
“Ini bukan dehidrasi”ujar dokter Lee.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan? Bayi lapar sehingga menangis”.
“Aku mengatakan untuk tidak memberikan susu formula karena aku takut dia tidak akan mampu mencernanya. Kau tidak perlu memberinya formula dengan botol melainkan menggunakan sendok”jelas dokter Lee.
“Tidak, aku tidak bisa dokter. Entah itu mengkonfirmasi dehidrasi atau meresepkan dekstrosa. Jika bukan 100% dari air susu ibunya bisa menyebabkan aku kehilangan poin prestasi”ujar suster Young Mi.
“Bagaimana dengan buang air keil?”tanya dokter Lee.
“Hanya dalam jumlah kecil. Popok tidak basah bahkan dalam waktu lama.
“Kita tidak harus menahan lapar bayi…”ucap dokter Lee seraya berpikir.
“Meskipun kita tidak bisa memberikan itu, tidak apa-apa jika orang tuanya melakukan itu, kan? Beritahu orang tuanya untuk membeli susu formula bayi. Namun tidak memberinya minum dengan botol tetapi menggunakan sendok dengan jumlah kecil”lanjut dokter Lee.

“Aku tidak bisa memberitahu mereka langsung seperti itu. Mereka hanya membeli dan memberi makan bayi karena kami tidak menyuruh mereka, maka tidak akan menjadi masalah. Apa yang harus aku lakukan dokter? Jika bayi dibiarkan lebih lama lagi maka aku pikir, anda akan mengkonfirmasinya sebagai dehidrasi”ujar suster Young Mi.
“Tidak, bagaimana kita mengatakan bayi kelaparan sebagai dehidrasi?”jawab dokter Lee.
“Baiknya memberinya makan sedikit dekstrosa”lanjut dokter Lee. Suster Young Mi pun mengerti lalu bergegas pergi.
Sepeninggalan suster Young Mi, dokter Lee bercengkrama dengan bayi.
“Apakah kau lapar?”seraya menimang-nimang bayi.


Suster Young Mi memberi minum bayi yang menangis tadi dengan botol (air yang dicampur dengan gula) seraya menimang-nimangnya. Sang bayi pun minum dengan tenang. Tiba-tiba dokter Seo dan suster Sook Jung datang melihat hal tersebut.
“Apakah kau memberinya makan dekstrosa? Kau harus meminta pendestrian untuk melihatnya”ujar dokter Seo.
“Jika kita menunggu nanti bisa di diagnosis sebagai dehidrasi, tetapi bayi sudah tidak sabar. Neonatologis sudah menentukan dekstrosa dan pergi”jawab suster Young Mi.
“Dia bilang bukan susu formula bayi tapi dekstrosa?. Itulah kenapa dia meresepkan dekstrosa”tanya dokter Seo.
“Aku mempunyai anak yang lahir secara caesar. Bekas luka operasi tidak memperbaiki dan rasa sakit terus menerus tetapi ketika mereka membangunkanku setiap 2 jam untuk menyusui, naluri keibuan lupa dan hanya marah”jelas suster Cha Young yang sedang juga berjaga di ruangan itu.
“Tapi kalau itu bukan susu ibu 100% maka poin cela dikurangkan untuk rumah sakit”ujar suster Sook Jung.

“Ini tidak realistis. Kau perlu memberitahu mereka untuk benar-benar pengalaman dalam caesar lalu terbangun setiap 2 jam”jelas suster Cha Young lalu bergegas pergi.
“Ada seorang ibu yang membeli susu bayi dan memberinya makan. Beri dia petunjuk tersebut”anjur dokter Seo.
“Aku bilang padanya, tetapi ibu bayi ini tidak mengerti”jawab suster Young Mi.
“Kasian kau…”desah dokter Seo seraya mengusap-usap kepala bayi.

Di ruang bersalin suster Young Mi menjawab telepon, tiba-tiba suster Sook Jung datang.
“Menjawab telepon dengan baik karena mereka berpura-pura menjadi pasien padahal tim evalusi”seru suster Sook Jung. Selesai menjawab telepon suster Young Mi segera berlari memanggil dokter Ahn di ruang tunggu.

“Dokter, ada pasien pendarahan”lapor suster Young Mi.
Dokter Ahn yang asyik menulis laporan di samping laptopnya segera bergegas.
“Benarkah? Terima kasih”ucapnya seraya berlalu.

Dokter Ahn dan dokter Tae Joon pun menjemput pasien yang datang dengan ambulans. Pasien pun segera di bawa ke ruang operasi.
Persiapan di ruang operasi pun dikakukan.
“Karena dia tiba-tiba akan melahirkan, dia mengalami pendarahan dari rahimnya”lapor dokter Ahn pada tim dokter lainnya.
“Sel darah merah jumlahnya 3,8. Kita perlu melakukan histerektomi darurat”jawab dokter Tae Joon.

Dokter Ahn pun meminta suami menandatangani surat persetujuan.
Namun sang suami tidak mau.
“Bagaimana aku bisa menyetujui ini saat Anda mencoba untuk mengambil rahim keluar”seru sang suami yang ditemani ibu mertuanya.
“Kau harus menandatangani, sehingga kami bisa melakukan operasi”ujar dokter Ahn.
“Apakah mengangkat rahim satu-satunya cara?”tanya ibu pasien.
“Ya”jawab dokter Ahn.
“Apa yang bisa kita lakukan menantu?”tanya ibu pasien pada menantunya.
“Untungnya bayi sehat…meskipun itu seorang perempuan. Tidak ada cara, apa yang bisa kita lakukan?”lanjutnya. Sang suami pun hanya bisa menarik nafas.
“Eh, jika kita tidak segera melakukan operasi, hidupnya akan dalam bahaya”jelas dokter Ahn. Ibu pasien pun terkejut.
“Jangan menakut-nakuti kami”seru sang suami.
“Aku tidak berusaha menakut-nakuti siapapun, ini darurat!”jelas dokter Ahn.
“Aku tidak melihatnya seperti itu”teriak sang suami.

Tiba-tiba mertua pasien, ibu sang suami datang.
“Apa yang terjadi?”tanyanya.
“Mereka tidak bisa menyelamatkan rahim, sehingga mereka ingin mengeluarkannya!”jawab anaknya.
“Ini darurat”tegas dokter Ahn. Ibu sang suami pun tak terima.
“Jika ada sedikit pendarahan kita bisa mencoba itu, tapi putrimu tidak akan ada saat itu”jelas dokter Ahn , anak pasien yang sudah besar pun mendekat ke arah neneknya yang sedari tadi hanya mendengarkan . Ibu sang suami pun mencoba menelepon seseorang namun tak di angkat.
“Nenek aku takut”ucap anak kecil yang lebih besar.
“Ini keponakan putriku. Aku tidak bisa meninggalkan mereka di mana saja, jadi aku membawa mereka bersama, tapi mereka takut”jelas sang nenek, lalu nenek pun menyuruh mereka pergi bermain di dekitar situ.
“Jika kita tidak melakukan operasi sekarang, hidupnya akan dalam bahaya!”seru dokter Ahn, namun ibu sang suami masih tak terima.
“Apakah masuk akal untuk melahirkan seorang gadis lalu mengambil rahimnya. Apakah anda semuanya senang mengeluarkannya?”. Perdebatan ini semakin banyak dilihat pasien lain.


Tiba-tiba dokter Seo datang menghampiri mereka.
“Dokter Jung, apa yang kau lakukan?”.
“Dokter, dia menolak untuk menandatangani karena dia menginginkan anak lagi”jelas dokter Ahn.
“Dokter, aku sudah punya anak perempuan, aku butuh seorang putra”jelas sang suami.
“Idiot, jika kau mengatakan bahwa kau ingin membunuhnya?”seru dokter Seo pada dokter Ahn.
“Anda perlu anak?”tanya dokter Seo pada sang suami.
“Ya, aku perlu untuk menjaga garis keluarga agar tak hilang”.
“Dengarkan baik-baik. Jumlah darah 2,8, bahkan jika kita mengambil rahim, kemungkinan kematian lebih dari 5o %”seru dokter Seo. Para tim evaluasi pun sampai di tempat perdebatan ini.

Dokter Lee dan dokter Wang yang melihatnya penjelasan dokter Seo tersenyum.
“Karena kau tidak menandatangani, waktu yang terbuang dan hidupnya berada dalam bahaya . Jadi tingkat kelangsungan bertahan hidup 20 %. Aku perlu menyelamatkan pasien. Setelah aku menyelamatkannya, bercerai atau mencari pengganti, apapun yang kau lakukan terserah. Bahkan jika kita tidak mengambil rahim ia mungkin mati karena pendarahan. Lalu cara terbaik kau tetap tidak bisa mendapatkan seorang putra”seru dokter Seo. Sang suami pun gelagapan.
Dokter Seo mengambil surat persetujuan dan menyuruh sang suami mendatanganinya. Sang suami pun segera mendatanganinya.
Dan menyerahkan surat persetujuan yang telah ditandatanganinya pada dokter Ahn.
“Jangan melakukan suatu hal bodoh lagi”seru dokter Seo pada dokter Ahn.

Lalu dokter Seo bergegas pergi, begitu pula sebagian pasien yang menonton dokter Ahn pun hanya bisa geleng-geleng kepala hehehe.
“Apakah dia selalu begitu tidak manusiawi? Maksudku kedengarannya seperti itu”keluh sang suami.
“Istriku diambil rahimnya tapi dia mengatakan hal tentang perceraian dan pengganti. Bagaimana mungkin wanita lain begitu keras?”.
“Aku tahu. Bagaimana ia bisa mengatakan hal-hal menakutkan seperti itu? Perceraian?”timpal ibu pasien.
“Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku pikir dia ada benarnya”seru ibu sang suami.
”Mereka pasti harus menyelamatkannya. Jika mereka tidak, kemungkinanan mereka akan mengambil tanggung jawab penuh”guman dokter Wang (karena sudah dapat tanda tangan sang suami).
“Dia agak kuat”timpal dokter lain.
“Ini situasi darurat. Gelar seperti devosi diperlukan”ujar dokter Lee lalu tersenyum tapi tidak dengan Seo Jin, yang mukanya langsung cemberut begitu mendengar kata-kata dokter Lee.

Di ruang obat-obatan suster Young Mi dan Sook Jung sedang menata-nata obat.
“Itu terlalu banyak”keluh suster Young Mi.
“Serius aku belum pernah melihat ‘pertunjukan’ besar seperti itu”balas suster Sook Jung.
“Bagaimana aku bisa percaya orang seperti itu?”.
“Aku takut bagaimana kita harus bekerja dengan dia mulai sekarang”tambah suster Sook Jung.
“Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu”seru suster Young Mi dan Sook Jung bersamaan.
“Ahhh….serius”guman suster Sook Jung.
“Tak bisakah kau mendengarkanku? Jangan membuatku takut. Itu kata-kata yang pantas dikatakan untuk seorang suami sementara istrinya sedang sekarat?”tanya suster Young Mi.
“Apakah itu kata yang bisa kau katakan di depan para evaluator rumah sakit? Jika ia bertindak kuat seperti itu point akan berkurang dan kita mendapatkan evalusi rendah”seru suster Sook Jung kesal.

“Lalu gaji kita berkurang dan kita harus datang bekerja 30 menit lebih awal. Siapa yang akan melakukan itu? Hanya tim perawat seperti kita”lanjut suster Sook Jung.
“Pertama….mereka harus menyelamatkan pasien terlebih dahulu”tanggap suster Young Mi.
“Menyelamatkannya….Siapa yang bisa menghentikan mereka? Tetapi mereka harus menyelamatkannya seperti pa yang dikatakan di depan evaluator”seru suster Sook Jung. Suster Sook Jung pun memikirkan hal tersebut.

Di ruang operasi. Dokter Seo dan tim bedah lainnya melakukan operasi pengangkatan rahim pada sang pasien.
“Apakah akan baik-baik saja?”tanya dokter Ahn.
“Siapa yang tahu…dia datang dari jauh dan juga tertunda”jawab dokter Seo.
“Ibu mertuanya tidak terlihat baik. Aku khawatir dia mungkin harus bercerai setelah kita menyelamatkannya”guman dokter Ahn.
“Bahkan jika dia tidak tampak seperti itu dia akan kehilangan sesuatu yang berharga. Dia diperlakukan sebagai mesin bayi dan memiliki anak laki-laki untuk suami”ucap dokter Seo.


“Bagaimana dengan anak-anak?”tanya dokter Ahn.
“Itu hanya nasib mereka”jawab dokter Seo.
“Anda terlalu berlebihan”ujar dokter Ahn.
“Hidup memang seperti itu”.
“Bukankah ini anak pertamanya?”tanya dokter Tae Joon.
“Ini ketiga”jawab dokter Ahn. Dokter Tae Joon pun agak terkejut.
“Ini adalah pernikahan kedua wanita itu. Ketika dia bercerai, mantan suaminya mengasuh anak-anaknya”jelas dokter Ahn.
“Lalu tiba-tiba mantan suaminya mengembalikan anak-anak?”tanya dokter Tae Joon.
“Karena dia menikah lagi”jawab dokter Ahn.”Ah….ibu mertuanya tidak tahu jadi rahasiakan ini ya”.
“Aishh, aku pikir kepalaku akan pecah. Mengapa begitu banyak rahasia”keluh dokter Tae Joon.
Dokter Seo pun menyuruh mereka tenang agar dan fokus pada operasi pengangkatan rahim. Dokter Seo pun memotong rahim lalu bersiap menutupnya. Di luar ternyata Seo Jin memperhatikan jalannya operasi.

Operasi selesai, begitu keluar ruangan dokter Seo diserbu keluarga pasien.
“Bagaimana? Apakah anda akhirnya hanya mengeluarkan rahim?”tanya ibu pasien.
Yng diiyakan dokter Seo.
“Aigoo, betapa mengerikannya!”guman ibu pasien.
“Apakah operasi berjalan dengan baik?”tanya sang suami.
“Untuk saat ini kami mampu menghentikan pendarahan, tetapi kami harus menunggu dan melihat”. Sang suami pun sedikit lega.
“Dia akhirnya tidak bisa melahirkan seorang putra yang orang lain bisa”ujar ibu sang suami.
“Berhenti minum”ujar sang nenek pada anak perempuan kedua pasien.
“Bagaimana dengan ibu?”tanya anak tersebut keceplosan. Sang nenek pun gelagapan.
“Ibu pergi bekerja. Mengapa kau mencarinya di sini?”jawab sang nenek mengalihkan perhatian sang besan. Sang nenek pun mencoba memint softdrink yang diminum sang anak namun anak tersebut menolaknya karena belum habis. Tiba-tiba anak perempuan tertua pasien memukul adiknya, adiknya pun menangis. Sang nenek mencoba menenangkan mereka dengan membelikannya lagi. Eh sang kakak malah membungkam mulut adiknya hehehe. Sang besan yang tak suka keributan pun berniat pulang.
“Apakah kau akan pergi besan?”tanya ibu pasien.
“Apa yang akan aku lakukan di sini?”.
“Apakah kau melahirkan bayi? Apa yang di bawah matamu”seru mertua pasien pada anak laki-lakinya. Sang mertua pun berlalu pergi. Sang nenek yang sudah kesal pun menjitak kepala cucu keduanya. Sang cucu pun menangis. Sang kakak pun segera membungkam mulut sang adik dan menenangkannya.

Sang evaluator berkeliling ruangan rumah sakit bertemu dengan dokter Wang. Mereka pun mencoba bertanya pada dokter Wang.
“Kami punya pertanyaan. Di rumah sakit…”belum selesai mengajukan pertanyaan dokter Wang menjawab bahwa ia sedang sibuk dan bergegas pergi.
Begitu juga dengan dokter Ahn, belum selesai bertanya dokter Wang sudah mendapat telepon panggilan darurat hehehe.

Akhirnya sang evaluator pun bertanya pada dokter Seo yang sedang di ruang tunggu bersalin.
“Kau tahu bagaimana untuk mengevakuasi pasien dalam kasus kebakaran?”.
“Ya, kau membaginya dengan yang sakit kritis, agak sakit, dan pasien yang bisa berjalan. Sakit kritis akan mengungsi ke ruang penyelamatan bersama kami petugas medis. Mereka yang agak sakit akan dievakuasoi dengan tenaga medis atau anggota keluarga. Pasien yang bisa berjalan akan keluar berjalan sendiri dari bahaya”jelas dokter Seo. Suster Sook Jung dan Young Mi yang mendengarnya pun terkagum-kagum dengan jawaban dokter Seo.

Dokter Ahn pun menanyakan pada dokter Sung Mo di mana pasien darurat.
“Wanita hamil di sana”tunjuk dokter Sung Mo. Dokter Ahn pun mengguncapkan terimakasih dan segera menghampiri pasien yang ditemani suaminya.
Sang istri pun berusaha menahan sakit.
“Itu kembar. Tapi dari rumah sakit yang kami kunjungi mengatakan hal itu….apa itu…plasenta..plas…”jelas sang suami bingung menyebutkan namanya.
“Oh, plasenta previa”jawab dokter Ahn.

“Aku membawa laporan medisnya”ujar sang suami seraya menyerahkan hasil medis sebelumnya.
“Mereka mengatakan jika ia merasa sakit menyuruh kami pergi ke rumah sakit besar, jadi itu sebabnya kami datang”jelas sang suami.
Sang suami pun memberi semangat pada itrinya yang sedari tadi menahan sakit.
“Juga, selain kembar salah satunya kecil”lanjut sang suami.
“Ya, ya”jawab dokter Ahn lalu memeriksa perut pasien dengan mencoba menekannya.
“Harap jangan memberikan tekanan dan mencoba menahan rasa sakitnya”ujar dokter Ahn.
“Kami akan melakukan operasi darurat jadi silahkan pergi mendaftar”ujar dokter Ahn pada sang suami, lalu dokter Ahn berlalu pergi seraya menelepon.

Ternyata dokter Ahn menelepon dokter Seo yang sedang istirahat makan. Dokter seo pun mengerti lalu bergegas pergi dengan menyomot ayam lalu melahapnya seraya mengambil sekotak obat sepertinya kapas. Dokter Wang yang melihat dokter Seo terburu-buru puun mengulurkan sebotol softdrink yang diterima dokter Seo. Kasian dokter Seo rempong banget, kalau begini jadi ke ingat Saa, kalau lagi makan terus ada pasien darurat gimana ya.

Hal itu ternyata dilihat suster Sook Jung.
“Kau yakin merawat dirinya?”tannya suster Sook Jung.
“Dia akan kejam saat ia lapar. Aku tidak ingin membuat asisten ahli bedah menderita”jawab dokter Wang lalu bergegas pergi membawa kertas laporan yang diserahkan suster Sook Jung. Suster Sook Jung masih tak percaya dengan jawaban dokter Wang.


Sementara itu pasien yang mengandung anak kembar masuk ke ruang operasi.
Dokter Seo pun membedah perut pasien dan berusaha mengeluarkan sang bayi.
“Apakah dokter anak di sini?”tanya dokter Seo.
“Ya, mereka di sini”. Dokter Seo pun berhasil mengeluarkan seorang bayi.
“Jam 3.45 sore . Anda memiliki seorang putra”seru suster Young Mi. Dokter Ahn pun memutuskan tali pusar lalu bayi diserahkan pada suster Young Mi. Dokter Seo pun berusaha mengeluarkan seoarang bayi lagi, begitu terkejutnya dokter Seo dan dokter lain saat melihat bayi tersebut berukuran lebih kecil dan buruk rupa. Mereka pun saling pandang cukup lama. Dokter Ahn pun segera memutus tali pusar dan dokter Seo membawanya sendiri ke boks bayi di sampingnya. Suster Young Mi pun terkejut.
“Diamlah”ucap dokter Seo.
“Apa yang salah?”tanya pasien. (ehh kok nggak dibius ya?).
“Tidak ada. Hanya saja bayi tidak menangis”jawab dokter Seo menenangkan. Dokter Seo pun meminta dihubungkan ke bagian NICU, staf NICU segera menelepon ke bagian NICU dan meminta kepala NICU, dokter Lee ke ruang operasi.


Suster Young Mi bingung harus berbuat apa pada sang bayi, dokter Seo pun menyarankan agar sang bayi di dekatkan ke ibunya. Suster Young Mi pun membawa bayi pertama yang sehat ke hadapan pasien.
“Bagaiman dengan bayi yang lain? Apakah terjadi sesuatu padanya?”tanya pasien. Suster Young Mi pun tak dapat menjawabnya.
“Dokter NICU akan mengambil dan melihatnya. Kami akan membawanya pada anda setelah itu, jadi jangan khawatir”ujar dokter Seo menenangkan.
Dokter Lee pun tiba, ia pun sedikit terkejut begitu melihat kondisi bayi kedua. Dokter Lee dan dokter Seo pun saling melirik.

Anak kedua pasien pun telah di bawa ke ruang NICu dan dimasukkan ke inkubator.
“Kecil sekali….pernakah anda melihat anak seperti itu?”tanya seorang suster.
“Hanya dalam buku pelajaran”jawab dokter Lee sedih.
“Apakah dapat diobati, dokter?”. Dokter Lee pun hanya menggelengkan kepala.
“Kepala Lee, operasi obstetrik berakhir”lapor seorang dokter.
“Katakan pada mereka aku akan segera ke sana”. Tanpa mereka ketahui tim evaluator melihat dari kaca.


Di ruangannya dokter Seo termenung.
Dokter Lee yang melihatnya pun masuk membawakan segelas minuman (oughhh orrabuni perhatian deh bwahaha).
“Ini akan menenangkan sarafmu”ucapnya. Dokter Seo pun mengangguk.
“Bagaimana dengan bayinya?”tanya dokter Seo.
“Aku melakukan prosedur darurat yang di perlukan, tapi perawat takut padanya”jawab dokter Lee.
“Kau sangat terkejut, bukan?”.
“Sedikit”.
“Aku belum pernah melihat kasus seperti….”ucap dokter Lee terputus karena mendengar pintu ruangan diketuk. Ternyata suami pasien ingin menemui dokter Seo.


“Apakah semua baik-baik saja? Bagaimana dengan bayinya?”tanya suami pasien.
Dokter Seo pun hanya tersenyum.
“Oh….salah satu dari mereka begitu kecil…”ujar suami pasien.
“Ibunya baik-baik saja”jelas dokter Seo.
“Terima kasih. Lalu bayinya?”. Dokter Seo pun menoleh ke arah dokter Lee.
“Dokter anak di sini akan menjelaskan padamu”.
“Aku Lee Sang Sik, kepala pediatrics”.
“Aku akan menjelaskan suatu hal padamu. Anak pertama sehat,saat ini lahir dengan berat 2kg tidak menjadi masalah”jelas dokter Lee. Suami pasien pun senang dan mengucapkan terima kasih.
Dokter Lee pun berat hati menjelaskan perihal anak kedua.
“Tapi…bayi kedua dalam kondisi yang serius?”ujar dokter Lee akhirnya.
“Apakah begitu serius?”. Dokter Lee pun terdiam.
“Apakah dia hidup?”.
“Ya”jawab dokter Lee.

Dokter Lee mengajak suami pasien menemui anak keduanya.
Dokter Lee pun menunjukkan bayi keduanya yang berada di dalam inkubator. Ayah sang bayi pun terkejut. Dilihatnya bayi mungilnya dengan kulit bersisik seperti luka-luka. Air mataku pun mulai mengalir, benar-benar episode yang nmenguras air mata.
“Apakah ini…benar-benar anakku?”tanya ayah bayi lirih.
“Ya”. Ayah sang bayi pun menahan kesedihannya.
“Penyakit ini di sebut ichtyosis. Ichtyosis berarti bahwa kulit tidak dapat berfungsi dengan baik dan sangat rentan terhadap bakteri. Ada beberapa jenis yang berbeda dari penyakit ini, tetapi dalam kasus anak ini….itu dalam kondisi kritis”jelas dokter Lee.
“Apakah dia harus hidup seperti ini selamanya?”tanya ayah bayi.
“Ya, selamanya”.
“Aku belum pernah melihat orang seperti ini dalam hidupku”ucap ayah sang ayah bayi tak kuasa menahan air mata.
“Dia akan hidup seperti itu selamanya?”.
“Ini untuk selamanya”jawab dokter Lee dengan berat hati.
“Namun, selamanya paling lama 2 bulan”lanjutnya. Ayah bayi pun mulai menangis.


Anak pertama pasien dibawa menemui ibunya.
Dokter Seo dan dokter Ahn datang, dokter Seo memeriksa pasien dengan cara menekan perut sang pasie. Pasien pun merasa kesakitan.
“Um….bagaimana dengan bayi kedua?”tanya sang pasien.
“Kenapa kau tidak mau memberitahu apa-apa?”.
Dokter Seo pun menoleh kea rah sang suami, sang suami dengan berat hati menggelengkan kepalanya.
“Kondisinya tidak cukup stabil. Dia belum cukup baik untuk melihat ibunya”jawab dokter Seo.
“Lalu..aku bisa pergi menemuinya?. Apakah aku tidak diizinkan untuk mengunjunginya? Aku merasa akan baik-baik saja”ujar pasien.
“Bayi masih memiliki waktu yang sangat sulit. Sayatan terasa baik-baik saja, kan?”tanya dokter Seo mengalihkan pembicaraan.
“Sakitku tak peduli dibandingkan dengan rasa sakit tidak bisa melihat bayiku”.
“Suamimu akan melihat bayimu, sehingga kau bisa berkonsentrasi pada pemulihanmu”ujar dokter Seo. Sang suami pun tersenyum mengangguk pada istrinya.

Di kantin rumah sakit, dokter Seo mengambil makanan dan duduk di meja, dokter Lee yang juga bersiap makan pergi duduk di depan dokter Seo.
Dokter Seo pun cuek dan melanjutkan makannya.
“Bagaimana dengan ibunya?”tanya dokter Lee.
“Dia ingin melihat bayi kedua. Dia mungkin akan pergi ke NICU”jawab dokter Seo.
“Jika dia datang berkunjung, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan, apa yang akan aku katakana. Kita harus menceritakan sedikit tentang hal itu sebelumnya”ujar dokter Lee.
“Apa yang harus kita lakukan?”tanyanya.
“Aku akan melakukannya”jawab dokter Seo.
“Apakah mualmu sudah lebih baik?”tanya dokter Lee.
“Terima kasih”. (karena berkat jarum akupuntur dokter Lee yang dilift sudah nggak lagi hehehe).
“Siapa yang mual?”tanya dokter Wang yang tiba-tiba menghampiri mereka dan duduk di samping dokter Seo. Dokter Seo dan dokter Lee pun hanya terdiam dan saling pandang.
“Kita memiliki pesta selamat datang, kau ada waktu kan?”tanya dokter Wang.
“Pesta menyambut siapa?”tanya dokter Seo balik.
“Kau”.
“Mengapa kau mengatur pesat selamat datangku tanpa bertanya?”.
Dokter Lee pun tersenyum.
“Aku bertanya padamu sekarang”ujar dokter Wang.
“Ya”angguk dokter Seo seraya meneruskan makannya.
“Kau begitu kasar…berhati dingin, caramu berbicara tak berubah sama sekali”keluh dokter Wang. Dokter Lee pun tersenyum mendengarnya.
“Kami saling mengenal dengan baik sehingga aku tahu ia memiliki tanda lahir berbentuk segitiga di punggungnya”tukas dokter Wang.
“Jika kau mengatakan mengenai tanda itu sekali lagi…”ancam dokter Seo.
“Lalu,…kau tahu itu karena pergi ke kolam renang yang sama?”tanya dokter Lee.
Dokter Wang dan dokter Seo pun kaget lalu memandang dokter Lee.
“Buka, bukan…kami pergi ke sekolah mulai dari TK, SD dan sekolah tinggi yang sama”jelas dokter Wang. Dokter Lee pun tertawa kecil.
“Aku tahu”ucapnya.
“Semua kenangan kembali lagi”guman dokter Wang.
“Kenangan pantatku”sahut dokter Seo cuek dan tetap asyik lahap makan.
“Penyelamatan heroic seorang anak yang dipukuli penganggu dan menangis…”ujar dokter Wang.
“Kau pikir itu sesuatu yang bisa dibualkan?. Jika kau memintaku untuk campur tangan dalam kecelakaanmu di sini. Aku akan mengakhiri persahabatan kita”ancam dokter Seo.
“Sebagian besar….dia menyelamatkanku”ucap dokter Wang pada dokter Lee. Dokter Lee pun tak kuasa menahan tawanya.
Tiba-tiba dokter Seo mendapat telepon, lalu segera bergegas pergi membawa bekas makanannya.
“Jangan lari”seru dokter Lee.


Dokter Seo pun bergegas lari menemui pasien yang diangkat rahimnya.
“Tekanan darahnya terus menurun”lapor dokter Ahn yang masih memeriksa kondisi pasien. Dokter Seo pun menyuruh dokter Ahn meminta dopamine (?) sampai 30 mg di departemen obat, dokter Ahn pun mengerti.
“Di mana keluarganya?”tanya dokter Seo.

Keluarga pasien pun telah berkumpul, ibu pasien, suami dan kedua anak pasien.
Mereka pun meratapi nasib pasien.
“Dokter, tolong selamatkan dia”pinta suami pasien.
“Aku tidak peduli jika ia tidak memiliki rahim atau jika dia tidak bisa punya anak jadi tolong selamatkan dia saja”. Dokter Seo masih terdiam.
“Apakah ini salahku?”tanya suami pasien.
“Kalau saja aku tidak menunda operasi…dia seperti ini karena aku menundanya?”.
“Ya, itulah salah satu alasannya. Dia mungkin tidak bisa bertahan sampai hari ini”jawab dokter Seo. Suami dan ibu pasien pun terkejut dan saling pandang, dokter Seo dan dokter Ahn tampak tak bisa berbuat apa-apa.
“Ibu!ibu, kau tidur?”tanya anak kedua pasien.
“Kasihan, bagaimana kau bisa mati dengan meninggalkan anak-anak?”keluh ibu pasien.


“Ibu…ibu…”panggil anak pertama pasien.
“Apa maksudmu, ‘ibu’?”tanya mertua pasien yang tiba-tiba datang.
Mereka semua pun terkejut dan mennoleh ke arah sumber suara.
“Apa maksudmu, ‘ibu’. Siapa ibumu?”tanyanya lagi.
“Bukan ibu, tapi bibi…”jawab anak pertama pasien.
“Dia ibu kami”seru anak kedua pasien. Anak pertama pasien pun segera membungkam mulut adiknya.
Suami pasien dan ibu pasien hanya pasrah.
“Apakah kau tidak ingin menjelaskan hal ini padaku?”seru mertua pasien pada anak laki-lakinya. Suami pasien pun segera mengajak ibunya berbicara di luar.
Namun ibunya tak mau.
“Hei, siapa yang kau sebut ibu?”tanya mertua pasien.
Anak kedua pasien pun menunjuk pasien yang pingsan di ranjangnya.

Di luar ruangan, mertua pasien marah-marah tak terima dan mengatai pasien sebagai gadis miskin.
“Itu sedikit berlebihan, mengatainya gadis miskin”ujar adik pasien.
“Berlebihan? Meminta-minta pada orang di jalanan, berlebihan? Dia punya dua anak, tapi pura-pura perawan dan menyambar anakku. Bukankah itu penipuan”seru mertua pasie. Keributan pun menjadi tontonan pengunjung rumah sakit. Dokter Seo dan dokter Ahn hanya bisa melihat.
“Sebenarnya dia tahu”balas adik pasien.


“Apa? Apakah itu benar?”tanyanya pada anak laki-lakinya.
“Ibu”ucap suami pasien, ibunya pun tak terima ia pun memukul dan memaki anaknya.
Kedua anak pasien yang melihat keluarga mereka bertengkar pun takut.
Ayah mertua pasien pun berusaha menenangkan istrinya. Tim evaluator dan dokter Lee pun sampai di tempat kerumunan.
“Kau tenang! Aku merawat putra berhargaku untuk menjadi orang baik dan ternyata istrinya janda yang telah bercerai dengan dua anak. Bagaimana aku bisa tenang”.
“Lalu aku punya beberapa hal yang perlu dikatakan juga, aku terlalu lama diam”ujar ibu pasien.
“Hal ini tidak beralasan”.
“Apa katamu”. Ibu dan ibu mertua pasien pun saling bersitegang.

“Apakah kau pikir anakku dari awal menyembunyikan statusnya yang sudah bercerai? Aku menceritakan semuanya dan menentang pernikahan, tetapi dia berpegang teguh. Itulah sebabnya mereka menikah. Dia di tentang keluarga biasa kami dan kau mengejeknya. Tapi sekarang…dia pingsan saat melahirkan, kehilangan rahimnya…dia akan mati. Ketika dia mati, tidak peduli apa yang dia lakukan… kau tidak seharusnya seperti ini”cerocos ibu pasien. Kedua anak pasien mulai ketakutan terutama anak keduanya.
“Kau telah membuat putraku yang sangat berharga sebagai seorang duda dengan beberapa anak. Apakah kau bangga akan hal itu”balas mertua pasien.
“Dia mengalami pendarahan hebat dan perlu mengeluarkan rahimnya, tetapi kau ingin dia memiliki anak laki-laki. Itulah kenapa persetujuan itu tertunda dan mengapa dia dalam keadaan itu sekarang”seru ibu pasien.


Anak kedua pasien pun mulai menangis.
“Bukankah begitu, dokter. Dan bahkan sebelum ia pergi ke operasi, kau mempermasalahkan ibu pengganti”lanjut ibu pasien. Pembicaraan sengit pun terus terjadi. Dokter Lee yang melihat anak kedua pasien yang terus menangis dan ketakutan segera menghampirinya. Dokter Lee pun berpesan pada suster bahwa ia membawa anak-anak dan menyampaikannya nanti pada mereka.
Dokter Lee pun menggendong anak kedua pasien dan menuntun anak kedua pasien. Dokter Seo pun melihatnya dari jauh.

Dokter Lee mengajak kedua anak perempuan pasien ke ruangannya. Dokter Lee pun mmeberinya permen, sejenak mereka asyik bermain bersama dokter Lee dan melupakan pertengkaran nenek mereka.
“Aku akan menunjukkan sesuatu yang sangat ok. Lihat”ucap dokter Lee lalu membuka layar komputernya dan memperlihatkan gambar awan.
“Apa yang terlihat?”tanya dokter Lee.
“Ikan sisik”jawab anak tertua.
“Benar. Ini adalah ikan sisik awan. Mereka muncul sebelum hujan turun”ucap dokter Lee.
“Itu keren”ucap anak kedua.
“Itu keren bukan, bagaimana dengan angka 7? Apa yang kau pikirkan dengan itu?”tanya dokter Lee pada anak-anak. Tanpa mereka ketahu tim evaluasi melihatnya.
“Es krim. Aku ingin mangambil sendok dan memakannya”ujar anak kedua.
“Awan? Kau ingin meraup dan makan awan?”ledek dokter Lee seraya mengusap-usap kepala anak kedua pasien. Anak kedua pasien pun tertawa senang.
Tim evalusi pun tersenyum melihatnya.

Kedua anak perempuan tadi tertidur pulas di ranjang.
“Terima kasih, dokter”ucap sang nenek.
“Mereka sudah melalui begitu banyak hal”ucap dokter Lee.
“Aku membawa mereka karena aku takut mmereka akan terluka karena tidak di samping saat kematian ibu mereka. Ketika aku berpikir tentang bagaimana mereka sudah menyelinap dan tidak memanggil ibu mereka ‘ibu’ hatiku terasa terbakar”ujar sang nenek lalu menangis. Dokter Lee pun merasa prihatin. Anak kedua pasien pun mengigau memanggil ibunya.

Di lorong rumah sakit suster Young Mi menerima sms dari seseorang yang mengajaknya bertemu di tangga. Dengan berhati-hati suster Young Mi pergi menuju tangga. Tiba-tiba dokter Ahn menarik tangan suster Young Mi, huhuhu ternyata Joong Ki ah mojok ama suster Young Mi bwahaha.
“Ah, kau membuatku takut”ujar suster Young Mi. Dokter Ahn pun melepaskan pegangan tangannya.
“Bagaimana jika seseorang melihatnya”ucap suster Young Mi malu.
‘Tidak apa-apa. Tidak ada yang yang muncul di sini. Ada sesuatu yang ingin aku katakan”.
“Apa itu?”tanya suster Young Mi.
“Aku pikir kita perlu membatalkan rencana malam ini. Aku tidak enak badan”.
“Oh, tidak apa yang harus kita lakukan…”guman suster Young Mi lalu memeriksa kening dokter Ahn. (malas banget nulisnya hahaha). Tiba-tiba dokter Wang datang menuruni tangga, dengan cepat suster Young Mi pun melepaskan tangannya. Syukurin bwahahaha. Dokter Ahn pun langsung berpura-pura mencari sesuatu.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”tanya dokter Wang.
“Yah…aku hanya….naik turun tangga karena lift terlalu lama”jawab suster Young Mi gelagapan.
“Ya, aku hanya ingin menelepon…mana ponselku”jawab dokter Ahn seraya berpura-pura mencari Hpnya.
“Tidak ada yang akan makan hidup-hidup untuk kencan di sini”ledek dokter Wang.
“Kau tahu di mana acara penyambutan dokter Seo kan?”lanjut dokter Wang.

Dokter Wang dan suster Young Mi pun serempak menjawab ya. Dokter Wang tersenyum lalu bergegas pergi.
Tiba-tiba suster Young Mi mendapat telepon. Sebelum pergi suster Young Mi bertanya pada dokter Ah apakah ia akan datang ke acara pesta selamat datang dokter Seo. Belum sempat menjawab suster Young Mi bergegas pergi, dokter Ahn pun nampak berpikir.


Di depan ruang NICU, pasien yang melahirkan kembar berniat menemui anak keduanya namun dokter Lee tidak memperbolehkannya.
“Aku belum melihat bayiku sama sekali. Tidak apa-apa kalau dia cacat. Aku tidak peduli walau dia tidak punya lengan atau kaki. Ini adalah jam berkunjung, aku khusus datang selama berjam-jam”keluh sang pasien.
“Mengapa….mengapa kau terus menghindariku?”tanya sang pasien pada dokter Seo yang sudah di dekat mereka. Dokter Seo pun masih terdiam.
“Kenapa kau tidak mau memberitahu apa-apa? Anda mengatakan bayiku masih hidup. Dokter, aku ibunya… mengapa kau tidak membiarkan aku melihatnya? Kau bilang aku bisa menemuinya setelah aku sembuh. Tidak masalah jika dia tidak memiliki kaki. Aku dapat membesarkannya dengan benar”lanjut pasien.
Tim evalusi pun memperhatikan percakapan mereka.
“Apakah ia memiliki down syndrome, atau?. Apa pentingnya itu…dia punya kakak”ucap sang pasien. Suami pasien pun datang dan mencoba menenangkan istrinya dan mengajaknya pergi, namun sang istri tidak mau pergi.


“Ibu, maafkan aku”ucap dokter Lee dengan berat hati.
“Bayi itu berlangsung dengan damai, kami mencoba yang terbaik tetapi kondisinya sangat buruk..maafkan aku”lanjut dokter Lee.
Sang pasien pun tak kuasa menahan kesedihannya, dokter Seo pun ikut membantu menahan pasien.
“Tenang, kau harus kuat untuk melihat bayimu”ujar dokter Seo.
“Aku ingin melihat bayiku…aku tidak pernah memeluknya saat ia masih hidup. Aku ingin menahannya pada perjalannya yang terakhir…setidaknya aku ingin memakaikan pakaian untuknya”pinta sang pasien seraya menahan kesedihannya.
“Biarkan aku melihatnya, dokter biarkan aku melihatnya. Biarkan aku melihatnya”pinta sang pasien pada dokter Seo. Suami pasien pun segera menenangkan istrinya dengan memeluknya.
“Dia meningal dalam pelukanku. Damai, tanpa rasa sakit…dia pergi seperti itu”ucap sang suami. Pasien pun menangis sesegukan. Dokter Seo pun tak kuasa menahan air matanya, begitu pula sang penulis bener-bener episode menguras air mata, kkalau nonton jangan lupa sedia tissue sekotak huhuhu.
“Aku mendekap bayi kita dengan erat saat ia pergi, jadi…”lanjut suami pasien. Pasien pun menangis sesegukan.
“Dia pasti sangat takut, sayang…dia pasti begitu takut untuk pergi sendirian. Bahkan aku tidak bisa memberinya topi ini…”ujar pasien seraya terus menangis dalam dekapan suaminya.


Dokter Lee, dokter Seo dan suami pasien menemui bayi kedua di ruang NICU.
“Aku tahu kejam, bahkan jika dia merawatnya ia tak akan hidup, dia hanya akan terluka. Traumanya akan bertahan lebih lama. Aku hanya akan memberitahu bahwa ia meninggal dan aku akan kadang-kadang datang menemuinya”jelas suami pasien seraya menahan tangisnya.
“Sebagai gantinya, silahkan lakukan yang terbaik untuknya. Bayi ini…bayi ini lahir hidup, juga. Dokter, tolong selamatkan bayiku sekali lagi, dokter. Tolong selamatkan”mohon suami pasien seraya berlutut dan menangis.
“Aku tidak akan meminta anda berhenti merawatnya, tolong lakukan yang terbaik untuk merawatnya dan pastikan bahwa dia tak menderita. Dia pasti merasakan sakit. Dia pasti kesakitan”.

Suami pasien pun berusaha bangkit.
“Maafkan aku,aku tidak bisa sering datang menemuinya, tapi aku akan menjenguknya saat aku di sini. Terima kasih untuk menjaga rahasia ini dari istriku”ucap suami pasien lalu bersiap pergi namun menghentikan langkahnya.
“Um..topi ini, bisahkan aku meletak ini untuknya?”tanya suami pasien seraya menyerahkan topi bayi pada dokter Lee.
“Aku tidak bisa memberikannya sekarang , untuk sekarang…. Aku akan menaruhnya di sini”jawab dokter Lee seraya menaruh topi bayi tersebut di atas incubator tepat di kepala bayi.
“Ayah akan pergi sekarang”ucap ayah sang bayi lalu melangkah pergi.
Di ruangan tersebut tinggallah dokter Lee dan dokter Seo.
“Aku tidak yakin apa yang akan dipilih bayi. Kelahirannya tak akan pernah terdaftar, dan dia tak akan pernah memiliki nama. Dia akan disebut ‘bayi jadi-jadian’, anak seperti apa dia, mirip siapa, ibunya tak akan pernah ingat. Keberadaannya harus menjadi rahasia. Dia akan tetap sebagai sesuatu yang mematahkan hati orang-orang”ucap dokter Seo dalam hati seraya mengelus-ngelus topi di atas incubator sang bayi seraya menahan tangis.
Tidak ada yang lahir hanya untuk menghancurkan hati orang, bayi yang tidak mendapatkan perhatian, ini ibu dan ayah yang akan memberi perhatian”ucap dokter Lee dalam hati.

Tim evaluasi pun selesai menjalankan tugasnya. Direktur rumah sakit dan Seo Jin mengantar kepergian mereka. Saat menuruni escalator Seo Jin melihat dokter Seo berusaha menahan rasa sakit perutnya. Selesai mengantar kepergian tim evaluasi Seo Jin bergegas menyusul dokter Seo. Lagu sedih kedua setelah You’re My Everything mengalun, mianhe judulnya nggak hafal hahaha.
Seo Jin pun melihat ke sekeliling mencari dokter Seo, di seberang di lihatnya dokter Seo berjalan biasa, ia pun mengawasinya. Namun tiba-tiba dokter Seo kembali menahan rasa sakit perutnya.

Dokter Lee yang melihat dokter Seo kesakitan pun segera menghampirinya.
“Apakah kau baik-baik saja?”tanya dokter Lee.
“Mari kita pergi ke kebidanan. Dokter mana yang kau inginkan”ajak dokter Lee.
“Aku tidak bisa”tolak dokter Seo.
“Jangan seperti itu, ayolah”ajak dokter Lee seraya menuntun dokter Seo.
Seo Jin yang melihatnya pun segera menyusul mereka.

Di jalan Seo Jin dan dokter Seo yang digandeng dokter Lee berjalan berpapasan namun dokter Seo dan Seo Jin tak saling sapa, dokter Seo pun cuek. Dokter Lee pun membawa dokter Seo masuk ke ruang kebidanan, sebelum masuk dokter Lee sempat memperhatikan Seo Jin sesaat.


to be continued
Membantu pasien yang melahirkan di supermarket ^_<


Note : mianhe episode agak molor lagi banyak yang dikerjain hehehe, episode ini banyak banget pelajaran yang dapat di ambil dan memang sudah sepantasnya surga di telapak kaki ibu, dan ini episode yang penuh berlinang air mata, ok happy reading see you next week ^_<

BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA



0 comments:

Post a Comment


Friend Link List