Recent Post


[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 4

Do you want to share?

Do you like this story?



Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-2: Sheng Se Xiang Xu
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-1: Antara Hidup Dan Mati
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Maret 2000 (Cetakan Pertama)

Cerita Sebelumnya:
Di Kota Terlarang kini ibu Suri dan Permaisuri punya seteru baru. Selain Ziwei dan Xiao Yanzi, mereka juga mulai mengusik Hanxiang. Sementara itu, persoalan Qing’er yang seperti api dalam sekam akhirnya meletup ke permukaan. Menyebabkan retaknya hubungan Ziwei dan Erkang. Keduanya nyaris berpisah. Namun akhirnya mereka menyadari kalau mereka membutuhkan satu sama lain - dan tak sanggup terpisahkan.



IV

Pada suatu malam, Qianlong mengunjungi Graha Baoyue.

“Selir Xiang, kiriman anggur dan melon Tulufan dariku, apa sudah kau makan?” Tulufan adalah sebuah kota di Xinjiang yang terkenal dengan produksi buah anggur dan melonnya yang manis.

Hanxiang menghaturkan hormat. “Aku berterima kasih atas kiriman anggur dan melon tersebut. Tapi karena jauh-jauh datang dari kampung halamanku, aku jadi tak tega memakannya.”

“Jangan bodoh,” ujar Qianlong bergairah. “Makanlah buah-buahan itu selagi segar. Kalau cuma disimpan, nanti bisa busuk. Lekas bawa kemari untuk dimakan. Biar kutemani kau makan!”

Hanxiang lalu memberi perintah pada Weina dan Qina untuk mengambil buah-buahan itu.

Kedua dayang Hui itu pergi. Qianlong berjalan menghampiri Hanxiang, meraih lengannya sambil berkata lembut,

“Apa kau masih merindukan kampung halamanmu belakangan ini?”

Hanxiang mengelak ringan. Qianlong menahan diri sambil berkata riang, “Aku sudah memerintahkan pembangunan pemukiman suku Hui di Beijing. Di sana akan ada masjid. Kau bisa beribadah di sana. Beberapa orang sekampungmu juga akan pindah ke pemukiman itu. Kau bahkan bisa mengajak saudara-saudaramu untuk tinggal di sana agar kau tak begitu kesepian. Bagaimana menurutmu?”

Hanxiang menjawab datar, “Terima kasih atas perhatian Yang Mulia. Saudara-saudaraku semuanya sudah berkeluarga. Aku rasa mereka tak mungkin pindah kemari.”

Qianlong mencoba mendekat lagi dan meraih lengan Hanxiang. “Mendekatlah, jangan menghindar terus.”

Tapi Hanxiang kembali mengelak. Pada saat bersamaan, Weina dan Qina masuk membawa mangkuk buah-buahan dan meletakkannya ke atas meja.

Qianlong memetik sebutir anggur Tulufan.

“Hm, manis sekali… Aku pernah mendengar sebuah pepatah Xinjiang yang berbunyi, ‘Anggur dan melon Tulufan – beserta setangkai bunga Xinjiang.’ Hari ini aku menikmati anggur dan melon Tulufan. Memandang bunga Xinjiang yang cantik dan menghirup aroma misterius. Pas sekali dengan pepatah itu.”

Qianlong mengambil sebutir anggur dan menyuapkannya ke mulut Hanxiang. “Ayo makanlah. Jangan sampai kuhabiskan sendiri.”

Hanxiang memakan anggur itu dengan pasif. Aroma tubuh Hanxiang begitu memabukkan membuat Qianlong berdebar tak karuan. Tiba-tiba dia bergumam, “Belum pernah ada seorang selir pun yang sudah begitu lama masuk istana tak belum kusentuh! Malam ini, tak peduli kau bersedia atau tidak, aku akan menjadikanmu pantas menyandang gelar Selir!”

Hanxiang kaget. Dia buru-buru menukas, “Yang Mulia! Jagalah kehormatan Anda! Anda sudah pernah berjanji tak akan memaksaku!”

“Aku tak peduli!” sahut Qianlong arogan. “Aku harus memilikimu malam ini!”

Qianlong mencengkeram Hanxiang. Membuat Hanxiang melawan sekuat tenaga. Dia meronta, “Lepaskan aku! Lepaskan!” Kemudian dia meneriakkan sesuatu dalam bahasa Hui kepada Weina dan Qina.

Weina dan Qina langsung mengerti. Keduanya segera berlari keluar Graha Baoyue mencari pertolongan.

Hanxiang masih berusaha membujuk Qianlong. “Yang Mulia, aku menghormati Anda sejak pertama kali masuk istana. Aku selalu menganggap Anda sebagai tokoh yang Agung. Mohon Yang Mulia jangan merusak kekagumanku ini!”

“Kata-katamu memang terdengar merdu. Tapi aku sama sekali tidak tertarik!” Qianlong kembali memaksa memeluk Hanxiang. “Katakan! Apakah kau masih merindukan pria Hui itu? Apa pria iru masih ada dalam hatimu?”

Hanxiang membalas Qianlong dengan berani. “Ya! Dia masih ada dalam hatiku!”

Harga diri Qianlong sebagai Kaisar tersinggung. Dia murka. Secara refleks ditamparnya Hanxiang hingga jatuh.

Hanxiang berusaha bangkit berdiri. Di sudut bibirnya menetes darah. Tapi matanya pantang menyerah. Dipandangnya Qianlong kembali dengan penuh keberanian.

“Yang Mulia boleh memukulku atau membunuhku sekalian… Tapi selamanya Yang Mulia tak akan pernah mengusirnya dari hatiku! Dia akan tetap di sana! Seperti Gunung Tianshan yang tak tergoyahkan!”

Qianlong sangat marah sampai wajahnya merah. “Beraninya kau bicara begitu padaku! Kau anggap aku ini siapa?”

“Aku menganggap Yang Mulia sebagai ksatria!” sahut Hanxiang. “Anda pernah berjanji tak akan memaksaku! Sebab jika demikian, Anda tak ada bedanya dengan perampok! Apakah Yang Mulia akan membiarkan diri Anda yang begitu terhormat berubah menjadi perampok?”

Qianlong kini marah plus malu. Dia menggeram. “Kurang ajar! Sekarang aku tak peduli lagi apakah aku ini ksatria atau bukan! Pokoknya malam ini aku harus mengusir pria itu dari hatimu!”

Qianlong menerjang maju. Hanxiang sontak melompat mundur. Bersamaan, tiba-tiba terdengarlah seruan kasim dari luar,

“Putri Huanzhu tiba! Putri Ziwei tiba!”

Qianlong sontak terkejut. Sebelum dia dapat mengendalikan emosinya, Xiao Yanzi dan Ziwei telah menerobos masuk ke Graha Baoyue. Ziwei mendekap sebuah qin-kecapi. Sambil masuk dia berseru, “Selir Xiang! Tadi siang Anda bilang mau bermain qin bersamaku! Makanya aku datang membawa qin-ku!”

Tiba-tiba Ziwei menghentikan langkah dan pura-pura kaget melihat Qianlong. “Eh, Huang Ama juga ada di sini?”

Xiao Yanzi masuk sambil tertawa-tawa. Ketika dilihatnya di atas meja terdapat anggur, dia berseru, “Wah, ada anggur! Sudah lama aku tidak makan anggur!”

Tanpa basa-basi, Xiao Yanzi menjumput sebutir dan memakannya. “Wow! Enak sekali! Huang Ama! Anda benar-benar pilih kasih! Ada makanan enak tidak memberitahuku – malah diam-diam makan sendiri!”

Qianlong benar-benar kesal melihat kedatangan Ziwei dan Xiao Yanzi. Tapi ditelannya kemarahannya.

“Kalian berdua tahu sopan santun atau tidak? Bagaimanapun ini adalah kediaman selir dan aku sedang berada di sini! Seharusnya kalian menunggu dulu di luar!”

Xiao Yanzi memasang tampang lugu dan bertanya dengan polos, “Lho, kenapa? Kalau kami ke Istana Yanxi, Huang Ama tidak pernah menyuruh kami pergi sekalipun itu kediaman Sellir Ling. lagi pula, Huang Ama sendiri kan yang meminta kami untuk sering-sering menemani Selir Xiang?”

Qianlong terdiam. Kejengkelannya serasa naik ke ubun-ubun. Di belakangnya, Hanxiang berdiri dengan rasa takut yang belum pulih.

Ziwei menghampiri Qianlong sambil menghormat. “Mohon Huang Ama jangan marah. Kami dan Selir Xiang sedang berlatih sebuah lagu. Jika Huang Ama berkenan, dengarkanlah kami menyanyi. Bagaimana?”

Qianlong masih belum menyahut, Xiao Yanzi telah menyeretnya untuk duduk di sebuah kursi. “Ayolah, mari Huang Ama duduk di sini! Kami akan menunjukkan kebolehan kami kepada Huang Ama. Ini ‘Qian Zhai Nan Feng’ – kesempatan yang langka sekali! Eh, barusan aku berhasil mengutip sebuah peribahasa! Bukankah aku patut dipuji? Ayo, berilah aku sebuah hadiah dengan sudi mendengar kami bernyanyi!”

Qianlong masih gusar. Tapi akhirnya dia hanya bisa duduk dengan kesal.

Ziwei menarik Hanxiang untuk bergabung. Ketiga gadis itu pun akhirnya mulai bernyanyi sambil memainkan alat musik. Mereka menatap Qianlong sambil mendendangkan lagu penuh perasaan,

“Ketika gunung tak lagi bertepi. Air sungai berhenti mengalir. Waktu berhenti berputar. Serta siang dan malam menyatu. Aku tetap tak sanggup berpisah denganmu. Karena kelembutanmu adalah harapan terbesar dalam hidupku….”

“Ijinkan kami bersama-sama mengarungi bahtera hidup di dunia. Meski dalam gemuruh dan badai selamanya. Agar dapat selalu bersama menikmati kebahagiaan dalam hidup ini. Saling berhadapan mendendangkan kebahagiaan kami. Menggenggam masa muda dalam kebahagiaan…”

Tanpa bisa dicegah, perasaan Qianlong akhirnya ikut larut oleh lagu tersebut. Sementara ketiga gadis bernyanyi sambil membayangkan kekasih masing-masing. Mata ketiganya berbinar-binar. Pipi mereka bersemu.

Qianlong merasa aneh. Perasaannya masih hanyut oleh lagu tadi. Ketiganya selesai bernyanyi. Ziwei meletakkan qin-nya, berdiri, lalu menekuk lututnya ke hadapan Qianlong.

“Lagu yang indah. Siapa yang menciptakannya?”

“Aku,” jawab Ziwei.

Qianlong tampak tepekur. “Syairnya membuat jiwaku tergetar. Ah, seandainya aku juga memiliki belahan jiwa dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia semacam itu….”

Ziwei menatap Qianlong lalu berkata dengan tulus, “Bukankah Huang Ama sudah memiliki banyak belahan jiwa? Selir Ling salah satunya. Juga selir-selir lainnya termasuk… ibuku yang telah menanti seumur hidup itu…”

Kata-kata Ziwei seperti menusuk Qianlong. Sang Kaisar pun tersentak.

Ziwei kembali melanjutkan perkataannya dengan penuh perasaan, “Dulu, penyair Ou Yangxiu pernah berkata, ‘Dalam diri manusia ada kegilaan. Kegilaan yang dipenuhi kebencian tak dapat ditembus oleh apapun.’ Terkadang, ada beberapa hal yang memang tak berjalan sesuai harapan. Yang namanya perasaan, memang tak dapat diatur apalagi dipaksa…”

Perkataan Ziwei benar-benar sangat dipahami Qianlong. Alih-alih merasa tersindir, Qianlong justru merasa sangat tergetar karenanya. Pada titik itu Qianlong pun mengerti. Kehadiran Xiao Yanzi dan Ziwei di situ adalah sengaja untuk menyelamatkan Selir Xiang!

Qianlong menatap Ziwei beberapa saat. Tiba-tiba dia merasa terkejut. Sesaat yang lalu, hasratnya yang menggebu untuk memaksa Selir Xiang telah terpatahkan dengan kehadiran Ziwei dan Xiao Yanzi. Qianlong beralih ke Hanxiang. Gadis itu tampak anggun dan melankolis. Berdampingan dengan Ziwei serta Xiao Yanzi, ketiganya bagai kakak beradik.

Qianlong pun bangkit dari kursinya. Tanpa emosi dia mendesah dan berkata, “Kalian bertiga bernyanyi dan mengobrollah. Aku tak akan di sini untuk menghalangi kalian lagi.”

Selesai bicara, Qianlong menundukkan kepala dan berlalu. Xiao Yanzi dan Ziwei mengantar sampai ke pintu seraya mengucapkan salam, “Xiao Yanzi dan Ziwei mengantar Huang Ama!”

Setelah Qianlong menjauh, barulah Hanxiang menghampiri keduanya dan menggamit lengan keduanya erat-erat. Ketiganya menghembuskan napas lega. Tapi mereka juga khawatir. Pertolongan semacam ini tak mungkin bisa terjadi terus-menerus. Sorot mata Hanxiang jadi lesu. Menyiratkan kekhawatiran terpendam.

***

Keesokan paginya, Ziwei, Xiao Yanzi dan Hanxiang berjalan-jalan di taman bunga istana. mereka sedang mendiskusikan soal wangi di tubuh Hanxiang.

“Selir Xiang, kata Guru, tubuhmu yang wangi itu membuat kalian selalu gampang tertangkap sewaktu melarikan diri,” Xiao Yanzi berkata. “Apakah kau pernah berpikir untuk menghilangkan bau harumnya? Sebab, kalau tubuhmu masih berbau harum, rencana apapun yang kita siapkan pasti tak dapat terlaksana!”

“Menghilangkan bau harumnya?” Hanxiang menatap Ziwei dan Xiao Yanzi. “Kalian pikir aku tak pernah mencoba menghilangkannya?” keluhnya. “Dulu aku dan Meng Dan telah mengupayakan segala cara. Mulai dari mencampur berbagai wewangian lain ke seluruh tubuhku – tapi bau aslinya tetap tak mau hilang.”

Xiao Yanzi menghirup napas dalam-dalam. “Wangi tubuhmu seperti wewangian sejenis bunga…”

Ziwei juga ikut menghirup. “Bukan cuma satu. Tapi berbagai macam bunga.”

Hanxiang melanjutkan, “Celakanya, setiap kali aku bergerak atau berlari, wanginya pasti semakin semerbak. Bahkan, saat musim semi dan musim panas, wanginya bisa sampai mengundang kupu-kupu. Orang yang hendak menangkapku tinggal melihat ke mana arah pergi sekelompok kup-kupu lalu mengikutinya.”

“Benarkah?” Xiao Yanzi terbelalak. “Aku memang sudah pernah mendengarnya dari Guru. Tapi kerena belum pernah melihatnya, aku masih belum percaya.”

“Kalau begitu, akan kuperlihatkan padamu,” Hanxiang berkata seraya berlenggak-lenggok di atas rumput. Dia berputar-putar, membuat balutan pakaiannya pun berkibar-kibar. Lalu ajaib! Mula-mula satu-dua kupu-kupu terbang mendatanggi Hanxiang. Disusul serombongan kupu-kupu lainnya!

Xiao Yanzi sangat terkesima. “Wah…, indah sekali! Aku nyaris tak percaya…” dia mengulurkan tangan untuk menangkap seekor.

Ziwei juga terkesima. “Benar-benar sulit dibayangkan sebelumnya!”

Hanxiang menarik Xiao Yanzi dan Ziwei hingga kedua putri mengapit dirinya. “Kalian berdirilah di sini! Nanti kupu-kupunya juga akan hinggap di tubuh kalian!”

Hanxiang mengembangkan kedua tangannya. Ziwei dan Xiao Yanzi mengikutinya. Kupu-kupu berterbangan mengelilingi mereka. Ada yang hinggap di tangan Hanxiang, rambut Xiao Yanzi dan bahu Ziwei.

Dari kejauhan, Qianlong datang mendekat disertai para dayang dan kasim, terkesima menyaksikan pemandangan itu.

Erkang dan Yongqi yang kebetulan lewat juga menyaksikannya. Mereka juga terpaku.

“Benar-benar menakjubkan!” gumam Yongqi.

Erkang melihat ke arah Qianlong yang terpesona. Erkang kenal benar sorot mata semacam itu! Kini, Kaisar pasti tengah mabuk-kepayang oleh Hanxiang. Terlebih, kebolehan Hanxiang untuk menari bersama kupu-kupu ini! Erkang memandang berkeliling. Tampak begitu banyak orang di taman bunga itu: para selir, dayang serta orang kasim yang melihat kejadian tersebut. Tiba-tiba, terbesit kekhawatiran dalam dirinya. Dia berbisik pada Yongqi,

“Ini tidak baik. Terlalu menarik perhatian! Aku khawatir akan timbul kesulitan suatu hari. Ketiganya terlalu ceroboh!”

Yongqi merasa terkejut. Dia memandang ke arah Qianlong dan mengangguk.

Begitu menyadari banyak orang sedang menontonnya, Hanxiang mengangkat tangan dan kerumunan kupu-kupu itu pun bubar.

Qianlong tak dapat menahan diri menunjukkan kegembiraannya. Dia mulai bertepuk tangan. Orang lain mengikutinya. Hanxiang pun segera memberi hormat padanya.

“Yang Mulia!”

Qianlong berkata dengan takjub, “Pemandangan tadi telah membuka mataku! Kini aku mengerti mengapa Ali Hoja menganggapmu sebagai harta suku Hui. Kau adalah harta karun yang tiada duanya!” Qianlong lalu tertawa, “Tak peduli betapa rumitnya harta karun ini, aku sangat bangga karena dapat memilikinya!”

Ziwei tersentak mendengar perkataan Qianlong. Diam-diam dia merasa bersalah. Seharusnya tadi dia tak membiarkan Hanxiang menunjukkan kebolehannya di depan begitu banyak orang!

***

Di Paviliun Shuofang, erkang dan Yongqi menegur Ziwei-Xiao Yanzi.

“Pemandangan tadi telah menghebohkan orang-orang! Kenapa kalian berdua tidak mencegah Selir Xiang untuk mempertontonkannya? Lihat akibatnya! Kaisar begitu kagum sampai serasa memiliki harta karun! Setelah ini, Beliau pasti akan lebih sulit melupakan Selir Xiang!”

“Betul kata Erkang!” timpal Yongqi. “Apa kalian ingin melihat Pi Fu Wu Fei – orang yang terjebak kesulitan karena kelebihannya? Selir Xiang selama ini justru menderita karena kelebihannya. Sekarang kelebihan itu terungkap, bisa-bisa nanti berakibat fatal!”

Xiao Yanzi bingung dengan ungkapan Yongqi. Tapi dia tak mau mengakui ketidak tahuannya – melainkan langsung mencerocos, “Apa yang dimaksud ‘kulit tak berdosa’? Apa hubungannya bau harum yang dipancarkan oleh ‘kulit’ dengan ‘dosa’ atau ‘tak berdosa’?”

“Ya Tuhan!” Yongqi menepuk jidatnya.

“Jangan panggil-panggil Tuhan!” sembur Xiao Yanzi. “Baiklah, semuanya gara-gara aku! Selir Xiang mempertontonkan kebolehannya karena aku yang minta. Mana aku tahu kalau nantinya Huang Ama akan datang dan begitu banyak orang berkerumun? Jadi, anggap saja ‘kulitku-lah yang berdosa’!”

“Tak perlu mengatakan ‘kulitmu yang berdosa’ segala! Apakah kalian sudah dapat ide untuk melenyapkan bau harum itu?” tanya Erkang.

“Sudah pernah makan bawang putih?” usul Jinshuo. “Aroma bawang putih itu sangat menyengat. Mungkin bisa mengusir bau sebelumnya. Coba makan bawang putih selama sebulan lalu kita lihat hasilnya.”

Xiao Yanzi sontak membentak, “Apa kau mau merubah Selir Harum menjadi Selir Bau?”

Semuanya langsung tertawa.

Xiao Yanzi berjalan mondar-mandir mencari akal. Tiba-tiba matanya berbinar. “Aku ada ide! Bagaimana kalau kita justru menambahkan wangi harumnya itu!”

“Maksudnya?” Yongqi tak mengerti.

Xiao Yanzi berkata dengan penuh semangat, “Besok, aku akan memetik bunga banyak-banyak dan merendamnya dalam air mandi. Kita akan membuat air bunga agar setiap orang bisa mandi hingga harum. Lalu, pada hari kita membawa kabur Selir Xiang, kita yang sudah mandi bunga akan mengikutinya – setelah itu berpencar ke tempat berbeda. Sehingga, kalau ada prajurit yang mengejar, mereka akan kebingungan karena ada lebih dari satu Selir Xiang!”

Mereka mendengarkan ide Xiao Yanzi. Lalu Erkang mengangguk-angguk memuji. “Mungkin ini cara yang bagus. Cukup kreatif! Xiao Yanzi sebenarnya cerdik!”

Dipuji Erkang membuat Xioa Yanzi besar kepala. Ziwei yang merasa ragu berkomentar, “Wangi tubuh Selir Xiang tidak berasal dari bunga biasa. Kita belum tahu cara ‘mandi bunga’ itu akan menghasilkan efek apa. Sebaiknya jangan melakukan sesuatu yang berakibat fatal!”

“Bagaimana bisa fatal?” sanggah Xiao Yanzi. “Tidak mungkin! Begini saja, pertama-tama, gunakan saja aku sebagai kelinci percobaan. Kalau berhasil, barulah kita melakukannya bersama-sama. Setuju?”

***

Keesokan harinya, semua penghuni Paviliun Shuofang mulai sibuk memetik bunga-bungaan.

Xiao Cuozi dan Xiao Dengzi malah menyelinap ke beberapa taman sekitar untuk memetik berbagai jenis bunga serta rumput langka.

Lalu, Xiao Yanzi berendam dalam air bunga untuk waktu yang lama. Ziwei, Jonshuo, Mingyue serta Caixia mengelilingi bak mandi untuk membantunya membalur bunga-bungaan ke seluruh tubuhnya.

“Bagaimana kau membuktikan kalau ternyata kau sama harumnya dengan Selir Xiang?”
tanya Ziwei.

“Besok pagi aku akan ke taman bunga untuk menarik kupu-kupu,” jawab Xiao Yanzi. “Kalau kupu-kupunya berdatangan, berarti berhasil. Tapi kalau tidak, artinya percobaan ini gagal.”

Nah, setelah berendam semalaman, Xiao Yanzi benar-benar telah berubah menjadi harum!

Keesokan paginya, Xiao Yanzi pergi ke taman bunga untuk melakukan uji coba. Dia memilih satu sudut dan mulai merentangkan tangan meniru gerakan Hanxiang.

Tak seekor kupu-kupu pun datang menghampirinya. Kemudian Xiao Yanzi menari-nari berputar. Dia berputar dengan berlebihan sampai melayangkan tubuh dan lompat jungkir-balik.

Yang lainnya menyaksikan di sekeliling Xiao Yanzi. Yongqi berseru, “Kau jangan terlalu banyak bergerak! Nanti tubuhmu berkeringat dan melunturkan bau harum yang susah-susah diperoleh!”

“Betul! Bau harum Selir Xiang itu dari dalam sedang bau harummu digosok dari luar! Jangan lagi kau pertontonkan jurus kungfumu!” Ziwei ikut melarang.

Xiao Yanzi akhirnya tidak melompat kesana-kemari lagi. Melainkan berdiri diam dan merentangkan kedua tangannya.

Beberapa dayang serta kasim mulai bermunculan di taman itu guna menyaksikan ulah Xiao Yanzi. Mereka merasa heran dan berbisik-bisik.

Semua menahan napas. Seekor kupu-kupu pun belum tampak. Ziwei dan kawan-kawan mulai pesimis.

“Mandinya sudah cukup harum belum? Siapa tahu masih kurang?”

“Sudah memakai bunga berkeranjang-keranjang! Kalau masih kurang harum, mau bagaimana lagi?” timpal Ziwei.

Xiao Dengzi berujar, “Menurutku tidak akan berhasil!”

Xiao Cuozi membalas, “Menurutku juga tidak!”

Mulai kesal, Xiao Yanzi pun berteriak, “Kalian jangan ribut terus! Gara-gara kalian, kupu-kupunya tidak datang!”

“Baik, baik,” Ziwei tertawa. “Semuanya tenang. Jangan berisik. Kalau percobaannya gagal, kita semua akan bertanggung jawab!”

Semuanya tertawa dengan suara tertahan. Xiao Yanzi menutup mata. Merentangkan kedua tangannya dengan khusyuk lalu komat-kamit mengucap mantra, “Arwah-arwah di langit. Arwah-arwah di bumi. Aku adalah dewi bunga yang turun ke bumi. Wahai kupu-kupu, datanglah segera…”

Di udara terdengar dengungan halus mendekat.

“Ada yang datang!” ujar Yongqi.

“Benar-benar ada yang datang!” sambung Ziwei.

Erkang membelalak. Jinshuo menjerit. “Aiya! Celaka! Lebah! Yang datang lebah!”

Xiao Yanzi buru-buru membuka mata. Dilihatnya sekumpulan lebah terbang rapat membentuk bayangan hitam menutupi kepalanya.

Xiao Yanzi menjerit. “Lebah! Kenapa yang datang justru lebah?”

Yongqi berteriak, “Xiao Yanzi! Lari!”

Para dayang dan kasim yang menonton di sekeliling berteriak kaget. Semuanya lari tercerai-berai ke segala penjuru. Mereka pontang-panting sambil melindungi kepala.

Xiao Yanzi mengibas-ngibaskan tangan. Berusaha mati-matian mengusir pasukan lebah sambil berteriak melolong,

“Jangan sengat aku! Aku bukan bunga! Aku bukan dewi bunga! Aku Xiao Yanzi! Arwah-arwah di langit, arwah-arwah di bumi, aku tak mau lagi jadi dewi bunga! TOLOOONG…..!!!”

Xiao Yanzi kehabisan akal. Dia melompat kesana-kemari. Tapi lebah-lebah itu tetap mengejar tak kenal menyerah. Xiao Yanzi melabrak ke kanan-kiri. Dan pasukan lebah terus mengikutinya seperti bayangan.

Erkang, Yongqi dan Ziwei berteriak kalang kabut, “Xiao Yanzi! Cepat lari! Cepat….”

Melihat begitu banyak lebah yang menyengat Xiao Yanzi, Yongqi merasa cemas. Dia segera melepas jaket luarnya dan menerjang menutupi kepala Xiao Yanzi.

Semua yang berada di taMan bunga, ada yang berlari, mengejar, berteriak… ditambah dengungan lebah yang terbang kacau-balau. Pokoknya benar-benar pemandangan yang luar biasa!

***

Xiao Yanzi disengat lebah hingga mukanya bengkak-bengkak.

Rupanya sangat mengenaskan. Xiao Yanzi berbaring di kursi malas Paviliun Shuofang. Nyeri akibat sengatan membuatnya mengerang-erang.

Semua orang mengelilinginya. Ziwei membantu mengoles salep sambil berkomentar, “Benar-benar banyak sengatannya!”

Yongqi sampai ngeri melihatnya. “Aku akan memanggil tabib!” katanya.

Xiao Yanzi langsung bangkit dan menarik Yongqi. “Jangan bikin malu! Aku tak mau bertemu tabib! Semua gara-gara kau! Pakai bilang ‘kulit tak berdosa’ segala! Ini bukan lagi ‘kulit tak berdosa’! Tapi ‘kulit yang dihukum’! ‘Kulit yang bengkak-bengkak’!”

Xiao Yanzi marah-marah. Semuanya turut bersimpati sekaligus geli. Yongqi berkata dengan ekspresi bingung, “Baiklah! Anggap saja aku yang salah karena bilang ‘kulit tak berdosa’! Nah, sekarang, biar kuminta tabib memeriksamu, ya?”

“Tidak! Tidak!” Xiao Yanzi menghentak kakinya kuat-kuat. “Kalau tabib datang, seisi istana akan tahu aku berlagak meniru Selir Xiang. Dan mereka pasti akan menertawakanku! Pokoknya jangan panggil tabib!”

Erkang berkomentar, “Tapi tadi toh sudah banyak dayang dan kasim yang melihatmu. Ini bukan rahasia lagi…”

“Pokoknya aku tak mau dipanggilkan tabib!!!” lolong Xiao Yanzi.

Akhirnya mereka semua jadi sibuk. Terutama kaum wanita Paviliun Shuofang. Ada yang mengompres, ada yang meniup, serta ada yang mengolesi salep. Semuanya tak habis pikir, kenapa Hanxiang bisa menarik kupu-kupu, Xiao Yanzi justru memanggil lebah.

Tiba-tiba terdengar gema suara kasim yang menyerukan kedatangan Qianlong. Semua terkejut. Xiao Yanzi mengerang. Dia langsung menarik jaket Yongqi menutupi kepalanya lagi.

Qianlong memasuki Paviliun Shuofang sambil berkata, “Xiao Yanzi! Di mana kau? Tadi Xiao Luzi melapor. Katanya Putri Huanzhu berlarian serta melompat-lompat di taman bunga. Semua dayang serta kasim lain ikut menonton!”

Xiao Yanzi masih menutup seluruh wajahnya rapat-rapat. Hanya suaranya yang keluar tak jelas.

“Xiao Yanzi menghaturkan hormat pada Huang Ama! semoga Huang Ama berbahagia!”

Qianlong terkejut melihat Xiao Yanzi yang membungkus kepalanya.

“Kau kenapa lagi? Apa ada orang yang menggusarkan hatimu lagi? Ayo lekas keluar dari penutup wajahmu itu!”

Xiao Yanzi menggeleng kuat-kuat. Tapi akhirnya dia pasrah sewaktu Qianlong memerintahkan para dayang untuk menarik paksa jaket yang menutupi wajahnya itu.

“Disuruh keluar, ya, aku keluar!” katanya ketus sambil membuka jaketnya.

Tarra! Tampaklah di hadapan Qianlong seraut wajah bengkak-bengkak dan mengerikan.
Qianlong terperanjat. “Kenapa bisa begini?”

Erkang khawatir Xiao Yanzi salah bicara, maka, dia maju dan menjelaskan, “Lapor Yang Mulia, setelah melihat Selir Xiang mengundang kupu-kupu kemarin, Xiao Yanzi bermaksud menirunya. Dia lalu punya ide gila untuk berendam dalam air bunga semalaman. Tapi siapa sangka, yang datang bukan kupu-kupu – melainkan segerombolan lebah…”

Belum selesai Erkang bicara, Qianlong sudah tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha! Jadi, ternyata ‘Dong Shi Xiao Pin’ – mencoba meniru mati-matian, hasilnya malah menggelikan! Ha ha ha! Xiao Yanzi, ini adalah lelucon paling kocak sepanjang tahun ini! Kau memang anugerah yang menggembirakan hatiku! Ha ha ha!”

Melihat Qianlong tertawa, yang lainnya pun ikut tertawa. Xiao Yanzi memonyongkan mulut.

“Huang Ama, lucu sekali, ya? Baiklah! Meski seluruh wajah bengkak-bengkak begini, aku rasa sudah impas karena bisa membuat Huang Ama gembira sampai tertawa-tawa. Sebenarnya kau ingin mencari lebah-lebah itu! Lalu mengurungnya dan membakar mereka sampai keriting! Tapi sekarang sudahlah…, aku ampuni saja mereka!”


Qianlong kembali tertawa. Dia lalu menoleh ke arah Yongqi, “Kenapa kau masih belum memanggil tabib?”

Yongqi langsung menyanggupi dengan suara lantang, kemudian pergi. Xiao Yanzi yang semula tak ingin bertemu tabib, akhirnya terpaksa bertemu karena perintah Kaisar. :p

***

Qianlong tak sabar untuk memberitahukan kejadian Xiao Yanzi ini kepada Selir Xiang.

Hanxiang terperanjat sewaktu tahu. Dia bertanya cemas, “Apakah lukanya parah? Aku akan ke Paviliun Shuofang untuk menjenguknya!”

Qianlong menatap Hanxiang lekat-lekat. “Kau akrab sekali ya, dengan Ziwei dan Xiao Yanzi?”

Hanxiang membalas tatapan Qianlong dan berkata jujur, “Benar. Aku sangat menyukai keduanya. Mereka adalah anugerah Allah padaku. Mereka adalah penghibur serta pemberi harapan. Aku sangat menyukai keduanya!”

Qianlong berpikir sejenak lalu lanjut mengatakan, “Aku juga menganggap keduanya merupakan anugerah dari Langit padaku. Sepertinya.., ini adalah sedikit kesamaan di antara kita.”

Tiba-tiba, Hanxiang menekuk lututnya di hadapan Qianlong.

Qianlong terperanjat. Tidak biasanya Hanxiang memberi hormat ala Manchu. Selama ini, Hanxiang selalu memberi hormat dengan gaya suku Hui – yakni menyilangkan kedua tangan.

Hanxiang mengangkat kepala memandangi Qianlong dengan tulus, “Yang Mulia, Ziwei dan Xiao Yanzi pernah berkata padaku bahwa Anda adalah ayah paling welas asih sedunia! Anda seorang ayah yang memiliki sekeping hati yang lapang. Mereka juga bilang kalau Anda sangat manusiawi, penuh pengertian serta pemahaman akan perasaan seseorang. Dengan pemahaman serta kelapangan hati Anda, sudilah Yang Mulia mengasihaniku! Jika Anda dapat menghormatiku, seumur hiduo akan kuhabiskan untuk membalas budi Yang Mulia!”

Qianlong merasa tersentuh dengan permohonan Hanxiang. Hanxiang kemballi melanjutkan perkataannya, “Aku akan menjadi pelayan Yang Mulia. Penghibur Yang Mulia. Benda kesayangan Anda… upeti bagi Anda!”

Qianlong terpana.

“Kau mau jadi apapun, kecuali sebagai selirku?”

Hanxiang bersujud hingga kepalanya menyentuh lantai. Dia terus bersujud sebagai tanda keteguhan hatinya.

Qianlong termenung beberapa saat lalu mendesah panjang, “Baiklah. Aku tak akan memaksamu lagi. Aku akan mengabulkan permohonanmu. Aku juga menghormatimu serta memaafkan sikapmu yang sebelumnya…”

Hanxiang bangkit dari sujudnya. Sebutir air mata mengalir ke pipinya. Di bibirnya tersungging senyuman.

“Terima kasih…, terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia…”

***

Keesokan harinya, Permaisuri dan Bibi Rong datang mengunjungi Paviliun Shuofang.

Berita tentang Xiao Yanzi tersengat lebah telah sampai di telinga keduanya. Mereka pun datang ke Paviliun Shuofang dengan segenap kemegahan arak-arakan. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mempermalukan Xiao Yanzi.

Tapi bukan namanya Xiao Yanzi kalau tidak bisa mengatasi Permaisuri dan Bibi Rong dengan cara yang seru. Kita lihat saja!

Pada saat rombongan Permaisuri tiba, kebetulan Erkang dan Yongqi juga berada di Paviliun Shuofang. Xiao Yanzi semula tak mau bertemu Permaisuri. Tapi siapa nyana, dia kedapatan Permaisuri sewaktu hendak berputar ke kamar. Akhirnya, Xiao Yanzi mengambil sapu tangannya untuk menutupi separuh wajahnya hingga yang terlihat cuma matanya.

Permaisuri terbelalak menatap Xiao Yanzi. “Wah, wah, ini kenapa ya? Wajahnya sampai dikerudungi saputangan segala! Apa sekalian mau berubah menjadi orang Hui seperti Selir Xiang? Xiao Yanzi, apa kau pernah mendengar peribahasa, ‘bermaksud menggambar harimau, yang jadi justru gambar anjing’? Kunasihati, tak perlu meniru-niru Selir Xiang lagi. Ayo, bukalah saputangannya…”

Perkataan Permaisuri yang kasar dan menusuk membuat Xiao Yanzi geram. Emosinya langsung naik. Disingkapnya saputangan lalu menggeram.

“Huang Erniang! Silakan lihat mukaku! Aku disengat lebah hingga bengkak-bengkak!”

Permaisuri sangat puas hatinya. Dia berkata mengejek, “Wah, lebah-lebah itu pasti menyukai wajahmu yang mungil ya?”

Bibi Rong memans-manasi, “Barangkali, Putri saking cantiknya seperti bunga sehingga lebah-lebah itu bingung. Mereka pun terbang menghampiri Putri guna mengisap madu.
Kabarnya hari itu di taman suasananya sangat menggegerkan. Semua orang melihat Putri main petak umpet dengan lebah!”

Alis Xiao Yanzi terangkat tinggi dan melotot. Mendengar kata-kata Permaisuri serta Bibi Rong, Yongqi dan Erkang jadi panas juga. Erkang berkata pada Permaisuri, “Putri Huanzhu hanya iseng-iseng meniru Selir Xiang, tapi tak bisa melakukannya dengan benar. Perlukah Yang Mulia Permaisuri menertawakannya seperti ini?”

Permaisuri menoleh gusar ke arah Erkang. “Perkataan macam apa tadi? Hari ini aku berbaik hati menjenguk Xiao Yanzi. Kau malah berani mengucapkan perkataan semacam itu padaku! Benar-benar tak tahu aturan…”

Tiba-tiba, Xiao Yanzi terbelalak dan terpaku ke atas kepala Permaisuri.

Semua orang tak tahu Xiao Yanzi sedang melihat apa – ikut melihat ke arah yang sama.

Permaisuri keheranan melihat semua orang melihat atas kepalanya. Dia mendongak, tapi tak ada apa-apa.

Tiba-tiba Xiao Yanzi melompat dan berteriak keras, “Celaka! Lebah-lebahnya membuntutiku sampai kemari!” Dia lalu melayang, mengulurkan tangan dan memukul topi pianfang Permaisuri hingga jatuh ke lantai.

“LEBAH!” Xiao Yanzi berteriak histeris. “ADA LEBAH! ADA LEBAH!” Lalu diinjaknya topi pianfang Permaisuri sampai rata.

Yang lainnya terlonjak kaget. Terlebih Permaisuri. Dia hanya bisa mematung selama beberapa saat.

“Masih ada di sini!” Xiao Yanzi kembali terlonjak. Dia memukul topi pianfang Bibi Rong sampai jatuh lalu menginjak-injaknya.

“MATI KAU LEBAH! Kuinjak kau sampai mati! Kuinjak kau!!!”

Seisi ruangan terkesima dengan kelakuan Xiao Yanzi. Setelah puas menginjak dan berteriak, Xiao Yanzi menepuk dadanya.

“Ah, sudah mati semua!”

Xiao Yanzi lalu memungut kedua topi itu. Dia menepuk-nepuknya hingga bunga-bunga dan rumbai-rumbainya bergoyang-goyang. Lalu katanya dengan penuh sesal, “Huang Erniang, maafkan aku! Aku telah menginjak topi pianfang Anda sampai rata. Tadi itu betul-betul ada lebah!”

Kemudian Xiao Yanzi berteriak kepada para dayang, “Mingyue, Caixia, Jinshuo! Lekas ikut aku untuk memperbaiki topi-topi ini!”

Ketiga dayang itu tak tahu rencana apa yang ada di benak Xiao Yanzi. Mereka pun menjawab, “Baik!” – lalu membawa topi-topi itu keluar ruangan. Xiao Yanzi mengikuti mereka – tapi sebelum keluar, dia masih bisa mengedipkan sebelah mata pada Ziwei.

Ziwei, Erkang dan Yongqi pun tak tahu muslihat apa yang tengah disiapkan Xiao Yanzi. Melihat wajah Permaisuri dan Bibi Rong yang masam, Ziwei terpaksa tersenyum sambil berkata,

“Mohon Huang Erniang jangan marah. Sejak disengat lebah kemarin, Xiao Yanzi jadi phobia terhadap lebah. Dia juga sedikit mengalami gangguan saraf (wah, artinya nyaris gila dong!) dan selalu mengatakan di Paviliun Shuofang ini ada lebahnya. Kadang memang ada satu sampai lima ekor…”

Bibi Rong tampak ragu. “Hamba tak melihat seekor pun…”

Permaisuri juga menyambung curiga, “Aku juga…”

“Ada, ada! Tadi kulihat ada beberapa mati diinjak Xiao Yanzi!” tukas Yongqi.

Erkang yang sudah mulai geli memasang tampang serius, “Lebih Anda percaya. Lebah-lebah itu benar-benar ganas. Melihat wajah Putri Huanzhu yang bengkak-bengkak, kita sudah bisa mengetahuinya. Sebaiknya memang berhati-hati.”

Tidak lama, muncullah Jinshuo, Caixia yang masing-masing membawa kedua topi. Xiao Yanzi dan Mingyue mengekor di belakangnya.

Jinshuo berkata, “Yang Mulia, topi Anda telah diperbaiki.biarkan hamba memakaikannya ke kepala Anda!”

Caixia juga mengatakan hal yang kurang lebih sama pada Bibi Rong.

Bibi Rong memeriksa kedua topi itu. Tak tampak mencurigakan. Keduanya diperbaiki dengan sempurna.

Para dayang membantu memakaikan topi-topi tersebut ke kepala Permaisuri dan Bibi Rong. Setelah topi-topi itu terpasang baik, Permaisuri bersiap meninggalkan ruangan.

“Baiklah, aku pergi! Xiao Yanzi, rawatlah wajah mungilmu itu baik-baik! Jangan sampai tersengat lebah lagi!”

Xiao Yanzi menekuk lututnya. “Terima kasih atas perhatian Huang Erniang! Xiao Yanzi akan mematuhi petunjuk Huang Erniang!”

Wohoho, tidak biasanya Xiao Yanzi bersikap begitu manis pada Permaisuri. Bibi Rong sangat curiga.

Setelah rombongan Permaisuri pergi, Xiao Yanzi berkata pada yang lainnya, “Ayo kita ikuti! Kemungkinan ada tontonan bagus yang bisa dilihat!”

Semuanya mengikuti Xiao Yanzi. Mereka mengendap-endap mengikuti rombongan Permaisuri dari balik gunung buatan.

Permaisuri dan Bibi Rong tertawa-tawa puas sambil bercakap-cakap perihal wajah Xiao Yanzi. Sementara itu, Erkang yang penasaran, tak tahan lagi untuk bertanya,

“Xiao Yanzi, sebenarnya kau apakan topi-topi itu?”

Jinshuo yang menjawab. Sambil cekikikan dia berkata, “Sisa bunga dari air mandi Xiao Yanzi masih ada. Jadi kami mengeringkannya. Tadi, bunga-bunga itu kami gosok ke topi-topi tersebut.”

“Kita akan lihat - apakah lebah-lebah juga menyukai topi-topi itu atau tidak?” timpal Xiao Yanzi sambil tertawa.

Tiba-tiba Caixia menunjuk sesuatu di depan, “Ada yang datang! Ada yang datang!”

“Apa yang datang?” tanya Mingyue.

“Lebah! Lebah!” pekik Xiao Cuozi.

“Ya! Lebah! Lebah!” seru Xiao Dengzi.

Semuanya membelalakkan mata. Sekawanan lebah berterbangan di udara dan langsung mengejar Permaisuri serta Bibi Rong.

“Aduh! Darimana datangnya lebah-lebah ini? Permaisuri, lekas lari!”

Permaisuri mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik, “Ya Tuhan! Tolong! Tolong!”

Biasanya, Permaisuri dan Bibi Rong berjalan dengan angkuh, dagu terangkat tinggi dan dada membusung. Begitu anggun serta terhormat. Selalu menjaga martabat. Sekarang mereka panik setengah mati. Keduanya berlarian menggebu-gebu. Sejumlah pengawal, dayang serta kasim pun menonton mereka.

Lebah-lebah terbang mengekor Permaisuri dan Bibi Rong. Para kasim serta dayang yang semula mengiringi mereka telah kocar-kacir menyelamatkan diri duluan.

Xiao Yanzi dan kawan-kawan tergelak-gelak. “Berhasil! Berhasil! Ha ha ha! Sekarang tahulah kalian mana yang bisa menggambar harimau, mana yang bisa menggambar anjing!”

Bibi Rong dan Permaisuri berlari hingga napas mereka kembang-kempis. Pada satu titik, Bibi Rong terjatuh sehingga Permaisuri yang digandenganya pun ikut terjerembap. Kawanan lebah pun terbang rendah lalu menggigiti wajah mereka.

Permaisuri melolong-lolong, “Tolong… tolong….Aduh!!!”

Bibi Rong juga menjerit-jerit. Sementara para dayang dan kasim hanya bisa berdiri melongo menyaksikan keduanya.

Xiao Yanzi kegirangan. Dia meloncat-loncat, “Lebah sayang…, ayo sengat mereka! Jangan sungkan! Kerahkan seluruh keahlian kalian! Aduh! Aku tertawa sampai perutku sakit…”

Akhirnya, beberapa pengawal memberanikan diri maju menghalau lebah. Mereka lalu membantu Permaisuri dan Bibi Rong untuk berdiri. Wajah keduanya bengkak-bengkak. Kali ini, Xiao Yanzi yang berkata, “Rawatlah wajah tua kalian itu baik-baik, ya! Jangan sampai tersengat lebah lagi!”

Setelah lebah-lebah itu pergi, para dayang baru berani mendekat. Mereka memapah Permaisuri dan Bibi Rong pergi ke Istana Kunning.

Sesampainya di Paviliun Shuofang, Xiao Yanzi masih diliputi kegembiraan. Dia berkata antusias, “Walaupun wajahku bengkak-bengkak, tapi aku sangat puas dengan efek yang diberikan pada Permaisuri dan Bibi Rong. Sekarang aku masih mau mencari…”

“Mencari bunga lain lagi?” potong Ziwei. Lalu dia, Yongqi dan Erkang serempak berseru, “Kau tak perlu mencari bunga apapun lagi!”

Xiao Yanzi menatap mereka sekejap lalu ketawa cekikikan.

“Yang mau kucari adalah hadiah ulang tahun! Bulan depan kan Huang Ama ultah. Beliau sudah berbaik hati menunda soal Qing’er dan tidak memaksa Hanxiang – aku jadi sangat berterima kasih padanya. Karenanya, aku ingin menghadiahkan sesuatu yang sangat bermakna baginya…”

***

Singkat cerita, tibalah hari ulang tahun Qianlong.

Hari itu Kota Terlarang sangat ramai. Para pejabat, bangsawan, duta besar – semua mengucapkan selamat pada Qianlong sambil memberi aneka bingkisan. Ada barang antic dari giok, lukisan serta kaligrafi. Jam buatan Eropa. Batu permata. Jamur Lingzhi. Aneka tanaman langka – semua dipersembahkan kepada Qianlong.

Tapi Qianlong sudah sering melihat hadiah-hadiah macam begitu. Tiap tahun tidak ada yang baru. Ritual dan hadiahnya pun itu-itu saja. Dia agak bosan. Satu-satunya hal yang membuatnya bersemangat adalah pertunjukan sandiwara yang bertemakan ulang tahun.

Qianlong duduk di aula besar menghadap panggung. Di kiri kanannya duduk pula Ibu Suri, Permaisuri, para Selir, Pangeran serta Puteri – juga para bangsawan dan istri-istri mereka.

Di atas panggung tampak lampion dengan huruf panjang umur bergelantungan. Qianlong mengecek kursi hadirin dan merasa agak heran. Kenapa dari tadi dia tidak melihat Xiao Yanzi dan Ziwei. Begitu juga dengan Yongqi – Erkang. dan juga Hanxiang.

Ternyata kelima muda-mudi itu tengah mempersiapkan kejutan untuk acara ulang tahunnya. Sesuai rencana ‘pencarian’ Xiao Yanzi tempo hari, mereka membuat suatu suguhan istimewa untuk mengisi acara ulang tahun Qianlong. erkang memainkan tarian singa. Lalu Xiao Yanzi dan Hanxiang muncul secara spektakuler dalam sebuah bola merah ukuran raksasa. Ziwei dengan qin nya menyanyikan sebuah lagu pujian bagi Ayahanda Kaisarnya. Dan sebagai penutup, Jinshuo memimpin barisan dayang menghaturkan selamat ulang tahun kepada Kaisar.

Qianlong benar-benar menyukai kejutan mereka. Ini merupakan bingkisan ulang tahun yang paling indah – yang pernah diperolehnya.

“Ini pertama kalinya aku menerima hadiah ulang tahun seberharga ini! Selamanya aku tak akan kulupakan!”

Terdengar tepuk tangan bergemuruh dari para hadirin. Mereka bersama berseru, “Semoga Paduka Kaisar panjang umur!”

Ibu Suri yang turut menyaksikan mau tak mau merasa tergetar. Dalam keterkejutannya, mau tak mau dia harus mengakui kalau kelima muda-mudi itu – khususnya kedua Putri dari kalangan jelata – telah membuatnya terpana.

Malamnya, di taman bunga istana, diadakan pertunjukan kembang api.

Semua orang berkumpul dan menonton dengna sangat antusias. Bahkan Hanxiang yang baru pertama kali menonton sampai melongo.

Melihat kembang api, Xiao Yanzi langsung bersemangat. Dia menari dan melompat-lompat. Di tengah keramaian itu, Ziwei tiba-tiba memberi teka-teki pada Xiao Yanzi.

“Naik, naik! Terbang, terbang! Bersinar, bersinar! Lalu turun, turun! Apa itu?”

“Ha! Aku kan bukan orang tolol. Jawabannya sudah pasti kembang api!” sahut Xiao Yanzi.

“Salah! Yang betul kunang-kunang!”

Xiao Yanzi terdiam. Erkang, Yongqi, Hanxiang dan Jinshuo langsung tertawa keras. Wkwkwkw.

Xiao Yanzi tak mau kalah. Setelah berpikir-pikir dia juga mengajukan teka-teki .

“Ke atas, atas! Ke bawah, bawah! Ke kiri, kiri! Ke kanan, kanan! Tengah, tengah! Apakah itu?”

Mendengar mereka sedang membiicarakan teka-teki membuat Qianlong tertarik. Dia ikut nombrung. “Apa ini sebuah benda?”

“Tidak bisa memberi petunjuk apapun! Namanya juga teka-teki!” sahut Xiao Yanzi pongah.

“Teka-teki Xiao Yanzi sebaiknya jangan dimasukkan ke hati. Kemungkinan jawabannya tidak masuk di akal…” sindir Erkang.

“Eiit, jangan meremehkan aku ya! Aku juga bisa buat teka-teki, kok!” sergah Xiao Yanzi.

Yongqi berpikir keras. “Kau tahu jawabannya? Apaan sih?”

Semua sibuk berpikir. Lalu Qing’er menyela sambil tertawa-tawa. “Apakah jawabannya orang yang sedang menggaruk-garuk?”

Xiao Yanzi terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena aku sudah berpengalaman menggaruk punggung Lao Foye,” jawab Qing’er sambil tertawa.

Suara tawa seketika membahana. Tak terkecuali Ibu Suri. Ditatapnya Qing’er dengan penuh rasa sayang.

“Aku juga punya teka-teki!” seru Qianlong bersemangat. “Xiao Yanzi disuruh menulis esai. Dan terdengarlah bunyi bertalu-talu nyaring. Suaranya terdengar sampai jarak ratusan li. Nah, apakah itu?”

“Wah, Huang Ama memakai aku dalam teka-teki! Aku harus menebaknya!” Xiao Yanzi berpikir keras.

Erkang sudah menemukan jawabannya, tertawa dan berkata, “Suara bertalu-talu itu adalah ‘dag dig dug’ – alias jantung yang berdebar-debar!”
“Ha ha ha! Benar sekali! Memang itu jawabannya!”

Semua kembali tertawa. Hanya Xiao Yanzi yang cemberut. Dia berujar, “Baiklah. Pakai aku jadi penghibur hati memang boleh…” Tiba-tiba terlintas sebuah keisengan di kepalanya.

“Aku juga punya teka-teki! Binatang apa yang berkaki delapan, bersayap dua pasang, bisa terbang, berenang dan berlari?”

Semuanya langsung sibuk berdiskusi. Menebak ini dan itu tapi tak satupun benar. Qianlong tak sabar lagi akhirnya berkata, “Binatang apa ini sampai tak bisa tertebak? Xiao Yanzi, lekas beritahu jawabannya!”

Xiao Yanzi tertawa keras. “Ha ha ha! Sebenarnya, aku juga tak tahu jawabannya!”

“Dasar jahil!” seru Ziwei seraya memukul Xiao Yanzi.

Lalu terpikir sebuah teka-teki oleh Yongqi. “Aku juga punya teka-teki. Benda apa yang bagian atasnya menghadap langit, bangian bawahnya menghadap bumi, anyamannya penuh dan rapat?”

“Tebak dulu punyaku! Benda apa yang kepalanya menghadap ke kanan, ekornya menghadap ke kiri, anyamannya penuh-penuh dan rapat-rapat?”

Yongqi terkejut. “Punyamu lebih hebat dari punyaku, ya?”

“Tentu saja!”

Yongqi, Ziwei dan Erkang memutar otak tapi tak bisa menjawab.

“Aku menyerah! Jawabannya apa sih?”

Xiao Yanzi terkekeh-kekeh. “Sebenarnya jawaban teka-teki kita sama-sama tikar. Hanya saja, punyaku kugelar melintang! Ha ha ha!”

Semuanya jadi terbahak-bahak mendengarnya. Qianlong berkomentar,

“Xiao Yanzi ini, malas belajar tapi akal bulusnya segudang!”

Kembang api meluncur naik-turun ke angkasa. Semua menengadah melihat. Tiba-tiba, di kejauhan tampaklah sesosok bayangan hitam melompat. Erkang melihatnya dan serta merta menunjuk, “Siapa disana?”

Semua terkejut. Tanpa ragu, Erkang segera melesat mengejarnya.

“Siapa kau? Berhenti!” teriak Erkang.

“Ada penyusup! Ada penyusup!” seru Xiao Yanzi. Dia ikut mengejar penyusup itu.

Yongqi juga mengikuti Xiao Yanzi. Ibu Suri, Qianlong, para Selir serta Pangeran Putri terperanjat. Para pengawal terlatih dengan sigap berdatangan untuk melindungi keluarga Kaisar.

***

Xiao Yanzi, Erkang dan Yongqi mengejar penyusup itu hingga ke Paviliun Shuofang. (Aneh juga kenapa orang itu bisa langsung ke sana dan sengaja menampakkan diri).

Penyusup itu memukul Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi. Dia lalu menerobos masuk ke kamar.

“Jadi dia lari kemari! Berani sekali! Aku harus mengejarmu sampai dapat!” seru Xiao Yanzi.

Pada saat bersamaan, muncullah Gao Yuen dan Dao Da – dua pengawal istana. keduanya segera bergabung melakukan pencarian.

Dengan sigap Erkang memeriksa setiap ruangan di Paviliun Shuofang. Aneh sekali, si penyusup tak kelihatan lagi.

Tak berapa lama, halaman Paviliun Shuofang telah ramai didatangi para prajurit. Qianlong, Ibu Suri beserta Permaisuri dan lain-lain juga telah sampai di Paviliun Shuofang.

“Bagaimana? Apakah kalian sudah menangkap penyusupnya? Apakah dia telah melukai seseorang?” tanya Ibu Suri.

“Duli, Lao Foye! Hamba telah mengejarnya sampai kemari dan melihat sendiri dia masuk kemari! Hanya saja setelah itu dia menghilang… Ini sangat aneh. Ia hanya seorang diri. Tapi kungfunya bagus. Benar-benar bernyali. Orang ini sepertinya hanya ingin masuk istana untuk menyelidiki. Dan setelah kethuan dia memilih untuk kabur.”

Tiba-tiba Erkang kepikiran satu orang. Meng Dan! Ya, siapa tahu Meng Dan! Dia tak tahan berdiam diri saja di Graha Huipin lalu memutuskan untuk nekat menyusup ke dalam istana. pikiran Erkang terbaca oleh Ziwei. Dan pikiran Ziwei terdeteksi Hanxiang. Seketika itu pula ketiganya jadi takut kalau-kalau…

Permaisuri angkat bicara, “Paviliun Shuofang hanya memiliki satu pintu masuk. Tak ada jalan lain untuk melarikan diri. Bagaimana dia bisa melarikan diri? Ini adalah kediaman dua Putri. Bagaimana jika seandainya penyusup itu masih bersembunyi di dalam? Kenapa tidak memeriksa lebih teliti sekali lagi? Di bawah kolong ranjang, lemari dan tempat-tempat lainnya?”

“Benar! Kata-kata Permaisuri memang tepat!” Ibu Suri setuju.

Qianlong memerintahkan Saiwei dan Saiguang untuk memeriksa setiap sudut Paviliun Shuofang. Erkang, Yongqi, Xiao Yanzi, Ziwei dan Hanxiang mengikuti.

Paviliun Shuofang diperiksa dengan seksama. Sampai ke lemari dan peti-peti. Para prajurit bersiaga.

Akhirnya tibalah mereka di kamar tidur Ziwei. Mereka memeriksanya dan tidak mmenemukan apa-apa.

“Kalian semua harus memeriksa lebih teliti. Keselamatan kedua Putri bergantung pada kalian!” kata Permaisuri penuh perhatian.

Gao Yuen tiba-tiba terpikir sesuatu. Dia berjalan ke tempat tidur dan membalik kasur. Xia Yanzi dan kawan-kawan tegang.

Gao Yuen menyingkap kasur. Terdengar bunyi bruk! Dan tampaklah sebuah benda jatuh dari kasur. Semua terbelalak. Benda itu bukan manusia – melainkan sebuah boneka kain.

Ziwei dan kawan-kawan lega karena kecurigaan mereka soal Meng Dan tidak benar. Tapi Ibu Suri sangat curiga dengan boneka kain. Dia berseru pada Bibi Rong,

“Benda apa itu? Perlihatkan padaku!”

Bibi Rong maju dan memungut boneka kain itu. “Duli Lao Foye, ini adalah boneka kain. Ternyata kedua Putri masih memainkan benda seperti ini!”

“Boneka kain?” Ziwei terkejut. “Bukan punyaku! Apa punyamu, Xiao Yanzi?”

“Bukan! Aku tidak pernah punya benda begitu!”

Bibi Rong mencubit boneka itu – tiba-tiba memekik. “Hei! Ada jarum ditusuk di sini!”

Semakin dilihat, boneka kain itu semakin membuat Ibu Suri kalut. Ketika boneka itu diperlihatkan padanya, matanya membelalak. Begitu pula dengan Qianlong, Permaisuri, Selir Ling dan Qing’er.

Ibu Suri menggigil begitu melihat tulisan delapan karakter di balik boneka itu. Ternyata, itu adalah boneka yang biasa dipakai untuk praktek ilmu nujum!

Ekspresi Qianlong juga berubah. Tulisan delapan karakter di boneka itu adalah waktu lahirnya. Orang yang membuat boneka itu bermaksud menyantetnya!

Ibu Suri menatap Ziwei dan Xiao Yanzi dengan sorot mata yang dingin menusuk. Dia berteriak keras ke arah pengawal, “Saiwei! Saiguang! Gao Yuen! Gao Da! Lekas tangkap seluruh penghuni Paviliun Shuofang! Tak peduli majikan atau pelayan!”

“Baik!”

Para prajurit maju dan meringkus Ziwei, Xiao Yanzi, serta para dayang dan kasim.

Xiao Yanzi langsung berteriak, “Huang Ama! Apa-apaan ini? Kenapa menangkap kami? Apa salah kami?”

Ziwei juga berseru, “Huang Ama! Boneka itu pertanda apa? Apa yang aneh dari boneka itu?”

Erkang juga ketakutan dan berkata pada Qianlong, “Yang Mulia! Kedua Putri tak mungkin berbuat seperti ini! Anda jangan sampai gegabah! Kejadian malam ini terlalu ganjil! Lao Foye juga, hamba mohon agar menunggu hingga semuanya jelas dulu!”

Qianlong benar-benar kelu hingga tak sanggup berkata-kata. Dia shock. Ditatapnya kedua putri kesayangannya itu – yang tadi siang baru saja memberinya ucapan selamat ulang tahun paling istimewa, dalam sekejap tiba-tiba terseret dalam masalah sebesar ini. Bagaimana mungkin? Qianlong merasa punggungnya mulai dijalari sesuatu yang dingin dan menggigit. Menjalar hingga ke sekujur tubuhnya.

Permaisuri memasang tampang murka. Dia berkata menghakimi, “Kedua gadis yang tak jelas asal-usulnya ini! Sejak dulu pasti telah menyusun rencana jahat hingga memainkan santet seperti ini ke dalam istana! Mereka berdua! Selalu dilindungi serta diberi ijin khusus! Bukannya tahu berterima kasih, malah masih berani mencelakakan Kaisar! Sungguh tak tahu balas budi!”

Mendengar perkataan Permaisuri, amarah Ibu Suri pun tersulut. Dia langsung memberi instruksi, “Langsung saja dikurung! Yang lelaki dibawa ke penjara laki-laki! Yang wanita dibawa ke penjara perempuan!”

“Daulat, Yang Mulia!” seru para prajurit. Xiao Yanzi kembali meronta-ronta. Ziwei bagai disambar petir. Sedang Jinshuo mulai histeris.

Yongqi dan Erkang serta merta berlutut dan memohon penundaan hukuman bagi penghuni Paviliun Shuofang. hanxiang yang masih kaget serta bingung juga ikut memohon. Begitu pula dengan Selir Ling.

“Yang Mulia!” Ibu Suri memperingatkan. “Jangan sampai Anda terpengaruh! Kejadian kali ini benar-benar meyakinkan karena ada bukti!”

Qianlong menunduk. Dengan pedih serta tak berdaya dia melambai, “Bawa mereka pergi dan kurung semuanya!”

Seluruh penghuni Paviliun Shuofang pun dibawa pergi tanpa terkecuali. Walau Xiao Yanzi berteriak-teriak sepanjang jalan, dia tetap harus masuk bui sekali lagi!

***

Di penjara wanita, seluruh penghuni wanita Paviliun Shuofang dikurung dalam jeruji yang sama.

Xiao Yanzi, Jinshuo, Mingyue serta Caixia menangis ketakutan. Hanya Ziwei yang setelah tenang dapat berpikir. Dia lalu berkata, “Kita semua telah masuk perangkap! Penyusup serta boneka kain itu mungkin telah direncanakan! Orang itu sengaja menarik perhatian semua orang ke Paviliun Shuofang!”

“Tapi aku tidak mengerti Nona… Mengapa hanya karena sebuah boneka, Kaisar serta Lao Foye begitu ketakutan?” tanya Jinshuo.

“Boneka itu adalah bagian dari praktek ilmu sihir. Sebagian besar orang China masih percaya pada tahayul serta praktek santet seperti ini…,” jawab Ziwei.

“Bencana apa lagi ini?” Xiao Yanzi menangis sesungukan. “Lagi-lagi ini akal bulus Permaisuri, kan? Dia selalu ingin menyingkirkan kita!”

Ziwei mendekap Xiao Yanzi erat-erat. “Jangan menangis. Kita sudah pernah sekali mengatasi ombak dan badai. Siapa tahu kali ini pun begitu. Huang Ama begitu pandai, dia pasti akan segera menyadari kalau semua ini adalah perangkap…”

***

Malam itu di kediaman Erkang, Graha Xuexi, suasana sangat tegang.

Fulun dan Fuqin sangat terkejut dengan peristiwa ini. “Mengapa nasib Ziwei buruk begini?” kata Fuqin pedih. “Sudah susah payah diangkat jadi Putri, masih juga mengalami hal seperti ini!”

Fulun berkata pada Erkang, “Penyusup itu tokoh kuncinya! Setelah dia masuk ke dalam Paviliun Shuofang, apakah ada pengawal yang keluar dari dalam? Siapa yang berinisiatif memeriksa kasur dan membaliknya? Siapa yang pertama kali menemukan boneka kain itu?”

Erkang yang pikirannya buntu seolah mendapat masukan dari ayahnya. Dia bergegas meninggalkan Graha Xuexi dan menuju ke kediaman Yongqi di Istana Qingyang.

Sampai di Istana Qingyang, keduanya menginterogasi Gao Yuen dan Gao Da. Tapi walau didesak bagaimana pun, keduanya mengaku kalau mereka tidak pernah bersekongkol dengna siapa pun untuk mencelakai kedua Putri.

***

Sementara Erkang dan Yongqi mengupayakan pembelaan bagi penghuni Paviliun Shuofang, di penjara, Ziwei diseret seorang diri menuju Istana Zhuning.

Di Istana Zhuning, Ziwei dimasukkan ke Kamar Gelap. (Ini adalah ruangan keramat Istana Zhuning, ya?) Hati Ziwei mulai diliputi kecemasan ketika dilihatnya para kasim berbaris dengan wajah tanpa ekspresi. Dia belum sempat dijelaskan apa-apa sewaktu tangannya diseret dan dicengkeram kuat-kuat menuju penjepit jari.

“Apa itu? Jangan….! Jangan…!!!” Ziwei memekik.

Terdengar langkah-langkah kaki. Ziwei mengangkat kepala dan dilihatnya Ibu Suri serta Permaisuri berdiri di hadapannya. Para Bibi berdiri mengelilingi keduanya.

“Lao Foye!” Ziwei berseru. “Hamba berani bersumpah kalau bukan hamba pelaku semua ini! Hamba belum pernah melihat boneka kain itu! hamba juga tidak tahu kenapa benda itu bisa berada di bawah kasur hamba!”

Permaisuri menyuntikkan kata-kata paling berbisanya pada Ibu Suri, “Lao Foye, Ziwei ini punya daya pikat sangat besar! Dulu dia masuk sebagai dayang tanpa melalui seleksi Departemen Rumah Tangga Istana. Dia lalu berhasil memikat Kaisar. Lalu, sewaktu keluar menyamar bersama rombongan Kaisar, dia mengatur rencana pembunuhan dan berpura-pura menolong sehingga mendapat imbalan posisinya yang sekarang ini! Hamba rasa, Ziwei ini pasti seorang wanita penyihir yang bisa memanipulasi pikiran orang!”

Ibu Suri mencerna kata-kata Permaisuri. Dia pun berseru lantang, “Ziwei! Ayo mengaku sekarang! Jika tidak, kau terpaksa akan disiksa!”

“Lao Foye!” Ziwei berteriak membela diri. “Hamba sangat mengagumi Huang Ama. Hamba juga sangat sayang padanya. Mana mungkin hamba bermaksud mencelakakannya? Hamba tahu Lao Foye tidak menyukaiku, tapi mohon jangan mengubah perasaan tulus hamba terhadap Huang Ama!”

“Kau jangan menyangkal!” Permaisuri berseru ketus. “Banyak orang yang melihat kalau boneka itu ditemukan dari bawah kasurmu! Kau bisa berdalih apa lagi?”

“Hamba difitnah!” tukas Ziwei. “Ada yang ingin mencelakakan hamba!”

Ib Suri memelototi Ziwei. “Katakan saja terus terang! Apakah kau dan Xiao Yanzi anggota sekte Teratai Putih? Jika bukan kau, apakah Xiao Yanzi yang membuat boneka kain itu? kalian mendapat perintah dari siapa?”

“Sekte Teratai Putih?” Ziwei terperanjat. “Ya Tuhan! Xiao Yanzi bahkan tidak tahu apa itu ilmu nujum! Mana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu!”

“Kalau begitu, pasti kaulah pelakunya karena kau tahu soal ilmu nujum, kan?”

“Lao Foye! Walau hamba mengerti, itu bukan berarti hambalah pelakunya!”

Kemarahan Ibu Suri sudah naik ke ubun-ubun. “Siksa dia!” perintahnya.

Para kasim yang telah memasukkan jari-jari Ziwei ke dalam penjepit segera menarik tongkatnya. Kesepuluh jari Ziwei serasa hendak putus. Sakitnya hingga menembus ulu hati. Membuat Ziwei tidak dapat berhenti berteriak pilu, “Aiya…..! Lao Foye… Tolong…!”

“Kau sudah mau mengaku?” tanya Permaisuri.

“Tidak! Bukan aku pelakunya…”

Para kasim kembali menarik tongkat penjepit - membuat Ziwei seolah terkoyak-koyak.
Keringat mulai mengalir deras dan wajahnya pucat. Teriakannya semakin melengking.

“Jika kau difitnah, pasti ada orang lain di Paviliun Shuofang yang membuat boneka kain itu! Apakah kau juga tidak tahu siapa pembuatnya? Jika kau tak mau bilang, aku akan menginterogasi mereka satu-satu!” kata Ibu Suri.

Ziwei terperanjat. Jadi Ibu Suri juga akan memakai cara yang sama untuk menyiksa Xiao Yanzi dan yang lainnya? Mana mungkin dia bisa membiarkan mereka merasakan penderitaan semacam ini?

Tongkat penjepit kembali ditarik dan Ziwei akhirnya mengerang, “Baiklah… Hamba mengaku! Hamba mengaku kalau hambalah pelakunya! Mohon jangan jepit jari hamba lagi! Hamba benar-benar tidak tahan…”

“Benarkah kau sendiri yang melakukannya? Apa Xiao Yanzi juga membantumu? Begitu juga dengan yang lainnya?”

“Tidak… hanya hamba sendiri pelakunya. Xiao Yanzi dan yang lainnya tidak tahu…”

“Mengapa melakukan hal itu?”

“Karena… karena aku ingin balas dendam untuk ibuku… Huang Ama telah membuat Ibuku menderita seumur hidup…”

Permaisuri dan Ibu Suri saling bertukar pandang. Permaisuri mengangguk dan berkata mantap, “Memang inilah alasan yang pantas!”

***

Setelah Ziwei, kini giliran Xiao Yanzi yang dibawa ke Kamar Gelap.

“Xiao Yanzi! Ziwei telah mengaku kalau dialah pembuat boneka kain itu. dia juga mengaku kalau kalian adalah sisa anggota sekte Teratai Putih. Benar begitu?”

Xiao Yanzi membelalakkan mata. “Sekte Teratai Putih??? Kenapa tidak sekalian bilang aku juga anggota Sekte Teratai Merah?!!”

Ibu Suri menekan Xiao Yanzi, “Ziwei sudah mengaku. Jadi apakah kau dan dia bersekongkol?”

Xiao Yanzi menjawab dengan geram, “Ziwei bersedia mengaku karena kalian siksa dengan kejam! Sungguh menjijikkan! Kalian tidak seharusnya menyiksa Ziwei! Tubuhnya sejak dulu lemah! Apa hebatnya boneka kain? Kelak aku akan bikin lebih banyak lagi!”

Xiao Yanzi menepuk dadanya dengan lantang berkata, “Akulah yang melakukannya! Jadi biar aku sendiri saja yang bertanggung jawab! Kalau mau kepala, ambillah kepalaku! Kalau mau nyawa, ambillah nyawaku! Lepaskan yang lainnya! Kalian tak perlu memukul orang lagi!”

“Jadi kau mengaku? Kau sendiri yang melakukannya?” Ibu Suri melotot. “Kata-kata apa yang tertulis di boneka kain itu?”

Xiao Yanzi menjawab penuh emosi, “Entahlah! Mungkin bunyinya: ‘mami mami chichi rululing’!”

Permaisuri buru-buru membisiki Lao Foye. “Anda jangan terperdaya olehnya. Dia paling pintar berpura-pura gila dan kesurupan!”

Bibi Rong juga menganggukkan kepala. Melihatnya, Xiao Yanzi segera menyahut keras, “Permaisuri! Bibi Rong! Apa kalian ingin aku menunjukkan ilmu sihirku lagi? Apa kalian mau wajah kalian bengkak-bengkak lagi disengat lebah? Hati-hati! Malam ini aku akan membuat ranjang kalian dipenuhi ular berbisa! Bukan hanya ular – tapi juga kodok beracun! Kelabang! Nyamuk pengisap darah!” (kenapa tidak sekalian kelelawar? Biar jadi vampire? Wkwkwkwk)

Permaisuri dan Bibi Rong merinding. (Pasti mereka punya pengalaman buruk soal lebah tempo hari). Ibu Suri mendengar sumpah-serapah Xiao Yanzi dengan marah.

“Kau berani menyumpahi Permaisuri? Pengawal! Cepat seret dia keluar dan bawa para budak kemari!”

Xiao Yanzi diseret keluar dan giliran para pelayan diinterogasi. Mengejutkan bagi Ibu Suri, para dayang serta kasim itu masing-masing mengaku kalau merekalah yang membuat boneka itu!

Pada saat para pelayan tengah diinterogasi itulah Qianlong datang didampingi Yongqi dan Erkang. Qianlong baru saja menghadiri acara apel pagi. Semalam pikirannya terlalu kalut untuk membela Xiao Yanzi atau membantah Ibu Suri. Semula Qianlong berencana memenuhi ego Ibu Suri dan baru pada keesokan harinya dia akan menyelidiki hal tersebut lebih jelas lagi.

Qianlong juga sudah mulai berpikir kalau kedua Putri dijebak. Sejak jaman dulu masalah nujum di kalangan istana merupakan masalah sensitif. Jika tidak ditangani dengan hati-hati, dia bisa berubah menjadi bencana besar yang menelan banyak korban.

Melihat Permaisuri yang juga berada di Istana Zhuning, Qianlong langsung mengernyitkan alis. (pasti merasakan sesuatu yang tidak beres, kan?) “Huang Thaihou kabarnya pagi-pagi sekali telah menginterogasi kedua Putri. Mengapa tidak menunggu sampai aku datang?”

“Aku khawatir Yang Mulia terlampau kacau untuk menyelidiki kasus ini. Lagipula kasus ini terjadi di istana kaputren. Jadi biar aku saja yang mengatasinya bagi Baginda.”

“Kalau begitu, apa Huang Thaihou sudah mendapat kesimpulan?”

“Ya. Mereka semua sudah mengaku!”

“Mengaku? Mana mungkin Ziwei dan Xiao Yanzi bisa mengaku? Keduanya tak akan mengaku jika tidak dipaksa!” sergah Yonqi.

Permaiuri benar-benar pongah. “Seluruh penghuni Paviliun Shuofang – dua Putri, tiga dayang dan dua kasim – semuanya telah mengaku!”

Qianlong tak langsung menerima pernyataan itu. Dia lalu memberi perintah, “Bawa mereka semua kemari! Biar aku sendiri yang menanyai mereka!”

Tak lama kemudian, Ziwei, Xiao Yanzi dan lain-lainnya dibawa menghadap Qianlong. Ziwei sudah terhuyung-huyung. Jinshuo yang membantu memapahnya.

Qianlong melihat Ziwei dengna terperanjat. “Ziwei! Kau kenapa?”

Xiao Yanzi menangis tersedu-sedu. “Huang Ama, kemarin kami masih mengucapkan selamat panjang umur bagi Anda. Masih main teka-teki. Sungguh tak kusangka, tiba-tiba kami dijebloskan ke penjara. Lalu pagi-pagi tadi Ziwei telah disiksa agar dipaksa mengaku.”

“Disiksa?” Qianlong terperanjat. Erkang dan Yongqi juga. “Siapa yang menyiksamu? Alat apa yang digunakan? Di bagian mana kau disiksa?”

Ziwei berusaha berkelit. Sambil bersujud dia berkata, “Huang Ama, kedatangan Anda kemari cukup membuktikan kalau Anda masih mengkhawatirkan kami. Hatiku benar-benar puas. Mengenai boneka itu, aku telah mengaku. Mohon hukum aku saja dan lepaskan yang lainnya…”

Xiao Yanzi dan para pelayan langsung berebut mengakui kalau merekalah pembuat boneka kain dan bukan Ziwei. Qianlong memandang Ibu Suri. “Jadi yang dimaksud pengakuan itu adalah yang semacam ini? Huang Thaihou, bagaimana Anda bisa mempercayainya?”

Erkang angkat bicara, “Yang Mulia! Agar dapat diakui oleh ayahnya, Ziwei telah mengalami penderitaan berat. Tak perlu menyiksanya! Itu tak akan pernah mengubah ketulusan baktinya pada Baginda!”

Kata-kata Erkang begitu menyentuh perasaan Ziwei. Rasa sakit yang dialami jari-jarinya memuncak. Ziwei tak tahan lagi – dia pun tersungkur dan menangis.

Pada saat itulah Qing’er dengan perlahan-lahan memasuki aula Istana Zhuning. Di tangannya ada setumpuk kain sutra putih dan boneka kain penemuan kemarin malam. Dia menghadap Kaisar, Ibu Suri dan Permaisuri. Menekuk lututnya memberi salam lalu berkata dengan tenang.

“Duli Yang Mulia, Qing’er harus menyampaikan sesuatu. Sejak kemarin malam, boneka kain itu ada di tangan Qing’er. Qing’er sudah mengamatinya. Kain putih yang dipakai membuat boneka ini sama persis dengan kain satin salju yang berasal dari pabrik sutra di Suzhou. Beberapa waktu lalu mereka mengirim kain ini kemari.”

“Qing’er ingat waktu itu Lao Foye memerintahkan untuk memberi kain ini kepada para istri Kaisar tapi tidak bagi para Putri. Itu berarti, penghuni Paviliun Shuofang tidak kebagian kain ini. Kita bisa mengecek ke Bagian Rumah Tangga Istana untuk memeriksa, siapa saja yang menerima kain sutra ini.”

Kata-kata Qing’er mencengangkan seisi ruangan.

Terlebih Permaisuri dan Bibi Rong. Wajah keduanya seketika berubah jadi pucat…..

Bersambung


BACA JUGA SINOPSIS LAINNYA



0 comments:

Post a Comment


Friend Link List