Recent Post


[Sinopsis] Baker King (Bread Love and Dream) 20

Do you want to share?

Do you like this story?

Kim Mi Sun (ibu Tak Goo) mengangkat telepon yang berdering. Ia mengangkatnya dengan ragu. Ternyata Goo In Jong (ayah Tak Goo).
"Halo?" ucap Ibu Tak Goo, sepertinya ia telah mengetahui siapa yang menelponnya.
"Aku Goo In Jong. Apakah kau orangnya yang memberikan nomor ini padaku?" tanya Goo In Jong (ayah Tak Goo).
"Ya. Aku yang mengirimkannya."
"Jadi, siapa kau?" tanya Goo In Jong (ayah Tak Goo).
Kim Mi Sun (ibu Tak Goo) terdiam. Ia menatap tajam ke satu titik, membulatkan tekad lalu mengatakan, "Aku Kim Mi Sun yang biasa tinggal di Cheongsan."
Goo In Jong (ayah Tak Goo) sangat terkejut mendengarnya.
"Apa kau hidup dengan baik, President?" ujar Kim Mi Sun (ibu Tak Goo).
Goo In Jong (ayah Tak Goo) terdiam.
Han Seung Jae (manager Han) menunggu Goo In Jong (ayah Tak Goo) didepan Lift. Ayah Tak Goo berjalan cepat tanpa menghiraukan manager Han.
"Keadaan apa yang begitu darurat?" tanya Manager Han seraya menunduk memberikan hormat.
"Apa mobil sudah siap?" tanya Ayah Tak Goo.
"Sudah, tapi. Apa anda akan menyetir sendiri, president? Kemana sebenarnya anda akan pergi, yang membuat anda tidak menggunakan Yoon untuk mengantar anda?"
Ayah Tak Too terus berjalan cepat tanpa menghiraukan Manager Han. Manager Han menatapnya penuh dendam.
Goo In Jong (ayah Tak Goo) segera masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan. Tapi, manager Han menahan pintu mobil seraya berkata, "Akan sangat berbahaya bagi anda, bila anda mengemudi seorang diri malam-malam seperti ini. Tolong anda pertimbangkan."
"Ada tempat yang mengharuskanku untuk pergi seorang diri." jawab Ayah Tak Goo. "Mundurlah."
Mau tidak mau, Manager Han memundurkan langkahnya dan membiarkan mobil Ayah Tak Goo pergi. Tentu saja manager Han, tidak akan tinggal diam, ia menyuruh asistennya untuk melakukan sesuatu.
Manager Han berbicara pada dirinya sendiri dengan penuh dendam, "Tidak masalah seberapa besar penghalang yang aku berikan, apa kau tidak akan menyesali hal itu?"
[Flashback]
Manager Han mengingat kata-kata Seo In Sook (Ibu Ma Jun).
Seo In Sook (Ibu Ma Jun) berkata "Bukankah sudah aku katakan padamu? Pertaruhkan nyawamu untuk hal ini. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama."
[End Flasback]
Manager Han berkata pada asistennya,"Apa kau sudah melakukan sesuai yang aku perintahkan?"
"Ya." jawab Yoon, asistennya. Yoon menatap nanar ke arah mobil Ayah Tak Goo.
Manager Han berencana untuk mencelakakan Ayah Tak Goo. Tapi, untungnya Dokter Yoon terus memata-matai gerak-gerik Ayah Tak Goo dan Manager Han. Ia sudah memprediksi bahwa akan terjadi hal buruk saat Ayah Tak Goo akan menemui Kim Mi Sun (ibu Tak Goo). Mobil Dokter Yoon melaju mengikuti mobil Goo In Jong (ayah Tak Goo).
Sedangkah Seo In Sook (Ibu Ma Jun) terdiam di kamar, seperti biasa, ia minum-minum untuk menenangkan dirinya.

Di depan Toko Roti, Shin Yoo Kyung dan Goo Ma Joon berbicara serius. Yoo Kyung menahan air matanya, "Aku tentu.. Tidak bisa memaafkannya."
Ma Joon mendekap Yoo Kyung, ia berusaha menenangkan hati Yoo Kyung.
Dari kejauhan, ternyata Yang Mi Sun memperhatikan mereka. Yang Min Sun sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Mulai saat ini, jujurlah padaku. Kau harus melihat aku seorang dan kau harus melakukan apa yang aku katakan." ucap Ma Joon. "Karena, semua akan membaik."
Yoo Kyung menangis.
Ma Joon menatap Yoo Kyung dan berkata dengan pasti, "Karena, semua akan membaik."
Daan, Kiss.. Ma Joon mencium Yoo Kyung.
Yoo Kyung mengepalkan tangannya dan ia tidak berhenti menangis.
Kasian Tak Goo, ia sama sekali tidak mengetahui apa yang dilakukan Yoo Kyung dan Ma Joon di luar sana. Tak Goo sedang sibuk membuat roti. Setelah roti itu dipanggang, segera Tak Goo mengambil salah satu roti dan kemudian membelahnya. Mencium aroma khas rotinya, berpikir kalau roti yang dibuatnya kali ini akan berhasil, Tak Goo tersenyum puas. Kemudian ia menata roti itu di sebuah nampan kayu.
Yang Mi Sun masuk ke dalam toko dengan langkah gusar. Beberapa kali ia mondar mandir, bingung apa yang ia harus lakukan.
"Apa yang harus aku lakukan." Mi Sun menaruh dengan kasar karung (?) yang dibawanya ke atas meja. Lalu menatap marah ke luar toko. "Apa mereka sudah gila? Bagaimana dengan nasib Tak Goo? "
Tak Goo menuruni anak tangga dengan cepat, dengan bangga ia mempersembahkan roti buatannya pada Min Sun. "Yah, Yang Min Sun. Coba ini. Ini kue buatanku yang nomor tiga." Tak Goo memberikan roti itu.
Min Sun melihat ke arah luar toko, berharap Tak Goo tidak keluar untuk melihat kejadian itu.
"Ada masalah apa? Apa ada seseorang diluar?" tanya Tak Goo.
Tak Goo hendak melihat ke luar toko, tapi Min Sun segera melarangnya. "Ti.. Ti. Tidak!" ucapnya seraya merentangkan tangan.
Yang Mi Sun mencoba mengalih perhatian Tak Goo, ia segera mengambil kue yang ditawarkan Tak Goo dan memakannya dalam porsi besar.
"Oh, sekarang, lebih terlihat seperti benar-benar sebuah roti. Mm."
"Bagaimana? Enak?" tanya Tak Goo antusias.
"Mmm.. Aku pikir, aku harus mencoba yang lainnya." Mi Sun mengambil roti lagi lalu kembali memakannya."Mmm.. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata."
"Aku akan memberikan ini pada Seo Tae Jo, agar ia bisa mencobanya. Dia di sana kan?" Tak Goo hendak pergi menemui Seo Tae Jo-fake Ma Joon.
Mi Sun bergegas menghalangi pintu. Ia menggelengkan kepala. Tak Goo tidak mengerti kenapa ia tidak boleh keluar, Tak Goo hanya menatap polos ke arah Mi Sun.
Kepalan tangan Yoo Kyung mulai terlepas. Tapi air matanya tidak berhenti mengalir.
"Ayo kita pergi. Aku akan mengantarmu." ucap Ma Jun.
Ma Jun berjalan lebih dulu, tapi Yu Kyung tetap diam di tempat. Yoo Kyung terus menatap ke arah Toko. Rasa bersalah pada Tak Goo yang tengah Yoo Kyung rasakan. Ma Joon berbalik dan melihat ke arah yang sama.
Yoo Kyung berkata, "Sebuah ciuman, suatu malam, dapat aku berikan dengan mudah untukmu. Tapi, aku akan menjaga hatiku untuknya selamanya. Jangan coba mengganggu hal itu."
Mi Sun mendorong Tak Goo ke dapur.
Tak Goo berkata, "Jadi, apa yang sebenarnya akan kau katakan padaku?"
Mi Sun bingung, ia menggaruk-garuk kepalanya. Mi Sun berkata berbelit-belit, ia berusaha mencari kata-kata yang tepat agar Tak Goo tidak sakit hati.
"Begini, Tak Goo.. Seperti kehidupanmu.. Hal ini terjadi dan hal itu terjadi. Benar?"
Tak Goo mengangguk, "Benar."
"Dan,, uh.. Saat seorang laki-laki dan perempuan dating dalam waktu yang sebentar, mereka akan saling jatuh cinta, dan kemudian mereka putus. Benar?"
"Benar." jawab Tak Goo dengan polosnya. Oh, My Tak Goo.
Mi Sun mencoba mendramatisir. "Saat mereka putus, tentu saja mereka akan patah hati. Tapi kemudian, mereka akan bangkit dan kembali bersemangat, benar?"
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, kau terlalu banyak basa basi."
"Jadi.. Yang ingin aku katakan... adalah.. cinta dan suatu hubungan. Kadang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapan."
Tak Goo menyimpulkan, kalau Mi Sun sedang patah hati dengan Ma Joon.
"Mi Sun, maksudmu bukan tentang.. Apa Seo Tae jo mencampakkanmu?" tanya Tak Goo ikut prihatin. "Benarkah? Apa pria itu mencampakkanmu?"
Mi Sun gagap, ia kehabisan kata-kata. "Tidak, begini, Tak Goo, hal yang ingin aku katakan adalah.. "
"Ahh.. Aku sudah katakan padamu, kalau Seo Tae Jo bukan pria yang tepat untukmu. Kau seharusnya mendengarkan kakak tertuamu ini. Kau harus segera menyadarinya dan berusaha belajar dari hal itu."
Mi Sun kesal pada dirinya sendiri, haha.. "Bukan itu yang ingin aku katakan."
"Tidak masalah. Mungkin, itu adalah hal yang terbaik untukmu. Aku tahu sedikit tentang pria itu, kalau pun kalian menjalin hubungan. Dia akan benar-benar memberikanmu kesulitan." Tak Goo mencoba menenangkan Mi Sun, ia memegang kedua pundaknya. "Gunakan kesempatan ini untuk kembali menata hatimu. Dan kembalilah fokus untuk memulai ronde kedua kompetisi roti ini. Dan kalaupun kau merasa kesulitan dengan sesuatu, jangan sungkan untukk mengatakannya pada kakak tertuamu ini, hmm?"
Mi Sun sedih, ia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Tak Goo.
"Untuk permulaa, buat lagi roti ini." ungkap Mi Sun. "Belum bisa disebut roti kalau adonannya bau gosong."
Mi Sun kembali melihat ke luar, ia ingin memastikan kalau Ma Joon dan Yoo Kyung sudah pergi. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Mi Sun pada dirinya sendiri, seraya menggaruk-garuk kepalanya.




Yoo Kyung dan Ma Joon sampai di tempat kontrakan Yoo Kyung. Ciuman tadi tidak berarti apa-apa untuk Yoo Kyung, Yoo Kyung masih bersifat acuh tak acuh pada Ma Joon.
"Apa kau menyesal? Apa kau menyesal telah datang untuk menemuiku? Kalau seperti itu katakan padaku saat ini juga. Saat ini, mungkin entah itu kau atau aku tidak mungkin bisa kembali mengulangnya lagi. Jadi, pikirkan tentang hal ini dan jawablah. Apa kau menyesal, datang untuk menemuiku?" tanya Ma Joon.
"Kenapa? Apa kau takut?" tanya Yoo Kyung dengan nada menantang. "Sekarang, kau dan aku mulai menjalin hubungan, apa kau taku? Kalau itu yang kau rasakan, seperti yang kau katakan, katakan padaku di sini dan sekarang juga. Kalau kau menginginkanku untuk berhenti, maka aku akan berhenti."
Ma Joon tidak menjawab pertanyaan Yoo Kyung, ia menghampiri Yoo Kyung. Ma Joon mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kredit, ia menaruh kartu kredit itu di tangah Yoo Kyung. "Mulailah untuk membeli beberapa pakaian di Departement store besok. Dan percantiklah dirimu dengan gaya yang lebih mewah. Ibuku sangat menyukai hal itu. Pergilah, dan temui Client Manager Jung di bagian departement Store J. Dan, dia akan segera tahu dan melayani dengan sangat baik. Dan, mulailah untuk belajar bagaimana cara bermain golf, juga. Ibuku sangat menyukai permainan itu. Dan satu hal lagi, jangan pernah bertemu dengan Kim Tak Goo. Hubunganmu dengannya membuatmu terlihat sangat buruk. Akhiri semuanya."
"Ada lagi?" tanya Yoo Kyung, "Apa lagi yang harus aku lakukan?"
"Tidak masalah, apapun yang akan terjadi mulai dari sekarang. Jangan pernah katakan kalau kau menyesalinya. Aku pasti akan memberikanmu sebuah keputusan akhir dan sebuah kesempatan dan kau tidak boleh mengakhiri semuanya. Cobalah untuk menyesalinya dan aku tidak akan membiarkanmu begitu saja." ucap Ma Joon menantang Yoo Kyung.
"Kau takut kalau aku menemui Kim Tak Goo, dan kau juga takut kalau aku menyesali hal ini. Dan apa lagi? Kau juga khawatir tentang ibumu? Apa kau pikir kau benar-benar yakin kalau kita bisa melewati semuanya sampai akhir?" jawab Yoo Kyung.
Ma Joon memegang kedua pundak Yoo Kyung dan menatapnya, ia berusaha memberikan sugesti (hallaaah.. ngaco saya.. haha), Ma Joon mencoba meyakinkan Yoo Kyung.
"Jangan kau anggap aku sebagai seorang penurut. Saat aku berusaha untuk melakukan sesuatu, tidak akan ada yang bisa menghentikanku. Ada sebuah pertemuan keluarga minggu ini. Aku akan menjemputmu jam satu, jadi tunggulah."
Ma Joon masuk ke kamarnya. Ternyata semua dugaan Yoo Kyung benar kalau Ma Joon hanya takut kalau Yoo Kyung akan bertemu kembali dengan Tak Goo, dan Ma Joon hanya takut kalau Yoo Kyung menyesali semuanya.
Ma Joon mondar mandir tidak karuan, "Takut? Aku?" ucapnya pada dirinya sendiri.
Ma Joon mengeluar sebuah ramuan sejenis obat sirup dari dalam kantongnya. Itu sebuah racun.
Saat Tak Goo hendak membuat roti yang baru, tanpa sengaja ia memecahkan piring. Tak Goo membersihkan serpihan kaca retak dari piring itu, kemudian tiba-tiba jari Tak Goo terluka. Menandakan suatu firasat buruk, yah, kejadian buruk akan terjadi pada dirinya dan orang-orang yang dicintainya.
Mobil Ayah Goo In Jong (ayah Tak Goo) melaju cepat di sebuah jalan yang sangat sepi. Tanpa sepengetahuan Goo In Jong (ayah Tak Goo), mobil dokter Yoon terus mengikutinya. Tapi, kemudian, dari dua sisi jalan beberapa mobil segera mengampit mobil Goo In Jong (ayah Tak Goo). Goo In Jong (ayah Tak Goo) menginjak gas dan laju kecepatan mobilnya bertambah. Mobil-mobil itu tidak hanya mengampit mobil Goo In Jong (ayah Tak Goo), tapi mereka juga menabrakkan sisi bagian kanan mobil.
Di sebuah ruangan, Manager Han sudah memperkirakan apa yang akan terjadi pada Goo In Jong (ayah Tak Goo). Tentu saja, dalang dari semua ini adalah Manager Han sendiri.
Manager Han berkata pada dirinya sendiri, "Jangan coba mengujiku. Kesabaranku juga ada batasnya. Ingat itu. Kau seharusnya tahu, kau sudah menggangguku batas kesabaranku, Goo Kin Joong."
Beberapa mobil itu terus menghimpit dan mereka membenturkan sisi mobil hingga mobil oleng dan lepas kendali. Goo In Jong (ayah Tak Goo) berusaha menyelamatkan diri, ia menginjak rem. Tapi, nihil. Rem tidak berfungsi. Dan akhirnya, mobil Goo In Jong (ayah Tak Goo) jatuh ke jurang.
Kim Mi Sun (ibu Tak Goo) menunggu kedatangan Goo In Jong (ayah Tak Goo). Ia duduk sendiri di sebuah restaurant mewah. Kim Mi Sun (ibu Tak Goo) mengecek jam, ternyata sudah lewat dari jam pertemuan yang telah di tetapkan oleh ayah Tak Goo.
Ayah Tak Goo tidak sadarkan diri, dan mobilnya rusak total. Setelah memastikan kalau Ayah Tak Goo sudah mati, orang-orang suruhan Manager Han itu segera pergi meninggalkan tempat kejadian.
Seo In Sook (Ibu Ma Jun) mencari Goo In Jong (ayah Tak Goo), ia mencari ke kamar tapi tidak ada. Akhirnya ia menanyakan keberadaan Ayah Tak Goo, pada bibi. "Bibi Gong! Bibi Gong!"
"Ya, nyonya." ucap Bibi Gong segera menghampiri Seo In Sook.
"Apa suamiku sudah pergi kerja?"
"Ah, maaf? Aigoo.."
"Kenapa? Apa semalam ia juga tidak pulang?"
"Aku pikir, ia tidak pulang."
Goo Ja Kyung dan Goo Ja Rim menyapa ibunya bersamaan, "selamat pagi."
"Ada apa? Kau bangun pagi sekali, ibu." ucap Goo Ja Kyung.
"Cepat sarapan dan bekerja." jawab Ibu Ma Jun dengan sinis.
Keduanya penasaran dengan ulah ibunya itu, Ja Ri menanyakan hal itu pada bibi Gong, "Ada masalah apa dengan ibu?"
"Yah,, Aigoo.. President tidak pulang semalam." jawab bibi Gong dengan pelan.
"Benarkah?" Ja Rim terkejut.
"Ayah? Ia tidak mengatakan apa-apa?" tanya Ja Kyung.
"Tidak." jawab Bibi Gong.

Telepon berdering, dan Ja Kyung bergegas mengangkatnya.
"Hello? Manager Han." ucap Ja Kyung.
"Oh, Ja Kyung. Syukurlah kau yang mengangkatnya." jawab Manager Han. Ia sedang dalam perjalanan menuju tempat kejadian tabrakan Ayah Tak Goo.
"Ada apa?" tanya Ja Kyung.
"Aku kira, ayahmu kecelakaan. Aku hampir sampai di tempat kejadian."
Ja Kyung terkejut mendengarnya.
"Aku akan mencari datanya dan akan menghubungimu lagi nanti. Dan lebih baik kau tidak mengatakan hal ini pada ibumuu. Tidak perlu membuatnya khawatir dalam masalah ini."
"Ya, aku mengerti dengan apa yang kau katakan. Aku akan segera ke perusahaan, jadi hubungi aku nanti di sana." jawab Ja Kyung panik.
Ja Kyung lalu menutup teleponnya.
Ja Rim mendekati Ja Kyung dan bertanya, "ada apa Unnie, apa terjadi sesuatu di kantor."
"Huh? Sedikit." jawab Ja Kyung.

Ja Kyung pamit pada Ibunya untuk pergi ke kantor. Ja Kyung mengatakan pada Jae Rim untuk di rumah saja bersama ibunya.

Manager Han mendatangi tempat terjadinya kecelakaan. Beberapa polisi tengah menganalisa tempat kejadian. Sedikit aneh, karena ternyata sang korban- Goo In Jong (ayah Tak Goo)- yang sudah luka parah bahkan tak sadarkan diri, hilang dari tempat kejadian. Di tempat kejadian hanya ditemukan mobil yang hancur, tanpa adanya korban. Manager Han yang mendengar hal itu kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa orang sekarang menghilang begitu saja. Kunci utamanya di sini adalah Dokter Yoon. Dokter Yoon berhasil mengecoh manager Han.
Ma Joon sedang mencari kaset recordernya yang hilang entah kemana. Ia mencarinya sampai ke dapur, kemudian bertemu dengan Tak Goo.
"Hey, Seo Tae Jo." sapa Tak Goo. "Apa yang kau cari?"
"Kasetku, apa kau melihatnya?" tanya Ma Joon.
Tak Goo menggeleng, "Tidak, aku tidak melihatnya. Apa kau sudah mengamati hasil percobaan zat asam yang telah dicairkan?"
"Untuk permulaan, semua ini memiliki bau yang hampir sama. Untuk mankuk nomor 26 baunya lebih manis. sedangkan untuk mangkuk nomor 32 baunya lebih seperti sebuah anggur beras yang tidak saring." ucap Tak Goo, ia menunjukkan hasil percobaan itu pada Ma Joon.

Ma Joon langsung memeriksa kedua mangkok itu, pertama ia mencium bau masing-masing mangkok, kemudian ia mencicipinya.
"Bukankah rasanya lebih pekat? Dan rasanya seperti terlalu banyak alkohol. Perbedaannya hanya pada pemulaan waktu saat fermentasi, sekitar setengah hari." Tak Goo bahkan memperlihatkan hasil catatannya pada Ma Joon. "Kau ingin lihat catatannya? Ini.."
Ma Joon membaca catatan itu, kemudian dari lembaran buku catatan terjatuh foto Tak Goo dan Yoo Kyung. Tak Goo langsung mengambil foto itu lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya.
"Jika kau lihat hasil catatan fermentasinya, satu dari mereka sudah mengalami fermentasi dalam waktu sehari dan yang lainnya mengalami fermentasi selama setengah hari." Tak Goo mencoba menjelaskan hasil adonan itu.
Tapi, Ma Joon sama sekali tidak mendengarkannya, ia cemburu melihat foto Tak Goo dan Yoo Kyung itu. Lantas, mulailah Ma Joon memojokkan Tak Goo, "Kau.. benar-benar sangat luar biasa. Kenapa kau bisa melakukan semuanya dengan mudah seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"
Tak Goo berkata, "Kenapa kau tiba-tiba mengatakan seperti itu?"
"Memang, kau bisa meliha aku merasa tidak nyaman. Tapi, bagaimana bisa kau tertawa dan berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Kau benar-benar orang baik atau hanya berpura-pura menjadi orang baik? Atau kau mencoba menggunakan palumu untuk menghantam di bagian dalam dan berpura-pura tersenyum untuk menutupi hal itu?" ujar Ma Joon, ia menatap dendam ke arah Tak Goo.
Tak Goo menghela nafas, "Hey, kaulah yang meminta agar aku dapat bekerja sama denganmu. Bukankah kau mengatakan kalau kita hanya akan lulus untuk ujian ronde ini bila kita menggabungkan kekuatan kita?"
"Apa yang akan kau lakukan, kalau aku mencoba untuk mensabotase dirimu?" jawab Ma Joon. "Kau tidak pernah memikirkan hal itu kan?"
"Tidak, tidak pernah." jawab Tak Goo dengan ringan. "Apa itu yang ada di otakmu? Baiklah, Yah, aku ini juga manusia. Dan aku juga tidak benar-benar suka padamu. Ada saatnya aku benar-benar tidak menyukaimu. Dan kadang kau juga selalu membuatku kesal, sampai-sampai aku ingin sekali memukulmu. Tapi, setiap kali hal itu terjadi, aku selalu memikirkan saat kau mencoba melepaskan tali ikatanku saat itu. Saat itu, aku benar-benar merasakan perasaan tulusmu. Dan saat itu juga, aku berpikir, mungkin kita bisa menjadi teman.
Ma Joon tertawa mengejek, "Jadi, saat itu kau pikir, aku benar-benar tulus melakukan hal itu? Dan kau mengira kita bisa menjadi teman? Apa itu masuk akal."
"Aku pikir, hal itu sama seperti bau saat fermentasi. Hanya bau yang sangat harumlah, yang berasal dari adonan yang tepat. Dan aku pikir, wangi harum fermentasi itu juga diberikan kepada orang-orang yang memiliki hati yang tulus." jawab Tak Goo.
Tak Goo tersenyum tulus pada Ma Joon. "Kau tau, Ma Joon. Aku sangat senang membuat roti bersamu di sini. Itu membuatku senang. Meskipun orang tua kita tidak menyadarinya.. Kau dan aku dapat--"
Kata-kata Tak Goo langsung diputus begitu saja oleh Ma Joon, "Itu menggelikan. Kau pikir siapa kau? Bagaimana bisa sampah sepertimu bisa setara denganku. Apa yang kau ketahui tentangku?!" Ma Joon menyentak Tak Goo. Ia marah besar.
"Ma Joon."
"Seorang yang tidak beruntung sepertimu sangat membuatku ingin muntah. Kau tau, tanpa indra penciumanmu itu. Kau tidak pernah akan bisa untuk membuat roti." Ma Joon melempar buku catatan Tak Goo. Kemudian ia marah seraya bergumam, "Dimana kasetku itu?!!"
Tak Goo terdiam. Ia tidak habis pikir, Ma Joon seperti itu.
Ma Joon segera turun ke lantai dasar. Ia menghentikan langkahnya. Ia memegang sebuah formula, formula yang berisikan racun. Formula itu memang benar-benar racun, saat ada seseorang yang meminumnya, maka reaksi pertama yang akan ditimbulkan adalah lidah yang akan menjadi lumpuh, kemudian berujung pada kehilangan indera perasa dan penciuman. Pengaruh dari formula racun itu tergantung dari seberapa besar pemakainnya. Saat seseorang meminum racun itu terlalu banyak, maka bisa-bisa lidah sebagai indera perasa akan benar-benar lumpuh dan indera penciuman tidak akan kembali berfungsi.

Untuk apa Ma Joon memiliki formula racun itu, tentu saja untuk mencelakai Tak Goo.

Jo Jin Goo (pemilik tato kincir angin) tanpa sengaja melihat Ma Jun yang memegang formula racun itu.
Tak Goo masih berada di dapur, ia baru saja selesai mencatat semua hasil fermentasi yang telah dilakukannya. Kemudian ia mengangkat satu guci fermentasi, dan kemudian ia melihat kaset recorder milik Ma Joon. Kaset recorder itu ternyata tanpa sengaja tertindih oleh guci fermentasi. Kaset Recorder itu benar-benar rusak. Tak Goo mengeluh, "Gezzz.. Sekarang bagaimana?"
Kemudian Tak Goo membawanya ke toko elektronik. Pemilik toko mengatakan kalau kerusakan kaset recorder itu sangat parah. Butuh banyak dana untuk kembali memperbaikinya, dan Pemilik toko malah memberikan saran pada Tak Goo untuk membeli kaset recorder yang baru saja. Dan harga kaset recorder yang baru itu tidak murah.
Mi Sun terkejut saat tahu harga kaset recorder itu sebesar 85.000 won. "Apa? 85.000 won? Itu adalah jumlah gajimu selama sebulan. "
Tak Goo hanya menghela nafas, dan berkata dengan malas, "Yeah.."
"Dan kau akan benar-benar mengganti benda itu? Dari mana kau akan mendapatkan uang itu?" tanya Mi Sun yang masih mengkhawatirkan Tak Goo.
Tak Goo membuka laci dan mengambil uang tabungannya. Mi Sun lebih terkejut lagi melihat hal itu, "Kau tidak akan mengacaukan rekeningmu kan? Uang itu kau simpan agar kau bisa beriklan tentang ibumu di surat kabar.." Mi Sun mengingatkan.
Tak Goo beberapa menghela nafas, "Aku tidak punya pilihan lain. Aku perlu menggunakan ini untuk menggantinya."
Mi Sun menyarankan hal lain, "Dari pada kau melakukan hal itu, kenapa tidak kau mencoba untuk mengaku dan meminta maaf pada Seo Tae Jo? Lakukanlah itu. Tidakkah kau tahu, benda seperti itu tidak ada apa-apa untuk anak kaya seperti Tae Jo. 85.000 won itu sangat berarti bagimu, berbeda dengannya, kau tahu?"
Tak Goo tersenyum pada Mi Sun dan ia mengacak-ngacak rambut Mi Sun dengan gemas, "Aigoo... Mi Sun sangat mengkhawatirkan kakak tertuanya." Tak Goo membenarkan duduknya dan berkata dengan penuh makna pada Mi Sun.
"Mi Sun, Tidak masalah seberapa miskinnya seseorang itu. Dia harus tetap melakukan hal yang terbaik. Itu salah satu cara agar aku bisa berdiri tegak di depannya. Mengerti?"
Tak Goo beranjak dari duduknya, tapi Mi Sun segera mencegahnya. Ia mengatakan segalanya tentang hubungan Yoo Kyung dan Ma Joon pada Tak Goo.
"Kalau masih tetap bersikap bodoh seperti ini, kau tahu, Yoo Kyung akan dengan mudah diambil dari sisimu!" ujar Mi Sun dengan meninggikan suaranya agar Tak Goo sadar. "Kau pasti tidak tahu, bagaimana hubungan yang sebenarnya antara Shin Yoo Kyung dan Seo Tae Jo, benar kan? Kau juga tidak tahu, mereka saling bertemu satu sama lain di belakangmu sekarnag, kau tahu?"
Tak Goo terkesiap mendengar hal itu, tapi kemudian ia tersenyum. "Aku percaya pada Yoo Kyung. "
"Apa?"
"Seperti yang kau katakan. Tae jo mungkin memiliki perasaan pada Yoo Kyung. Tapi Yoo Kyung tidak memiliki perasaan itu untuk Tae Jo. Aku percaya pada Yoo Kyung."
"Yah, Kim Tak Goo."
"Aku akan sgera kembali." Tak Goo tersenyum lalu pergi.
Mi Sun dibuat stress dengan perkataan Tak Goo tadi, "Oh, benar-benar membuat frustasi. "
Seperti yang di suruh Ma Joon, Yoo Kyung pergi ke departemen Store bagian J. Ia masuk ke butik mewah itu dengan mata takjub melihat baju mewah yang terpajang. Seorang pelayan menghampirinya, pelayan itu menatap Yoo Kyung dari atas sampai bawah, pelayan itu menganggap rendah Yoo Kyung.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya pelayan itu dengan enggan.
"Geosung Food's Goo Ma Jun mengirimku untuk datang ke sini." jawab Yoo Kyung seraya tersenyum. "Dia bilang kalau aku bisa berbicara dengan Manager Jung, dia dapat membantuku."
Mendengar nama Goo Ma Jun, pelayan itu berubah menjadi sangat hormat pada Yoo Kyung. "Ah, Ya.. aku mengerti. Lewat sini.."
Sebelum melangkahkan kakinya, Yoo Kyung teringat kata-kata polisi yang memukulinya. Ia selalu teringat kata-kata itu, "Jangan berusaha untuk mengubah dunia. Ubahlah saja dirimu sendiri."
Kata-kata yang selalu menyihir Yoo Kyung menjadi orang yang sangat ambisius untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
[If you become one of the "haves" rather than the "have nots" then the world automatically changes.That's how it works]. Ya, realita memang berbicara seperti itu.
Manager Han mendapat telepon dari asistennya. Orang suruhan Manager Han itu belum juga bisa menemukan keberadaan Goo In Jong (ayah Tak Goo). Manager Han kesal, ia menyuruh agar Goo In Jong (ayah Tak Goo) segera ditemukan, bagaimanapun caranya.
Kemudian, setelah telepon ditutup, Ja Kyung masuk ke dalam kantor untuk membicarakan tentang keadaan Ayahnya. Manager Han mengatakan kalau Goo In Jong (ayah Tak Goo) belum juga ditemukan. Ja Kyung panik, karena baru saja ibunya menelpon sekretaris kantor untuk menanyakan keberadaan Goo In Jong (ayah Tak Goo). Ja Kyung akhirnya menyuruh sekretaris itu berbohong dan bilang kalau Goo In Jong (ayah Tak Goo) sedang menghadiri cabang perusahaan di luar kota.
Manager Han menyuruh Ja Kyung untuk tetap tenang, karena ia yang akan mengurus segalanya.

Manager Han menemui Seo In Sook (Ibu Ma Jun) untuk mengatakan kalau suaminya- Goo In Jong (ayah Tak Goo) sedang pergi keluar kota untuk mengatasi masalah cabang perusahaan di sana.

Seo In Sook (Ibu Ma Jun) berkata kalau kali ini ia akan mempercayai semua perkataan manager Han. Meskipun ia tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi, tapi firasat Seo In Sook (Ibu Ma Jun) mengatakan kalau ada hal yang tidak beres dengan manager Han, terutama dengan suaminya. Seo In Sook (Ibu Ma Jun) mengatakan kalau Goo In Jong (ayah Tak Goo) harus datang tepat waktu saat pesta yang akan dirayakan malam ini.
Manager Han terdiam, kemudian ia melihat ke arah lain. Ia melihat Bibi Gong yang ternyata sudah sedari tadi mencuri dengar pembicaraan antara Manager Han dengan Ibu Ma Joon. Bibi Gong yang menyadari tengah diperhatikan oleh Manager Han, Bibi Gong berusaha untuk bersikap sewajar mungkin.
Di sebuah tempat, Kim Mi Sun (Ibu Tak Goo) mendapat telepon, "Benarkah? Baiklah, aku mengerti."
Setelah pembicaraan via telepon terputus, Ibu Tak Goo berjalan pelan ke kamar tamu. Ia melihat dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Seorang pria dengan bekas luka memar yang cukup parah tengah tertidur pulas di kamar tamu itu.
Siapa pria itu? Jeng jeng.. Ayah Tak Goo..
Ma Joon memegang erat formula racunnya. Tekadnya untuk mencelakai Tak Goo sudah bulat. Ia mengambil botol minum yang biasa di minum oleh Tak Goo. Ma Joon berpikir keras. Sudah tidak ada keraguan lagi bagi Ma Joon untuk mencampur formula racun itu dengan air di botol.
Rasa iri Ma Joon pada Tak Goo, benar-benar sudah mengubah Ma Joon menjadi seperti monster.
Ma Joon mencoba untuk mencampurkan racun ke dalam minuman Tak Goo, tekad bulatnya itu tiba-tiba terhenti karena kedatangan Jin Gu. Jin Gu datang dengan mengagetkan Ma Joon, lalu Ma Joon buru-buru menyimpan formula racunnya di belakang badannya.
"Tae Jo." panggil Jin Gu.
Jin Gu menutup pintu dan itu kesempatan bagi Ma Joon untuk menaruh formula racunnya ke dalam saku baju.
"Ada apa Jin Gu hyung?" tanya Ma Joon gugup.
"Apa yang terjadi antara kau dengan Tak Goo?" tanya Jin Gu.
"Tidak. Kenapa kau menanyakan hal itu."
"Karena hubungan kalian berbeda dari hari-hari sebelumnya."
"Itu hanya rumor belaka." ucap Ma Joon seraya menaruh kembali minuman Tak Goo di meja. Kemudian Ma Joon hendak pergi keluar tapi Jin Gu menahan tangannya.
"Merasa tersaingi dan menganggapnya saingan hanya akan membuat hidupmu hancur." ucap Jin Gu dengan masih mencengkram tangan Ma Joon.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Ma Joon menatap sinis pada Jin Goo.
"Kalau kau mengambil sesuatu dari yang bukan milikmu maka kau akan kalah dua kali lipat." jawab Jin Gu. "Kau hanya terbawa oleh rasa dendam dan kebencian yang ada didirimu dan pada akhirnya kau akan kalah. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Kim Tak Goo berbeda denganmu."
"Jadi kau ingin mengatakan kalau Tak Goo itu sangat istimewa. Itulah kenapa Master Pal Bong dan keluarganya ada di sini, mereka hanya memperhatikan Tak Goo? Benarkah?" tanya Ma Joon dengan penuh kemarahan.
"Bukan begitu maksudku." jawab Jin Gu datar.
"Lihat saja hasil dari kompetisi ini, aku akan membuktikan kalau Tak Goo tidak ada apa-apanya." Ma Joon menarik tangannya dari cengkraman tangan Jin Gu. Ma Joon lalu keluar dari ruangan.
Tak Goo sedang membeli kaset recorder untuk Ma Joon. Ia mengeluarkan uang kemudian menghitung jumlah uang itu. Tak Goo rela mengeluarkan uang yang baginya sangat besar, hanya untuk mengganti kaset recorder milik Ma Joon. Oh My Tak Goo baik sekali dirimu.
Tak Goo berjalan pulang, hari itu gerimis ia menggunakan payung. Kemudian Tak Goo melihat seorang kakek dengan pakaian lusuh di depan toko roti Pal Bong. Kakek tua itu menatap tajam penuh dendam ke arah toko, di tangannya terdapat batu. Tak Goo menghampiri kakek itu dan bertanya, "Kakek apa kau datang untuk membeli roti?" tanya Tak Goo ramah.
Kakek itu menatap Tak Goo dan ia segera pergi. Tak Goo menatap heran ke arah kakek itu, kemudian ia berjalan masuk ke rumah.
Tapi, sebelum masuk ia bertemu dengan Ma Joon.
Tak Goo menyapanya, "Oh, Tae Jo. Kau akan pergi keluar?"
Ma Joon berbalik ke arah Tak Goo, "Ya." kemudian Ma Joon menyerahkan selembar kertas berisi alamat.
"Aku rasa kita perlu makan siang bersama." ucap Ma Joon.
"Aigoo."
"Datanglah ke alamat itu jam 2."
Tak Goo heran dengan sikap Ma Joon, tanpa berpikiran buruk Tak Goo menyanggupinya, "Ok.. Aku tidak akan telat."
Tak Goo sampai di rumah, Jin Gu sedang memeriksa air minum Tak Goo. Ia mencium bau dari air itu, ternyata Jin Gu juga menaruh firasat bahwa Ma Joon akan melakukan hal yang tidak baik pada Tak Goo. Karena ragu dengan kemurnian air minum Tak Goo. Jin Gu lalu membuangnya.
Ma Joon menjemput Yu Kyung, mereka benar-benar akan ke gathering keluarga Ma Joon. Yu Kyung keluar dari rumahnya dengan pakaian dan dandanan yang sangat cantik. Ma Joon terdiam, ia terpesona.. Hahaa.. Lucu liat muka Ma Joon.
"Apa ini cocok?" tanya Yu Kyung tanpa tersenyum. "Apa aku pantas untuk menemui keluargamu dengan pakaian seperti ini?"
Ma Joon menyembunyikan rasa kekagumannya, "Kita akan telat." ucap Ma Joon seraya membukakan pintu mobil. Yu Kyung masuk ke dalam mobil, barulah saat menutup pintu Ma Joon tersenyum.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di sebuah restaurant mewah. Mereka hanya tinggal menunggu Ma Joon yang belum datang.
"Bagaimana dengan Ma Joon?" tanya Ibu Ma Joon.
"Aku telah menghubunginya, dan ia mengatakan kalau saat ini ia sedang sibuk mempersiapkan segala hal untuk ujian." jawab Ja Kyung.
Ibu Ma Joon mengangguk mengerti.
Hari itu, Presdir tidak bisa datang.
Tak berapa lama kemudian Ma Joon datang,"Ibu aku datang." ucap Ma Joon memberi salam.
Ibu Ma Joon tersenyum, "Sepertinya ayahmu tidak bisa datang saat ini. Apa yang kau lakukan, kemarilah duduk." pinta Ibu Ma Joon.
"Aku membawa seseorang." ucap Ma Joon.
"Siapa?" tanya Ibu.
Dan jeng jeng.. Yu Kyung masuk ke dalam ruangan itu dengan anggun. Pihak keluarga Ma Joon terkejut bukan kepalang melihat kehadiran Yu Kyung.
"Dia adalah pacarku." ucap Ma Joon.
Ma Joon memberikan ruang untuk Yu Kyung agar ia bisa duduk, "Duduklah." pinta Ma Joon dengan lembut pada Yu Kyung.
Yu Kyung memberi hormat, ia membungkuk kemudian duduk.
Di  luar restaurant. Tak Goo menepati janjinya untuk makan siang bersama Ma Joon. Tak Goo sama sekali tidak tau, apa yang tengah direncanakan Ma Joon.
Tak Goo menatap takjub pada restaurant besar itu, "Apa benar ini tempatnya? Ini sangat bagus." ucap Tak Goo tersenyum lebar.
Suasana menjadi sangat tegang dan kaku. Ibu Ma Joon terus menatap kesal pada Yu Kyung.
"Ma Joon, jelaskan padaku semua ini." ucap Ibu Ma Joon.
"Sudah aku katakan sebelumnya bahwa ia adalah pacarku. Aku memperkenalkannya padamu. Aku dan Yu kyung sudah serius."
Ibu Ma Joon geram, ia berkata pada Yoo Kyung, "Sebaiknya kau keluar."
Yu Kyung menjawab, "Aku bukan lagi pegawaimu."
Ja Kyung berkata, "Ma Joon sebaiknya kau membawa Yu Kyung keluar dari sini."
"Kenapa? Bukankah ini acara keluarga? AKu sudah menyempatkan untuk datang. Bukankah sebaiknya kita makan terlebih dulu?" jawab Ma Joon.
"Apa kau menginginkan suasana menjadi tegang seperti ini?" ucap Ja Kyung.
"Apa maksudmu, Noona. Bukankah memang seperti ini suasana di rumah kita?"
"Cukup! Semua diam!" Ibu Ma Joon menghentikan semuanya. "Baiklah, Ja Kyung. Suruh pelayan untuk menyediakan makanan." Ibu Ma Joon menyembunyikan rasa depresinya.

"Sebentar. Ada seseorang lagi yang akan datang." kata Ma Joon.
Yu Kyung melihat ke arah Ma Joon, ia tidak mengerti, siapa lagi yang akan datang.
Beberapa saat kemudian, pelayan membukakan pintu dan berkata, "tamu sudah datang."
Tak Goo masuk.  "Tae Jo-..." kata-katanya terputus saat melihat orang-orang yang ada dihadapannya. Tak Goo tertegun, lidahnya kelu.
"Ibu karena kau sudah pernah bertemu dengannya, sepertinya aku tidak harus mengenalkannya lagi padamu. Noona, kau bisa menyapanya. Dia adik kecilmu, Kim Tak Goo."
Ja Kyung dan Ja Rim terkejut, "Apa? Tak Goo."
"Bukankah ini pertemua keluarga? Tak Goo kemarilah dan duduk. Kita duduk bersama sebagai keluarga. Oh, Kenapa kau tidak menyapanya?" tanya Ma Joon pada Yu Kyung.
Yu Kyung menatap marah pada Ma Joon.
"Shin Yu Kyung kenapa kau tidak menyapanya?" ulang Ma Joon.
Tak Goo semakin diam, saat tau Yu Kyung pun ada di tempat itu. Kasian Tak Goo.
Mi Sun tengah berlatih membuat kue. Ia heran kenapa Ma Jun dan Tak Goo tidak ada di dapur, bukankah sebentar lagi ujian akan dimulai.
Ibu Ma Jun berdiri dan menggebrak meja, "Ma Jun, atas dasar apa kau melakukan ini. Setelah selesai semuanya, pulanglah dan jelaskan!" ucap Ibu Ma Jun dengan nada tinggi.
Ibu Ma Jun keluar ruangan, ia melewati Tak Goo. Ibu Ma Jun menatap sinis ke arah Tak Goo dan Yu Kyung, seraya berkata, "orang-orang rendahan."
Tak Goo diam, ia shock, terkejut dan tak tau harus berbuat apa. Air mata Tak Goo tertahan. Ja Ri dan Ja Kyung mengikuti Ibunya, mereka juga keluar. Ja Kyung hanya menatap biasa ke arah Tak Goo. Tapi, Ja Rim berusaha untuk menyapanya, "sudah lama sekali tidak bertemu." ucap Ja Rim pelan.
Ibu Ma Jun kesal, "Ibu, ibu sudahlah.." Ja Kyung menenangkan.
"Semua ini karena Ma Jun.." ucap Ibu Ma Jun kesal.
"Kau bisa memarahinya saat pulang nanti." jawab Ja Kyung.
"Kau lihat Tak Goo? Bagaimana bisa, dia dimasukkan ke dalam kartu keluarga kita? Dan bahkan ayahmu menyuruhnya untuk bekerja di perusahaan." Ibu Ma Jun kesal bukan kepalang.
"Apa?" Ja Kyung dan Ja Rim terkejut mendengarnya.
"Ibu, sebenarnya ayah..." Ja Kyung mencoba menjelaskan perihal ayahnya.
Mendengar hal itu, Ibu Ma Jun pergi ke kantor manager Han. Emosinya meledak, "Katakan padaku yang sebenarnya terjadi?! Katakan?! Dia kecelekaan dan menghilang?" ucap Ibu Ma Jun.
"Ya. Memang terjadi kecelakaan dan ia menghilang." jawab manager Han.
"Ini bukan. Ini bukan ulahmu, benar?"
Manager Han terdiam. "Kau bilang kau tidak akan menyesali apapun yang akan lakukan. Aku melakukan yang terbaik sesuai dengan keadaan." ucap Manager Han tanpa rasa bersalah.
Ibu Ma Jun seketika itu juga menampar Manager Han. "Bagaimana bisa kau melakukan itu padanya? Siapa yang menyuruhmu untuk menggaggunya?? Temukan dia sekarang juga. Mengerti." Ibu Ma Jun menahan tangisnya. Tidak ia sangka, suaminya dicelakakan oleh orang kepercayaannya sendiri. "Kalau sampai kau tidak menemukannya aku tidak akan membiarkanmu begitu saja."
Presdir masih terbaring, ia terbangun karena igauannya sendiri. Presdir terbangun setelah teringat tentang kecelekaan dan orang-orang yang sudah menolongnya. Dadanya masih terasa sakit tapi Presdir memaksakan diri tetap berjalan untuk mengetahui dimana ia sekarang. Presdir berjalan pelan keluar kamar, ia melihat secangkir teh yang sudah disiapkan. Kemudian ia berjalan ke luar, ke halaman. Dari kejauahn Presdir melihat Ibu Tak Goo di taman itu. Ibu Tak Goo membelakangi presdir.
Karena rasa penasarannya, Presdir menghampiri wanita itu. Perlahan, ia mendekatinya. Kemudian tanpa sengaja, Presdir melihat cincin yang dikenakan oleh Ibu Tak Goo [cincin itu adalah milik ibu presdir yang diberikan kepada ibu tak goo.] Merasa yakin kalau itu adalah ibu Tak Goo, presdir memanggilnya pelan, "Apa itu kau?"
Perlahan Ibu Tak Goo berbalik ke arah Presdir. Presdir terkejut dan juga bahagia ternyata Ibu Tak Goo masih hidup. "Kau masih hidup?"
"Iya." jawab Ibu Tak Goo.
"Thanks God." Presdir amat sangat bersyukur, ia tidak mengira, ia bisa bertemu kembali dengan orang yang dicintainya.
Presdir mendekati Ibu Tak Goo, kemudian dengan lembut ia memeluk Ibu Tak Goo. Rasa bersalah dan rindu menyelimuti hati Presdir. Ia benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan Ibu Tak Goo lagi.
Di restaurant, Tak Goo dan Yu Kyung terdiam, tidak ada yang memulai berbicara. Dengan nada menantang, Ma Jun berkata pada Yu Kyung, "Baiklah. Tidak ada yang berbicara diantara kalian. Kalau begitu, ayo kita pergi Yu Kyung." Ma Jun berdiri dari duduknya. Tapi Yu Kyung tetap diam, "Kau tidak mau pergi?" tanya Ma Jun lagi. Akhirnya Yu Kyung berdiri dan berjalan ke luar ruangan.

"Yu Kyung.." panggil Tak Goo. Panggilan Tak Goo menghentikan langkah Yu Kyung.
Tak Goo menahan air matanya, "Katakan padaku Yu Kyung kalau semua yang terjadi saat ini tidak benar. Katakan padaku. Aku hanya percaya pada ucapanmu, aku hanya akan mendengar apa yang kau katakan. Aku tidak akan menghiraukan semua yang mereka katakan. Aku hanya percaya padamu. Semua yang terjadi ini tidak benar? Semua ini tidak benar-benar terjadi?" Tak Goo hanya ingin mendengar semuanya langsung dari Yu Kyung.
Yu Kyung terbata, "Maafkan aku." ucapnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Tak Goo.
Ma Jun berkata pada Tak Goo, "Sepertinya kau sudah mulai mengerti tentang semua ini. Sebelumnya aku sudah mengatakan padamu tapi kau juga tidak mempercayai semua perkataanku. Sekarang kau melihatnya sendiri. Kau bilang kau kakaku. Jadi, kau juga harus memberikan wanita yang kau cintai pada adikmu juga." ucap Ma Jun lalu pergi meninggalkan Tak Goo.
Tak Goo terpaku, ia tidak percaya, orang yang ia sayangi harus berkata seperti itu. Ia tidak percaya, selama 2 tahun Tak Goo berjuang untuk membuat roti demi Yu Kyung, tapi Yu Kyung malah memilih Ma Jun. Satu-satunya alasan ia dapat berdiri tegar adalah Ibunya dan Yu Kyung. Oh My Tak Goo, plis jangan nangis.. T.T
Tak Goo memanggil nama Yu Kyung dengan keras, "Yu Kyung!!"
Suara Tak Goo terdengar oleh Yu Kyung, Yu Kyung menghentikan langkahnya. Ma Jun berkata pada Yu Kyung, "Kalau kau menyerah, kau bisa kembali."
Yu Kyung menahan tangisnya, dan ia berbalik ke arah Ma Jun "Kau sudah merencanakan semua ini? Apa kau merasa senang sekarang? Apa kau pikir dengan melakukan hal ini kau bisa mengalahkan Tak Goo?"
Di rumah, Ibu Mi Sun menemukan formula racun di saku baju Ma Jun yang akan dicucinya. Ia memberitahukan apa yang ia temukan. Semua anggota keluarga berpikiran kalau itu adalah obat langka yang dimiliki oleh Ma Jun.
Ma Jun datang dan segera mengambil formula itu, ia membuat alasan kalau itu adalah formula untuk obat demam. Semua anggota keluarga percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ma Jun.
Ma Jun masuk ke kamarnya kemudian menemukan sebuah bungkusan kaset recorder yang dibelikan Tak Goo untuknya. Ma Joon membuka bungkusan dan mengeluarkan recorder yang masih tersegel.
Mi Sun berada di pintu, ia berkata, "Tak Goo yang membelikan itu untukmu. Dia menghabiskan 85000 untuk membeli yang baru. Aku yakin kau mengerti tanpa harus terlebih dulu aku jelaskan, tentang betapa banyaknya uang itu bagi Tak Goo. Tak Goo memang bodoh." Ma Jun kesal tapi juga kasian pada Tak Goo. Ia mencoba untuk tidak menangis. "Tak Goo bodoh. Bahkan ia sama sekali tidak tau kalau ada hal yang terpenting bagi hidupnya yang sudah diambil darinya. Dia memang bodoh. Dia malah menghamburkan uangnya yang didapat dengan kerja keras untuk membelikan itu."
Ma Jun terdiam.. Ia membuka recorder dan menyalakannya, ada rekaman suara Tak Goo di recorder itu. "Ma Joon kau tau, aku sangat senang membuat roti bersamamu di tempat ini. Aku benar-benar sangat bahagia."
Ma Jun memejamkan matanya, "Orang bodoh.." ucapnya. Ma Jun mulai merasa bersalah. Tapi, egonya tetap menguasainya.
Pagi harinya, seperti biasa, seluruh pembuat roti berkumpul. Tak Goo tidak ada dalam barisan itu. Ayah Mi Sun menanyakan Tak Goo pada Ma Joon. Ma Joon bilang kalau Tak Goo semalaman tidak pulang.
Mi Sun tanpa sengaja memperhatikan sekelilingnya dan ia melihat Tak Goo tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Mi Sun panik dan menjerit, "Tak Goo!!"
Semua orang lalu menolong Tak Goo, Tak Goo di bawa ke kamar. Ibu Mi Sun dan Mi Sun menjaga Tak Goo. Mi Sun mengecek panas badan Tak Goo, "Ia demam." ucap Mi Sun. Ibu Mi sun jadi teringat formula yang ia temukan di saku baju Ma Joon.
Ibu Mi Sun percaya apa yang dikatakan Ma Joon, kalau obat itu adalah obat demam. Langsung saja Ibu Mi Sun mencari obat itu di laci meja Ma Joon dan menemukannya. Ia menyuruh Mi Sun untuk meminumkan obat itu pada Tak Goo agar demamnya segera turun. Tanpa mengetahui kalau obat itu adalah racun, Mi Sun menuangkan formula racun itu ke sendok.
Di lantai bawah, Paman mengatakan kalau Ibu Mi Sun sangat pandai, jadi ia berpikir kalau Ibu Mi Sun pasti akan menggunakan obat demam milik Ma Joon. Ma Joon yang mendengar hal itu langsung terkejut. Ma Joon berlari dengan cepat ke kamar, ia berusaha untuk mencegah agar obat itu tidak diminum oleh Tak Goo.
Tapi, Ma Joon terlambat. Mi Sun sudah meminumkan obat itu pada Tak Goo.
Written by : Elok RF
Editor : Apni RF

BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA



0 comments:

Post a Comment


Friend Link List